Yolanda berjalan mendahului Arka dan keduanya memilih berpisah untuk mencari mangsa. Tapi kenyataannya, keduanya hanya duduk dan menatapi orang berlalu-lalang serta bergerombol di lantai dansa. Ada juga pole dance–tari tiang–yang ditarikan cukup erotis oleh penarinya membuat Yolanda meneguk ludah susah payah. Suasananya terlalu bising hingga memekakkan telinganya. Rasanya ia mau menyerah saja tanpa menyelesaikan tantangan yang ia buat dengan Arka. Biar saja ia relakan beberapa lembar uangnya untuk membayar hari ini karena itu lebih baik ketimbang dirinya berlama-lama di tempat tak nyaman ini.
Yolanda menoleh ke kanan-kiri untuk mencari keberadaan Arka yang entah di mana batang hidungnya itu.
“Jangan-jangan Arka sudah berhasil dapat mangsa?” tebak Yolanda lalu mendecih kesal setelahnya.
Yolanda lalu turun dari kursi tinggi dan berjalan dengan menyempil di antara banyaknya orang yang tengah bergoyang heboh sambil bersorak tak karuan itu. Dirinya pastikan takkan mau masuk ke tempat seperti ini lagi. Yah, walau dirinya pekerja di bar, namun tidak separah ini juga kebisingannya. Ia kapok ke diskotek.
Saat tengah sibuk menunduk sembari melindungi wajahnya agar tidak kena sodok orang-orang, Yolanda malah menubruk seorang pria.
“Ah, aku minta maaf. Permisi!” ucapnya berkali-kali membungkuk sebagai permohonan maafnya.
Namun tak disangka-sangka pinggang Yolanda malah ditarik oleh pria itu hingga tubuhnya menubruk d**a sang pria.
Yolanda hampir saja menyalak marah jika pria itu tidak bicara duluan.
“Awas! Di belakangmu tadi ada orang mabuk hampir menggerayangimu.”
Yolanda membekap mulutnya terkejut sambil menoleh ke belakang. Dan benar saja, memang ada seorang pria lain yang kelihatan cukup mabuk sebab cara berdirinya saja oleng. Mata pria itu memerah efek kebanyakan minum. Di saat seperti itu, dia masih sempat-sempatnya tersenyum smirk untuk menggoda Yolanda.
Yolanda yang tak tahan langsung berbalik dan seperti memperagakan diri ingin muntah. Geli sekali dengan orang seperti itu. Dirinya baru sadar masih berada di rengkuhan seorang pria asing yang kebetulan menolongnya.
Ia langsung berterima kasih lalu menatap rupa sang pria. Seketika senyuman ramahnya berubah menghilang detik itu juga.
“Wah, sepertinya kau memang berencana mengejarku bahkan sampai ke tempat seperti ini, ya?” kekeh pria itu percaya diri.
Yah, dia pria yang sama waktu Yolanda memergokinya mau mencuri dompet kemarin. Kenapa bisa mereka berdua kembali bertemu? Batin Yolanda berteriak tak terima. Pria ini amat menyebalkan dan membuatnya muak menatap wajahnya meski setampan ini.
“Siapa namamu, hem? Sepertinya kau sudah berhasil membuatku sadar akan atensimu dan membuatku tertarik untuk mengenalmu.” Si pria berucap dengan nada menggoda seraya menoel dagu Yolanda.
Yolanda langsung mundur beberapa langkah dan mengusap najis dagunya usai disentuh pria itu.
“Berani sekali kau menyentuhku, dasar pria m***m!" Yolanda menyalak marah dan bergegas pergi dari hadapan sang pria untuk secepatnya mencari Arka dan mengajaknya pulang. Ia punya firasat kurang bagus usai bertemu pria itu.
Nyatanya pria itu mengekori Yolanda yang sedang buru-buru menemukan Arka yang entah ada di mana. Yolanda beberapa kali mengumpat karena diikuti.
“Sebenarnya apa maumu, sih? Berhenti mengikutiku karena aku risih!” bentak Yolanda sambil berbalik untuk menghadap si pria yang kini tengah tertawa. Apa yang lucu? Batin Yolanda kesal.
“Kau percaya diri sekali, ya. Aku bukannya mengikutimu, melainkan aku memang akan pergi ke arah sana yang kebetulan sejalur denganmu. Aku mau menemui wanita sewaanku di ruangan itu, Nona.”
Seketika wajah Yolanda memerah akibat marah bercampur malu. Untung saja cahayanya remang-remang sehingga pria itu takkan menyadari rupa wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus ini.
Yolanda lalu meminggirkan tubuhnya untuk memberi jalan agar si pria berjalan lebih dulu. Dan tanpa babibu pria itu melenggang congak melewati Yolanda.
Yolanda mencoba mencari tahu keberadaan Arka yang mungkin bisa saja juga berada di salah satu ruangan yang memang sengaja diperuntukkan untuk bermain dengan pasangannya itu. Yolanda tak mau menjelaskan lebih detail karena pasti sudah tahu apa yang Yolanda maksud dengan kata bermain.
“Awas saja jika Arka memang sedang berbuat begituan,” gumamnya yang sama sekali tak suka teman dekatnya itu melepas keperjakaannya.
Yolanda lalu menghentikan langkahnya saat si pria tadi berhenti di salah satu pintu ruangan. Ia mengetuk pintu dan tak lama seorang wanita seksi keluar dan langsung memeluknya.
Yolanda masih setia memandangi mereka berdua yang tanpa malu memagut ciuman panas di depan pintu bahkan si pria sudah berani memasukkan sebelah tangannya ke bawah dress ketat sang wanita.
Wanita yang tengah merasakan kenikmatan afeksi pria itu hanya mampu melenguh dan mengikuti permainannya. Ia menyenderkan punggungnya ke tembok dan pasrah saja saat bagian bawahnya diobrak-abrik tangan si pria dengan ciuman yang belum juga dilepaskan.
Di tengah kebinalan pasangan itu ... Yolanda menyaksikannya tanpa kedip. Ia sempat menegang saat mata pria itu menatapnya seolah ingin berkata bahwa ia tahu dirinya tengah memperhatikan adegan itu.
Yolanda membuang muka lalu berjalan pergi dari hadapan sang pria. Lamat-lamat ia bisa mendengar rengekan sang wanita yang kesal.
“Kenapa kau berhenti dan menatapi wanita itu, Bara? Aku di sini ... Di depanmu!"
Yolanda menunjuk dirinya bertanya. “Apa yang dimaksud itu adalah aku? Yak, aku hanya tak sengaja melihat mereka melakukan begituan, kok. Dan oh iya, aku sekarang tahu nama pria menyebalkan itu adalah Bara.”
Yolanda tak mau peduli soal mereka lagi dan melenggang lebih cepat sembari memfokuskan matanya untuk menelisik orang-orang yang kiranya salah satu dari mereka adalah Arka.
Yolanda bersumpah jika sampai Arka meninggalkannya atau tengah memadu kasih dengan wanita di ruangan istimewa tadi, ia akan memotong kemaluan pria itu. Biar saja ia dianggap berlebihan karena bersumpah seperti itu. Pasalnya sudah lelah dirinya mencari si teman tak tahu diri itu, namun tak kunjung ketemu.
“Sudahlah, aku capek. Aku tinggal saja bocah itu di sini jika memang dia belum pulang,” putus Yolanda lalu berniat keluar melalui pintu diskotek.
Namun saat sudah di depan diskotek, Yolanda tak tega jika meninggalkan Arka begitu saja. Ia akhirnya mengeluarkan ponselnya dan mengetik beberapa kata untuk dikirim pada pria itu sekedar mengabarkan bahwa dirinya pulang duluan.
Belum juga menekan tombol kirim, seseorang menubruknya hingga membuat ponselnya lepas dari genggamannya.
“Astaga, aku minta maaf.” Orang yang menabraknya langsung mengambil ponsel Yolanda yang tergeletak tak berdaya di bawah.
Yolanda menatap miris pada ponselnya yang retak layarnya dan mati total itu. Mengenaskan sekali nasib buruknya hari ini.
“Tidak apa-apa,” balas Yolanda setengah hati sembari menatap sang pelaku yang ternyata kembali mengejutkannya.
“Yardan?” decit Yolanda dengan mata terbelalak kaget.
Yardan sama halnya dengan Yolanda yang kaget atas pertemuan mereka yang kurang baik ini. Yardan lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal merasa tak enak karena dirinya, ponsel Yolanda rusak.
“Aku akan ganti rugi untuk ponselmu. Ini kartu namaku,”–sembari menyodorkan kartu nama–“Nanti kau bisa hubungi di nomor kontak itu. Aku minta maaf, tapi sungguh aku tidak bisa berbincang denganmu lebih lama. Ada urusan mendesak yang tak bisa kutinggal, maaf ya.”
Yolanda hanya menerima kartu nama itu bingung. Saat Yardan sudah masuk ke dalam dengan terburu-buru, barulah Yolanda sadar akan sesuatu.
“Harusnya aku pinjam sebentar ponselnya agar bisa menghubungi Arka,” rengeknya yang menyadari kebodohannya.