“Kau sudah bertemu dengan Yardan? Maaf, aku harus lempar dia kepadamu karena aku tengah sibuk. Lalu, bagaimana hasilnya?” sosor Arka saat Yolanda baru saja memakai kembali apronnya.
“Aku bilang bahwa kita tak butuh uangnya. Yah, aku memang sudah gila menolak rezeki itu. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tak mau lagi berurusan dengan orang sepertinya,” ungkap Yolanda apa adanya.
Awalnya Arka mau memotong ucapan Yolanda saat dirinya bilang bahwa menolak uang kompensasinya, namun ia bungkam di kalimat terakhir Yolanda. Yah, Arka memang tahu bahwa Yolanda benci berurusan dengan orang kaya. Menurutnya, orang dengan banyak harta selalu sombong dan menyepelekan orang-orang kecil tak berduit seperti dirinya.
Arka kadang setuju dan kadang tidak dengan pemikirannya Yolanda yang satu ini. Namun, ia lebih memilih menghargai batasan yang sudah dibangun Yolanda.
“Iya juga, sih, aku merasa bahwa Yardan adalah orang yang berduit. Terlihat sekali pakaiannya yang formal khas kantoran serta terlihat mahal. Memang lebih baik kita tak perlu lagi berurusan dengannya,” sahut Arka membenarkan.
Yolanda tersenyum tipis karena Arka sependapat dengannya. “Yasudah, mari kita fokus dengan pelanggan! Pulang nanti, aku ajak kau jalan-jalan.”
“Wow, dalam rangka apa dirimu mengajakku jalan? Eh, atau kau sedang berusaha mendekatiku untuk mengajak kencan? Jika iya, maaf tapi aku tidak tertarik dengan wanita sadis bicara sepertimu.” Arka berceloteh dengan amat kerasnya membuat beberapa pelanggan yang duduk di meja bar dan kebetulan masih belum mabuk langsung menyoraki.
“Cie, akhirnya shipper yang aku agungkan berlayar juga. Aku akan jadi penggemar pertama yang mendukung jadiannya kalian.”
Beberapa malah ada yang berbicara seperti itu. Bukannya senang, Yolanda malah menempeleng pelan kepala pelanggannya yang terlihat paling bersemangat.
“Aku dan Arka takkan pernah menjadi kekasih. Camkan itu para pelanggan yang budiman!” sarkas Yolanda yang menampilkan senyuman mengerikannya.
Beberapa pelanggan langsung angkat tangan dengan senyum kaku. “Yah, kami hanya bercanda.”
Takut juga ternyata mereka jika melihat Yolanda akan mengamuk. Jika sudah marah, Yolanda bisa membabat habis mereka.
“Lihat sendiri! Jadi, kuharap kalian semua takkan ada yang berpikir bahwa aku dan Yolanda akan jadian. Kami takkan bisa cocok jadi pasangan, asal kalian tahu saja.” Arka ikut menimpali.
Arka tak sudi jika pasangannya adalah wanita model Yolanda yang begitu dominan. Sudah sepatutnya, Arka mendapatkan wanita manis yang ramah padanya, bukan? Ia tak bisa lagi jika dekat dengan wanita barbar selain Yolanda. Sudah cukup kesabarannya bertahan dengan sifatnya Yolanda. Jika sampai punya pacar wataknya mirip dengan Yolanda, sudah pasti Arka akan langsung memutuskannya.
“Ya, kita paling cocok jika jadi rekan kerja. Benar begitu, Ar?” kata Yolanda melirik Arka yang tengah berbisik-bisik dengan seorang pelanggan pria di depan mejanya.
Yah, sudah pasti tengah bergosip soal kelakuan Yolanda yang perlu pawang lebih kaku darinya.
Arka yang mendengar namanya dipanggil penuh penekanan oleh Yolanda, segera berdiri tegak dan mengangguk. Ia tak mau kena sembur oleh Yolanda juga.
Sedang saling mengobrol dengan beberapa pelanggan, Yolanda dan Arka saling bersenggolan lengan ketika Yardan berjalan melewati meja bar.
“Apa dia marah?” bisik Arka.
“Entahlah, toh bukan salah kita. Harusnya dia bersyukur karena tak lagi berhubungan dengan kita. Sudah, tak perlu diambil pusing!” sergah Yolanda tak terlihat peduli.
Arka manggut-manggut saja, lalu keduanya kembali sibuk pada kegiatan masing-masing.
*****
“Hey, kau ganti baju atau mandi lulur? Kenapa lama sekali, Ar?” bentak Yolanda yang lelah menunggui Arka di luar. Padahal dirinya yang wanita saja tak selama itu berganti pakaian.
Arka meringis malu. “Ya, maaf. Aku tadi memang mandi sebentar karena badanku lengket ketumpahan vodka,” kilahnya.
Yolanda langsung menaikkan alisnya bertanya. Ya penasaran juga kenapa bisa vodka tumpah di badannya Arka.
“Ada pelanggan wanita yang tak bisa memegang gelas vodka dan malah tumpah di bajuku. Coba bayangkan! Itu benar-benar menggelikan. Bagaimana bisa dia sepolos itu, bahkan untuk meminum alkohol saja ia terlihat begitu aneh wajahnya. Aku tebak, dirinya baru pertama kali minum.” Arka langsung mengoceh menjelaskan detail kejadian.
Ya, memang tadi Arka mendapat pelanggan cukup unik. Perempuan yang sepertinya habis putus cinta itu memesan vodka dan saat memegangnya ia malah terlalu bersemangat sambil berdiri dengan kaki naik ke panjatan kursi. Tentu saja Arka kaget dan berakhir isi vodka di gelas yang dipegangnya dan wanita itu malah meluncur mulus ke tangan yang merembes ke badannya. Astaga, mengingat itu membuat Arka ingin marah namun tak tahu pada siapa. Pada pelanggan wanita terlampau polos itu? Tentu ia tak tega.
“Yasudah, kau lain kali bisa ajari dia bagaimana jadi peminum yang handal.” Yolanda mencetuskan ide briliannya sambil berjalan santai mendahului Arka.
“Tak semudah itu. Sepertinya ia takkan lagi datang,” hela Arka yang terdengar lemas.
Yolanda berbalik dan menatap dengan curiga pada Arka. Ia tersenyum-senyum sambil menggodanya.
“Hey, jadi dia wanita dambaanmu? Kau sepertinya langsung tertarik padanya, ya? Wah, harusnya aku lihat wajahnya agar bisa mempertemukanmu dengan gadis idamanmu itu,” ledek Yolanda begitu senang mendapat bahan baru untuk mengejek Arka.
Arka langsung mengerucutkan mulutnya mendengar celaan Yolanda. Dan pastinya selama perjalanan berdua mereka sekarang, hanya akan diisi dengan sindiran Yolanda tiap kesempatan.
“Kita mau ke mana?” rajuk Arka karena meski Yolanda berjalan di depannya, mulutnya itu tetap menyindir meski tak terus-menerus.
“Ada apa Arka yang sedang suka pada gadis polos di bar tadi? Kau tenang saja, oke. Aku takkan membawamu ke tempat berbahaya atau bahkan sampai membuat keperjakaanmu hilang. Aku tak mau membuat wanita idamanmu itu marah saat tahu dirimu tak perjaka lagi,” sahut Yolanda terkekeh pelan.
Benar, bukan? Yolanda tengah mengejeknya tiap ada kesempatan. Arka mau memukul Yolanda pun agar membuatnya diam, juga takkan mungkin dilakukan.
Yolanda lalu menutup mulutnya dan wajah tersenyumnya berubah datar.
“Kita sudah sampai.”
Arka langsung melongok ke depan dan mengernyit heran saat disuguhi klub yang memang akhir-akhir ini diketahui cukup viral.
“Mau ngapain kita ke mari?” tanyanya tak mengerti.
“Kita akan mencari tahu soal racikan minuman di sini. Sekalian juga, aku mau karaokean. Mau atau tidak?” sahut Yolanda menatap pongah bangunan cukup besar dan gemerlap di depannya.
“Tentu saja mau, dong. Aku akan menggaet banyak perempuan kaya dan mendapat banyak uang,” pekik Arka yang seolah iya-iya saja.
“Halah, aku tahu dirimu takkan bisa menggoda para janda berduit di dalam sana. Begini saja, bagaimana jika kita bertaruh? Siapa yang duluan mendapat mangsa dan bisa menggaetnya ... maka yang kalah harus mentraktir sepuasnya di klub itu?” tantang Yolanda berani.
Keduanya berjabat tangan dengan yakin menambah kepercayaan diri begitu melambung tinggi. Saat baru datang ke pintu masuk, Arka dan Yolanda meneguk ludah susah payah. Keadaan di dalam sana cukup hingar-bingar.