‘’Aneh sekali,’’ Lagi-lagi Ambar terduduk lemah. ‘’Kelas ini baru terbuka dua minggu kemudian. Apakah aku bisa keluar dari sini? Ahhh.’’ Ia merengek layaknya seorang anak bayi. Tak ingin manik Ambar mengeluarkan air mata untuk yang kedua kalinya, tanpa pikir panjang Valgar segera mengambil kunci yang terletak di lacinya mejanya dan bergegas pergi. Di kediaman keluarga Rana. Orang tuanya sangat senang Rana sudah mau keluar dari kamar dan makan bersama dengan Ibu dan Ayahnya. ‘’Apa kau kau baik-baik saja, Nak?’’ tanya Ayahnya. ‘’Tidak pernah sebaik ini, Yah.’’ ‘’Apa hubunganmu dengan Ratva baik-baik saja?’’ ‘’Tentu saja. Apa ada yang salah?’’ Ayah dan Ibunya tampak salah tingkah. ‘’Karena tumben sekali kau makan malam di rumah. Kau bahkan membawa mobil sendiri.’’ ‘’Aku hanya ingin s

