Suasana sepi dan menyeramkan menemani langkah Valgar kala memasuki koridor. Aroma darah yang begitu menyengat tercium saat Grock membuka pintu dari sebuah ruangan. Di sana, lima orang pria berdiri dengan tangan terikat ke atas. Patah hidung, rahang bergeser dan darah segar yang mengalir dari pelipis, bibir maupun lapisan kulit yang terkoyak akibat pukulan keras adalah pemandangan utama yang dilihat oleh Valgar dari ke lima sandera. Ia dapat menyaksikan bahwa anak buahnya sudah lebih dulu menghajar mereka habis-habisan. Sungguh pemandangan yang menyenangkan. Suara langkah kaki yang mendekat memecah keheningan. Salah satu dari lima mahluk bernyawa tersebut menatap Valgar dengan manik yang tak sengaja bertemu. ‘’Val … gar,’’ Lirihnya berusaha menahan sakit. ‘’Kau … akan tamat.’’ Wajah d

