Valgar segera mengasingkan diri begitu mendengar jawaban Davis. Pria itu meraih ponsel dari saku celananya kemudian menempelkan benda pipih itu ke telinganya. ‘’Pindahkan kamarku di sebelah kamarnya. Sekarang.’’ Pagi ini suasana hatinya sedang tak karuan. Valgar memutuskan untuk kembali membersihkan diri. Berharap butiran air yang turun dari shower dapat memadamkan kobaran api yang menjalar di seluruh bagian kepalanya. Emosi yang meluap-luap seketika muncul saat mendengar Ambar hendak dijodohkan dengan orang lain. Rasanya ia ingin menghabisi orang yang melontarkan kalimat bodoh itu. Sayangnya Valgar tidak bisa berbuat apa-apa karena Davis adalah Ayah dari gadis yang ia cintai. Tapi Valgar tidak akan membiarkan kerja kerasnya selama ini sia-sia. Pria yang selalu mendapatkan apapun

