Deg. ‘’Hh, gadis tadi bernama Ambar?’’ Valgar berusaha memastikan. Pasalnya dia tidak ingin mengalami kekeliruan dan kegagalan yang selalu terjadi berulang kali. Wajah dinginnya berubah antusias. Oh, jelas sekali. Karena saat ini di kepalanya sudah bermunculan ide-ide brilian untuk menggencarkan berbagai misi dan juga serangan baru. Itu pun jika dugaannya benar. ‘’Iya. Dia itu yang kau tolak mentah-mentah saat Ibu dan Ayah memintamu untuk berkenalan dengannya,’’ Adeline berekspresi datar. Ia merasa aneh dengan tingkah Valgar. ‘’Dia itu gadis yang pernah masuk ke ruang belajarmu beberapa hari yang lalu.’’ tambah Adeline. Fuck. Valgar kaget sekaligus shock. Rasa senang, bahagia, dan juga bersalah bercampur menjadi satu. Akhirnya, setelah sekian purnama, sekian hari dan detik terlewati.

