Kejadian pergulatan Warja di toang pun mendatangkan bisik-bisik warga Suka Sari. Beberapa hari Warja menjadi trending topik. Hampir semua mendengar kehebatan Warja melawan preman dan menyelamatkan Isma yang hampir menjadi korban pemerkosaan.
Berita menyebar dengan cepat. Mau tidak mau hati para gadis yang sempat kecewa dan merana karena keputusan Warja meninggalkan desa pun pulih lagi semangatnya untuk berharap Warja akan menetap selamanya di desa mereka.
Di antara para wanita, ada wanita yang dirasa istimewa untuk para pemuda Suka Sari. Namun, sayang seribu sayang, dia laksana seorang putri yang tentunya hanya akan diberikan pada pemuda yang spesial dan itu mendatangkan rasa minder di hati para pria yang berniat mendekatinya.
Siapa sangka, sang putri justru jatuh hati pada pemuda desa yang sangat sederhana dan bukan dari kalangan orang kaya. Siang ini, begitu kabar tentang Warja sampai ke telinganya. Tanpa buang waktu dia pun menanyakan kebenaran berita tersebut pada bapaknya.
“Pak, aku dengar Warja sudah kembali ke desa ini,” cicit Zalfa. Dia baru saja kembali dari toko kelontong, di sana banyak orang yang sedang duduk midangan sembari membicarakan Warja.
“Iya, bapak ketemu sama dia di toang itu. Kamu sudah dengar beritanya?”
Zalfa menggeleng, dia hanya mendengar tanpa sengaja salah satu ibu yang bercerita Warja, untuk bertanya tentulah Zalfa merasa sungkan.
“Kamu tidak tahu kalau malam itu dia sudah mirip jagoan pas bantu anaknya si Dulah yang mau diperkosa sama preman.” Kebetulan Hari Wibawa-ayah dari Zalfa Putri Wibawa yang masih menjabat sebagai kepala desa aktif memang tahu sendiri keributan yang terjadi di toang antara Warja dan sang preman.
“Serius, Pak?” Zalfa tampak antusias, awalnya dia iseng-iseng membuka obrolan dengan sang bapak kini malah justru dia yang dibuat penasaran ingin mengulik semua hal tentang Warja.
“Nok, Nok, ngapain juga bapak bohong. Memang si Warja juga dari dulu suka bantu orang, dia juga jago gulat. Di pesantren dia kan guru silat. Jadi wajar kalau Warja itu mampu menumbangkan si preman meski dengan tangan kosong.”
“Wah, keren ya pak,” puji Zalfa. Jelas sekali rasa kagum terpancar dari sorot matanya.
“Ya keren kayak bapakmu ini, Nok.”
“Iya-iya, bapak memang yang paling keren dari pria terkeren mana pun. Bapaknya Zalfa dilawan.”
Tawa menggema sesaat sebelum Zalfa berdehem di akhir tawanya.
“Kenapa, Fa?”
“Bapak kemarin tanya kapan aku mau nikah?” tanya Zalfa malu-malu.
“Iya, usiamu itu kalau di sini memang sudah harusnya cepat-cepat kawin. Sudah sarjana, sudah kerja juga, umur dua puluh lima teman-temanmu sudah punya anak semua. Bapak sama ibumu sampai iri kalau lihat ada orang tua temanmu yang sudah menimang cucu.”
“Ya Allah bapak, aku nikah saja belum bapak sudah bahas cucu.”
“Ya makanya kamu cepat kawin.”
“Nikah bapak, nikah, bukan kawin. Kalau kawin mah tidak usah pakai acara akad juga bisa.”
“Alah Nok, kamu mah paling pinter kalau nyalahin kosa kata yang dipakai lawan bicara.”
“Ya elah bapak ngambek, enggak begitu juga pak. Aku minta maaf kalau salah, tapi sekarang aku mau bilang sudah siap kalau bapak mau nikahin aku.”
Hari terbatuk-batuk, Zalfa segera meraih teh di meja bundar kecil yang ada di antara kursi yang mereka duduki.
“Minum dulu pak.”
Satu dua teguk teh yang sudah tidak lagi hangat diminum Hari hingga batuknya reda.
“Kamu sudah siap jadi manten?” tanya Hari setelah kembali meletakan Teh di atas meja.
“Insya Allah aku siap bapak.”
“Siapa calonmu, Nok?”
Zalfa membalas tatapan Hari, malu dia mengungkapkan, tapi cinta yang dirasa dia akan berbalas kalau dengan bantuan bapaknya. Bagaimana pun Zalfa tahu banyak jasa dari sang bapak yang sudah diberikan pada pria idamannya. Mungkin itu bisa jadi pertimbangan dan nilai tambah untuk melancarkan keinginan hati yang mendamba sang pria jadi suami.
“Orang sini,” tebak Hari saat putrinya hanya diam saja.
Malu-malu Zalfa menunduk, merangkai jemari saling bertaut, melepas jari-jarinya lagi. Dan terus saja dia mainkan hingga detik terus berjalan Zalfa belum juga membalas tanya dari sang bapak.
“Kok ya kamu diam, kalau enggak ngomong siapa calonnya mana bapak tahu dia orang baik atau tidak. Meski bapak bebaskan kamu pilih suami, tapi bapak dan ibu juga mau kamu dapat pria baik-baik toh, Nok.”
“Inysa Allah dia baik, Pak. Sangat baik,” tanggap Zalfa meyakinkan Hari.
“Siapa?”
Tatapan mereka beradu, sesaat Zalfa menarik napas pelan sebelum menyebutkan nama pria yang ada dalam hatinya.
“Warja, Pak.”
Hari langsung membuang muka, seperti dia tidak suka dengan Warja. Zalfa yang menyadari aura wajah bapaknya berubah pun merasa sedikit takut kalau pilihan hatinya justru bertentangan dengan Hari.
“Bapak tidak suka sama Warja?”
“Bukan tidak suka.”
“Terus kenapa? Bukannya bapak tahu kalau Warja itu baik, dia juga taat beragama, ringan tangan membantu sesama dan dia sama-sama seorang sarjana kayak aku pak.”
“Tapi dia petani. Ditambah dia petani juga bukan juragan tani kaya. Dia kerja tani di sawah seuprit milik orang tuanya. Kamu mau dikasih makan apa kalau nikah sama Warja, Fa.”
Tanggapan Hari sangat jauh dari apa yang Zalfa bayangkan. Sebelum ini Zalfa tahunya Hari selalu memuji dan membanggakan Warja. Baru kali ini terdengar kalimat bernada negatif berkaitan dengan Warja.
“Kamu itu suka jajan. Kamu juga doyan nyandang, kalau beli baju kamu maunya yang bagus, tas juga yang bagus. Belum lagi hobi kamu jalan-jalan Fa. Bapak tidak yakin kalau Warja bisa membahagiakanmu karena bapak tahu anak bapak ini seperti apa,” sambung Hari menjelaskan alasan tidak setujuannya akan pilihan Zalfa.
“Tapi aku bisa berubah, Pak. Aku suka Warja sudah sejak lama.”
“Kamu pikir nikah itu hanya modal suka, cinta. Ini bukan bapak merendahkan strata sosial Warja ya, Fa. Warja itu baik, bapak juga akui dia baik. Hanya kalau disandingkan dengan kamu, itu bagai permata dan lumpur sawah. Kontras, Fa. Coba kamu pikirkan.”
Zalfa diam, tidak mampu dia menyuarakan keinginan hatinya. Sungguh cinta sudah merasuk dalam, tangis pun bermalam-malam dia sembunyikan saat Warja memutuskan pergi kerja ke Bogor. Jauh meninggalkan desa mereka dan itu membuat hubungan mereka yang sempat dekat jadi merenggang.
“Cinta itu hanya dirasa sebulan dua bulan, atau mungkin di tahun-tahun awal kamu menikah, Fa. Sekarang kamu cinta sama Warja, kamu terima dia apa adanya, tapi kalau kamu lihat teman-temanmu beli tas baru, jalan-jalan ke luar kota, beli mobil bau atau punya rumah mewah. Bapak yakin kamu iri, kamu mau juga memiliki apa yang mereka miliki sementara Warja tidak bisa memberikan itu sama kamu.
Ini bapak ngomong begini bukan karena bapak tidak suka Warja. Hanya bapak tahu gaya hidup kamu itu tidak akan cocok kalau disandingkan dengan Warja. Kasihan dia sebagai suami kalau melihat istrinya merengek minta ini itu dan Warja tidak bisa mengabulkannya.
Itu loh, Fa, yang bapak takutkan seperti itu. Di awal nikah kamu terima Warja apa adanya, tapi lama-lama kamu banyak menuntut dan bapak sebagai pria bisa membayangkan seperti apa perasaan Warja kalau sudah seperti itu.”
Panjang Hari memberi penjelasan, tapi Zalfa yang merupakan anak tunggal, di mana semua keinginannya selalu dituruti. Dia memilih masuk ke rumah tanpa memberi tanggapan apa pun pada nasihat Hari. Ngambek, selalu itu yang terjadi saat kemauannya tidak segera disetujui.
Dipikir Zalfa, bapaknya sama sekali tidak mengerti cintanya pada Warja. Padahal Hari sebagai orang tua hanya menginginkan yang terbaik untuk putri semata wayangnya.
“Nok, kamu kenapa?” Sarinih yang berpapasan dengan Zalfa melihat air mata menggenang di pelupuk mata putrinya. Namun, Zalfa mengabaikan tanyanya. Tidak menjawab pertanyaan Sarinih dan memilih masuk ke dalam kamar, mengunci diri meluapkan kecewa karena tidak setujuan Hari.
“Fa, Zalfa, kamu kenapa?” Sarinih mengetuk pintu kamar Zalfa. Tidak ada jawaban, yang dia dengar malah suara tangis sang putri yang meraung seperti biasanya. Saat keinginannya tidak dituruti hal seperti ini pasti terjadi.
“Kenapa, Bu?” Hari masuk ke dalam rumah mendengar istrinya terus mengetuk pintu kamar sang putri sembari memanggil-manggil nama Zalfa.
“Kok bapak tanya kenapa sama ibu? Bukannya kalian itu mengobrol berdua di luar. Bapak ngomong apa sampai anaknya ngambek dan nangis macam itu.”
“Oh, dia minta kawin.”
“Bagus dong, Pak. Bukannya bapak sering tanya kapan dia kawin. Sekarang anaknya sudah nemu jodoh bapak larang dia, begitu?” tebak Sarinih.
“Bukan dilarang, Bu. Tapi bapak yok mikir anak kita macam apa, terus calon suaminya seperti apa. Pernikahan itu sekali seumur hidup. Kamu tahu sendiri seperti apa manjanya Zalfa. Lihat saja sekarang, bapak ajak ngomong baik-baik dia malah ngambek.
Bagaimana kalau nanti dia nikah. Suaminya tidak punya duit dia minta tas yang harganya hampir satu juta itu loh, Bu. Sok ibu bayangin dulu. Masa iya nanti baru nikah dia minta cerai dengan alasan suaminya tidak bisa menuruti keinginan Zalfa.”
Sarinih tampak berpikir sesaat, dalam hati dia membenarkan kalimat suaminya.
“Zalfa mau nikah sama siapa memangnya?”
“Warja-si Warja Surya Atmaja anaknya Juminah, Warita. Bapak-Ibunya buruh tani. Punya sawah sepetak digarap Wahyu-kakaknya Warja. Dia memang pria baik, tapi bapak tidak yakin dia bisa membahagiakan Zalfa karena bapak tahu seperti apa anak kita.”
“Walah, kalau sama si Warja mah ibu juga moh, ora setuju. Ora sudi aku besanan sama Juminah, masa iya ibu kades besannya kuli. Tukang tandur, tukang derep panenan. Ora, ora pak. Wis biar saja Zalfa nangis seperti itu.”
Sarinih menjauh dari kamar sang putri. Dia biarkan Zalfa terus meraung, menangis, melempar beberapa barang yang mengisi kamarnya. Biarkan saja Zalfa menangis sekarang dari pada Sarinih harus menanggung malu kalau sampai putrinya menikah dengan anak petani miskin sekelas Warita dan Juminah.
***
Sore menjelang, setiap hari Minggu sore, malam senin, ada pasar rakyat. Orang-orang menyebutnya pasar Senenan. Para penjual membuka lapak mulai habis salat asar, beragam jajanan, makanan tradisional, penjual baju, tas, sepatu, aksesoris dan lainnya menjajakan dagangan mereka di sepanjang jalan utama desa Suka Sari.
Wahyu rutin menggelar lapak wahana mainan anak berupa ogong-ogong kecil atau masyarakat Indramayu menyebutnya Singa depok putar. Padahal bentuknya bukan singa, tapi burung, naga atau ada juga burung berkepala tiga. Ogong-ogong atau Singa depok mini berjumlah enam dipasang melingkar pada sebuah besi. Ada enam anak yang bisa naik ke atasnya dan Wahyu akan memutarnya seperti komidi putar atau kincir angin.
Namun, yang berbeda dari sore ini, bukan Wahyu yang menunggui lapak, tapi Warja. Itu membuat sebagian ibu-ibu muda membujuk anaknya untuk mau naik singa depok putar hanya untuk bertegur sapa dengan Warja.
“Mas Warja sudah pulang?” Ibu muda menyerahkan anaknya pada Warja. Jantungnya berdetak cukup cepat saat Warja menerima sang putri dan itu membuat jarak mereka teramat dekat. Wangi parfum yang dipakai Warja pun membuat dia semakin kesengsem.
“Sudah Lin. Ini anak kamu?”
“Iya, Mas.” Senyum malu-malu tampak jelas.
“Mas, ini anak saya mau naik. Jangan pacaran mulu,” tegur ibu lainnya.
“Permisi, Lin.” Warja melewatinya dan wangi tubuhnya semakin membuat Linda dimabuk kepayang. Ah, pesona Warja selalu mampu meluluh lantakan hatinya.
Dari banyaknya ibu-ibu yang silih berganti berkerumun menanti anaknya naik singa depok putar. Zalfa nekat mendekat meski tidak membawa balita atau anak-anak calon penumpang.
“Warja,” sapa Zalfa.
Keringat bening tampak di pelipis Warja dan itu membuatnya terlihat semakin tampan dan gagah di mata Zalfa.
“Zalfa, lama tidak bertemu. Apa kabar?” Warja mengulurkan tangan dan segera Zalfa membalasnya.
“Anaknya mau naik?”
“Anak,” desis Zalfa menengok ke kanan kiri. Siapa tahu ada balita berada dekat dengannya.
“Eh ya Allah, belum juga aku tanya kamu sudah nikah belum. Aku malah bertanya anak. Maklum, Fa. Rasanya dua tahun lebih meninggalkan desa ini, semua seperti berubah, kamu lihat saja teman-teman kita semuanya sudah punya anak.”
“Ya, kalau Zalfa mah mau nikahnya sama kamu saja, Mas. Dia rela tunggu kamu berapa tahun pun,” celetuk Linda yang ternyata ikut menguping pembicaraan mereka.
“Apaan sih Lin, kamu gacor kayak beo. Hobi banget nimbrung tiba-tiba,” protes Zalfa bernada tak suka.
“Lah, memang kenyataan seperti itu kan, Fa. Semua juga tahu kalau kamu punya hati, punya rasa dan punya harapan buat jadi istri mas Warja.”
“Dasar ember bocor. Sudah, Ja. Jangan dengarkan Linda. Dia mulutnya mirip ember bledug.” Tanpa sadar tangan Zalfa menarik lengan Warja di mana tangan kanannya sedang memutar singa depok putar manual tanpa tenaga mesin.
“Maaf, Fa. Aku lagi tungguin ini sampai mas Wahyu datang.”
Sontak Zalfa melepas cengkraman tangannya, tanpa kata dia berlalu meninggalkan Warja. Malu dirasa, tawa cekikan seraya terdengar sedang meledeknya. Duhai, hati. Bersabarlah, yakin kalau kembalinya Warja ke Suka Sari sebagai pertanda kalau dialah jodohmu.