12. Natasya Yang Mandiri?

1344 Words
Mobil itu pergi meninggalkan halaman rumah. Aku dan Natasya tetap berdiri di teras hingga kendaraan yang Mas Rendra kendarai menghilang di balik pagar. "Biar Tasya yang tutup gerbangnya, Tante," ucap anak itu. Aku tak menjawab, tidak juga menoleh ke arahnya. Namun, aku tahu anak itu menunggu jawaban. Tanpa sepatah kata pun aku berbalik dan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan dia yang sepertinya masih menunggu. Tidur. Hanya itu tujuanku. Sepertinya karena terlalu banyak pikiran, kualitas tidurku pun terganggu. Terlebih karena sudah dua malam ini aku tidur di sofa. Seluruh tubuh ini rasanya sangat tidak nyaman. Terasa pegal dan kaku. Akhirnya aku masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Tidur tanpa memedulikan apa Natasya bisa menutup pagar besi yang berat itu. Hingga siang tiba, aku terjaga setelah merasakan sesuatu di bagian perut. Rasa lapar yang akhirnya memaksa untuk turun dari ranjang. Di depan pintu dapur aku berhenti. Memerhatikan anak perempuan yang sedang berdiri di atas kursi ... di depan kompor? "Sedang apa?" tanyaku spontan. Terkejut dan heran pastinya, melihat anak sekecil itu berdiri di tempat yang tak seharusnya. Natasya mematikan kompor, lalu menoleh ke arahku. "Hangatin nasi goreng tadi pagi, Tante," sahutnya. Aku melangkah cepat. Berdiri di belakangnya dan menatap isi wajan. Ya, memang dia menghangatkan nasi goreng buatan Mas Rendra tadi pagi. "Kata Papa, kalau misalnya nasi goreng ini enggak dimakan sama Tante, boleh aku makan lagi. Apa Tante mau makan nasi goreng ini? Kalau Tante mau biar aku ma--" "Enggak usah, makan aja. Tante mau masak mie," selaku cepat. "Iya, Tante." Natasya pun turun dari kursi dan melangkah ke arah rak piring. Mengambil satu piring plastik dan naik kembali ke atas kursi. Dia sama sekali tidak meminta bantuanku, bahkan untuk menuangkan nasi goreng dari wajan ke atas piring. Anehnya, tidak ada sebutir nasi pun yang jatuh dan mengotori kompor. Kenapa aku merasa dia seperti sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini? Aku terus memerhatikan gerak-geriknya. Natasya turun dari kursi, menyimpan piring di atas meja, lalu kembali naik ke atas kursi. Diambilnya kain lap untuk digunakan sebagai alas memegang kedua telinga wajan. Lalu disimpannya wajan kotor itu di atas wastafel. "Nanti biar Tasya yang cuci, Tante," ucap anak itu. Aku menoleh ke arahnya. Ekspresinya itu seperti sedang menunggu. Akhirnya kuanggukkan kepala sekejap demi menghargai usahanya. Aku memang tidak menyukainya, bahkan mungkin membenci kehadirannya di rumah ini. Akan tetapi, melihatnya melakukan pekerjaan orang dewasa seperti itu entah kenapa rasanya miris sekali. Natasya menikmati nasi goreng kecap itu dengan lahap. Ditemani kerupuk dan mentimun yang juga sisa tadi pagi. Aku yang masih terheran melihatnya, akhirnya tersadar setelah merasakan perut ini kembali meminta jatahnya. "Alhamdulilah," ujar Natasya yang sudah selesai menyantap makan siangnya, sementara aku baru selesai menuangkan mie rebus ke dalam mangkuk. Natasya mendorong kursi kembali ke depan wastafel. Membawa piring dan gelas kotor. Dalam hitungan detik anak itu pun mencuci semua perabot yang sudah dia gunakan. "Tante mau aku cucikan mangkuknya?" tanya anak itu. Membuatku tertegun dan sadar jika mie dalam mangkuk belum sempat aku makan. Aku menggelengkan kepala. "Tante bisa sendiri." "Kalau begitu aku ke kamar dulu," pamitnya. "Tunggu," cegahku, membuatnya yang hendak melangkah berbalik kembali. "Iya, Tante. Ada apa?" Natasya menghampiriku. "Kamu udah biasa nyuci baju, cuci piring sama masak?" tanyaku penasaran. "Iya, kalau Mama pergi kerja aku di rumah bantu-bantu," jawabnya. "Oh," timpalku, kemudian mengalihkan pandangan ke arah mangkuk di hadapan. Akhirnya Natasya pun pergi melangkah keluar dari dapur. Jadi ... Atikah bekerja demi menghidupi anak semata wayangnya itu? Ah, tentu saja. Semenjak menikah denganku, aku selalu mengatur keuangan Mas Rendra. Semua gajinya dia serahkan padaku. Aku hanya memberinya uang untuk bekal dia selama seminggu, dan lagi sepertinya dengan jumlah itu tidak akan cukup jika harus dikirimkan pada Atikah. Lalu jika ada kebutuhan di luar bekalnya, dia selalu mengatakan untuk apa. Semisal ganti oli kendaraan atau membeli ban baru. Suamiku tidak pernah meminta untuk hal yang lain-lain. Bahkan jika dia ingin memberi uang untuk kebutuhan Umi pun, selalu aku yang disuruh untuk memberikannya secara langsung. Apa mungkin dia memiliki uang simpanan lain, atau pekerjaan sambilan? Astagfirullah, Nara. Kenapa jadi bersuudzon terus pada suami sendiri? Sudah jelas jika selama ini Atikah bekerja untuk membiayai putrinya. Dengan segera aku memakan mie dalam mangkuk yang sudah agak mengembang karena terlalu lama aku biarkan demi memikirkan Mas Rendra, Atikah dan Natasya. "B u bu, k u ku. Buku. I, t u tu, itu. Buku itu. A d a da, ada. D i di, m e ... me, j a ja. Di meja." Aku berhenti di depan pintu kamar anak itu. Mendengarkan dia yang sedang belajar membaca. Aku baru tersadar sesuatu. Apa anak itu sudah sekolah? Akhirnya, malam tiba. Aku merasa lega karena hari pertama menjaga Natasya sudah berlalu. Ya, meski sebenarnya aku hanya memantaunya. Termasuk saat makan malam tadi. Dia kembali menghangatkan lagi sisa nasi goreng itu sendiri dan aku hanya memerhatikannya seperti tadi siang. Selepas salat Isya aku keluar dari rumah untuk mengunci pintu pagar. Saat kembali masuk tampak anak itu berdiri di ambang pintu. "Sedang apa?" tanyaku melihatnya yang fokus menatap ke arah luar sana. "Apa anak-anak itu pulang dari mengaji?" tunjuknya. Aku menoleh sekejap. Memang ada beberapa anak kecil yang berlarian di jalanan sana. "Iya, habis mengaji di masjid. Kenapa? Kamu belum pernah lihat," tukasku. "Sering dulu. Tasya 'kan juga sempat mengaji di masjid," jawabnya. Dia pun mengalihkan pandangan ke arahku. "Mm, apa anak-anak di sini nakal juga seperti di tempat Tasya dulu?" Aku menautkan kedua alis, tidak mengerti dengan maksud pertanyaannya. "Nakal? Nakal bagaimana?" "Iya ... nakal. Seperti teman-teman di sana yang suka bilang kalau Tasya ini anak haram." "Siapa yang bilang seperti itu?" tanyaku kaget. "Teman-teman Tasya dulu," jawabnya lagi. Padahal bukan itu maksud pertanyaanku. Lalu anak itu pun terlihat menguap panjang. "Tante, Tasya mau bobo sekarang." Aku menganggukkan kepala meski sejujurnya masih merasa penasaran dengan ceritanya. Tiba-tiba aku teringat akan ucapan Mas Rendra beberapa waktu lalu, yang mengatakan jika Natasya itu berbeda dengan anak lainnya. Apa itu maksudnya? Anak itu selalu dibully oleh teman-temannya karena disangka lahir tanpa ayah? *** Selepas salat Subuh aku tidur kembali. Entah karena tubuh ini yang masih ingin bermalas-malasan atau karena tidak adanya Mas Rendra, membuatku merasa tidak ada kewajiban untuk menyiapkan sarapan. Ah, padahal sudah beberapa hari ini aku memang tidak menyiapkan sarapan untuknya, 'kan? Ponsel di atas nakas berdering, membuatku terjaga dari tidur lelap ini. Aku bangkit demi meraih benda itu. Tampak nama 'Suamiku' tertulis di layar. Sedikit tersungging bibir ini, merasa senang karena dia masih mau meneleponku kendati sebelum pergi aku sempat membuatnya marah. "Assalamualaikum, Mas," sapaku segera setelah menjawab teleponnya. "Waalaikumsalam, Nara. Sedang apa?" tanya Mas Rendra. "Baru bangun. Sepertinya kurang enak badan, jadi tidur lagi sehabis salat tadi," jawabku. "Istirahat kalau lelah. Jangan membiasakan menunda makan, dan jangan lupa minum obat." Aku merunduk, tersipu menerima perlakuan seperti itu dari suamiku sendiri. "Ya, nanti aku makan dan minum obat. Terima kasih perhatiannya, " ucapku. "Sama-sama, Istriku," sahut Mas Rendra. "Mm, Tasya lagi apa?" Senyum di bibir ini memudar seketika, mendengar Mas Rendra menanyakan anak itu. "Kurang tau, aku belum melihatnya." "Oh, iya. Enggak apa. Nanti saja kamu lihat dia jika sudah keluar dari kamar. Ya sudah, aku mau masuk dulu. Rapatnya sudah mau dimulai. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," sahutku. Kusimpan kembali ponsel di atas nakas dengan agak mengentak, lalu turun dari ranjang. Sebenarnya ingin cepat keluar dari kamar, tapi karena mendengar ucapan Mas Rendra tadi tiba-tiba aku menjadi malas. Akhirnya aku memilih untuk membereskan tempat tidur lebih dulu. "Ah!" Aku menyipitkan mata, mendengar suara benda jatuh dan disusul dengan teriakan dari luar kamar. Ada apa? Akhirnya aku meninggalkan kamar dan bergegas berlari menuju sumber teriakan yang ternyata berasal dari dapur. Anak itu, Natasya. Dia sedang berjongkok di depan pecahan beling yang berserakan di atas lantai. "Kenapa?" tanyaku. Natasya mengangkat kepalanya, menatap ke arahku. "Maaf, Tante. Tasya enggak sengaja. Biar Tasya yang bersihkan," ucapnya dengan tatap mata sendu. Aku hanya memutar bola mata. Kemudian berbalik untuk kembali ke kamar. Pagi-pagi disuguhi kondisi seperti ini membuatku kesal saja. "Ah, sakit." Baru saja selangkah, anak itu sudah mengaduh. Aku berputar kembali demi melihatnya. Natasya sedang menangis meratapi jarinya yang berdarah. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD