13. Natasya Demam?!

1095 Words
Aku berbalik, berniat masuk kembali ke kamar. Bukannya tidak ingin menolong anak itu, tapi aku ini memiliki hemofobia. Aku akan merasakan pusing dan mual setiap kali melihat darah. Bahkan tubuhku bisa gemetaran jika melihat darah dalam jumlah banyak. "Mama," rengek Natasya. Aku yang baru selangkah keluar dari dapur, entah kenapa merasa tidak tega. Akhirnya aku berbalik dan melangkah ke arah kulkas untuk mengambil kotak P3K. "Ini, kamu usap pakai ini biar enggak infeksi," perintahku, memberikan kapas yang sudah aku tetesi Rivanol. Natasya menurut. Diambilnya kapas di tanganku lalu mengusap jarinya yang terluka itu. Aku melirik dengan ekor mata, tapi tetap saja mual itu terasa. Bahkan kepala ini sudah merasakan berat sedari tadi. "Tante kenapa?" tanya Natasya di tengah isak tangisnya. Aku menggelengkan kepala, lalu memberikan perban padanya. "Tutup pakai ini." Natasya mengambil perban itu dan menutup lukanya. Memang robekan kecil itu terbilang cukup panjang. Pantas saja dia sampai menangis kesakitan. "Su ... sudah, Tante," ujarnya terbata. Aku pun mengambil plester dan mengunci perban itu dengan segera. "Sudah," ucapku cepat. "Te ... terima ... kasih, Tan ... Tante," ucap anak itu sembari menghapus tetesan air mata di pipinya dengan tangan yang satunya. "Hm." Aku menjawab tanpa menoleh. Segera aku berdiri dan menyimpan kotak P3K ke tempatnya lagi. Niat hati ingin langsung ke kamar untuk beristirahat, tapi rasa mual semakin mendesak. Akhirnya aku malah berlari ke arah kamar mandi. "Tante Nara, kenapa?" tanya Natasya setelah aku keluar dengan satu tangan memegang perut. Aku hanya bisa menggelengkan kepala karena tak sanggup menjawab. "Tante sakit? Masuk angin? Mau aku gosokin pakai minyak kayu putih? Aku suka gosokin punggung Mama kalau dia sak--" "Enggak usah. Tante bilang enggak usah. Tante mau istirahat lagi!" pungkasku dengan intonasi agak tinggi. Natasya terdiam, kedua matanya mengerjap. Seakan terkejut dengan sikapku yang tiba-tiba. Namun, aku tak peduli. Tanpa ingin meminta maaf atau menjelaskan kondisiku, aku segera meninggalkannya yang masih bergeming di tempatnya. Di dapur yang berantakan itu. Kurebahkan tubuh ini di atas peraduan lagi demi meredakan rasa pusing di kepala. Ah, gara-gara anak itu! Tanpa terasa, kedua mata pun ikut terpejam seiring rasa pusing yang semakin berat. Terdengar pintu diketuk. Aku memincingkan mata, melihat siapa yang membuka pintu tanpa izin. "Maaf, Tante. Tasya buka pintunya. Soalnya Tasya cemas. Tante belum keluar dari tadi pagi," ujarnya. "Ada apa?" ketusku. "Ini, Tasya buatkan mie rebus. Kemarin Tasya lihat Tante masak mie pakai sayur, pakai telur dan cabe." Dia melangkah membawa mangkuk di tangannya. "Ini, semoga Tante suka." Disimpannya mangkuk itu. Kemudian dia mengibaskan kedua tangannya. "Panas, Tante," ucapnya diakhiri ringisan. "Tapi Tasya enggak pecahin mangkuk lagi, kok." Aku menatap anak itu dengan perasaan aneh, kasihan, tetapi juga kesal. Akibat ulahnya itu aku harus beristirahat selama beberapa jam demi memulihkan tenaga. "Tasya mau solat duhur dulu," pamitnya. Lalu keluar dari kamar. Dia juga menutup pintu dengan rapat. Aku pun bangkit setelah yakin dia tidak ada di depan kamar. Sesungguhnya harum mie rebus buatannya itu cukup menggoda indera penciumanku sedari tadi. Bahkan perut yang sempat mual ini, sekarang terasa sangat lapar. "Tidak ada salahnya aku coba," gumamku, sembari meraih mangkuk itu. "Bagaimana bisa anak seusia dia memasak mie rebus seperti ini?" Satu suap mie berhasil masuk ke dalam mulut. "Cukup enak. Meski sayurnya terlalu masak, dan airnya terlalu banyak," bisikku. Hingga akhirnya mangkuk di tangan tinggal tersisa air kuahnya saja, dan rasa lapar terentaskan sudah. Aku menyimpan mangkuk di atas nakas, berganti meraih teko. "Yah, kosong," gumamku. Akhirnya mau tak mau aku keluar dari kamar untuk mengambil minum. Sesampainya di dapur, itu mengingatkan aku pada sesuatu. Pecahan beling yang berserakan. Ternyata Natasya sudah membereskan semuanya. Dia juga mencuci wajan bekas memasak mie. "Tante mau cuci bekas mie barusan?" Aku terlonjak kaget karena mendengar anak itu bertanya secara tiba-tiba. "Enggak apa. Biar Tante yang cuci," jawabku, alih-alih merasa malu karena dia mengetahui mie buatannya sudah habis tak bersisa. "Tante, tadi aku lihat gasnya tinggal sedikit. Apa Tante ada gas cadangan?" Dia bertanya sembari berjalan ke arahku. "Ada," jawabku asal. Aku semakin sebal pada sikap sok dewasanya itu. "Oh, iya." Dia pun berbalik, keluar dari dapur. Kusimpan mangkuk kotor yang kubawa dari kamar di atas wastafel, lalu mengambil gelas dan mengisinya dengan air dari dispenser. "Memang mau apa dia tanya-tanya soal gas," gumamku. Setelah meneguk segelas air aku pun masuk kamar mandi untuk membersihkan diri juga menunaikan salat zuhur. Demi mengisi waktu, aku memutuskan untuk menggosok baju yang sudah menumpuk. Suasana terasa sepi karena aku tidak menyalakan televisi. Natasya juga sepertinya tidak sedang belajar. Tidak ada suara apa pun dari arah kamarnya. Hingga sekeranjang baju selesai aku setrika sekitar jam empat sore. Aku memang kurang gesit untuk pekerjaan ini. "Sebelum masukan baju ke lemari, sebaiknya solat saja dulu," gumamku. Kemudian melangkah ke arah kamar mandi. Ketika hendak masuk ke dalam kamar tidur, entah kenapa aku merasa penasaran dengan kamar di sebelahnya. Apa benar dugaanku jika Natasya tidur? Kenapa terasa lama sekali? Ini bahkan sudah lebih dari dua jam. Akhirnya aku melangkah mundur dan berhenti tepat di depan pintu kamar yang sudah beberapa hari ini dihuni anak berusia tujuh tahun itu. Awalnya aku menempelkan daun telinga demi mendengar seksama suara dari dalam, tapi ternyata tidak ada suara apa pun. Terdorong rasa penasaran, aku mencoba membuka pintu dengan perlahan. Tampak anak itu sedang berbaring di atas ranjang. Kututup kembali pintu karena berpikir dia masih tidur. Memutuskan untuk salat Ashar terlebih dahulu. Selesai salat aku melanjutkan pekerjaan tertunda tadi. Membereskan tumpukan baju ke dalam lemari. Aku biasa menyetrika baju di ruang tengah, dan itu membuatku harus berkali-kali melewati kamar Natasya. Anehnya, hingga jarum jam menunjukkan angka empat, anak itu belum terlihat keluar dari kamar. Bagaimana ini? Apa mungkin terjadi sesuatu padanya? Kalau memang terjadi apa-apa, aku pasti akan disalahkan oleh Mas Rendra. Ah, tidak! Akhirnya setelah memasukkan tumpukan baju terakhir di bagian kaos milik Mas Rendra, aku bergegas keluar dari kamar dan masuk ke kamar Natasya. "Natasya," panggilku seraya membuka pintu kamarnya, tapi dia tidak menjawab. Aku melangkah menghampirinya yang masih berbaring menyamping dengan posisi membelakangi pintu. Semakin dekat ke arahnya, aku mendengar suara rengekan pelan itu. Ternyata dia sedang menangis. Kudekati dan berdiri di belakangnya. "Natasya, kamu kenapa?" tanyaku segera. "Sakit," rengeknya lagi. Aku pun memperhatikan tubuhnya. Ternyata dia menangis sembari menyembunyikan kedua tangannya di sela paha. "Sakit kenapa?" tanyaku penasaran. Natasya mengeluarkan kedua salah satu telapak tangannya. "Ya ampun, kenapa jadi begini?" pekikku, melihat jarinya yang terluka akibat pecahan beling tadi membengkak. Kemudian kuraba keningnya, dan benar saja dugaanku. "Badan kamu panas, Natasya," ujarku kaget seraya menarik tangan lagi. Sekarang, apa lagi yang harus aku lakukan? Aku belum pernah mengalami hal ini. Aku belum pernah mengurus anak yang mengalami demam. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD