Kepada Petugas Transmigrasi yang terhormat. Dengan ini saya menyatakan mengundurkan diri sebagai Adel.
“Adel?”
Tentu saja itu tidak terjadi, saudara-saudara.
Beberapa kali aku mencoba berkedip, sekadar memastikan bahwa Flora tidak sedang mengipasiku lalu Jamie bukanlah abangku. Aku ingin pulang. Eh tunggu dulu. Aku, kan, sudah mati. Nanti kalau pulang, apa aku akan kembali ke tubuh asliku yang kemungkinan besar penyok-penyok atau aku justru berubah menjadi arwah gentanyangan penunggu pohon?
“Ma, Adel sadar,” kata Flora. Suaranya terdengar penuh syukur dan sepertinya sedikit mengandung bawang alias memicu air mata. Jamie, yang entah bagaimana caranya, berada di dekatku. Dia terlihat seperti anak pramuka yang tersesat di hutan dan butuh pertolongan dari kakak pembina, sementara aku masih terbaring di ... kamar siapa?
Kemudian seseorang, wanita tepatnya, menghampiriku. Berambut pirang dan amat pantas menyandang gelar ratu kecantikan. Dengan lembut dia memindahkan handuk dari keningku, kemudian berkata, “Tante yang minta tolong panggil kakakmu. Adel, mendingan?”
Selintas aku menangkap meja belajar dan nakas yang berisi bermacam pigura dalam berbagai bentuk dan ukuran. Jemariku meraba, merasakan tekstur alas tidur, dan setelah yakin aku tidak jatuh ke neraka barulah aku berani menjawab. “Terima kasih.”
Oh kemungkinan aku terkejut, pingsan, kemudian mereka membawaku ke kamar Flora. Lantas salah satu di antara Flora atau Morgan memanggil Jamie yang ada di parkiran. Sungguh dedikasi mengagumkan.
“Adel, Tante dengar dari Flora kamu sedang sakit. Apa mau Tante panggilkan dokter?”
Aku menggeleng. “Enggak, Tante.”
‘Pengin pulang,’ jeritku dalam hati. ‘Aku pengin pulang aja. Abang, sebaiknya kita melesat pergi secepat mungkin dari sini.’ Segera aku berusaha bangkit, mencengkeram tangan Jamie, dan ketika mataku menangkap kehadiran Morgan yang tengah duduk santai di kursi malas, dorongan ingin pura-pura kesurupan pun melejit.
“Apa Adel sudah makan?” Ibu Flora, yang entah namanya siapa, bertanya kepada Jamie. “Tante kebetulan masak sup jagung. Bagaimana kalau kalian berdua makan malam di sini?”
No! Jamie, kita harus pulang!
“Terima kasih,” Jamie menjawab. “Kami langsung pulang saja, Tante. Takutnya Adel malah gangguin Flora.”
‘Jamie g****k! Kenapa kamu justru ngomongin itu? Morgan, kan, belum atau baru tahu sedikit kalau Adel bibit setan! Ya ampun!’
Keringat dingin makin bermunculan dan aku bisa merasakan bahwa pakaianku menempel di punggung. Jangankan mengecek mengenai Morgan sempat mencuri dengar ucapan Jamie, pura-pura tersenyum pun susahnya minta ampun. Bisa-bisanya rencana memperbaiki hubungan Adel dan Flora digagalkan Jamie? Aku harus membuat perhitungan dengan tokoh ekstra yang satu ini!
“Nggak kok,” Flora membantah. “Adel baik cuma ada salah paham dikit.”
Oh Flora....
“Nah, Tante nggak suka lihat kalian kelaparan. Adel pasti belum sempat makan, ‘kan? Tolong jangan sungkan. Tante jago masak kok. Kalian makan dulu baru pulang, ya?”
Akhirnya aku dan Jamie tidak berkutik. Kami berdua memang lemah bila berhadapan dengan bujukan ibu-ibu cantik jelita, baik hati, wangi, dan suka menabung.
Pada akhirnya kami semua duduk mengelilingi meja makan. Flora dan ibunya sibuk mempersiapkan makanan sementara Morgan duduk di seberangku. Walau di permukaan terlihat tenang dan jinak, tapi jauh di dalam aku yakin ada iblis yang tengah mengompori Morgan agar melaksanakan rencana jahat.
‘Abang, tolonglah adikmu ini! Huuu.’
Eh tunggu dulu. Mengapa Morgan dan Flora, yang notabene masih SMA, memiliki tubuh yang tidak kalah daripada idol Korea? Aku paham cerita Adel memang ditujukan bagi pembaca usia dewasa, tapi penampilan mereka benar-benar terlalu WOW.
Sesaat aku melihat Morgan, lalu Jamie yang duduk di sampingku, dan akhirnya aku mencapai kesimpulan bahwa bibit unggul memang hanya untuk tokoh utama saja di sini. Contoh Adel. Dia tidak setinggi Flora, lekuk pinggang, bentuk bibir ... hahaha semuanya berbeda jauh. Flora bisa dipastikan akan tumbuh sebagai wanita seksi, mandiri, dan baik hati; sementara aku yang menempati tubuh Adel kemungkinan besar akan tumbuh wajar-wajar saja. Haha, tidak masalah. Sebagai anggota masyarakat kapitalis kunci utama dalam hidup adalah kemampuan beradaptasi! Asal ada modal aku bisa mencoba memperbaiki taraf hidup!
Tanpa sadar aku menempelkan kedua tangan di mulut dan “nyengir”. Hehe, aku jadi orang kaya. Hihi, aku bisa kuliah jurusan seni. Aku bisa makan sampai kenyang! Selamat tinggal, Ketua Osis! Hihi, tidak buruk.
“Adel, jangan malu-maluin.” Jamie menyikut, pelan, pinggangku. “Kamu mirip tokoh jahat yang sedang merencanakan hal buruk.”
Hampir saja aku menginjak kaki Jamie andai Flora tidak meletakkan mangkok dan sekian makanan di meja. Ibu Flora, yang belum juga memperkenalkan namanya kepada kami, dengan cekatan menyajikan hidangan dan setelah siap mendorong kami semua agar lekas makan.
Acara bersantap berjalan lancar jaya. Tidak ada insiden aku tersedak setiap kali mendapati Morgan memperhatikanku.
‘Abang! Adikmu dalam bahaya!’
“Adel sekelas dengan Flora?”
“Iya, Ma,” jawab Flora. “Adel jago gambar.”
Jamie mengerutkan kening, kemudian memelototiku seolah aku menyembunyikan sesuatu. ‘Hei, aku bukan Adel. Sebagai roh dari dunia lain, seharusnya aku mendapat ganti rugi dan uang jaminan hari tua.’
“Nggak sejago itu kok, Tante,” kataku merendah dengan amat rendah dan serendah-rendahnya hingga ke dasar terendah. “Flora jauh lebih oke dalam berbagai hal kok.” Aku meletakkan sendok, kemudian menghitung dengan jari. “Cantik, pintar, baik hati, jago nyanyi dan nari, nggak pilih-pilih teman, pokoknya semuanya.”
Flora berkaca-kaca, pipinya merona, seolah aku telah mengatakan hal luar biasa mengenai dirinya.
‘Oke, jangan lihat Morgan. Jangan lihat Morgan.’
“Tante yakin Adel bisa sehebat apa pun yang Adel inginkan.”
Aku merasa melayang, ingin terbang, tinggi. Syalala, indahnya....
“Tapi, Adel malasnya minta ampun, Tante,” seloroh Jamie.
Kemudian aku jatuh. BRUK. Ke dunia. Ke kenyataan. Pahit!
“Dia hanya mau ngerjain hal yang dia sukai doang,” Jamie menambahkan. “Benar-benar beda deh Tante. Jasmine yang sering nolongin Adel, makanya dia nggak liar dan-aduh!”
Kali ini aku menginjak kaki Jamie. Rasakan itu! Rasakan!
“Kamu baik-baik saja?”
“Nggak papa kok, Tante,” Jamie membalas. Dia langsung adu pelotot denganku. “Adel, kakiku nanti bengkak.”
“Kakak, kan, kakinya baik-baik saja,” kataku sembari berdendang.
Flora terkekeh, sama seperti ibunya, dan hanya Morgan saja yang tidak merespons sepanjang acara makan.
“Tante senang lihat kalian berdua. Benar-benar aktif. Beda banget ama anak Tante yang satu ini,” katanya menunjuk Morgan. “Dingin. Tante takut Morgan nanti nggak punya istri.”
‘Sebentar ya ini. Kenapa Anda melihat saya seolah saya bisa memberi Anda jawaban?’
Berbeda dari sebelumnya, kali ini Jamie langsung menanggapi sembari mengusap kepalaku. Koreksi, mengacak-acak rambutku. “Ah, Tante. Adel ini anaknya serampangan. Kemarin aja dia lupa sandi email-nya sendiri. Haha, Tante. Morgan pasti bisa menikah dengan cewek yang seratus persen jauh LEBIH BAIK dari Adel. Haha. Adel, kan, masih hijau. Haha. Adel, makan yang benar dong.” Jamie sontak menarik tisu dan mengelap wajahku. Kali ini dengan kasih sayang yang sengaja dipamerkan. “Tuh, kan, Tante lihat Adel berantakan. Haha.”
Dia ini sedang memuji atau menghina?
Flora terpingkal melihat usaha Jamie menjatuhkan wibawaku di hadapan ibunya, sementara aku bersungut-sungut ingin menghajar Jamie.