Jangan tanya enak atau tidaknya masakan ibu Flora. Berhubung Morgan, seperti yang aku informasikan di bab sebelumnya, duduk di seberangku; maka, sensor pencecap lidahku langsung tidak berfungsi. Tambahkan Jamie ke dalam daftar masalah. Lengkap sudah. Rasanya W.O.W. Persis makan permen asin, manis, asam, dan tambahan rasa baru: PAHIT.
Kami berdua benar-benar kekenyangan. Barangkali definisi mati kekenyangan persis seperti yang aku alami; perut membuncit oleh limpahan kasih sayang.
"Adel, yakin nggak mau tambah?"
Oh Tante, setop!
Kemudian ibu Flora menawarkan sepotong kue kepada Jamie. Oke, bukan menawarkan. Dia langsung meletakkan kue di piring Jamie!
Baik aku maupun Jamie, kami berdua sama-sama mengibarkan bendera putih. Menyerah!
'Tante, yakin ini bukan termasuk metode balas dendam?'
Setelah ibu Flora puas melihat aku dan Jamie kekenyangan, barulah kami diizinkan pulang. Bahkan dia sempat memberikan sekotak makanan kepadaku sembari berkata, "Adel, sering-sering main ke sini, ya?"
Haha. Walau di luar aku tersenyum, tapi di dalam hati ini menjerit; "Tante, ampunilah diriku!"
Sempat aku melihat Flora yang tersenyum manis bagai bidadari dan di sampingnya ada Morgan yang ... halo, apa dia tidak bisa pura-pura tersenyum? Eh, lebih baik tidak perlu melihat dia tersenyum. Sebab senyum seorang Big Villain amatlah mengerikan. Anggap saja seperti Siren; terpukau oleh nyanyian indah wanita cantik di tengah laut, hingga para pelaut mabuk kepayang, dan mati tenggelam.
Sepanjang perjalanan pulang hingga sampai rumah baik aku maupun Jamie, kami berdua tidak mengatakan apa pun. Barangkali efek makan TERLALU banyak mengakibatkan fungsi sensor dalam mengolah kata di otak ikutan beku.
*
Kamar milik Adel, kupikir, tidak sehangat milik Flora.
Sebagai contoh perbandingan, Flora senang memajang foto mengenai hal-hal indah terkait dirinya. Bagaimana bisa aku tahu? Gampang. Baik dalam versi novel, game, maupun cerita bergambar; pernik mengenai Flora diceritakan dengan jelas. Semisal dia akan memasang foto keluarganya, ketika masih lengkap, di meja belajar. Bukan hanya foto keluarga saja, melainkan foto bersama sahabat, rekan kerja, bahkan idola kesukaannya. Benar-benar tipikal manusia ceria.
Adel?
Sekarang, ketika aku menempati tubuh Adel versi ABG, tidak ada yang menarik di kamarnya selain MEWAH dan MAHAL. Aku curiga Adel menyimpan foto Ketua Osis, si tokoh utama, di suatu tempat.
Sebelum tidur aku menyempatkan diri mengirim pesan kepada Jasmine, bertanya mengenai jadwal pelajaran dan PR.
Haaah. Siapa bilang menjadi remaja itu hanya berisi hal menyenangkan? Aku PERNAH mengalami masa remaja dan kehidupan versi ABG milikku amat HITAM dan PAHIT seperti kopi tanpa gula! Sekarang aku harus melewati kehidupan anak SMA dua kali? DUA KALI? HAHA ... lelah.
Terbukti dari balasan Jasmine yang membeberkan beberapa PR dan haha coba tebak? Ada PR pelajaran yang berhubungan dengan ilmu hitung.
S. I. A. L.
*
Seragam SMA milik Adel berupa rok motif kotak-kotak dengan warna campuran ungu gelap dan merah muda, kemeja putih, dan dasi merah muda. Jenis seragam imut yang mengingatkanku pada drama Korea. Berkali-kali aku mematut diri di depan cermin. Sekadar memastikan bahwa aku telah resmi menjadi salah satu peserta beruntung penerima anugerah isekai.
Apa aku amat senang?
Tidak terlalu.
Oh jadi orang mampu memang menyenangkan. Tentu aku tidak menampik keuntungan tersebut. Bayangkan saja prospek mengenai tidak perlu merisaukan biaya pendidikan, ongkos kendaraan, uang makan, tagihan listrik dan air, pakaian berbahan bagus, atap utuh dan tidak bolong, serta jaminan kesehatan. Sebagai orang yang tahu betapa mengenaskan hidup serba-pas-pasan, menjadi anak bos besar pasti menggiurkan.
Akan tetapi, prospek VIP itu tidak sejalan dengan tantangan yang dibebankan pada karakter antagonis. Morgan, Ketua Osis dambaan Adel, dan tambahkan orang-orang yang telanjur sakit hati dengan Adel.
Nah, sekarang abaikan mengenai Morgan dan Ketua Osis! Aku hanya perlu hidup damai, tidak melakukan hal bodoh, dan berhati-hati.
"Adel, lama!"
... dan aku harus memikirkan cara menjinakkan Jamie terlebih dahulu.
"Apa?" Jamie bersiap di kursi pengemudi. "Kan sekolahmu sejalur dengan kampus!"
Semoga saja aku tidak lepas kendali dan menjambak Jamie!
*
Sekolah.
Aku tidak terkejut dengan desain bangunan modern yang seperti gedung milik agensi idol Korea, anak sekolah yang diantar dan mengendarai mobil pribadi, lalu bagian dalam gedung yang dirancang super-nyaman dan aku bahkan menemukan lift serta mesin penjual makanan otomatis! Bayangkan uang gedung dan SPP yang harus keluarga Adel gelontorkan!
'Aih jiwa miskinku merana!'
Semua anak sibuk berbincang mengenai musik, idol, atau PR. Hanya aku yang merasa ingin lekas lulus dan mencari pekerjaan. Bahkan ketika Jasmine mengagetkanku dengan cara menepuk pundak dan berteriak, "Adeeel" Prospek mengenai rencana lekas dewasa belum lenyap dari kepala.
Di kelas aku tidak bisa berkonsentrasi dengan satu pun mata pelajaran. Berkali-kali Flora maju, menjawab pertanyaan, dan mendapat nilai tambahan. Pikiranku benar-benar tidak mau dihubungkan dengan pelajaran. Sedari dulu pun, sebelum merasuki raga Adel, nilai ujianku terbilang biasa saja. Tidak istimewa.
Lalu, ketika bel istirahat berdenting, aku dan Jasmine langsung meluncur ke kantin.
"Adel, kamu yakin bisa makan semuanya?"
Jasmine yang duduk di seberangku tengah berkerut kening. Yah tidak aneh bila dia melihat jajan dan semangkuk mi ayam milikku. Adel sudah pasti memanfaatkan jam istirahat untuk menemui Noa. Barangkali dia akan pura-pura bingung, meminta bantuan Noa si ketua osis, dan mencoba mengusir Flora.
Oh, aku lupa memberikan tambahan informasi bahwa Flora sering sekali dimintai bantuan pihak osis. Berhubung Flora rajin mengamini permohonan dari sekolah sebagai duta siswa, maka frekuensi pertemuan antara Flora dan Noa pun tak terhitung jumlahnya.
"Enak kok," jawabku, santai. Segera aku menandaskan mi, kemudian membuka snack pedas, dan menyeruput jus jeruk. "ENAK BANGET!"
"Kamu nggak pengin ke ruang osis?"
Salah satu alisku terangkat. "Hah?"
"Yakin nggak pengin nemuin Kak Noa?"
"Jasmine, makan jauh lebih penting daripada dia."
Akhirnya Jasmine tidak melontarkan pertanyaan tambahan. Dia sepertinya menerima keadaanku dan memilih membantuku memesan tambahan jajan.
Intinya aku hanya ingin hidup damai. Damai. Tanpa masalah. Namun, tentu saja itu hanya ada dalam pikiranku saja.
Ketika aku dan Jasmine berebut mochi terakhir, perebutan makanan kami harus terintrupsi oleh tamu.
Jadi, posisinya kami berdua, aku dan Jasmine, tengah mencengkeram kotak mochi, wajah sangar seperti macan alas, saling menyeringai khas predator rimba, dan ketika menengok ke tamu tak diundang ini wajah kami berdua langsung pucat.
"Adel, boleh ganggu, nggak?" Flora dengan senyum malaikat menyapa kami. "Kak Noa pengin minta bantuan."
Baik aku maupun Jasmine, kami berdua hanya diam membeku ketika melihat Noa dan Flora.