6

1138 Words
Apa kalian perlu mengetahui tampilan Noa? Oke, akan aku jelaskan. Noa memiliki rambut berwarna ungu gelap. Ah iya, mirip kulit terong! Di game Noa mendapat julukan Tuan Bermata Rubi. Bila Morgan seperti serigala Kutub penyendiri, maka Noa lebih pantas disamakan dengan elang botak. Oh tentu elang tidak mungkin botak. Itu, si elang botak, merupakan salah satu jenis satwa yang hidup di Amerika (kalau tidak salah). Intinya Noa, entah yang Flora berhasil lakukan hingga bisa mengajak Noa menemuiku! Sangat asam! “Ya?” Tanganku maupun tangan Jasmine masih berusaha mempertahankan kotak mochi. Kami sama-sama tidak ingin mengalah. Dalam perang dan cinta, semua adil. Kotak mochi tidak boleh lolos dari genggaman. Mochi! MOCHI. Oh, andai saja Flora bersedia mengusir Noa. “Boleh duduk?” “Oh boleh,” Jasmine menjawab. Ketika cengkeraman tangan Jasmine melemah, aku langsung menarik kotak mochi dan menguasainya. Tanpa menunggu komando aku memberi ruang kepada Flora dan Noa, sekaligus memasukkan mochi terakhir ke mulut. Kali ini Jasmine hanya tertawa melihat aksiku. Mochi jauh lebih penting daripada tokoh utama. Hukum urusan perut. Bersegeralah memuaskan naga dalam perut sebelum lambung perih karena cairan asam. “Nah, Adel,” kata Flora mengawali pembicaraan. “Rencananya sekolah akan mengadakan pentas seni. Apa kamu berminat bergabung?” Heh, sebagai orang yang tahu betapa repot dan sibuknya mengurusi urusan kapitalis, dengan senang hati aku berkata, “Flora, aku nggak nyaman ngurusin pensi.” Jasmine hendak menertawakan keputusanku, tetapi tanganku jauh lebih cepat daripada mulut Jasmine yang ingin menganga dan terbahak HAHAHA. Secepat copet, aku memasukkan roti yang sengaja aku sembunyikan untuk dimakan nanti ke mulut Jasmine. “Uuuuuh,” kata Jasmine. “Enggak usah cemas,” aku menenangkan. “Jasmine suka roti. Makanya dia bilang, ‘UUUUUUH.’ Begitu.” Tindakan tidak sopan ini perlu aku ambil sebagai pencegahan ketidakbecusan Jasmine membantuku mengabaikan si tokoh utama pria, aka Noa. Aku tidak ingin terlibat APA PUN dengan Flora, Noa, maupun Morgan. Terutama Morgan. Memang sekarang baik Noa maupun Morgan masih terlihat menggemaskan dan sama sekali tidak berbahaya. Namun, beberapa tahun kemudian mereka akan tumbuh menjadi oknum berpengaruh dalam kancah perindustrian! Enak saja. Kehidupan nyaman dan merdeka milikku! Orang lain mungkin akan langsung menerima tawaran Flora, tapi aku lebih memilih hidup bebas dari bayangan mereka bertiga. Berteman itu penting, tapi menjauhkan diri dari lingkaran cinta tokoh utama itu jauh lebih PENTING daripada bersikap baik dengan Flora. Jasmine melepeh secuil potongan roti. Dia memandangku seperti banteng siap menyeruduk MOOOOOOOO. “Adel, makasih lho. Untung nggak keselek.” “Sama-sama,” jawabku sembari mengembuskan ciuman. “Nah, Flora. Aku berencana fokus ke pelajaran.” “Iya, nilainya Adel, kan, banyak yang bikin jantungan,” sahut Jasmine. “Nilai yang bikin jantungan itu pasti tidak baik bagi kesehatan Kak Jamie,” aku menyetujui Jasmine. “Nanti dia terkena kebotakan dini dan nggak bisa cari pacar.” Flora bertanya, “Apa hubungannya botak dan nilai jelek?” AUW. Flora, tidak semanis dugaanku. Dia sama barbarnya dengan Jasmine. “Itu artinya abangku nggak akan senang dengan tambahan kegiatan.” Jasmine mengangguk. “Sekarang pun nilainya Adel masih belum membaik.” “Makasih, Jasmine,” kataku sembari tersenyum manis. “Sama-sama, Adel,” Jasmine menyahut. Tanpa sengaja aku bersitatap dengan Noa. Dia seperti hendak menimpukku dengan gagang sapu. “Flora,” panggilnya. “Kita menghabiskan waktu. Dia nggak mau nolongin. Jelas, ‘kan?” Bukan TIDAK MAU MENOLONG, melainkan SADAR KAPASITAS. Dasar karakter tidak tahu diri! Huwooo aku ingin meraih kursi dan melemparnya. Masa bodoh dengan cinta pertama Adel. Dia ini, si Noa ini, sama sekali tidak pantas mendapat perhatian Adel. ‘Hei, Adel,’ kataku dalam hati. ‘Bila cowok berani mencelamu di hadapan umum, itu artinya dia itu JAMBU! Jambu busuk!’ “Kak,” Flora menenangkan Noa. “Adel jago gambar. Dia bisa bantu klub drama buat panggung. Itu yang pengin aku sampaikan.” Ooooh hanya gambar. Itu artinya pekerjaanku tidak mengharuskan bertemu Ketua Osis. Gampang. Hitung-hitung Flora akan berutang budi dan nanti ketika Morgan mengamuk dan bermaksud membunuhku, dia bisa menghentikan Morgan seperti pawang dengan berkata, “Morgan, jangan membunuh. Morgan, jangan membunuh.” Kalau perlu aku akan membelikan kaos merah muda lengkap dengan ransel dan boneka monyet berwarna abu-abu. “Kalau sekadar menggambar background drama,” kataku. “Aku usahain. Tentu saja dengan bantuan sahabat sejatiku yang cantik, baik hati, selalu menolong, dan tidak akan meninggalkanku: Jasmine.” Jasmine yang sedang menyeruput es teh pun tersedak. Dia mengambil tisu dan mengelap bibir. “Del, kenapa bawa-bawa aku?” “Sahabat baik,” kataku semanis mungkin. “Siapa tahu nanti kamu ketemu jodoh.” “Iiiih, Adel,” kata Jasmine sembali memukul bahuku. “Apaan sih?” Flora tersenyum ceria mendengar tanggapanku. “Bagus,” katanya sembari menyatukan telapak tangan. “Nah, Kak, urusan background sudah beres. Adel bisa memberi pertolongan dan nanti aku bakal ngasih tahu klub drama. Mereka bisa menyesuaikan anggaran dan menginformasikan tema drama kepada Adel.” Noa masih saja memasang tampang kecut. Seolah aku ini kiwi. Sepertinya, melihat reaksi negatif dari Noa, hubungan antara Adel dan Noa sudah berlanjut ke tahap “penguntit kelas kakap”. Heee memangnya aku peduli dengan Noa? Ya jelas tidak! Namun, masalahnya Adel telanjur menjatuhkan harga dirinya dan berjuang mengejar cowok yang sama sekali tidak bersedia menanggapi perasaannya. Padahal bisa saja Noa berkata, “Adel, kamu tidak dewasa. Aku suka cewek dewasa.” Dengan begitu Adel akan mengundurkan diri dari kandidat villainess dan berusaha berjalan menuju “jalan bagi karakter baik”. TADA itu tidak terjadi. Noa justru mencaci dan membuat Adel marah dan melampiaskan kesedihannya kepada Flora. Sambil menatap Noa yang ingin aku lempar ke kanal agar menjadi makanan ikan mas, aku memikirkan cara membuat hidupku lebih bermartabat dan sehat. Tidak masalah bila Noa membenciku, asalkan Morgan tidak menganggap diriku sebagai ancaman saudari kembarnya. Karakter paling berbahaya di sini hanyalah Morgan, selain itu hanya penjahat kelas anak ayam ciap ciap ciap. “Adel,” Jasmine memanggil sembari menyikutku. “Setop melototin Kak Noa.” Aku ingin berkata, “Jasmine, konon bila kita melihat musuh dan mengutuk dirinya dalam hati, maka sesuatu akan terjadi.” Namun, aku hanya menyunggingkan seulas senyum. “Nah, Kak Noa, udah?” “Maksudmu?” “Ya, kalau udah kita pengin ngelanjutin sesi makan sebelum bel masuk berdenting,” jawabku. “Triiing. Triiiiing. Oh iya, Kak Noa, kan, nggak butuh makan. Perut Kakak hanya perlu asupan makalah doang. Upss,” kataku sembari menutup mulut. “Salah. Kakak, kan, nggak bisa makan makalah. Kecuali, Kakak berguru dengan rayap.” Haha, sudah lama aku ingin mengatai Noa. Selama mengikuti cerita Adel, hasrat untuk menghajar Noa tidak terbilang besarnya. Morgan jauh lebih jentelmen daripada Noa. Ck, ck, ck. Dia ini tidak bisa disamakan dengan Morgan. Baik Flora maupun Jasmine, keduanya seperti hendak kabur karena merasa terancam oleh aura bengis yang menguar dari tubuh Noa. “Adel,” Noa bertanya, “kamu bilang apa?” Dasar Rayap!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD