7

1110 Words
Haha harus aku akui bahwa mengejek Noa merupakan ide cemerlang sekaligus berisiko. Di luar saja aku kelihatan oke. Namun, sebenarnya dalam hati aku ingin mengajukan proposal isekai ke novel lain yang lebih ramah lingkungan. Tidak masalah bila aku masuk ke dunia vampir bling-bling, menjadi penyihir dengan tanda di dahi pun masih oke, atau seorang lady yang harus menaklukkan sejumlah rintangan agar diterima sebagai putri keluarga duke. Apa pun jauh lebih baik daripada berhadapan dengan tokoh utama pria yang berlagak menjadi pahlawan dan tidak bisa melihat dari sudut pandang lain. ‘Iyew, nggak banget.’ Pilihan rasional: Abaikan Noa. “Adel, kenapa kamu harus nyeret aku juga sih?” Jasmine, korban rencana penyelamatan masa depanku, terus mengomel. Sejauh ini dia berhasil menyelesaikan tugas yang aku percayakan kepadanya. “Gila, capek! Sampai kapan kita harus jongkok kaya gini?” “Kamu boleh ngecat sambil lesehan kok,” sahutku. Sesuai dengan permintaan Flora, aku membantu grup drama membuat latar seting untuk pentas. Sebenarnya ini lho, ya, Jasmine TIDAK BEKERJA SENDIRIAN. Ada anggota OSIS dan grup drama yang membantu menyelesaikan latar. Namun, si Jasmine ini jelas tidak suka pekerjaan kasar. Andai diizinkan dia lebih senang diberi kepercayaan merancang kostum daripada harus menemaniku berjongkok dan menaik-turunkan tangan dengan gemulai di atas triplek. Padahal bisa saja dia membayangkan tengah melatih kekuatan jari dan tangan. Dengan begitu beban di bahunya akan terangkat, melayang, dan terbang ke angkasa. “Ini udah pukul empat sore!” protes Jasmine. “Seharusnya aku nonton tayangan ulang Ganteng-Ganteng Sedap.” Heee judul acara apa itu? Yakin tidak salah judul? “Aku pengin nonton Chef Juno,” kata Jasmine sembari meletakkan kuas ke dalam wadah. “Nggak terjebak di sini!” Begitu warna dasar telah terpulas rapi, aku langsung membuat sketsa halus panorama, dan mulai menggambar. “Jasmine, coba cari pacar di sini,” aku menyarankan. “Kan banyak cowok cakep berseliweran.” Yang aku katakan ini benar. Co-wok gan-teng! Barangkali karena cerita Flora dikhususkan untuk pembaca dewasa pencinta visual bening, maka semua karakter, termasuk karakter sampingan pun, memiliki penampilan menarik. Belum pernah aku, selama merasuki Adel, bertemu orang dengan wajah normal manusia biasa. Rata-rata mereka tampak bening dan membuat mataku iritasi karena terlalu tidak masuk akal! Apa ini hadiah dari langit karena dulu aku hidup dalam keterhinaan? Astaga, TERIMA KASIH! “Chef Juno tetap di hati!” teriak Jasmine sembari mengacungkan tinju ke langit. Eh bukan langit, tapi langit-langit, berhubung kami sedang berada di dalam ruangan. “Adel berdosa kamu!” “Aku nggak berdosa, eh, itu pojokan kanan belum selesai dicat!” Sembari bersungut-sungut Jasmine kembali meraih kuas dan meneruskan pekerjaan yang ingin dia hindari selama empat hari ini. Jamie tidak keberatan dengan kegiatanku. Dia bahkan berpendapat aku perlu merasakan perubahan suasana. Terjemahan; berhenti mengejar Noa, tidak memikirkan rencana jahat mengusili Flora, dan mulai mempertimbangkan karier di masa depan. “Adel, kamu jago banget,” Jasmine memuji. Sekarang dia duduk di sampingku, bersama sejumlah anak yang baru aku sadari kehadirannya karena terlalu fokus menyelesaikan gambar suasana pedesaan ala Eropa. “Aku terharu.” Entah bagaimana ceritanya tiba-tiba saja aku memiliki asisten dadakan. Setiap kali aku butuh kuas baru, maka ada yang memberikannya kepadaku. Lalu, cat, lalu makanan sebab aku gemar ngemil setiap bekerja padahal bila tidak berhati-hati remah makanan bisa mengotori gambar. Namun, masa bodoh. Perut lapar sulit diajak bekerja sama! Aku suka gula! Aku butuh asupan makanan dan gizi! Tidak ada yang boleh mengganggu kesehatan jiwa dan kebahagiaan perut! “Tambah,” kataku sembari mengulurkan tangan, menanti snack. “Terima kasih.” Begitu menerima snack roti kering, aku meletakkan kuas, langsung menyobek bungkus, lalu mulai mengunyah. “Hmmm, yang ini enak. Makasih.” “Sama-sama.” Hampir saja aku tersedak. Seperti robot, aku menggerakkan kepala secara perlahan. Awalnya aku mengira ada yang salah dengan pendengaranku, tapi tidak. “Kak Noa?” Jasmine pun terlihat sama terkejutnya sepertiku. “Cuma pengin ngecek proges,” kata Noa seakan aku butuh penjelasan saja. “Ternyata hasilnya di luar dugaan.” ‘Permisi, situ oke?’ “Kak, makanan yang tadi beracun?” Dahi Noa langsung berkerut dan bibirnya mengerut. “Kamu ngomong apaan?” “Biasanya di film orang mati di tangan tokoh utama,” aku mencerocos, “misal ada dendam orang bakal-aaaah, Jasmine sakit!” Terpaksa aku menghentikan narasi novel pembunuhan. Jasmine mencubit lenganku dan dia memberi kode melalui mata agar aku tutup mulut. “Oke, makasih.” Kemudian aku langsung meraih kuas dan kembali meneruskan pekerjaan alias mengabaikan Noa. Alih-alih paham dan meninggalkanku, si Noa ini justru mengekoriku dan matanya tidak lepas dari gambar yang tengah aku selesaikan. ‘Ada yang jual obat pengusir tokoh mengesalkan? Aku butuh!’ “Darimana kamu belajar gambar?” Aku menunjuk mulutku yang masih menggigit roti. “Adel nggak bisa diajak ngomong kalau sedang makan, Kak.” Jasmine, pawangku, menengahi. “Dia harus ada sajen makanan dulu baru bisa diajak diskusi. Berhubung sekarang udah makan lumayan banyak, dia bakalan lemot kalau diajak bersosialisasi.” Sepertinya Jasmine sedang menjelaskan eksistensi makhluk baru atau dia tengah menolong? Sebab rasanya bagiku dia tengah menggambarkan mengenai beruang yang terkena mutasi kriptom. “Intinya Adel,” Jasmine melanjutkan, “kata Kak Jamie harus makan teratur sesuai panggilan perut.” “...” “Jadi, Kakak mending nggak perlu cemas. Adel dan teman-teman bakalan menyelesaikan perlengkapan pentas tepat waktu kok.” Beberapa kali Noa menengok antara aku, yang masih fokus (pura-pura) menggambar, dan Jasmine yang memasang senyum profesional ala resepsionis. “O-oke,” kata Noa. Kemudian dia melenggang pergi dan langsung menghampiri sekelompok anggota drama dan OSIS yang tengah mendiskusikan mengenai kostum dan tata suara. “Fiuuuh,” Jasmine menghela napas. “Nggak lagi-lagi berurusan dengan Kak Noa.” Aku mengangguk, mengamini ide Jasmine. Setelahnya kami berhasil menyelesaikan latar. Jasmine langsung menghubungi sopir dan aku, seperti biasa, menanti Jamie. Sembari duduk di bangku, aku sibuk menyuapkan kacang atom ke mulut—sama sekali tidak peduli dengan tatapan terkejut beberapa anak yang masih berada di sekolah. Langit mulai berubah jingga dan sebentar lagi malam menjelang. Dalam hati aku menyumpahi Jamie dan merencanakan menjarah makanan di kulkas agar dia kelaparan! Namun, lamunanku terhenti begitu ada mobil yang berhenti di depanku. Kaca jendela bagian depan diturunkan, memperlihatkan Flora dan Noa. “Adel!” Flora menyapa sembari melambaikan tangan. “Nungguin Kak Jamie? Udah ikut kita saja.” Apa ini seperti anak-anak yang didekati orang asing. “Dek, mau permen?” Seperti itu? Apa aku terlihat seperti anak hilang? Semobil dengan tokoh utama? ‘Hmmmm, enggak dulu.’ Beberapa siswa memperhatikan kami; sebagian penasaran dengan Flora yang jelita, dan yang lain sepertinya menunggu tontonan gratis ala sinetron. ‘Apa mereka berharap aku menjambak Flora dan mengatainya?’ “Ayo,” ajak Flora. Demi langit dan bintang, aku tidak mengerti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD