"Makasih, Flora. Aku nunggu Kak Jamie saja."
Keputusan ini, menolak ajakan Flora, diambil berdasar pengalaman pribadi. Dulu ketika salah satu tante mengajakku pergi bersama keluarganya merayakan sesuatu, ujung-ujungnya aku SELALU menjadi kambing congek. Bayangkan berada satu mobil bersama sejumlah orang. Nah, jangankan menikmati perjalanan bersama mereka, keluargaku itu, sembari bernyanyi, "Naik, naik ke puncak gunung. Tinggi, tinggi sekali. Kiri, kanan. Kulihat semua. Banyak pohon cemara." SALAH BESAR. Sepanjang perjalanan tidak ada yang mengajakku berbicara, mereka sibuk berbincang dengan anggota keluarga yang dianggap PANTAS, sementara aku berdiam diri dan berharap berubah menjadi jamur.
"Lho, Adel. Mumpung aku dan Kak Noa mau makan malam sekalian ini," Flora mencoba membujuk. "Dia yang traktir. Gratis. Kamu bisa pesan apa pun sepuasmu."
Tuh kaaaan. Mereka persis penculik anak. "Dek, mau permen?"
"Makasih, Flora. Kata Kak Jamie...." Sejenak aku melirik sekitar. Masih ada beberapa anak yang terjebak dengan kewajiban mempersiapkan acara sekolah yang tinggal menghitung hari. Mereka sebagian besar tertarik dengan fenomena aneh mengenai Adel dan Flora dan Noa dan kemungkinan ingin tontonan gratis tinju. "Itu mobil Kak Jamie!"
Tepat waktu. Mobil Jamie melenggang masuk memasuki parkiran.
Seperti putri yang berhasil menemukan kesatria, aku langsung bangkit dan menghampiri mobil Jamie. "Dah, Floraaaaa!" Usai melambaikan tangan, aku bergegas masuk dan duduk di dekat Jamie. "Kenapa lamaaaa?" Hampir saja aku terjebak menjadi obat nyamuk. Berada di antara Flora dan Noa bukanlah pilihan menyenangkan. Bisa-bisa aku melebur jadi debu bila terlalu lama bersama mereka!
Flora membalas lambaian tanganku. Kemudian mobil Noa pun melaju meninggalkan sekolah.
"Itu tadi cowok yang nolak kamu, bukan?"
Mata Jamie menajam seolah hendak menusuk musuh tak kasatmata yang ada di hadapannya.
"Pulang," kataku tidak kalah tajam dari pelototan Jamie. "Atau aku bakalan jadi Miss Dino terus ngunyah mobil karena kelaparan."
*
Setelah berhasil menyelesaikan gambar latar untuk pentas, kewajibanku menolong klub drama pun tuntas.
Bagus.
Meskipun anggota drama berkeras ingin mengajakku bergabung sebagai pemain sampingan, godaan tersebut tidak menarik sama sekali. Aku? Akting? SUSAH LAH YA! Sekalipun dialogku hanya; "Ya, Yang Mulia!" Itu tetap tidak menarik karena ujung-ujungnya aku harus bertemu Noa yang entah mengapa selalu menyempatkan diri mampir dengan alasan mengecek.
Kadang Noa membawa sekotak makanan yang dibagikan kepada anggota yang langsung ludes sebelum sampai ke tanganku. Kemudian dia pasti bertanya, "Butuh bantuan?" Biasanya yang menjawab adalah anggota drama. Jawaban tersebut sudah pasti: "Kak Noa, kita SANGAT BUTUH bantuan mental dari Kakak!"
Aku dan Jasmine hampir saja tersedak jus jeruk ketika mendengar loyalitas pengikut Noa. Bila keadaan sudah seperti itu, ketika Noa menjadi magnet bagi cewek, maka aku dan Jasmine akan langsung menyingkir dan melipir ke sisi lain dan menghabiskan makanan yang kami beli sebelum datang ke klub drama.
"Untung kita sudah selesai buat latar ya, Del," Jasmine menggumam. "Bisa-bisa kamu kena serangan jantung karena nggak bisa fokus gambar."
"Apa urusannya serangan jantung dan fokus?" tanyaku sembari menyobek bungkus roti pisang. Dengan sekali gigit aku menikmati lembutnya pisang berpadu dengan manisnya bubuk kayu manis. "Flora kok nggak nengok aku? Biasanya, kan, dia nyamperin, nawarin jus gitu."
"Del, jujur aja. Kamu nungguin minuman gratis, 'kan?"
"Salah satunya," jawabku sembari kembali menggigit roti. "Aiiih, hati ini terasa sepi."
"Aku curiga bola voli berhasil mengubah kepribadian seseorang. Kamu beda banget akhir-akhir ini."
ASTAGANAGA! "Uhuk-apa? Ih, kamu kebanyakan nonton film. Bisa-bisanya ngomentarin kepribadianku? Nggak ada yang berbeda. Aku cuma pengin hidup tenang, fokus belajar, terus memilih jurusan sesuai minat dan bakat."
"Tuh! Tuh!" seru Jasmine sembari menepuk pahanya berkali-kali. "Kamu, kan, nggak pernah tertarik ngurusin kuliah! Setiap ditanya mau jadi apa, kamu pasti jawab pengin jadi istrinya Kak Noa."
"Jasmine, rotiku masih ada satu. Mau aku suapin dengan penuh kasih sayang dan cinta?" Aku memamerkan sebungkus roti melon dan bersiap menerbangkannya menuju mulut Jasmine.
Jasmine menggeleng. "Enggak," tolaknya. "Terima kasih. Aku yang salah. Oke?"
Kemudian percakapan kami terhenti ketika bisik-bisik tetangga kini mulai-eh maksudku ketika kami mendengar celoteh riang beberapa siswa yang menyebut mengenai Flora.
Antenaku langsung menangkap radar keberadaan Flora dan sisi lain "jiwa gratisan" milikku langsung berharap jus buah. Namun, keinginan itu luntur begitu melihat keberadaan cowok sepantaran Flora yang berjalan di sampingnya.
Morgan!
Dia mengenakan celanan jins biru, kaos putih, dan jaket kulit. Beberapa cewek berhenti melakukan tugas ketika Morgan lewat. Dia, si Morgan ini, bahkan tidak sadar bahwa dirinya telah memorak-porandakan kewarasan SEBAGIAN BESAR cewek; ada yang menganga, ada yang menjatuhkan kuas cat, dan ada yang langsung merapat membentuk barisan pemuja Morgan.
"Jasmine," bisikku, lirih kepada Jasmine yang sama terkejutnya denganku. "Aku kekenyangan. Mau ke toilet."
"Del, siapa itu, Del?" Jasmine justru seperti terkena pelet. Dia mencengkeram lenganku, sama sekali tidak peduli dengan omonganku mengenai perut kenyang dan harus ke toilet. Iya sih itu sekadar alasan bodong. Namun, dia, kan, bisa saja mengiakan dan membiarkanku melipir sebelum....
"Adel!"
Flora langsung mendatangiku. Senyum ceria masih terpeta di wajah.
"Ha ... Haha, Flora." Rasanya ingin tertawa, walau palsu, tapi ternyata tawa tak kunjung lolos dari bibirku. "Kok ada Morgan?"
"Oh namanya Morgan...." Jasmine benar-benar tidak peduli dengan kode peringatan yang aku utarakan melalui mata.
'Jasmine! Oey! Jasmine! Sadar!'
"Hari ini Morgan pengin lihat sekolah," Flora menjelaskan. "Aku bilang kalau kamu yang gambar latar untuk pentas drama. Eh aku lupa bilang kalau kemarin semua gambarmu aku foto dan pamerin ke Morgan."
'Hei, Tokoh Utama Wanita. Apa kamu sebegitu inginnya memajukan tanggal eksekusiku?'
Kawan seperjuanganku, Jasmine, sudah resmi mengabdikan diri sebagai pemuja Morgan. Sebab dia berkata, "Ooooh. Flora baik banget." Namun, tatapan matanya terfokus kepada Morgan-sama seperti cewek lainnya.
"Dia suka!" seru Flora sembari mengamit lengan Morgan. "Jarang-jarang dia tertarik nengok kegiatanku. Ya sekalian saja aku pengin ngenalin Morgan ke teman-teman."
"Oh oke, Flora," senandung Jasmine. Dia hampir saja melayang menuju sisi Morgan bila aku tidak memeganginya.
"Jasmine, ingat Chef Juno!" aku memperingatkan. "Chef Juno! Ganteng-Ganteng Sedap! Ingat?"
Ilmu pelet Morgan langsung sirna. Jasmine akhirnya kembali ke mode normal. "Chef Juno!" Jasmine meletakkan tangan di d**a. "Hampir saja."
Pelan-pelan aku mengajak Jasmine sedikit menjauh dari Morgan. "Kalian cuma pengin keliling. Eh maksudku Morgan hanya pengin keliling?"
"Enggak lah," jawab Flora sembari terkikik melihat Jasmine yang wajahnya bersemu merah. "Temenin Morgan, ya? Oke? Soalnya aku ada rapat bareng OSIS. Tuh, lihat, Kak Noa udah nungguin di pintu masuk."
'Sejak kapan Noa ada di sana? Lalu, mengapa dia memelototiku? Aku tidak bersalah!'
"Eh, tapi, aku dan Jasmine mau pulang," kataku. "Nggak bisa nemenin."
"Oh, sayang benget kita telat," Flora mengeluh, sedih. "Ya udah. Kapan-kapan kamu mampir ke rumah, ya? Mama nanyain kamu."
Lagi-lagi senyum profesional terpeta di bibirku. "O-oke."
'Nggak janji.'