9

1142 Words
Kepada saudari Flora yang terhormat. Dengan ini saya ingin menyampaikan sesuatu menjurus bertanya perihal keputusan Anda meninggalkan Morgan seorang diri. Apa Anda tidak cemas bila Morgan kehilangan kendali dan mulai menandai siswa maupun siswi yang tidak bersalah sebagai korban di masa depan? Apa Anda tidak takut Morgan menghancurkan karier seseorang? Aku hanya bisa termangu berdiri di koridor, melihat Morgan duduk di bangku, sendirian! Omong-omong, hari ini sekolah mengadakan pentas seni. Jasmine memutuskan langsung meluncur ke bagian peragaan busana. For your information, Jasmine bercita-cita menjadi pemilik butik sekaligus perancang busana. ‘Nyesel, ya ampun!’ Seharusnya aku mengikuti ajakan Jasmine. Andai aku tidak tergoda menghabiskan waktu dengan cara wisata kuliner, mungkin tidak akan berpapasan dengan Morgan. “Boleh kenalan, nggak?” Ada tiga cewek yang berani menantang maut. Mereka berlagak sok imut, pamer rambut berkilau (kibas cantik, kibas cantik), pasang senyum memikat, dan berpose elegan. Tiga penantang ini berdiri di hadapan Morgan. Sama sekali tidak keberatan dengan tatapan tertarik dari beberapa siswi dan siswa yang kebetulan tengah lewat. Alih-alih menjawab, Morgan hanya mendongak, mentap mereka tanpa maksud apa pun, kemudian dia melihat ke arahku. Sontak tiga penantang itu langsung menengok ke arahku. Salah satu di antara mereka berkata, “Wah ada Adel. Noa nyariin kamu.” Tentu saja “nyariin kamu” itu tidak benar. Sebab mereka berkata sembari terkikik. Jelas itu sekadar olok-olok belaka. Murid setingkat denganku tidak mungkin berani menghina secara terang-terangan seperti ini. Jadi, hanya ada satu kemungkinan: Mereka adalah senior. “Yakin, nggak pengin nemuin Noa?” Salah satu di antara mereka memutuskan ikut mengompori. “Kan udah lama kamu nggak diperhatiin.” Dahiku berkerut begitu mendengar olokan yang menjurus pelecehan akreditas. Jamie lebih manusiawi daripada Noa. ‘Ngapain aku ngejar Noa? Pemborosan tenaga.’ Lantas aku sedikit memiringkan kepala, berlagak sok imut. Bisa saja aku membalas ledekan dengan ucapan yang menyayat hati. Namun, apa bedanya aku dengan para penyerangku? ‘Mending makan.’ Setelah mengangkat bahu, aku langsung melenggang pergi melewati mereka. Sempat aku menangkap wajah mereka yang mayoritas dengan mulut ternganga. ‘Haaa kalian tidak mengantisipasi tindakanku mengabaikan kalian, ‘kan? Makan tuh senioritas!’ Mereka belum tahu saja betapa menyedihkan pengalaman hidupku di dunia serba-kapitalis. Tiga senior sok tidak ada apa-apanya dibanding pedihnya mengumpulkan uang demi membiayai diri sendiri dan gaya hidup orang tua serta tuntutan mereka. ‘Ya mending aku makan dong daripada menambah daftar musuh.’ Ponsel dalam saku-ku berbunyi. Layar ponsel menampilkan deretan nomor milik Flora. Oh ya, kami sudah bertukar nomor. Kemudian aku menepi agar tidak menjadi penghalang bagi orang yang ingin lewat. “Ya?” “Adel, kamu bisa nemenin Morgan?” “Flora....” “Dia tadi papasan sama kamu,” Flora memotong. “Morgan sendiri yang bilang. Dia minta tolong agar kamu jemput dia dan ajakin dia keliling tengok pentas seni! Tolong ya, soalnya aku nggak bisa nemenin Morgan. Aku....” Di belakang Flora terdengar teriakan seseorang yang mengatakan dia harus segera tampil. Oh aku baru ingat Flora harus ikut mewakili kelas dalam perlombaan menyanyi. “Oke,” jawabku, pasrah. “Dia di mana?” Setelah Flora menyebutkan tempat Morgan berada, aku langsung meluncur dan menjemput Morgan. Ini sungguh mengesalkan! Dia, kan, bisa saja keliling sendirian! Seperti aku! Akan tetapi, protes itu tidak akan aku utarakan. Di saat genting, mengutamakan keselamatan jauh lebih penting daripada mengungkapkan perasaan. Semua pekerja era kapitalis paham! “Morgan,” panggilku. Dia masih duduk di bangku, minus ketiga cewek yang semoga tidak mendapat ancaman di masa depan. Morgan mendongak. “Mau ikut? Tadi, Flora ... emmm.” Astaga aku takut! Dia diam saja mampu membuat seluruh bulu halus di tubuh siap siaga. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipis dan punggung. “Ya ... gitu. Mau ikut aku berburu makanan?” Aku menunjuk arah kedatanganku. “Soalnya aku pengin nyicipin semua makanan. Morgan, nggak papa? Misal kamu nggak suka, kamu boleh nolak dan aku bakalan ngajak kamu nemuin Jasmine yang asyik nonton peragaan busana. Atau, kamu pengin nonton drama? Mau ketemu Kepala Sekolah?” Tolong lekas jawab. Oke? Setelah sekian detik yang terasa seperti berabad-abad, Morgan pun bersuara, “Oke.” Hoooo ternyata suaranya terdengar seksi. Oh tidak, aku harus sadar diri. Dia ini calon antagonis sakti, si Big Villain, di masa depan. Harus kuat! “Oke apa?” tanyaku, terbengong-bengong seperti beo kurang makan. “Ketemu Kepala Sekolah?” Morgan bangkit, memasukkan kedua tangan di saku celana. “Makan.” “O-oke, kita makan!” Kemudian aku mengarahkan Morgan ke bagian ajang kuliner. Tanpa menunggu persetujuan Morgan aku langsung menuju ke bagian cumi panggang, ayam goreng pedas, roti goreng isi ayam, burger mini, dan tentu saja minuman dingin. Semua pesanan itu aku letakkan di meja yang telah disediakan untuk pengunjung. Berhubung pentas seni dibuka untuk umum, maka ada beberapa orang yang bisa jadi dari sekolah lain pun berseliweran. Morgan yang duduk di seberangku hanya bisa mengernyit saat melihat sejumlah makanan incaranku. “Ayo, coba,” aku mendorong kotak berisi cumi panggang kepada Morgan. “Enak kok.” Tanpa menunggu respons Morgan, aku langsung melahap cumi panggang, kemudian ayam goreng pedas, roti, dan burger. Setelahnya aku meminum jus apel yang terasa dingin dan menyegarkan tenggorokkan. Berbeda denganku, Morgan hanya berhasil menandaskan cumi panggang. “Makanannya nanti kasih aja ke Flora,” aku menyarankan. “Mama yang suka makan,” Morgan menjawab. “Bukan Flora.” ‘Dih ngapain aku tahu?’ Aku hanya mengangguk-angguk, kemudian bersedekap. “Oke, kalau gitu kasih ke Tante.” “...” “Mau ke mana? Nonton drama? Eh, tapi mungkin udah kelar. Atau, kamu pengin nyoba ... oke.” Ucapanku langsung terhenti begitu melihat Flora yang langsung menghampiri kami. Oh akhirnya. Flora! ‘Kamu kenapa lama banget?’ “Maaf,” kata Flora kepada Morgan. Dia melihat makanan dan kotak kosong, senyum terpeta di wajahnya. “Lain kali aku bakal ngomong ke Mama kalau Adel suka makanan pedas manis.” “Hahaha,” aku merespons dengan tawa bernada kering. “Nah, Flora. Aku harus nyari Jasmine. Soalnya aku janji bakal nyariin dia minuman segar.” Sebelum Flora mengajukan diri ingin ikut serta, maka aku lekas bangkit dan melipir. Gila! Untung Morgan tidak mengamuk. Sepanjang perjalanan menemukan Jasmine yang ternyata tengah duduk sembari memotret, aku tidak bisa mengenyahkan pikiran mengenai nasib tiga cewek yang berani menggoda Morgan. “Adel!” Jasmine melambaikan tangan. Dia langsung menurunkan tas yang ia letakkan di kursi dan mempersilakanku duduk di dekatnya. Aku menyerahkan jus apel kepada Jasmine yang langsung meminumnya. “Udah dapat bahan?” Jasmine mengangguk. “Banyak! Aku suka warna yang dipakai finalis pertama. Segar gitu di mata dan modelnya juga nggak aneh-aneh. Pokoknya jenis baju yang cocok dipakai semua cewek bertubuh mungil. Ahhh Adel, aku pengin buat satu buat kamu.” Oh karena Adel bertubuh mungil, Jasmine langsung ingin mengaplikasikan ilmu barunya. “Adel, kenapa kamu lama banget?” ‘Jawab enggak, ya?’ tanyaku dalam hati. Haruskah aku katakan bahwa tadi aku bertemu dengan Morgan? Hmmm, tidak usah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD