10

1153 Words
Sepanjang sesi peragaan busana, yang temanya entah apa, Jasmine terlihat sibuk mengabadikan satu demi satu busana yang menarik minatnya. Terkadang dia mencatat sesuatu di buku dan tersenyum senang. Seumur hidup baru kali ini aku bertemu manusia yang begitu bersemangat menyambut karier pilihan hati. Maklum saja orang yang SERING aku temui kebanyakan berasal dari jenis bekerja karena jumlah nol yang gaji tawarkan ataupun nilai prestise dari pekerjaan yang mereka tekuni. Aku? Hahaha, aku bekerja karena itu adalah satu-satunya hal terpenting yang harus aku lakukan bila ingin tetap bertahan hidup. Cuma itu! Usai peragaan busana, kami ke luar dan langsung tertarik mengikuti pameran seni di gedung olahraga. Ada bermacam lukisan dengan beragam tema; potret, alam, hitam dan putih, sampai lukisan yang harus dipikir dengan ilmu kebatinan untuk menebak maksud si pelukis. “Adel, mau nggak nolongin aku?” Kami tengah mengamati lukisan bunga dan lebah karya seseorang yang namanya tidak bisa aku lafalkan dengan benar. Makance? Mikanze? k******e? “Hmmm,” sahutku sembari mengangguk. “Jadi, entar kamu jadi bahan inspirasi pakaian yang pengin aku buat. Oke?” “Terserah.” Makarane? Mikinsie? Aih, aku tidak mengerti cara baca nama asing jenis yang seperti ini. Persis seperti Louis yang ternyata bisa saja dibaca Louwee atau Louiseee. “Memangnya kamu ada rencana ikut lomba?” Sekarang kami beralih ke pameran karya ukiran kayu. Aku sempat berjengit ketika melihat ukiran oni, iblis dari Jepang, yang tampak tinggi menjulang. Ukiran tersebut merupakan hasil karya dari beberapa murid yang TERNYATA BERASAL DARI KELASKU. ‘Heee di kelasku ada seniman sehebat ini?’ “Nggak,” jawab Jasmine sembari menggandeng lenganku. “Aku pengin nyoba buat beberapa pakaian khusus cewek bertubuh mungil. Nanti aku juga pengin buat pakaian untuk cewek bertubuh kurus dan subur. Pokoknya aku pengin nyoba bermacam ukuran tubuh dan warna kulit. Kamu sadar nggak sih sedari tadi pakaian hanya dikhususkan untuk cewek bertubuh ramping, tinggi, dan berkulit putih. Padahal nggak ada salahnya memulai ranah baru.” “Jasmine, kamu hebat! Aku pasti bakalan dukung kamu kok!” “Ih Adel tumben pinter.” Kurang ajar. Dikasih hati minta jantung. Sudah dipuji malah ngelunjak. “Bentar, aku suka ukiran tanaman yang ada di vas ini.” Jasmine secepat kilat meraih ponsel dan memotret ukiran bunga seruni dan mawar yang terpeta di vas. Ketika sedang serius Jasmine terlihat luar biasa cantik. Tidak kalah dengan Flora. Hmm aku masih tidak habis pikir Noa hanya mempertimbangkan Flora dari sekian bunga yang bermekaran. Padahal Jasmine juga tidak kalah menarik. Dia tinggi, ramping, dan punya lesung pipi. Berbeda dengan Adel yang seperti penguin mungil imut. Bayangkan aku harus sering mendongak ketika berbincang dengan Jasmine maupun Flora. Itu belum termasuk dengan anak-anak yang sekelas denganku! RIP leher dan bahu. Selesai menikmati pameran seni, Jasmine berencana mengajakku berkunjung ke salah satu toko buku. Tentu saja ini artinya dia bersedia mengantarku pulang dan aku tidak perlu mendengar ceramah Jamie! Yuhuuuu! Ada satu toko buku yang disukai Jasmine karena toko buku tersebut bukan hanya menjual bacaan, melainkan perlengkapan menulis, melukis, bahkan benda-benda unik untuk teman membaca. Usai memarkir mobil, Jasmine langsung menyeretku masuk ke bagian seni dan keahilan tangan. Lantaran tidak tertarik dengan gaya busana maupun keahlian menjahit, maka aku langsung melipir ke bagian komik. Oh terima kasih, di dunia Adel ternyata ada jenis manga—persis seperti di duniaku walau kebanyakan berasal dari pengarang yang tidak aku kenal! Hehe, jadi orang berduit tidak ada buruknya. Iya sih uang tidak bisa menyogok kebahagiaan dan cinta, tetapi setidaknya uang masih bisa memberiku kenyamanan dan kesenangan. Ya tidak apa-apa. Aku yang berasal dari kelas bawah ini sungguh merasa terbantu secara psikis begitu bisa makan kenyang, tidur nyenyak, dan bisa membeli bacaan incaran. Lagi pula, sedari awal aku tidak begitu berekspektasi dengan orang lain. Satu per satu aku memasukkan komik, kemudian berlanjut ke novel misteri, lantas berakhir ke bagian peralatan menggambar. “Kak, bisa saya bantu bawa pesanan Kakak ke kasir?” Seorang pegawai toko menawarkan bantuan. Cewek berseragam merah dan pink itu terlihat sopan dan selalu memamerkan senyum. Berbeda dengan diriku yang dulu, sekarang dengan pasti aku bisa berkata, “Tentu. Terima kasih, ya.” Pegawai toko langsung mengangkat keranjang belanjaanku dan membawanya ke kasir. Belum puas dengan hasil belanjaan, aku beralih ke bagian pernik bacaan. Ada sticky notes lucu berbentuk panda dan kucing. Aaah ada pembatas buku imut. Mika, origami, bulu, bahkan kaca. Aku mengambil beberapa sembari bersenandung. “Aku baru tahu kamu suka benda seperti itu.” Jasmine ikut membeli beberapa pembatas buku dan sticky notes. “Tahu gini aku bakalan jahitin pembatas buku buat hadiah ultah. Eh omong-omong mengenai ultah, bentar lagi, kan, Kak Noa ulang tahun.” “Terus?” Sumpah. Aku tidak peduli. “Keluargamu pasti bakalan diundang,” Jasmine menjawab. “Kan keluarga White dan Falcon ada hubungan bisnis. Udah pasti kamu harus datanglah.” Falcon? Apa itu sejenis burung elang yang sama yang sedang aku pikirkan? “Kak Noa dulu ngundang kamu, ‘kan?” Jasmine mencoba menyegarkan ingatan dekilku. “Ingat nggak? Dulu kamu ngado gitar, tapi ditolak?” Ya enggak dong! “Pengin nggak usah datang,” aku mengomel. “Aaaa aku pengin makan doang saja. Jasmine, kamu ikut. Ya? Ya? Ya?” Jasmine memijat pelipis. “Ya aku memang ikut karena papaku pasti diundang juga. Cuma aku takut harus ketemu ... hmmm kamu tahu sendiri, kan, teman-teman Kak Noa yang dari sekolah lain. Mereka, kan, seperti nggak pengin dekat dengan orang selain dari kalangan tertentu.” “Kita entar makan-makan doang,” aku menyemangati. “Nanti pasti banyak kue. Ada daging juga! Jasmine, ada makanan gratis!” “Ampun deh.” Jasmine menyentil hidungku. “Kamu mirip orang yang nggak pernah makan.” Sebenarnya aku adalah ORANG YANG TIDAK PERNAH MAKAN MEWAH. Kan itu beda lho. “Nggak pengin beli gaun baru?” “Mending pakai yang ada aja,” jawabku acuh tak acuh. “Atau aku pakai gaun rancanganmu?” “Serius?” Jasmine langsung bersemangat. “Bagus. Aku bisa pamer keahlian! Tenang saja. Gaun rancanganku pasti akan cocok-eh, kamu mau aku buatin gaun tema-oh nggak usah. Kamu nggak ada bakat milih baju. Aku nggak pengin kamu pakai gaun seksi. Seksi itu hanya cocok untuk Flora. Kita berdua tidak perlu sok seksi.” “Gimana kalau gaun yang ada kantong gitu biar aku bisa simpan makanan,” kataku menyarankan. “Nggak,” Jasmine menolak. Tiba-tiba dia langsung merinding begitu mendengar ide pintarku. “Kamu nggak usah ngasih ide. Biar aku saja yang mikirin. Oke?” “Tapi, aku suka ide itu.” “Del....” “Iya, iya. Aku ngerti.” ... dan rencana Jasmine menciptakan gaun pun membuatku dilanda keharusan menjadi model dadakan. Dia selalu memposting gaun ciptaannya di media sosial. Tentu. TENTU SAJA aku yang jadi model pakaian! Tanpa aku ketahui kesenangan Jasmine membantuku di masa depan mendapatkan pekerjaan tambahan. Tapi, itu masih sangat panjang. Masa depan Jasmine sebagai perancang busana dan pemilik butik. Sekarang kami ingin menikmati masa remaja yang menyenangkan dan tentu saja MAKANAN.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD