11

1107 Words

“Ayah kapan pulang?” tanyaku suatu malam kepada Jamie. “Jarang telepon. Nggak kirim pesan. Lama-lama aku takut kalau Ayah kerasukan setan pekerjaan.” Kami berdua tengah duduk di sofa, tepat di depan layar televisi, dan sibuk mengunyak keripik. Jamie jarang mengundang teman, atau, barangkali dia tidak punya teman—sama sepertiku yang hanya memiliki Jasmine seorang. Bisa jadi dia tipikal kakak baik, tapi bermulut mercon. Senang bicara menyakitkan kepada saudara, tetapi ketika saudara dalam keadaan terdesak, maka dia akan langsung meluncur bak roket demi menyelamatkan saudara. “Kenapa?” Dia balas bertanya, “Kangen?” Ponsel berdenting. Aku melihat layar dan membaca pesan dari Jasmine. |Mau gaun yang kanan atau yang kiri?| Jasmine mengirim dua gambar sketsa. Satu gaun biru sepanjang lutut,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD