"Aku dimana ini? aduh... kenapa yang sakit kepalaku?"
Melihat ke arah tangannya yang kecil dan baju yang sangat aneh. Ia langsung berdiri dari tidurnya lalu melihat ke arah cermin.
"Aaaaaa aku dimana ...?" .
Seluruh ruangan sangat asing baginya dan beberapa ukiran yang sangat khas pada dinding kayu. Suara orang orang yang berbicara di depan membuat kepalanya pening. Wajahnya yang telah berubah tak karuan dan rambut yang berantakan.
Lian membuka pintunya dan memijat beberapa orang wanita sedang duduk di depan kamarnya.
"Kalian bisa diam tidak? Jangan buat aku semakin pusing" ucapnya lalu menutup pintu dengan keras.
"Tidak ada tempat lain apa? aduh kepalaku berdenyut terus" ucapnya dengan memegangi kepalanya.
sepertinya aku terlempar ke dunia lain , ah yang benar saja. aku kira ini hanya dongeng tapi apa apaan ini?
...
Saat ia mengistirahatkan pikirannya dengan berbaring tiba tiba pintu terbuka. Waktu untuk ia tidur pun hilang dan seorang pria muda yang tampan datang.
Pria memakai pakaian putih perak dengan wajah khawatir yang sangat jelas. Ia membawakan sebuah teh Herbal yang sangat harum.
"Lian, apa kau baik baik saja?" tanya laki laki itu.
Kenapa aku malah teringat akan Cheni yang menanyakan sesuatu yang sama.
"Aku tidak apa apa"
"Syukurlah, Kakak benar benar terkejut mendengar kau terjatuh di danau" ucapnya dengan menarik tangan tangannya.
Sentuhan hangat ini entah kenapa sangat nyaman.
Sebuah memori masuk dalam otaknya , orang yan berada di depannya salah Kakak kandungnya. Zhang Tian ia menjadi jendral dan baru kembali setelah setengah tahun menjaga perbatasan.
Ia akan cuti 1 bulan untuk berbaur bersama keluarganya dan ia sangat menyayangi adiknya Lian.
Zhang Tian juga beberapa kali memarahi orang yang membully adiknya meskipun itu saudaranya yang lain. atau yang berarti anak dari para selir yang sekarang menjadi permaisuri.
"Kakak bawakan teh herbal supaya kepalamu agak mendingan" ucapnya dengan menuangkan teh.
dari pandangan Lian ia melihat Zhang Tian ia seperti Cheni tetapi dalam bentu laki laki. sekilas memang terlihat seperti Cheni dengan dandanan berbeda.
Aku jadi kangen dengan Cheni padahal baru saja aku berpindah.
"Terima kasih kakak, Kakak jangan pergi lagi Lian tidak mau sendirian di sini atau bawa saja Lian bersama kakak" ucapnya dengan wajah yang menggemaskan.
"Tidak bisa Lian, Kakak harus menjalankan tugas jika kau ikut kau akan merepotkan kakak dan di sana sangat berbahaya" jawab Tian dengan menyakinkan adiknya.
"Baiklah" jawab Lian terdiam.
Kakaknya tersenyum pasrah dengan adiknya yang sangat kasihan di depannya. Dengan keuangan seorang kakak ia mengelus elus kepala adiknya untuk menghibur hati yang kecewa.
Setelah menjenguk adiknya ia langsung pergi ke istana utama menemui ayahnya. Kaisar Zhang yang terkenal berwibawa dan Ramah kepada siapa pun.
...
"Zhang Tian , itu orang yang baik usianya sepertinya sekitar 18/19 tahun. dan dia sudah sangat hebat pantas untuk menjadi pangeran pertama di kerajaan ini"
Tapi meskipun begitu aku takut dia akan terjerat pada wanita yang salah.
Lian Hua berniat mencarikan seorang istri untuk kakaknya dan menguji calon istri kakaknya.
Sebentar...aku ini seorang putri tapi kenapa kediamanku sangat kecil dan ... ah aku lupa... di sini Lian tidak dibutuhkan.
ck... aku harus memulai darimana dulu?
Ia berdiri di depan Cermin melihat dirinya yang kurus dan memutar badannya.
badan miliknya ini sudah Bagus tapi sedikit kecil saja.
Ia berpikir merawat wajahnya tetapi bagaimana ia mencari bahan bahan itu. Saat ia terfokus pada wajahnya di cermin seorang wanita yang datang membawa air kaget.
"Nona!, Nona sudah bangun syukurlah aku tadi sangat khawatir padamu".
"Che, Sudah jangan peluk aku lagi aku masih pusing"
"Maaf, Che sangat senang dengan nona yang sadar dan tidak mengalami hal yang tak di inginkan" ucap Che .
Lian bertanya pada Che dimana ia bisa mendapatkan jeruk atau bengkuang. Che berkata banyak orang berjualan di pasar. Lian hampir melupakan itu dan ia juga mempunyai beberapa uang untuk membeli itu.
"Che , tolong belikan sesuatu. ini adalah uang milikku ku ingin kau belikan semua bahan yang aku mau?"
"Memang nona mau apa?".
"Jeruk atau bengkuang. jika ada s**u sapi beli juga" ucap Lian.
"Baiklah"
Nona kenapa beli buah dan s**u. apa yang akan ia lakukan? di belikan semua tidak kah itu terlalu banyak.
"Nah karena Che sudah pergi aku harus apa sekarang? baik aku akan mencoba tenanga dalam ku"
Dengan memejamkan merasakan energi alam yang terserap dan menyatukan Mereka. Ia merasakan semua yang aneh pada lautan spiritualnya yang tak mau terbuka.
ada apa ini? Bukan energi yang terkumpul melainkan rasa sakit yang terasa dahsyat.
Ia mencoba mencobanya kembali lalu merasakan datiannya yang berlahan lahan terbuka. Ia akhirnya paham Datiannya harus terbuka terlebih dahulu baru bisa membuka laut spirit.
Beberapa saat ia mempelajarinya rasa tubuhnya yang semakin ringan dan bertenaga. Wajahnya juga tak sepucat tadi dan kekuatannya bertambah setelah menyerap energi alam.
"Hebat juga , Kenapa anak ini tidak bisa Membuka Datiannya? apakah dia sebodoh itu?"
Ia melihat ke arah jendela yang menunjukan waktu sudah sore dan hampir petang.
Cepat sekali perasaan baru sebentar tapi kenapa sudah sore saja. Dimana Che?
Pintu terbuka orang yang ia tunggu akhirnya datang dan membawa barang pesanannya.
"Nano ini Semua yang kau mau aduh orang tadi benar benar keras kepala. ehem ngomong ngomong nona kenapa kau memintaku membeli semua ini?"
"Che , aku ingin berubah bukan menjadi nona mu yang dulu aku ingin sekali menjadi hebat seperti ibuku"
Che langsung tersenyum haru mendengar ucapan dari Lian. Mau bagaimana lagi dari dulu nonanya selalu menolak berlatih ataupun belajar.
tetapi baru kali ini ia mendengar nonanya ingin berlatih dan ingin menjadi seperti ibunya. ia langsung memeluk Lian dengan menangis.
"Akhirnya nona mau untuk berlatih Che sangat senang"
"Che , sudahlah jangan menangis. Dengar aku tidak ingin orang lain mengetahui jika aku sudah bisa berkultivasi. Aku takut mereka akan menganggu ku!" Tegasnya. Dibalas dengan anggukan dari che yang sangat menggemaskan.
"Bagus"
Lian meminta Che untuk mengupas bengkuang yang sudah ia belanjakan. Untuk jeruk akan ia urus tetapi ia terkejut karena barang yang di bawa Che jauh lebih banyak yang ia bayangkan.
Entah kapan ini akan habis aku buat saja siapa tau Che juga ikut...
Che juga bingung makanan apa yang akan di buat nonanya dari bengkuang dan jeruk.