Penghianat
Seorang wanita keluar dengan jas hitamnya menyapa para wartawan yang ada di depan kantornya. Semua wartawan sangat antusias untuk menguak banyak informasi darinya.
Lian Hua , adalah namanya seorang wanita muda berusia 23 tahun yang berhasil menjadi CEO yang kaya raya. Itu adalah pencapaian yang sangat bagus di antara orang lainnya ia yang termuda dan sukses.
Memegang perusahaan ayahnya yang sempat bangkrut karena adanya korupsi.
"Bu Lian, bagaimana anda bisa menjadi seorang CEO yang sangat profesional?"
"Jangan panggil Bu saya masih muda, untuk kesuksesan saya itu karena saya disiplin dan jujur dalam berkerja." Jawabnya.
Seorang wanita yang juga seorang wartawan itu terbelalak melihat kecantikan Lian Hua. Lian Hua tidak hanya sukses tapi dia juga sangat cantik.
Sudah sukses cantik lagi, aku saja yang seorang wanita terpikat apa lagi seorang pria. Ucapnya dalam hati dengan memegang mic.
"Hallo ada pertanyaan lagi?"
Langsung semua wartawan itu memberikan pertanyaan secara berturut turut. Dari jauh di depan kafe dekat kantor Lian seorang pria duduk meminum kopinya.
Pria itu terus mengawasi sang CEO cantik itu, siapa dia dan kenapa dia mengawasinya?
Setelah wartawan pergi Lian Hua dan temannya akan ke kafe. Pria yang duduk itu menghampirinya dengan berjalan menyebrangi jalan raya.
Seketika Raut wajah Lian berubah menjadi malas dan benar benar marah. Saat ia akan masuk ke dalam kantor untuk melindungi pria itu. Dengan sigap ia menarik tangannya dengan cepat.
"Lian, tolong kasih aku kesempatan"
"Rafael , maaf ya aku sudah tidak bisa menerima ini hei kau sudah buat aku sakit hati berkali kali" ucap Lian dengan membuang tangan Rafael dengan kasar.
"Lian ,aku janji aku gak akan mengulanginya lagi"
"Stop! Jangan cari aku lagi! kita sudah berhenti disini"
Dengan cepat ia masuk kedalam kantornya dengan menarik tangan temannya. Pria itu nampak kesal karena ia tidak lagi di dengarkan oleh Lian.
Lian sudah muak dengan pria itu yang bernama Rafael. Anak blasteran luar negri yang terkenal pintar dan tampan. Bagi semua orang akan merasa beruntung mendapatkan Rafael.
Tidak dengan Lian yang sudah merasakan pahitnya rasa sakit yang di berikan oleh Rafael. Beberapa kali Rafael selalu selingkuh di belakang Lian dan temannya Cheni.
Cheni seorang wanita yang lebih tua dari Lian yang sudah Lian anggap menjadi kakaknya sendiri. Tetapi berbeda dengan Cheni yang menganggap Lian sebagai sesuatu yang berharga. Cheni selalu memantau pergerakan dari Rafael beberapa hari setelah Lian bercerita tentang sikap Rafael yang aneh.
Benar saja beberapa kali ia memergoki Rafael bersama wanita yang berbeda beda setiap harinya. Ia merekam dan mengirimkan kepada Lian sahabatnya.
Karena itu ia benar benar sakit hati , Perselingkuhan itulah hal yang ia benci selama ini. Rumah tangga ayah dan ibunya hancur juga karena orang ketiga. Ibunya meninggalkan ayahnya demi pria lain yang juga adalah ayah dari temannya.
...
"Lian kau tidak apa apa?"
"Cheni, tidak apa apa. Selama ada kau aku baik baik saja" jawabnya.
"Syukurlah aku ingin kau berhati hati dengan Rafael dia orang yang tak baik dan aku juga mengingatkan sesuatu"
"Aku takut di dalam perusahan ada seseorang yang mengkhianati mu" jelas Cheni.
Aku harap kau paham atas posisimu sekarang Lian aku tidak ingin kau kenapa napa. Meskipun kau anggap aku ini adalah seorang kakak aku sudah bahagia bisa di sampingmu.
"Baiklah" ucapnya.
Meskipun dia tau Cheni berkata sungguh sungguh ia menganggapnya sebagai sebuah candaan. Tetapi ia juga tidak bisa menganggap remeh ini.
Duduk di dalam kantornya dengan banyak berkas yang akan ia kerjakan membuatnya semakin pusing. Tetapi dengan adanya semangat kerja ia berusaha mengerjakannya.
Akhirnya malam tiba perkejaan baru selesai saat waktu menunjukkan pukul 10 malam. Berjalan menuju ke arah parkiran mobil. Saat ia tiba di sana ia merasakan ada orang yang mengawasinya.
Gak ada orang apa cuma perasaanku? Tapi ah ya sudahlah setelah ini aku akan mandi dan tidur...
Dua orang pria keluar dari beberapa tiang di parkiran itu. Lian panik lalu cepat cepat masuk ke dalam mobil. Tetapi ia gagal karena salah satu pria itu sudah menarik tangannya hingga Lian jatuh.
"Lian Hua yang cantik jelita bagaimana jika kau bermain bersama kami dan pergi"
"Tau kau mati di sini?"
"Tidak Sudi dengan kalian para b******n"
Lian berdiri lalu memukul kedua orang itu, dua orang itu langsung melawannya dengan sekuat tenanga. Lian bukan hanya seorang wanita yang pintar tetapi ia juga kuat.
Bela dirinya bukan hanya sekedar suka tetapi ia juga sudah menjadi atasan di klub taekwondo. Mereka sempat kuwalahan dengan perlawanan dari Lian dan mendapat beberapa luka.
Saat pria dengan penutup wajah putih mengeluarkan pistol dari balik jaketnya.
"Brian, apa yang kau lakukan jangan menembaknya?"
Lian mendengar nama itu langsung mengetahui jika orang yang di depannya adalah Leo dan Brian. Mereka berdua adalah rekannya sekaligus Klien yang ia tolak Beberapa Minggu yang lalu.
"Kalian benar benar penghianat benar apa yang di katakan Cheni"
"Ah Lian kau telat mengetahuinya lebih baik kau menyusul ayahmu" ucap Brian dengan menarik penutup kepala.
"Kau..."
Dor suara tembakan menggema di lorong lorong , peluru sudah menembus ke jantung Lian. Mereka berdua seketika lari dari sana sebelum seseorang menemukan mayat dari Lian tergeletak.
Tangan Lian masih bergerak ia menatap ke arah langit langit dan duduk bersandar di mobilnya.
"Akh... Tolong!" Lirihnya.
Aku tidak akan memaafkan mereka dan mengutuk mereka. Aku benar benar tidak terima ini!
Detak jantung yang sudah tidak bersuara wajahnya yang memucat dan mata yang terbuka. Darah yang keluar sangat deras membasahi tanah dan bajunya.
...
Jam 4 pagi di kantor milik Hua Cheng lokasi parkiran mobil milik perusahaan. Seorang satpam datang berniat untuk membuka gerbang dan malai menjaga.
"Ah aku masih ngantuk"
"Hem akan ku buatkan kopi" ucap seseorang dari dalam pos.
"Terima kasih"
Satpam itu menuju ke arah parkiran mobil awalnya ia tidak merasa aneh. Tetapi saat melihat mobil milik Lian masih di tempatnya ia mulai bingung.
"Bu Lian tidak pulang kah? Dia lembur?"
Karena penasaran ia mendekati mobil itu saat posisinya semakin dekat aroma darah mulai menyengat. Karena bau itu ia menutupi hidungnya dengan tangannya. Saat melihat ke arah balik mobil mayat seorang wanita terduduk dengan lubang di dadanya.
Seketika ia berteriak memanggil temannya yang berada di pos. Saat ia memanggil temannya tidak ada tanggapan dari temannya , tiba tiba temannya menepuk pundaknya yang membuatnya kaget.
.
.
.
Pagi hari yang seharusnya para karyawan malai berangkat dan bekerja di kantornya harus kembali pulang karena ada kejadian yang tidak mereka duga sebelumnya.
Kematian bos besarnya Lian Hua di usia begitu muda dan memiliki karir yang sangat besar. Tewas di kantornya sendiri dengan keadaan d**a yang tertembak mayatnya sudah di bawa ke rumah sakit. Namun beberapa polisi dan detektif masih di sana menyelidiki sesuatu.
Seorang wanita dewasa berambut pendek dengan tatapan dinginnya datang ke depan perusahan milik Lian.
"Kenapa ada banyak polisi?"
Ia hanya melihatnya dari jauh dan melihat salah satu karyawan yang sedang menangis di dekat pos satpam. Dari belakang seorang polisi datang membawa sebuah sepatu milik Lian.
Sepatu Lian?...
"Maaf pak, ada apa ini semua?" tanyanya.
"Ibu siapa ya?"
"Oh saya teman dari pemilik perusahaan ini namanya cheni guren asal Jepang"
"Syukurlah, Bu saya ingin memberitahukan jika teman anda tewas tadi malam di dekat mobilnya"
Sebelumnya cheni hanya diam dengan tatapan dinginnya tetapi setelah mendengar ucapan dari polisi itu ia langsung terbelalak. langsung bertanya dimana keberadaan Lian saat itu juga.
Polisi memberitahukan lokasinya dan kejadian persisinya. ia menelfon supirnya untuk menyiapkan mobil untuknya. Di sebrang jalan ia melihat mobilnya telah sampai ia langsung bergegas pergi.
Sesampainya ia di rumah sakit , suster yang di lobby kebingungan dengan sikap cheni.
"Maaf ada yang masuk rumah sakit ini tepatnya tadi pagi? kasus pembunuhan Lian Hua"
"Maaf siapanya ya?"
"Saya teman korban dan saya yang ia punya satu satunya di sini" ucapnya.
"Baik" suster itu memberikan sebuah dokumen kepada cheni.
Isi dokumen itu adalah hasil otopsi jenazah korban dan beberapa barang bukti. Detail tentang peristiwa dan semua kondisi korban.
...
Setelah Lian di otopsi Cheni meminta untuk segera memakannya di tempat yang di inginkan Lian yaitu di samping ayahnya.
"Paman sekarang Lian sudah bersama mu dan ku harap kalian bisa bertemu" ucapnya dengan air mata mengalir.
Saat ia selesai Mendokan dan menabur bunga di makannya dari kejauhan ia melihat seorang pria dengan kemeja hitam. Pria itu menangis dengan menutup mulutnya dan saat ia di lihat oleh cheni ia pergi secepat mungkin.
Karena cheni penasaran ia mengejarnya dan bertanya ada hubungan orang itu dengan semua ini.
"Berhenti!" ucapnya.
"Cheni ada apa?" tanya pria itu.
"Rafael?" setelah memanggil namanya ia langsung melambungkan pukulan keras pada wajah Rafael. Rafael langsung terjatuh dan melanjutkan tangisannya.
"Kau yang menyebabkan Lian mati kan?" tanya cheni.
"Aukan aku, aku tidak mungkin melakukan itu aku sangat menyayanginya" jawabnya dengan menutupi wajahnya yang terkena hantaman itu.
jika bukan dia siapa? yang ku tau dia orang yang bermasalah dengan Lian saat itu.
"Apa yang bisa membuktikan mu tentang dirimu tak bersalah?" tanya cheni.
Rafael bangkit dan memberikan sebuah buku harian milik Lian yang terjatuh saat mereka bertengkar di depan kantor. Buku harian itu berisi jika Lian masih mencintainya tetapi hatinya sudah tak bisa menerimanya.
Dan ada beberapa keluhan tentang klien bernama Brian yang dua Minggu lalu mengajukan kontrak yang merugikannya. Dan ia menolak kelanjutan berjalannya kontrak dengan uang 1M .
"Apa kau bisa membantu ku?" tanya cheni.
"Membantu apa? jika itu bisa membuat liat tenang aku pasti berusaha"
Cheni meminta Rafael untuk mengecek cctv perusahan di semua sudut. Datang ke ruangan yang sangat gelap penuh dengan perlengkapan komputer tepatnya di kamar Rafael.
"Akan ku coba"
Setelah pengecekan berkali kali akhirnya ada sesuatu yang janggal. Cctv di semua area menyala tetapi kenapa cctv yang berada di parkiran mati.
Cheni dengan para detektif mengecek ke cctv di bagian parkiran mobil. kabel pada kamera itu terputus dan rekaman orang yang memutus kabel tidak terlihat.
Cctv itu mati pada jam 9 malam tadi dan pada saat itu hanya Lian di kantor semua karyawan semua pulang. Satpam berganti waktu dengan yang lain dan pulang kerumah lalu gerbang di tutup jam 9:15.
Di halaman depan setelah jam itu tidak ada sama sekali orang yang datang atau pergi. Satpam pada shift malam itu tidak mengecek lagi karena mendengar istrinya sedang lahiran.
semua terasa janggal cheni dengan teliti melihat kabel yang terputus.
"Pak detektif ini sudah jelas di potong oleh sang pelaku"
"Terima kasih nyonya cheni , bagaimana jika anda menjadi bagian dari kami sebagai detektif" ucap kepala detektif.
"Maaf aku tidak tertarik"
aduh wanita ini dasar... tapi itu pilihan dia juga.
Telfon dari Rafael berdering ia mengangkatnya Rafael memberitahu dua orang berlari menuju ke arah lain. Tetapi tempat mereka akan beranjak pergi adalah di samping perusahaan ini.
Leo ? dia benar benar tidak bisa dimaafkan tapi aku tidak bisa gegabah.
"Pak cepat ikut saya!"
"H?? kemana?" bingung polisi itu
Cheni dengan membawa Beberapa polisi ikut dengannya untuk menangkap sang pelaku Leo yang sedang senang senang di dalam cafe. Sebelum menangkapnya mereka mendengar jika Leo sedang menelfon seseorang.
Dan mereka membahas tentang kematian Lian kemarin malam. Dan benar saja apa yang di pikirkan oleh Cheni dia benar benar pelakunya.
Polisi langsung menangkapnya di tempat semua pelanggan cafe terkejut .
"Maaf pak ada apa ini?" tanyanya dengan berontak.
"Leo jangan melawan lagi aku sudah tau kau pelakunya"
"Tidak! , Cheni tolong aku... aku tidak bisa masuk penjara tolong maafkan aku..."
"Diam dan ikut!"
Leo tertangkapnya orang yang ia telfon itu langsung menutup telfonnya. dan sepertinya orang yang ia telfon itu juga ketakutan.
Pada akhirnya ada tiga pelaku yang tertangkap yaitu Leo tangan kiri dari Lian Hua sendiri. Klien yang dulu ia tolak karena bermain curang dan Satpam shift malam yang sebenarnya ia membantu kedua pelaku masuk tanpa di ketahui cctv.
Satpam itu di ancam dan di berikan uang senilai 10jt untuk proses melahirkan istrinya. Tetapi sayang sekali karena kasusnya ia akan di tahan sangat lama.
Cheni masih tidak percaya bahwa sahabatnya tewas dengan cara yang tak terpikirkan selama ini. Ia masih merasakan sosok Lian Hua yang selalu menyemangatinya.
...
"Aku dimana ini? aduh... kenapa yang sakit kepalaku?"
Melihat ke arah tangannya yang kecil dan baju yang sangat aneh. Ia langsung berdiri dari tidurnya lalu melihat ke arah cermin.
"Aaaaaa aku dimana ...?" .
Seluruh ruangan sangat asing baginya dan beberapa ukiran yang sangat khas pada dinding kayu. Suara orang orang yang berbicara di depan membuat kepalanya pening. Wajahnya yang telah berubah tak karuan dan rambut yang berantakan.