▪▪▪
Pagi ini mood Hyun-Ra sangat buruk, ia masih saja teringat sikap Kyuhyun yang selalu kurang ajar padanya bahkan kadang berusaha mendapatkan ciumannya dengan ancaman.
Pria itu memang jahil dan iseng, tapi ini sudah begitu keterlaluan.
Rasanya ia ingin mengadukan semua perbuatan Kyuhyun pada Daehyun, tapi ia sadar itu pasti akan menjadi sesuatu yang buruk atau bahkan bisa terjadi pertikaian.
Ia tidak ingin itu terjadi.
"Hyun-Raa!!"
Hyun-Ra tersentak kaget mendengar suara melengking Seo Jin dan perempuan itu menghampirinya dengan napas terengah.
Hyun-Ra mengernyit. "Hilangkan kebiasaanmu yang suka berteriak-teriak, Seo Jin, kau membuatku terkejut!" Ia langsung mengomel ketika temannya itu sudah berada di depan meja kerjanya.
"Apa kau tadi berangkat bersama Presdir muda Daehyun, atau aku yang salah lihat?" Seo Jin tidak terpengaruh dengan ucapan Hyun-Ra. "Teman-teman tadi juga melihatnya dan mereka yakin kalau itu kau. Apa itu benar-benar kau?"
Hyun-Ra langsung panik dengan pertanyaan Seo Jin, ia jadi kelimpungan untuk menjawab. Ini pasti gara-gara ia yang terlambat bangun dan Daehyun masih harus menunggunya bersiap dulu sehingga mereka sampai kantor kesiangan. Biasanya mereka akan tiba lebih awal sebelum ada staff yang melihat dan pulang lebih lambat setelah para karyawan sudah sepi.
Lagipula biasanya Daehyun menggunakan mobil dengan kaca gelap jika terlihat dari luar dan tidak akan ada yang menyadari siapa orang yang berada di dalamnya. Dan sekarang Hyun-Ra baru sadar bahwa tadi Daehyun memang menggunakan mobilnya yang lain.
Kenapa mereka bisa seceroboh ini?
"Hyun-Ra, jawab!" desak Seo Jin karena Hyun-Ra malah termenung. "Apa benar yang di mobil Tuan Daehyun tadi itu kau?"
Hyun-Ra menggeleng. "I—itu bukan aku, kalian pasti salah lihat."
"Tapi aku yakin itu kau." Mata Seo Jin memicing curiga. "Kau berbohong ya? Atau jangan-jangan kau ada hubungan dengan Tuan Daehyun?"
"S—siapa bilang! Jangan sembarangan!"
"Buktinya kau terlihat panik begitu. Biasanya kalau sudah seperti itu kau sedang berbohong atau menyembunyikan sesuatu."
"Kau terlalu sok tahu!" Hyun-Ra merengut. "Lebih baik kau pergi ke ruanganmu dan jangan menggangguku! Aku sedang banyak kerjaan!" Lalu Hyun-Ra meraih map-map yang ada di depannya dan mencoba menyibukkan diri dengan kertas-kertas di sana.
"Dan biasanya kalau kau jadi marah begitu berarti tebakanku benar."
"Seo Jin!" Hyun-Ra mulai terpojok dan ia jadi kesal. "Aku bilang pergi atau aku akan mencubitmu!"
Seo Jin manyun.
"Ya, baiklah, aku akan pergi." Seo Jin menyerah, namun tatapannya masih tampak mencurigai Hyun-Ra. "Tapi kalau pun sekarang kau berbohong padaku, pasti nanti aku akan tetap tahu kebenaranmu." Kemudian Seo Jin berbalik dan mulai pergi dari meja Hyun-Ra, setelah sebelumnya memberikan sorotan; aku akan cari tahu kebenarannya!
Hyun-Ra mendesah lega meski kepanikannya belum mereda. Ia sekarang jadi cemas dan khawatir. Bagaimana kalau nanti semua pegawai perusahaan tahu tentang hubungannya dengan bos mereka? Seperti apa tanggapannya? Apakah seperti yang pernah dikatakan Kyuhyun kalau mungkin mereka akan memaki bahkan membencinya lalu kemudian melemparinya dengan telur-telur busuk? Bahkan akan lebih parah lagi jika sampai mereka menganggapnya perempuan murahan yang menggoda Daehyun.
Hyun-Ra meringis, dan ia jadi semakin panik.
Ia harus ke ruangan Daehyun setelah ini.
▪▪▪
Ketika waktu makan siang, Hyun-Ra tergesa-gesa memasuki lift dan naik ke ruangan Daehyun. Bahkan sepanjang jalan tadi beberapa pegawai perempuan sudah mulai tampak memandangnya aneh sambil berbisik-bisik, seolah ia adalah perempuan perebut suami orang dan itu benar-benar membuatnya tidak nyaman.
Hyun-Ra mengetuk pintu ruangan Daehyun, lalu membukanya dengan perlahan ketika pria di dalam menyuruhnya masuk. Ia menemukan Daehyun sedang duduk di kursi besarnya dan terlihat sibuk dengan laptop yang ada di hadapannya. Hyun-Ra masuk dengan gugup, rautnya cemas, dan keresahannya tidak bisa ia sembunyikan.
Daehyun menatapnya dengan alis berkerut.
"Mau makan siang bersama?" tanya pria itu.
Hyun-Ra menggeleng, ia meremas-remas jemarinya hingga memutih.
"Bukan itu."
"Lalu?" Daehyun menyipit, ia memundurkan tubuhnya bersandar di kursi besarnya. "Kemari lah. Dan kenapa kau terlihat panik?"
Hyun-Ra mendekat dan Daehyun bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja lalu bersandar di pinggirannya. Ia meraih Hyun-Ra, mengamati raut wajahnya yang terlihat tidak tenang.
"Ada apa, Sayang?" Daehyun merangkul pinggang Hyun-Ra. "Ceritakan padaku, apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
Hyun-Ra membasahi bibirnya, kemudian menelan ludah.
"D—Daehyun, sepertinya semua orang sudah mulai menyadari hubungan kita." Hyun-Ra menatap, dan kekasihnya itu juga sedang menatapnya, belum merespon, seolah menunggu Hyun-Ra melanjutkan cerita. "Bahkan tadi Seo Jin bertanya padaku kenapa aku satu mobil denganmu. Aku... menyangkalnya. Aku tidak mengaku. Bagaimana kalau semua orang kantor mengetahui hubungan kita?"
"Dan memangnya kenapa kalau mereka tahu? Ini kehidupan kita berdua, bukan urusan mereka. Kenapa kau harus sepanik ini?"
"M—masalahnya... banyak perempuan kantor yang menyukaimu, dan pasti mereka akan membenciku kalau tahu aku bahkan... menjadi pacarmu."
Daehyun tersenyum tipis, tangannya terulur mengusap puncak kepala Hyun-Ra.
"Kupikir sudah saatnya semua orang tahu hubungan kita, karena keinginanmu untuk menyembunyikan hubungan tidak cukup beralasan menurutku. Hanya karena banyak perempuan kantor yang menyukaiku, kau sampai melakukan ini. Harusnya yang kau lakukan adalah mengklaimku agar tidak ada perempuan yang mendekatiku."
Hyun-Ra terdiam, memikirkan semua ucapan Daehyun dan seketika ia merasa bersalah.
"Aku ingin kau mengakuiku di mana pun, Hyun-Ra, sebagai kekasihmu," lanjut Daehyun.
"Tapi aku tidak punya kepercayaan diri untuk melakukan itu, Dae, aku sadar siapa aku... "
"Karena kau perempuan yang begitu cantik, jadi aku tidak pantas mendapatkan pengakuanmu, begitu?"
Hyun-Ra menggeleng keras, bagaimana mungkin justru Daehyun yang berpikir begitu?
"Bukan kau, tapi aku. Aku yang tidak pantas mendapatkan pria menawan sepertimu. Aku bukan siapa-siapa, aku hanya perempuan biasa tapi kau begitu sempurna—"
"Sstt," Daehyun menghentikan ucapan Hyun-Ra, ia meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan hangat, matanya memancar penuh keseriusan. "Sayang, dengarkan aku. Sudah berkali-kali aku katakan kalau aku tidak suka kau mempunyai pikiran seperti itu. Kau tidak perlu khawatir apa pun, tidak perlu takut apa pun. Aku yang mencintaimu aku yang memilihmu dan aku yang ingin bersamamu. Memangnya siapa yang berani melarang? Kalau pun ada yang tidak suka dengan hubungan kita, ya biarkan saja, itu urusan mereka. Dan aku tidak akan membiarkan kalau sampai ada yang menyakitimu."
Hyun-Ra kembali diam, hanya menatap Daehyun yang sedang berusaha memberinya keyakinan.
"Lagipula sebentar lagi kita akan bertunangan, dan semua orang akan tetap tahu dengan hubungan kita." Daehyun mengelus tangan lembut Hyun-Ra, bibirnya membentuk senyum ketika hendak mengatakan. "Aku sudah memutuskan, kita akan melangsungkan pertunangan dua minggu lagi. Aku sedang mempersiapkan semuanya."
Kali ini Hyun-Ra mulai ternganga, matanya mengerjap beberapa kali.
Bertunangan?
"D—dua minggu lagi?"
"Ya, dua minggu lagi."
Hyun-Ra menelan ludah dan dadanya jadi berdebar-debar.
Nyonya Cho memang sudah mengatakan padanya, tapi ia tidak menyangka Daehyun akan merencanakannya secepat ini.
"Dan aku tidak akan melarang kamera untuk masuk dan menyorot acara pertunangan kita."
Jadi, kau harus menyiapkan dirimu dari sekarang. Dan setelah itu, kau bisa menghadapi semua perempuan dengan status barumu, tunanganku, dan kau tidak perlu takut untuk menunjukkan dirimu kepada siapa pun.
Ingat, Hyun-Ra, kau tidak akan bisa menyembunyikan hubungan kita terus menerus, tidak ada alasan, dan itu pun kalau kau memang mencintaiku dengan sungguh-sungguh.
Hyun-Ra kembali ke ruangan kerjanya dengan masih mengingat semua ucapan Daehyun. Ia tahu sudah melukai Daehyun dengan keinginan anehnya. Hanya karena ia merasa rendah dan tidak pantas mendampingi Daehyun, ia sampai membuat kekasihnya merasa tak diakui. Karena sejauh yang ia tahu, Si miskin akan sulit bersatu dengan Si kaya, terlalu banyak perbedaan yang terhampar, terlalu banyak pihak yang tidak terima, dan terlalu banyak halangan yang akan menghadang. Karena saling cinta tidak akan cukup jika orang-orang sekitar tidak memberi dukungan.
Karena saat Si miskin mencintai Si kaya, pasti tidak akan lepas dari yang namanya masalah. Entah masalah itu datang dari sudut yang mana.
Terlebih, ia tidak ingin membuat Daehyun malu karena memiliki kekasih yang biasa-biasa saja, bukan perempuan luar biasa seperti yang seharusnya.
Hyun-Ra menutup wajahnya dengan benak yang terbayang pada ekspresi sedih Daehyun. Demi apa, ia tidak pernah berniat membuat Daehyun seperti itu, tidak pernah sedikit pun.
Lalu apa yang sebenarnya harus ia lakukan?
"Melamun, eh? Pasti memikirkan Tuan Daehyun?"
Hyun-Ra mengerjap ketika mendengar suara Seo Jin menginterupsinya yang sedang termenung. Temannya itu tiba-tiba sudah berdiri di depan mejanya lengkap dengan picingan curiganya.
Hyun-Ra mendesah, tidak menyangka dengan sikap pantang menyerah temannya itu.
"Kau selalu saja menuduhku!"
"Jadi kau masih tetap tidak mau mengaku kalau yang di mobil Tuan Daehyun tadi adalah kau?"
"Bagaimana aku mau mengaku kalau itu memang bukan aku?"
"Aku tidak percaya."
"Kau bisa tanyakan langsung pada Tuan Daehyun!"
"Dan apa susahnya sih kau tinggal mengaku saja?"
"Dan kenapa kau hanya menuduhku? Bisa saja itu adalah perempuan lain di kantor ini?"
Seo Jin mendesah.
"Karena jelas-jelas itu memang kau tapi kau yang tidak mau mengaku, Hyun-Ra."
"Tidak ada alasan aku berada di mobil Tuan Daehyun!"
"Siapa bilang? Kau kan cantik, banyak pria di perusahaan ini yang mengajakmu berkencan tapi kau yang tidak menanggapi mereka. Mungkin saja Tuan Daehyun juga menyukaimu dan kalian ada hubungan?"
"Aku tidak ada apa-apa dengan Tuan Daehyun! Berapa kali harus aku bilang? Tanyakan saja pada Tuan Daehyun!" Hyun-Ra cemberut kesal, mengamati Seo Jin yang sedang memicing padanya, dan buru-buru ia berpaling.
Dan bagaimana kalau Seo Jin benar-benar bertanya pada Daehyun? Kekasihnya itu sepertinya tidak begitu ambil pusing hal yang membuatnya panik ini?
"Baiklah, kali ini kau selamat lagi dan aku tidak akan memaksa," putus Seo Jin akhirnya. "Tapi tetap, aku akan cari tahu kebenarannya kalau mungkin kau memang ada hubungan dengan bos kita."
"Terserah kau saja."
Hyun-Ra menelungkupkan kepalanya di atas meja, kesal karena Seo Jin semakin membuatnya pusing.