Kiriman

621 Words
▪▪▪ Keesokan harinya Hyun-Ra terbangun dengan dering ponselnya yang berbunyi nyaring, menyentaknya dan merenggut paksa dari tidur nyenyaknya. Ia meraih benda itu dan melihat pesan video yang dikirim Daehyun, membuatnya jadi terjaga sepenuhnya. Daehyun tampak begitu tampan dan segar di dalam video itu, duduk di taman indah rumah mewahnya dengan secangkir teh di hadapannya. "Selamat pagi, Sayang... Aku tahu kau pasti baru bangun setelah mendapat pesan ini. Dan sebenarnya kalau tidak melanggar aturan, aku ingin kesana dan membangunkanmu dengan ciumanku, tapi aku takut lepas kendali dan melakukan hal yang tidak-tidak." Hyun-Ra mengerjap syok dengan kata-kata Daehyun. Sejak kapan kekasihnya jadi mesum seperti itu? Daehyun tampak tertawa indah dan Hyun-Ra jadi tersenyum melihatnya, lagi-lagi harus menyadari bahwa pria sempurna itu adalah miliknya. "Kau pasti belum membuka pintu depan, kan? Aku mengirim sesuatu untukmu, ambillah, dan aku ingin malam nanti kau memakainya." Hyun-Ra mengernyit, Daehyun mengirim sesuatu? Apa? Buru-buru Hyun-Ra bangkit dan berjalan ke ruang depan, menyingkap tirai dan membuka pintunya. Dan benar saja, ada sebuah kotak yang cukup besar tergeletak di teras depan pintu, dengan pita biru yang menjadi hiasannya, manis, ceria, benar-benar tampak seperti sebuah hadiah yang dikirim seorang pria untuk wanitanya. Hyun-Ra menunduk ke arah ponselnya lagi. "Kuharap kau tidak menolak dan akan menyukainya, Sayang, aku ingin melihatmu mengenakan itu, nanti, saat aku menjemputmu untuk kubawa kepada orang tuaku." Hyun-Ra terperangah, dadanya seketika jadi berdebar-debar, nervous, seolah nanti ia akan melakukan tarian di atas panggung dengan disaksikan banyak orang untuk pertama kali. Jadi Daehyun serius dengan niatnya untuk membawanya kepada orang tuanya? Hyun-Ra sudah bersiap memencet tombol call tapi pesan Daehyun belum selesai, pria itu kembali berbicara. "Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, orang tuaku menerimamu, aku sudah menceritakan semua tentangmu dan mereka ingin bertemu denganmu. Jangan cemas, keluargaku adalah orang-orang baik." Hyun-Ra menelan ludah, tiba-tiba merasa gelisah dan panas dingin membayangkan Daehyun akan benar-benar membawanya ke istana pria itu, nanti malam, dan bahkan itu di luar kesiapan Hyun-Ra. Bagaimana jika nanti ia justru bertingkah memalukan di hadapan orang tua Daehyun? Atau bagaimana jika nanti orang tua Daehyun batal menerimanya setelah tahu betapa ia hanyalah seorang gadis biasa yang rendah dan tidak ada menarik-menariknya? "Mandilah, pasti sekarang masih ada sisa liur di pipimu yang cantik itu." Seketika Hyun-Ra langsung menyentuh pipinya dan kemudian sadar kalau Daehyun pasti hanya mengusilinya. Ia manyun. "Tidak ada liur!" sungutnya, tapi senyum gelinya tetap terukir, membuatnya tiba-tiba jadi merindukan Daehyun. Hyun-Ra meraih kotak di kakinya dan membawanya ke sofa ruang tengah. Dua buah gaun sutra yang begitu anggun langsung terhampar ketika Hyun-Ra membongkarnya, beserta tas dan sepatu setelannya dengan warna-warna senada. Hyun-Ra mengangkat gaun itu dengan raut terperangah, melihat betapa cantiknya gaun itu setelah kini menjuntai di tangannya. Ada sabuk tipis dari taburan berlian di bagian pinggang, juga pengait bahunya yang juga dilapisi berlian. Dan Hyun-Ra tidak ingin pusing memikirkan berapa karat berlian itu dan siapa perancangnya yang begitu menakjubkan. Yang Hyun-Ra pikirkan sekarang adalah; berapa banyak uang yang Daehyun keluarkan untuk membeli gaun-gaun itu? Lalu setelah ia memakainya nanti, hanya sekali, dan gaun itu sudah tidak akan berguna lagi. Memangnya ia akan menggunakan gaun seindah itu kemana lagi? Ia tidak mempunyai kepercayaan diri untuk selalu mengenakan gaun spektakuler macam ini. Hyun-Ra mendesah, benar-benar merasa ciut untuk menggunakannya. Bahkan hingga menjelang siang, Hyun-Ra masih tetap di perasaan gugup dan gelisahnya menunggu saat-saat Daehyun datang untuk menjemputnya. Ia merasa tidak enak untuk menolak, dan seharusnya ia bahagia dengan kenyataan bahwa Daehyun yang sempurna itu menghormati dan menghargainya dengan sungguh-sungguh ingin memulai hidup bersamanya. Namun tetap saja perasaan tidak pantas terus menyelubungi Hyun-Ra. Dengan berbagai kejadian yang pernah ada, ia hanya takut kalau kehadirannya nanti akan membuat Daehyun berada dalam masalah dan dipandang hina oleh semua orang. Karena ia sadar, siapa dirinya yang rendah ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD