Jealous

2183 Words
▪▪▪ Malam itu Kyuhyun berada dalam kebimbangan apakah ia harus di rumah dan melihat sang kakak yang akan membawa kekasihnya, ataukah lebih baik ia menghindar saja dan memilih mencari hiburan? Ia juga malas kalau harus mendengar setiap rentetan ayahnya yang sering mengatakan bahwa apapun tentangnya harus sama dengan Daehyun. Kyuhyun tidak suka. Karena meski mereka kembar, tapi watak dan kesenangan jelas jauh berbeda. Namun pada akhirnya ia sekarang berada di sini, bersama ayah dan ibunya di ruang keluarga dan sedang menunggu Daehyun yang sebentar lagi akan sampai. Kyuhyun membolak-balik halaman majalah di tangannya dengan tak semangat, moodnya buruk dan sebenarnya ia ingin tidur saja di kamar. Tapi tiba-tiba ibunya bertanya memecah keheningan. "Kyu, apa kau mempunyai hubungan dengan penyanyi yang bernama Jang Soon Young itu?" Kyuhyun mengangkat wajahnya dari majalah, lalu kemudian mendengus bosan. "Aku tidak mempunyai hubungan dengan perempuan manapun, Eomma." "Tapi lagi-lagi beritamu muncul dengan perempuan baru, dan selalu dengan perempuan berbeda," ujar ibunya lagi. "Eomma tidak suka kalau kau berhubungan dengan perempuan seperti itu, pakaiannya sangat tidak sopan dan sikapnya juga tidak baik. Eomma tidak mau kau dekat-dekat dengan perempuan itu." Kyuhyun mengernyit, mengingat sosok penyanyi Jang Soon Young yang dimaksud ibunya dan memang perempuan itu terlalu seksi dalam berpakaian, sifatnya juga begitu sombong serta sering memandang rendah pada orang-orang yang berada di bawahnya. Tetapi saat perempuan itu bertemu dengannya, aura sombongnya seolah lenyap, lupa bahwa dia seorang artis papan atas dan malah menampakkan seperti seekor pungguk yang mendamba rembulan. Bahkan beberapa kali perempuan itu mengajaknya jalan, mengajaknya makan malam, dan juga mengajaknya untuk berkencan. Perempuan itu dan kesombongannya seperti daun putri malu ketika sudah berhadapan dengan pesonanya, tak berkutik, tak berdaya, dan tak berarti apa-apa. "Eomma tenang saja," sahut Kyuhyun. "Aku sama sekali tidak berminat padanya." "Dan cari perempuan baik-baik kalau nanti ingin kau kenalkan pada kami," sambung ayahnya. "Tidak perlu sempurna, yang penting sopan dan memiliki moral." Kyuhyun kembali pada majalahnya. "Aku belum berpikir untuk memiliki kekasih, Appa, tidak ada dari mereka yang membuatku tertarik." "Dan tidak ada juga dari mereka yang Eomma suka untuk pantas jadi pacarmu, tidak karena sifat-sifatnya." Kyuhyun mendesah dan tidak ingin mendebat, tetapi ia membenarkan kata-kata ibunya, tidak satupun dari artis-artis itu yang pantas mendapatkan cintanya. Saat itulah bel pintu utama berbunyi dan sang ibu langsung menegakkan tubuhnya. Beliau tampak berbinar. "Mereka datang," gumamnya, lalu beliau beranjak ke ruang depan. Tuan Cho menunggu dengan antusias, sementara Kyuhyun kembali dililit rasa tidak nyaman dalam dirinya, hingga detik-detik kehadiran Hyun-Ra berada di tengah-tengah ruangan ini, rasa tidak nyaman itu semakin kuat membelenggunya. Ia tidak relaks, tidak bisa merasa santai sekaligus tidak ada ketenangan. Rasa di dalam dadanya benar-benar kacau. Tiba-tiba bayangan Hyun-Ra yang mungil dan menggemaskan memenuhi benak Kyuhyun, dengan raut kesal gadis itu yang selalu menghiburnya, ditambah dengan bibir manis yang membuat Kyuhyun tergila-gila. Kyuhyun kacau, dan memikirkan itu semua membuatnya lebih kacau lagi. Terlebih dengan paras cantik Hyun-Ra ketika mengenakan gaun anggun yang berkilau dan indah di tubuh rampingnya, seakan mendorong Kyuhyun untuk jadi lebih gila lagi. Dan apakah ia memang sudah mulai kehilangan kewarasannya? Bagaimana mungkin gadis itu sekarang menjelma cantik seperti itu di pandangannya? "Yeobo," suara ibunya yang memanggil sang ayah membuat Kyuhyun mengerjap dan kembali ke alam sadarnya. Itu bukan hanya sekedar jelmaan, tapi Shin Hyun-Ra benar-benar berdiri di sana dengan gaun anggun yang membalut indah tubuhnya. "Lihatlah siapa yang datang," lanjut Nyonya Cho. Daehyun membawa Hyun-Ra untuk mendekat, bersama ibunya yang sudah menyambutnya lebih dulu di pintu depan. Tuan Cho bangkit dari duduknya, dan Hyun-Ra langsung membungkuk hormat ketika sudah berada di hadapan beliau. "Selamat malam, Presdir besar Cho... " sapa Hyun-Ra, dan Tuan Cho mengerutkan kening sambil mengingat-ingat, hingga kemudian senyumnya mulai merekah. "Dae, bukankah dia yang menemanimu di meeting kemarin?" Tuan Cho menatap Daehyun, dan anak sulungnya itu mengangguk malu. "Ya, Appa, dia Shin Hyun-Ra, dan dialah gadis yang aku ceritakan." Tuan Cho kembali pada Hyun-Ra dan beliau mengamatinya, lalu kemudian tersenyum lagi. "Aku tidak menyangka kalau kau gadis yang diceritakan Daehyun, dan selamat datang di rumah kami, Hyun-Ra, terima kasih sudah mau berkunjung." "Saya yang harus berterima kasih, Presdir, Anda sekeluarga sudah begitu baik menyambut saya... " "Dan juga tidak menyangka kalau pacar Daehyun ternyata begitu cantik," sela Nyonya Cho. Hyun-Ra jadi tersipu malu. "Dan kenalkan, ini anak kami yang kedua, Cho Kyuhyun, adik kembar Cho Daehyun," Nyonya Cho mengulurkan tangan menyuruh Kyuhyun yang masih tetap duduk agar bangkit berdiri. "Kyu, bangunlah," tegur ibunya. Kyuhyun mendesah lalu bangkit malas dari duduknya, ia berdiri di samping sang ibu. "S—selamat malam, Tuan Kyuhyun... " Hyun-Ra menyapa lebih dulu, ia membungkuk hormat dan untuk sejenak tidak ingin mengingat kekesalannya pada pria pengganggu itu asal Kyuhyun bersikap baik dan tidak melecehkannya lagi. Kyuhyun mengangguk, ia menatap Hyun-Ra, lalu kemudian terpenjara di wajah cantiknya. "Senang bertemu denganmu lagi... " gadis menggairahkan. Dan bagaimana bisa Shin Hyun-Ra terlihat semempesona itu? Penampilannya begitu berbeda dari ketika gadis itu berada di kantor. Kali ini Hyun-Ra bahkan tampak seperti dewi. Dewi cinta. Kyuhyun mengernyit, Dewi cinta? Entah bagaimana senyum miring Kyuhyun kali ini tidak mau keluar. Ia lebih memilih diam dan menikmati rasa tidak nyaman yang terus menerus menggayuti dadanya. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dalam dirinya, perasaan sinting dan gila, membuat tubuh Kyuhyun memanas dan ia jadi pening. Menarik lepas gaun Hyun-Ra dan menelanjanginya. Itu adalah suatu dorongan yang membuat Kyuhyun merasa sudah benar-benar kehilangan kewarasannya, membuatnya seperti pria hidung belang layaknya laki-laki bejad kebanyakan di luar sana. "Bagaimana kalau kita langsung ke meja makan?" ajak Nyonya Cho. "Makanan sudah siap dan ini sudah waktu makan malam." Beliau mendekati Hyun-Ra dan mengajak dengan akrab. "Eomma memasak sendiri untukmu, Hyun-Ra, semoga kau suka dan tidak bosan untuk datang kemari. Apalagi kalau semuanya sudah sibuk masing-masing dan Eomma sendirian, jadi sering kesepian di rumah ini. Eomma akan meminta Daehyun supaya sering membawamu kemari. Kau bersedia, kan?" Hyun-Ra merasa lega dengan penerimaan keluarga itu dan ia tersenyum menanggapi ucapan panjang Nyonya Cho. Ternyata Daehyun tidak bohong, semua keluarganya adalah orang-orang baik dan ia tidak perlu cemas apapun, meski tetap saja kekhawatiran itu terus ada. Kecuali adik kembar Daehyun itu, Hyun-Ra tidak akan memasukkannya ke dalam daftar orang-orang baik menurut versinya. Kyuhyun justru menduduki urutan pertama jajaran para orang-orang buruk dan suka mengganggu. "Terima kasih atas kebaikan Nyonya, saya pasti akan menemani Anda semampu saya agar Anda tidak kesepian lagi... " Nyonya Cho tersenyum, merasa senang. "Dan jangan panggil Nyonya, karena kau bukan pelayan atau tukang kebun disini. Panggil saja aku Eomma." Hyun-Ra tertegun dengan kata-kata ibu Daehyun, betapa ia mendambakan sosok orang tua untuk ia sayangi dan ia jaga. Dan kini Nyonya besar ini memintanya agar memanggilnya ibu, Oh Tuhan... Hyun-Ra dipenuhi perasaan haru dan ia jadi ingin menangis. Ibu dan ayah Daehyun begitu baik padanya. Dan bahkan ketika makan malam bersama, Tuan dan Nyonya Cho terus mengajak Hyun-Ra mengobrol agar Hyun-Ra merasa nyaman dan betah, menceritakan hari-hari Daehyun dan Kyuhyun, juga menceritakan makanan kesukaan ataupun kegemaran mereka yang lainnya. Dan Daehyun mengamati Hyun-Ra dengan pancaran penuh cintanya, membuatnya merasa semakin yakin kalau ia tidak salah pilih dan Hyun-Ra lah gadis terbaik yang diinginkannya. Gadis itu mudah beradaptasi dan menguasai kehangatan yang tercipta dengan sikap lembut dan menyenangkannya, membuat Tuan dan Nyonya Cho semakin menyukainya. Sedangkan Kyuhyun lebih banyak diam, pura-pura menikmati makannya yang sebenarnya sudah tidak selera. Kyuhyun terus menerus mencoba menelaah hatinya, memahami semua kekacauan di dalam dadanya, dan semakin ia berusaha mengartikannya, ia justru terjatuh ke dalam kebingungan yang lebih menguasainya. Kyuhyun merasa terganggu dengan perasaan seperti itu karena sebelumnya ia tidak pernah mengalaminya. Apa sebenarnya yang terjadi dengan dirinya? Apakah ia menginginkan Hyun-Ra? Tidak mungkin! Bagaimana bisa ia sekarang menginginkan seorang perempuan? Seharusnya perempuan lah yang menginginkannya. Karena sejauh ini ia biasa didamba, bukan mendamba. Apakah dunia ini sudah terbalik? Semuanya kembali ke ruang keluarga setelah acara makan malam usai. Nyonya Cho menghela Hyun-Ra agar duduk di sampingnya sementara Daehyun dan Kyuhyun duduk bersebelahan di seberang lainnya. Hyun-Ra sempat melirik Kyuhyun dan entah bagaimana tatapan pria itu padanya terlihat begitu horror. Kyuhyun seketika tampak seperti pria dingin membeku yang kejam dan suka melindas, jauh berbeda dari sikap buruk mengesalkan dan tukang mengganggu yang biasa pria itu tunjukkan. Apakah kejadian terakhir kali bersama Kyuhyun di lift membuat pria itu jadi tidak menyukainya sekaligus tidak setuju jika Daehyun menjalin hubungan serius dengannya? Pelayan datang menghidangkan beberapa camilan yang hangat dan menggoda di atas piring-piring, bentuknya segar dan lucu, entah kue apa namanya yang jelas Hyun-Ra yakin, itu pasti makanan orang kaya. Jiwa suka memasak Hyun-Ra jadi bergejolak dan ia jadi ingin tahu bagaimana cara membuatnya. "Hyun-Ra orangnya suka memasak seperti Eomma," tiba-tiba Daehyun berceletuk. "Aku sering makan masakannya dan rasanya sangat enak. Dia bisa masak apa saja." "Benarkah?" Nyonya Cho tampak terperangah. "Padahal jaman sekarang sangat jarang anak muda yang suka memasak." "Hanya bisa di beberapa masakan saja, Eomma," Hyun-Ra meralat kata-kata Daehyun. "Tidak semuanya bisa dan bahkan masih harus banyak belajar." "Kalau begitu aku akan mengajarimu memasak sesuai ilmu yang kumiliki." Nyonya Cho jadi bersemangat dan beliau memang paling suka jika membahas tentang hobi memasak dan ada orang yang satu pemikiran dengannya; bahwa memasak itu memang menyenangkan. Dan setelah itu Hyun-Ra kembali terlibat dalam perbincangan hangat dan mengasyikkan bersama ayah dan ibu Daehyun, sementara kekasihnya itu hanya mengamati dalam kekaguman. Hingga kemudian gerakan Daehyun di seberang sana menarik perhatian semuanya, pria itu berdiri dari duduknya sambil menatap Hyun-Ra. Daehyun mendekat, terlihat mempesona dan penuh rencana, membuat Hyun-Ra berdebar-debar. Kenapa Daehyun menatapnya seperti itu? Daehyun berjongkok di bawahnya, mendongak ke wajahnya dan meraih tangannya. Pria itu mengecup jemarinya dengan agung, dan sejujurnya Hyun-Ra merasa malu Daehyun melakukan itu di depan ayah dan ibunya. "Hyun-Ra," Daehyun mulai berkata. "Sebelumnya kau sudah pernah menolakku tapi kali ini aku harap kau tidak akan melakukannya lagi. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan dari semua kecemasanmu, orang tuaku merestui kita. Jadi... " Daehyun tersenyum penuh harap. "Shin Hyun-Ra, maukah kau menikah denganku?" Tuan dan Nyonya Cho tersenyum melihat itu sedangkan Kyuhyun meraih ponsel di sakunya, memainkan benda itu dengan rasa dongkol yang mendadak menderanya. Karena entah kenapa ia jadi tidak suka melihat adegan yang ada di sana. Hyun-Ra menatap Tuan dan Nyonya Cho bergantian, ada senyum penuh dukungan dari mereka dan Hyun-Ra merasa bahwa ia benar-benar diterima. Tapi ketika tatapannya beralih pada Kyuhyun dan melihat sikap acuh tak acuh adik Daehyun itu, Hyun-Ra jadi merasa kalau sepertinya semua restu belum ia dapatkan. Kyuhyun terlihat tidak menyukai kehadirannya dan tidak menyukai apa yang Daehyun lakukan sekarang. "Aku akan menunggu seperti ini sampai pagi kalau kau tidak juga menjawab lamaranku." Hyun-Ra mengerjap saat Daehyun kembali bergumam, membuatnya harus kembali pada pria itu. Hyun-Ra menelan ludah, kemudian membasahi bibirnya. "A—aku... " tiba-tiba Hyun-Ra jadi kelu untuk menjawabnya. "Aku... " "Jangan tolak dia," Nyonya Cho berbisik. "Eomma tidak ingin melihatnya patah hati karena kau menolak lamarannya." "Jawab lah, Hyun-Ra... " sambung Tuan Cho. Hyun-Ra menatap Daehyun yang masih berjongkok di bawahnya, pancaran pria itu tampak mendamba dan penuh harap, membuat Hyun-Ra tentu saja tidak akan mampu untuk menolak. Ia tidak menyangka kalau Daehyun akan kembali melamarnya bahkan sekarang disaksikan ayah dan ibunya. Dan Hyun-Ra akhirnya mengangguk. "Y—ya, Daehyun, aku mau menikah denganmu." Gerakan tiba-tiba Kyuhyun yang bangkit dari duduknya langsung menarik perhatian Hyun-Ra, membuatnya sedikit terkejut. "Aku ke toilet dulu," ucap Kyuhyun kemudian berlalu dari sana. Hyun-Ra menelan ludah mengamati kepergian Kyuhyun, keningnya berkerut was-was. "Kemarikan tanganmu." Lagi-lagi suara Daehyun menginterupsi Hyun-Ra dan membawanya kembali pada pria itu, menemukan Daehyun sudah memegang cincin indah, tampak berkilau-kilau dan begitu cantiknya. Pria itu menarik tangan Hyun-Ra karena ia tidak segera menyodorkan jarinya. "Cincin ini mengikatmu dan kau hanya milikku." Daehyun kembali mengecup tangan Hyun-Ra, mengecup di bagian di mana cincin itu melingkar. "Dan jangan biarkan pria lain mendekatimu, cukup aku, hanya aku yang menjadi pemilikmu." Daehyun mendongak, menunggu kesiapan Hyun-Ra. "Berjanji lah, Sayang," Jangan biarkan pria lain mendekatimu. ▪▪▪ Sepanjang perjalanan pulang Hyun-Ra termenung memikirkan Cho Kyuhyun yang malam ini lebih sering berdiam. Pria itu bahkan hanya menjawab ketika ditanya dan merespon ketika diajak bicara. Selebihnya, Kyuhyun lebih banyak diam dan seolah keluar dari lingkaran kehangatan. Daehyun menghentikan mobilnya di pekarangan rumah Hyun-Ra lalu meraih tangan gadis itu untuk digenggamnya. "Apa yang kau pikirkan?" Daehyun menatap bingung. "Apa ada yang mengganggu pikiranmu atau membuatmu tidak nyaman selama berada di rumahku?" Hyun-Ra menggeleng. "Tidak, Dae, semuanya baik-baik saja. Aku merasa nyaman karena ayah dan ibumu begitu baik padaku, mereka orang-orang luar biasa tapi mau menghargaiku yang bukan siapa-siapa." Hyun-Ra mendesah dengan kening berkerut. "Hanya saja... aku berpikir mungkin adikmu yang tidak menyukai kedatanganku." "Kenapa berpikir begitu?" "Karena dia tidak seperti saat pertama kau mengenalkannya padaku." Daehyun tersenyum, tangannya terangkat mengelus pipi Hyun-Ra dengan sayang. "Jangan khawatirkan dia, Kyuhyun mungkin hanya sedang ada masalah pribadi dan aku yakin dia pasti baik-baik saja." "Tapi aku takut dia tidak menerima kau membawa perempuan rendahan sepertiku. Mungkin saja dia ingin kau bersama dengan perempuan yang— " "Sstt," Daehyun memotong. "Jangan mengatakan apapun lagi, apalagi kata-kata seperti itu. Percayalah, adikku tidak mungkin punya pikiran begitu. Dia tidak pernah memandang rendah siapapun, jangan cemas." Lalu kalau begitu Kyuhyun kenapa? Apa yang membuatnya jadi seperti itu? Hyun-Ra benar-benar diliputi rasa penasaran sekaligus kecemasan yang terus menghimpit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD