▪▪▪
Daehyun menghentikan mobilnya di pekarangan kecil rumah Hyun-Ra. Seperti biasa ia mengantarkan gadis itu pulang dan ia akan mampir untuk kemudian berlama-lama di sana, melepas rindu setelah seharian menjaga jarak di kantor dengan berusaha tampak formal dan profesional dalam pekerjaan, seperti permintaan Hyun-Ra.
Selama ini Hyun-Ra memang tinggal seorang diri, karena ibu kandungnya sudah meninggal ketika Hyun-Ra masih duduk di bangku menengah, lalu ayahnya menikah lagi.
Bersama ayah dan ibu tirinya Hyun-Ra menjalani kehidupan yang baru, dengan kesederhanaan karena memang ayahnya hanya seorang pegawai rendahan. Meskipun ibu tirinya tidak begitu baik dalam bersikap kepadanya, tapi setidaknya ia masih bahagia karena ayahnya selalu memberikan perhatian penuh dan kasih sayang yang Hyun-Ra butuhkan.
Hingga beberapa tahun kemudian ibu tirinya ketahuan berselingkuh dengan lelaki lain dan ayahnya langsung menceraikannya, membuat ayahnya trauma dan tidak berminat lagi untuk berumah tangga. Ayahnya bilang ingin fokus merawat Hyun-Ra dan tidak akan ada ibu tiri lagi, hanya ada Hyun-Ra dan ayahnya.
Tetapi sayang, setelah Hyun-Ra berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan kerja keras sang ayah, Tuhan lebih sayang ayahnya dan memanggilnya lebih cepat sehingga Hyun-Ra bahkan tidak sempat untuk membahagiakannya.
Dan sekarang Hyun-Ra sebatang kara, tinggal seorang diri dengan rumah mungil yang berhasil ia beli dari gaji yang ia kumpulkan setiap bulannya. Dan ini sudah lebih dari cukup, membuatnya bersyukur atas kebaikan Tuhan dengan diterimanya ia di perusahaan Cho's Corporation setahun yang lalu. Hyun-Ra berjanji akan hidup dengan baik agar mendiang orang tuanya yang sudah berada di surga sana bahagia dan tenang di sisi sang kuasa.
Dan Daehyun sudah tahu dengan semua riwayat Hyun-Ra, membuatnya semakin mengagumi gadis itu dengan ketegaran dan kemandiriannya.
Hyun-Ra menyentuh pipi Daehyun yang sedang memeluknya dari belakang, mereka kini berdiri di tengah ruang tamu rumah mungil Hyun-Ra.
"Mandi lah," gumam Hyun-Ra. "Kau pasti lelah. Aku akan menyiapkan satu setel bajumu yang masih ada disini."
Daehyun tetap di posisinya. "Sebentar lagi, biarkan aku memelukmu dulu."
"Tapi aku akan memasak, kau juga pasti lapar, kan?"
"Dan kapan kita menikah? Aku ingin setiap hari seperti ini dan menghabiskan waktu bersamamu."
Hyun-Ra mengernyit dan ia jadi tersenyum geli.
"Kenapa membicarakan pernikahan sekarang? Kau tidak mungkin begitu saja menikahi perempuan yang bahkan baru tiga bulan kau pacari, kan?"
"Kenapa tidak? Buatku tidak ada bedanya menikahimu sekarang ataupun nanti. Bukankah lebih cepat lebih baik?"
Hyun-Ra melepas rangkulan Daehyun di pinggangnya lalu berbalik menghadap pria itu.
"Apa kau tidak khawatir kalau aku adalah perempuan jahat yang nanti hanya akan mengincar hartamu?"
"Itu tidak masalah. Ambil saja hartaku asal kau bersamaku."
Hyun-Ra tersenyum sambil mencubit pipi Daehyun. "Kalau setelah itu aku justru kabur?"
"Maka aku akan mengejarmu kemana pun kau lari."
"Untuk merebut hartamu lagi?"
"Untuk mendapatkanmu lagi. Aku tidak butuh hartaku, aku hanya butuh dirimu. Dirimu."
Hyun-Ra tertawa, meski sikap Daehyun kadang kaku dan terlalu serius, tapi tetap masih mampu menghibur dan membuatnya bahagia. Hyun-Ra mengalungkan lengannya di leher Daehyun.
"Tapi sayangnya aku tidak butuh hartamu, aku hanya akan mengambil hatimu dan tidak akan kukembalikan."
Daehyun mengangguk. "Bawa sekalian dengan ragaku, dan aku tidak keberatan."
Mereka tertawa dan Hyun-Ra memukul pelan dada Daehyun. "Jangan menggombal. Lebih baik sekarang kau mandi."
"Jadi bagaimana?" Daehyun menyentuhkan keningnya di kening Hyun-Ra. "Apa kau mau menikah denganku? Karena kau bahkan selalu menolak setiap pemberianku, jadi aku khawatir kau juga akan menolak lamaranku."
Hyun-Ra mengernyit geli. "Memangnya kapan kau melamarku?"
"Sekarang. Aku mengajakmu menikah itu berarti aku melamarmu."
"Tidak ada lilin dan mawar?"
"Akan aku lakukan itu besok. Tapi sekarang aku hanya butuh jawabanmu."
Bola mata Hyun-Ra seketika berputar usil, ingin sedikit menjahili kekasihnya.
"Aku tidak ingin menerima lamaran pria yang bahkan belum mandi."
"Ya, baiklah, aku mandi. Tapi kau tidak akan menolakku, kan?"
"Tidak boleh curang, kau harus mandi dulu baru aku menjawabnya."
"Baiklah... " Daehyun melepaskan rangkulannya dengan tidak rela. "Aku akan segera mendapatkan jawabanmu." Ia berbalik hendak menuju kamar mandi Hyun-Ra, tapi tertahan dan ia kembali lagi kepada gadis itu. "Jangan menolakku," pintanya.
Dan Hyun-Ra hanya terkikik sambil mengamati kekasihnya.
▪▪▪
Sebenarnya makanan kesukaan Daehyun tidak sulit dan tidak ribet, hanya jjajangmyeon yang dipadukan dengan tangsuyuk dan Daehyun sudah begitu lahap dalam memakannya.
Hyun-Ra mulai meraih mie dan saus hitam dari laci atas lalu mulai memotong-motong daging dan menyiapkan acar lobaknya. Ia paling suka memasak, mencoba sesuatu yang sulit atau membuat terobosan-terobosan baru dengan idenya. Tapi karena Hyun-Ra tinggal sendirian dan tidak ada yang akan memakan masakannya, Hyun-Ra sering malas untuk melakukannya. Karena untuk makannya sendiri ia tidak pernah mempersulit, yang penting sehat dan mengenyangkan itu saja sudah cukup.
Hyun-Ra mengaduk mie yang sedang direbusnya, melumuri daging dengan tepung kemudian meracik bumbu pedasnya. Ia cukup bersemangat, karena biasanya ia memasak hanya untuk dirinya saja tetapi kini ada Daehyun yang akan menikmatinya.
Awalnya Hyun-Ra pikir seorang bos sempurna seperti Daehyun akan sulit baginya untuk mengimbangi cara hidupnya, karena bagaimanapun dunia mereka tidak sama.
Tetapi ternyata tidak, meski Daehyun berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya, namun pria itu tidak sesulit yang ia pikir. Daehyun tidak pernah menuntut Hyun-Ra untuk mempelajari dan menerima kehidupan orang kaya, dia bahkan mengenalkannya tanpa pernah Hyun-Ra sadari, seolah Daehyun tidak ingin membuat Hyun-Ra terkejut ataupun ketakutan. Dan Daehyun dengan kebaikan hatinya juga mempelajari kehidupan Hyun-Ra secara diam-diam, berusaha mengerti bagaimana hari-hari Hyun-Ra agar Daehyun bisa menemani dan membuat Hyun-Ra merasa nyaman.
Dan ternyata memang tidak sulit.
Jika cinta dan niat baik ditanam dengan sungguh-sungguh, pasti akan menghasilkan keserasian dan kekompakan dalam menjalani hidup. Dan itu akan bisa dilakukan kalau keduanya saling tulus.
Hyun-Ra terkejut ketika tiba-tiba Daehyun datang dan lagi-lagi memeluknya dari belakang. Pria itu wangi dan segar, meletakkan dagunya di bahu Hyun-Ra.
"Baunya enak," bisik Daehyun. "Apa aku sudah boleh mencicipinya?"
"Belum. Kau harus menunggu 10 menit lagi."
"Dan sambil menunggu, apa aku bisa mendapatkan jawabanmu sekarang?"
Hyun-Ra tertawa pelan. "Kau ternyata tidak sabaran, ya? Apa kau tidak ingin menunggu selesai makan?"
"Tidak. Kalau soal ini aku benar-benar tidak bisa sabar, kau menyiksaku. Aku benar-benar butuh jawabanmu." Daehyun mengecup pipi Hyun-Ra kemudian berbisik. "Maukah kau menikah denganku?"
"Aku tidak bisa memasak kalau kau memelukku seperti ini... "
"Jawab," kali ini bisikan Daehyun begitu dekat di telinga Hyun-Ra.
"Dan kalau aku menolak?"
"Maka aku akan memaksamu menikah denganku."
Hyun-Ra melepaskan rangkulan Daehyun lalu berbalik ke arah pria itu. Ia mendongak ke wajah Daehyun yang tampan, dengan lengan Daehyun yang kembali melingkar di pinggangnya dan Hyun-Ra meletakkan tangannya di dada sang pria.
Hyun-Ra menatap teduh dan tiba-tiba ada kesedihan yang terpancar dari rautnya.
"Aku bersedia menikah dan menjadi istrimu," jawabnya lirih. "Tapi... aku hanya perempuan biasa, aku tidak punya apapun untuk membuatku pantas menjadi istrimu, dan kedua orang tuaku sudah tiada. Aku tidak ingin membuatmu malu karena kau memiliki perempuan sepertiku. Aku tidak ingin keluargamu dipandang rendah oleh siapapun, aku tidak ingin menyulitkannya dan aku juga tidak ingin membuatmu berada dalam masalah karena hubungan kita."
Raut Daehyun terlihat biasa-biasa saja, seolah Hyun-Ra tidak sedang mengatakan hal-hal menyebalkan itu dan ia mengeluarkannya lagi dari telinganya. Ia menganggap Hyun-Ra sedang curhat tentang teman-teman yang mengusilinya atau menjelaskan tentang masakan yang kini sedang dibuatnya.
Daehyun tidak ingin mendengar apapun penolakan Hyun-Ra karena baginya gadis itu sudah sempurna dengan gaya dan caranya sendiri. Hyun-Ra tidak perlu menjadi hebat untuk membuatnya cinta, karena dengan kesederhanaannya saja gadis itu sudah mampu membuatnya tergila-gila.
"Dae?" Hyun-Ra merasa khawatir karena kekasihnya itu diam saja.
Tetapi kemudian Daehyun tersenyum.
"Jadi kapan kau bersedia untuk kubawa ke hadapan orang tuaku? Karena aku benar-benar tidak sabar untuk mengenalkanmu."
Hyun-Ra mengernyit. "Kau tidak dengar apa yang aku katakan tadi?"
"Tidak. Memangnya kau mengatakan apa? Aku hanya dengar kalau kau mau menikah dan menjadi istriku."
Hyun-Ra memukul dada Daehyun dengan sebal. "Kau sengaja, ya?"
"Tidak, Sayang, aku memang tidak mendengarnya."
Hyun-Ra cemberut dan kemudian melepaskan pelukan Daehyun, kembali berbalik ke arah masakannya dengan bibir mungilnya yang terlihat manyun.
Daehyun kembali memeluknya dari belakang. Ia berbisik,
"Besok, aku akan membawamu ke rumahku."
"Dan kau harus memikirkan dulu semua kata-kataku."
"Tidak ada yang perlu dipikirkan."
"Daehyun, kau harus— "
"Aku lapar," Daehyun memotong, benar-benar tidak ingin mendengar penolakan Hyun-Ra. "Maukah kau menemani dan menyuapiku makan?"