▪▪▪
Keesokan harinya Kyuhyun masih termenung di kamarnya, berdebat dengan hati dan pikirannya apakah ia harus menuruti keinginan ayahnya untuk datang ke kantor atau lebih memilih mengabaikannya seperti biasa.
Beberapa saat lalu ia sudah mengirimkan video klarifikasi pada asistennya untuk meredakan berita panas itu, karena kali ini ia sedang malas bertemu wartawan untuk klarifikasi langsung dengan kamera-kamera yang menyorot atau lampu blitz yang akan menyilaukannya. Tapi bahkan sejam berlalu Kyuhyun belum menemukan keputusan apa yang harus diambilnya hari ini. Sebagian hatinya berkata abaikan saja keinginan ayahnya, namun sebagian yang lain justru mengingatkannya tentang kata-kata Daehyun kemarin, membuatnya bimbang.
Sedikit saja kau pikirkan perasaan Appa, liat wajah lelahnya, wajah sedih Eomma!
Aku hanya ingin memberitahumu bahwa ada yang lebih berarti dari perasaan kita berdua, yaitu perasaan orang tua kita. Sedikit saja korbankan perasaanmu untuk mereka.
Kyuhyun mengerang dan beranjak dari duduknya, nyaris frustasi dalam menimbang-nimbang keputusan. Ia membuka pintu kamar hendak keluar untuk kemudian menemukan seorang pelayan yang ingin mengetuk pintunya.
Pelayan itu langsung membungkuk hormat.
"Tuan muda, sarapan sudah siap. Tuan dan Nyonya besar menunggu Anda."
Kyuhyun mengernyit. "Daehyun?"
"Tuan Muda Daehyun berangkat ke kantor karena ada meeting pagi."
Meeting pagi lagi? Selalu saja meeting pagi! Apa kakaknya itu tidak bosan?
"Dan Tuan Muda Daehyun berpesan supaya Anda menyusulnya."
Kali ini Kyuhyun mendengus jengah. Sepertinya sebentar lagi kakaknya itu memang akan berpihak pada keinginan ayahnya. Kyuhyun seketika merasa kesal. Ia menyuruh pelayan itu pergi dan kemudian ia turun ke meja makan. Ayah dan ibunya sudah menunggu di sana.
"Selamat pagi," ucapnya malas dan langsung duduk di kursinya. Ia membuka piring dan mengambil makanan.
"Kakakmu tidak ikut sarapan karena harus berangkat ke kantor," gumam ibunya. "Dan ada yang ingin Eomma tanyakan padamu, nanti, setelah kau selesai memakan sarapanmu."
Pasti tentang skandal itu, Kyuhyun bahkan sudah bisa menebaknya. Ia mengunyah makanan dengan tidak semangat.
"Dan apa hari ini kau sudah siap untuk datang ke kantor?" Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari ayahnya, seperti dugaan Kyuhyun, ayahnya selalu saja merusak selera makannya.
Kyuhyun terhenti sejenak, kemudian melanjutkan makannya.
"Ya," jawabnya singkat tanpa menoleh ke ayahnya.
"Appa sudah menyuruh Daehyun untuk melapor jika kau tidak ada datang ke sana hari ini."
"Dan kenapa tidak sekalian saja Appa menyuruh pengawal untuk membuntuti dan mengawasiku?"
"Akan Appa lakukan jika nanti itu memang perlu."
Kyuhyun mendengus kasar lalu meraih jusnya dan meneguknya hingga tandas. Ia menggeser kursinya dan bangkit berdiri.
"Habiskan makananmu, Kyu," ucap ibunya. Tetapi Kyuhyun sudah tidak selera dan makanan itu terasa hambar di mulutnya.
"Aku sudah kenyang." Dan Kyuhyun kemudian kembali ke atas dengan lagi-lagi meninggalkan meja makan sebelum waktunya, membuat Tuan dan Nyonya Cho mendesah sabar dengan keras kepala anak bungsunya.
▪▪▪
Pada akhirnya Kyuhyun benar-benar tak berdaya dan memutuskan datang kemari, ke perusahaan megah yang menjulang tinggi bagaikan pilar langit itu. Kyuhyun tidak menyangka kalau kali ini ia kalah dan menurut di bawah tekanan ayahnya.
Kyuhyun keluar dari mobil dan membiarkan kacamata hitam tetap menghiasi wajahnya. Hari ini ia mengenakan celana santai dengan kemeja biru yang digulung hingga siku. Penampilannya terlihat simple tapi tampak begitu elegan. Ia mengangguk pada satpam yang membungkuk hormat lalu menyerahkan kunci mobilnya.
"Tuan menyetir sendiri?" tanya satpam itu.
"Ya, aku mengendara sendiri dan aku sedang ada keperluan pada Daehyun." Karena Kyuhyun memang tidak menyukai sopir dan lebih suka membawa mobil sendiri kemana pun ia pergi.
"Silahkan, Tuan, saya akan mengantarkan Anda ke lift khusus direksi."
Kyuhyun tersenyum, senyum miring yang khas tiap ia ingin melakukan keisengan.
"Tidak. Aku lebih suka menggunakan lift yang digunakan para pegawai disini." Dan membuat para perempuan di kantor ini jatuh mendamba dengan pesona dan ketampanannya. Ia sedang kesal dengan harus datang kemari, kenapa tidak ia gunakan saja kesempatan ini dan bermain-main? Ia ingin tahu sejauh mana wajah menariknya berpengaruh pada para perempuan yang melihatnya.
Ketika Kyuhyun mulai memasuki lobi, semua pergerakan yang ada di sana seakan terhenti seketika, semua mata menoleh padanya dan kemudian terpaku dengan tatapan kagum, tidak mampu melanjutkan kegiatannya. Terlebih pandangan para wanita yang tanpa sengaja melihat kedatangannya, seperti ia adalah makhluk berjenis lelaki satu-satunya yang ada di dunia.
Kyuhyun membuka kacamata hitamnya, gerakannya begitu elegan seolah ingin membuat yang kini terpesona padanya semakin menggila. Ia mengedarkan pandangan, memilah-milah, dan kemudian memilih menghampiri seorang perempuan cantik yang sedang terbengong ke arahnya dengan tampang bodoh.
Kyuhyun berdeham.
"Selamat pagi, Nona, bisakah kau mengantarkanku ke arah lift? Aku kesulitan mencarinya karena semua orang sedang mengamatiku." Dan itu adalah suatu kebohongan yang membuat Kyuhyun ingin tertawa sendiri. Baginya mencari lift di kantor ayahnya semudah ia melemparkan pesonanya. Hanya saja, sayang sekali kalau harus membiarkan para gadis cantik mengaguminya tanpa ia menyapanya untuk berbasa-basi. Bukankah begitu?
Perempuan itu tergagap lalu dengan kelimpungan menjawab; "B—baik, Tuan... L—liftnya ada di s—sebelah sana... " Dengan gugup dan berdebar-debar perempuan itu mempersilahkan Kyuhyun mengikutinya.
Ternyata kembaran Presdir tidak kalah tampannya, perempuan itu merasa panas dingin menyadari siapa yang sedang bersamanya.
"S—silahkan, Tuan," gumamnya setelah sampai di pintu lift.
Kyuhyun menggeleng. "Bukan yang ini, aku tidak ingin menggunakan lift khusus direksi."
Perempuan itu mengerjap bingung. "T—tapi... "
"Tunjukkan aku lift untuk staff."
Dengan dahi berkerut heran perempuan itu akhirnya menuruti Kyuhyun. Mereka kembali ke depan dan memutar di lorong yang berbeda dengan lorong lift direksi tadi. Perempuan itu berbalik pada Kyuhyun.
"Itu l—liftnya, Tuan," tunjuknya dengan sopan.
Kyuhyun hanya melirik sekilas ke pintu lift, kemudian matanya memancar penuh goda pada Si perempuan.
"Siapa namamu, Cantik?" Tidak perlu Kyuhyun kerahkan pesonanya ia tahu jika perempuan itu bahkan sudah terpesona.
Si perempuan terlihat merona. "S—saya... Kim Seo Jin, Tuan."
Kyuhyun mengangguk sambil mengulum senyum, lalu dengan iseng mengangkat tangannya dan mengelus pipi perempuan itu seringan bulu.
"Baiklah, Kim Seo Jin, terima kasih sudah membantuku," ucapnya dengan suara bassnya. "Nanti, kalau aku tidak berubah pikiran, aku akan mengajakmu makan malam."
Perempuan itu terperangah, syok. "A—apa?" Tuan Kyuhyun akan mengajaknya?
Namun Kyuhyun hanya tersenyum dan tidak mengulang ucapannya. "Sekarang, kembali lah ke tempatmu bekerja." Lalu tanpa berkata lagi Kyuhyun memencet tombol lift dan langsung masuk ke dalamnya.
Sungguh perempuan yang begitu mudah digoda, Kyuhyun merasa geli sendiri.
Lift mulai bergerak membawa Kyuhyun ke atas, tapi baru di beberapa detik lift itu kembali berhenti membuat Kyuhyun mengernyit. Dan kemudian pintu terbuka bersamaan dengan seorang gadis mungil yang hendak masuk namun urung saat menyadari ada Kyuhyun di dalamnya.
Dan gadis itu mungkin langsung tahu siapa yang sedang ditemuinya, dia membungkuk hormat.
"Maaf, Tuan, saya akan menggunakan lift yang lain saja."
Kyuhyun tersenyum miring. "Tidak, masuklah. Aku lebih suka jika ada yang menemaniku." Seperti yang Kyuhyun lakukan tadi, ia menatap gadis itu dengan tatapan memangsanya, memancar penuh keliaran, berkelebat begitu tampan dan misterius.
Namun tanpa disangka Si gadis justru menunduk, menghindari tatapannya. Sejenak Kyuhyun merasa kalau gadis itu akan menolaknya, tapi tentu saja Kyuhyun tidak biasa ditolak.
"Masuklah," ucap Kyuhyun lagi. "Jangan sampai aku menarikmu dan kau akan jatuh dalam pelukanku, Nona Manis." Kyuhyun menelengkan kepalanya, mengejar tundukan gadis itu untuk mengintip wajahnya.
Beberapa saat gadis itu terdiam, berpikir, dan akhirnya melangkah masuk membuat Kyuhyun merasa menang. Dan Kyuhyun dengan usilnya tidak mau bergeser sehingga gadis itu tak ada tempat selain harus berdiri begitu dekat dengannya.
Gadis ini berbeda dengan perempuan sebelumnya, dia bahkan tidak mau menatap matanya.
Kyuhyun merasa tertantang dan sedikit penasaran. Tanpa tahan ia akhirnya menyentuh dagu Si gadis dan mengangkatnya agar mendongak, memaksanya untuk menatap wajahnya.
Tetapi di luar dugaan gadis itu malah berpaling lalu kembali menunduk dengan sopan.
"Maaf, Tuan, tolong jangan sentuh saya."
Ego Kyuhyun merasa tergores. Gadis ini menolak, yeah, dia menolaknya, menolak Cho Kyuhyun. Meski perasaan tersinggung mulai membara, tapi Kyuhyun tetap di tatapan menggodanya, bibirnya terangkat membentuk senyum miring, senyum nakal, senyum yang terkesan penuh rencana.
Karena ia tidak biasa ditolak.
"Apa kau tahu siapa aku?"
Gadis itu mengangguk. "Anda saudara kembar Tuan Daehyun."
Bagus!
"Dan apa kau tahu kalau penolakanmu baru saja sudah melukai egoku?"
Gadis itu tidak menjawab dan justru semakin menunduk, membuat Kyuhyun merasa terdesak ingin memepetnya ke dinding lift.
"Siapa namamu, Nona Manis?" Kyuhyun berucap lagi. "Aku ingin tahu nama dari perempuan yang sudah berani menolakku ini. Sebutkan namamu."
Lift seketika terhenti dengan suara berdenting, dan pintu pun terbuka.
"Maaf, Tuan, saya harus pergi." Gadis itu membungkuk hormat tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.
Dan belum sempat Kyuhyun melontarkan bujuk rayunya, gadis itu sudah lebih dulu keluar dan tergesa-gesa kabur dari hadapannya.
Alis Kyuhyun terangkat dengan sikap gadis mungil itu, menggemaskan, manis, dan penuh penolakan.
Ada yang bergejolak di dalam diri Kyuhyun saat tadi ia menyentuh kulit dagu gadis itu, seperti menyulutnya untuk kemudian membakarnya, sesuatu yang bahkan tidak pernah terjadi ketika ia menyentuh kulit perempuan lainnya.
Apa maksud gejolak itu? Kyuhyun mengernyit dan tiba-tiba merasa tergerak untuk mencari tahunya.
Ia tersenyum penuh kemisteriusan, semakin tertantang. Dan ternyata benar kata Daehyun, bahwa tempat ini tidak seburuk dan semembosankan yang ia kira.
Karena jika ada permainan yang bisa membuatnya terhibur, ia akan menekan rasa malasnya untuk lain kali kembali ke kantor ini.