Perasaan Tak Terduga

1348 Words
▪▪▪ Malam harinya Kyuhyun sedang makan malam bersama ayah dan ibunya ketika kemudian kakaknya pulang dan duduk bergabung di kursi makan. Daehyun hanya meraih jus dan meneguknya. "Dari mana saja baru pulang, Dae?" Nyonya Cho bertanya sambil mengamati anak kembar sulungnya. Karena Daehyun tidak selalu pulang telat, hanya jika tidak ada kesibukan ataupun pekerjaan kantor yang menuntut. Daehyun tidak ke club, tidak ke bar, dan tidak ke tempat bermain untuk asyik-asyikkan bersama teman-temannya seperti yang sering dilakukan Kyuhyun. Daehyun teratur, disiplin, dan kadang ia juga ingin menanamkan itu pada adiknya meski Kyuhyun begitu sulit untuk diatur. Daehyun tersenyum, dan itu membuat Kyuhyun jadi mencibir. "Pasti dia dari rumah pacarnya," sahut Kyuhyun. Kening Nyonya Cho langsung berkerut, beliau menghentikan makannya. "Daehyun punya pacar?" "Punya," sahut Kyuhyun lagi. "Sejak kapan?" "Sudah tiga bulan." "Kyu, diam!" Daehyun menyela sebal, dan itu membuat Kyuhyun terkekeh geli. Kyuhyun melanjutkan makannya dan tidak menjawab lagi. "Apa benar itu, Dae?" Kali ini Tuan Cho ikut menimpali. Anaknya yang paling penurut ternyata memiliki kekasih, jelas itu akan membuat beliau dan Nyonya Cho penasaran dan harus mengusut. Berbeda dengan Kyuhyun yang memang kehidupannya selalu terlibat dengan banyak wanita, karena anak bungsunya yang bandel itu memang suka bermain-main. Daehyun berdeham pelan, membenarkan duduknya lalu menatap ayah dan ibunya bergantian. "Sebelumnya aku ingin bertanya pada Appa dan Eomma, apa kalian memiliki kriteria khusus untuk calon menantu?" Tuan dan Nyonya Cho saling pandang sambil mengernyit, mengerti bahwa mungkin Daehyun merasakan kecemasan kalau beliau akan menuntut pacarnya harus seorang gadis yang sempurna, berpendidikan tinggi dan dari golongan sederajat seperti keinginan banyak orang tua untuk masa depan anaknya. Tapi bagi Tuan dan Nyonya Cho derajat seseorang tidak selalu harus ditampilkan karena kesempurnaan fisik ataupun materinya. Tingkah laku yang terpuji haruslah jadi landasan utama untuk calon istri kedua anak kembarnya agar mampu membuat rumah ini lebih damai dan berwarna. Kemudian Nyonya Cho lebih dulu menjawabnya. "Kami tidak punya kriteria khusus untuk pacar-pacar kalian, karena Appa dan Eomma bukan orang tua seperti kebanyakan yang suka mengekang calon pendamping anaknya. Yang terpenting gadis itu baik, tulus menyayangi keluarga, serta mampu menjaga diri dan nama baik keluarga kita, itu saja sudah cukup." Daehyun langsung berbinar dan mendesah lega dengan jawaban ibunya, kecemasannya lenyap, dan semangatnya meletup penuh kegembiraan. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Sayang, batin Daehyun, benaknya tiba-tiba dipenuhi sosok Hyun-Ra. Ia sudah bertekad untuk membawa gadis itu dan mengenalkannya pada ayah dan ibunya, untuk melamarnya di hadapan orang tuanya. "Jadi, siapa gadis itu, Dae?" tanya Tuan Cho, beliau meletakkan jus yang baru diteguknya dan fokus pada Daehyun. "Appa harap kau tidak sedang memacari perempuan yang salah." Daehyun menggeleng. "Appa jangan khawatir, dia adalah gadis yang baik, mandiri, tegar, dan tidak pernah mengeluh dengan kehidupannya yang kurang beruntung." "Apa maksudmu dengan kurang beruntung?" Nyonya Cho merasa semakin penasaran. "Dia hanya sebatang kara karena orang tuanya sudah lama meninggal, Eomma." Tuan dan Nyonya Cho tampak terenyuh, sedangkan Kyuhyun langsung mendongak dari kegiatan makannya. Shin Hyun-Ra sebatang kara? Itu adalah informasi yang baru Kyuhyun tahu dan tidak pernah ia duga. Ternyata Hyun-Ra hidup sendirian tanpa orang tua? Pantas saja ketika waktu itu ia ke rumahnya, gadis itu hanya sendiri dan tidak ada siapapun lagi di tempat tinggalnya. "Dia adalah pegawai di kantor kita," lanjut Daehyun. "Dia cantik, pintar, dan mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Dan aku yakin tidak salah pilih jika Appa dan Eomma menginginkan gadis yang baik. Karena bagiku, dia lebih dari sekedar baik." Nyonya Cho mulai berbinar dan beliau merasa lebih penasaran lagi, terlebih saat melihat Daehyun yang begitu semangat menceritakan kelebihan pacarnya. "Jadi kapan kau akan mengenalkannya pada kami?" "Besok, Eomma, aku ingin melamarnya dan menikah dengannya." Kyuhyun tertegun di kursinya, ia meraih jus dan meneguknya, lalu kemudian ia mengernyit. Daehyun akan melamar Hyun-Ra? Menikah? "Ternyata Daehyun kita sudah dewasa, Yeobo," ucap Nyonya Cho pada suaminya. Dan Tuan Cho tersenyum sambil manggut-manggut. "Segera bawa dia kemari, Dae," timpal sang ayah. Dan Daehyun mengangguk dalam senyum. "Bagaimana menurutmu, Kyu?" Tiba-tiba Daehyun bertanya pada adiknya yang sedang membisu. Bagaimanapun restu Kyuhyun juga ia perlukan, karena ia akan membawa Hyun-Ra ke rumah ini sebagai kakak iparnya. "Aku juga butuh pendapatmu tentang ini." "Kau... akan melamarnya secepat itu?" Kyuhyun tidak bisa menyembunyikan nada tak biasanya, aura usilnya lenyap dan wajah suka bercandanya tak lagi ada. Kyuhyun menatap serius. "Padahal hubungan kalian baru beberapa bulan. Apa kau yakin dengan keputusanmu? Bagaimana kalau gadis itu— " "Tidak ada yang perlu kau khawatirkan tentang dia," sela Daehyun, ekspresinya tak lepas dari rasa gembira setelah mendapat lampu hijau dari orang tuanya. "Aku sudah yakin dan aku tidak perlu menunggu waktu lama untuk menikahinya. Lagipula bukankah kau sudah mengenalnya? Dan aku rasa kau juga pasti bisa dengan cepat membaca bagaimana kepribadiannya." Kyuhyun mengangguk, keningnya tetap berkerut-kerut. "Ya, aku tahu dia gadis yang baik." "Dan akan menjadi calon kakak ipar yang baik juga untukmu." Kyuhyun merasa sedikit tak suka dengan kata kakak ipar, panggilan yang bahkan beberapa kali ia sebutkan ketika bertemu Hyun-Ra. Namun kemudian Kyuhyun jadi diam, tidak mengatakan apapun lagi dan hanya meraih jus lemonnya untuk ia teguk, tidak memuaskan Daehyun dengan persetujuannya seperti yang kakaknya itu inginkan. Lagi-lagi kening Kyuhyun berkerut. Dan ketika merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman di dalam dirinya, kerutan di keningnya jadi semakin dalam. "Appa harap kau akan seperti kakakmu, Kyu, tetapkan satu perempuan dan jangan sering bermain-main." Dan Kyuhyun hanya mendengus tanpa menanggapi ucapan ayahnya. ▪▪▪ Entah apa yang membuat Kyuhyun jadi gelisah malam itu. Setelah usai makan malam bersama keluarga, Kyuhyun langsung naik ke kamar dan kini berdiri di tepi jendela memandang ke arah bawah, ke taman indah rumahnya dengan semua obrolan di meja makan tentang keputusan kakaknya itu yang kini berkecamuk di benaknya. Kyuhyun tidak mengerti apa yang harus ia pikirkan tentang itu, apa yang harus ia menungkan tentang hubungan Daehyun dan pacarnya. Dan entah kenapa, ada dorongan yang begitu kuat untuk menemui Hyun-Ra malam ini, saat ini, detik ini, meski Kyuhyun tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan menemui gadis itu. Kyuhyun menoleh ketika mendengar ketukan di pintu kamarnya. Ia berujar; "Masuk." Lalu pintu terbuka dan Daehyun masuk di sana. Ia mengamati adiknya yang sedang berdiri di dekat kaca jendela besar itu. Daehyun mendekat, tampak bingung. "Apa kau sedang ada masalah? Kau mendadak murung dan banyak diam saat di meja makan. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Kyuhyun mengernyit lalu berbalik menghadap kembarannya. Ia menggeleng. "Sebenarnya tidak ada hal yang perlu kau khawatirkan. Aku mungkin hanya— " Kyuhyun mengangkat bahu. "—sedikit terganggu dengan kata-kata Appa." Daehyun langsung tergelak. "Appa benar, Kyu, dan aku setuju dengannya. Kau tidak boleh sering bermain-main dengan perempuan, tetapkan satu, yang terbaik. Karena setelah sebentar lagi aku menikah, kau juga harus menyusulku." Kyuhyun mendengus. "Aku belum memikirkan pernikahan. Dan lagipula aku tidak memiliki kekasih untuk kunikahi." "Lalu tentang gadis mungil yang kau ceritakan di kantor waktu itu?" Daehyun jadi teringat ketika Kyuhyun berkata ada pegawai kantornya yang cukup menarik. Mungkinkah Kyuhyun tidak benar-benar menyukainya? "Kau tidak pernah menceritakannya lagi, padahal kau bilang akan membawanya padaku?" Dan haruskah aku mengatakan kalau gadis mungil itu adalah Shin Hyun-Ra, pacarmu sekarang? Lagi-lagi Kyuhyun merasa ada yang tidak nyaman di dalam dirinya, mengganggunya. "Gadis itu ternyata sudah memiliki pacar," gumam Kyuhyun. "Jadi lupakan saja kata-kataku yang berniat membawanya padamu." Daehyun mengernyit prihatin. "Sudah memiliki pacar? Dari mana kau tahu?" "Tentu saja aku mencari informasi tentangnya, dan aku mendapatkan kenyataan itu." Daehyun terdiam, mengamati Kyuhyun. "Kalau begitu lupakan dia, jangan mengganggu perempuan yang sudah memiliki pasangan." "Tapi bagaimana kalau aku tetap menginginkannya?" "Apa itu berarti kau begitu menyukainya?" Apa ia begitu menyukainya? Kyuhyun merandek, termenung sejenak. Hingga kemudian ia mengangguk perlahan, terlihat ragu namun juga yakin. "Ya... sepertinya begitu." "Tapi kau tidak boleh mengganggunya kalau dia memang sudah memiliki kekasih, Kyu." "Dan bagaimana kalau aku justru berniat ingin merebutnya? Aku tidak biasa ditolak, Dae, aku tidak pernah kalah." "Tapi untuk kali ini kau tidak boleh mengedepankan egomu, cari perempuan lain saja, jangan mengganggu yang sudah berpasangan." Kyuhyun kembali mendengus dan berbalik ke arah kaca jendela lagi. Ya, aku akan berusaha melupakannya, tapi jika tidak berhasil, aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan. Kyuhyun melirik kakaknya, maafkan aku, Hyung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD