▪▪▪
"Iya, aku sudah mengunci semua pintu rumah, aku juga sudah makan malam, jangan khawatir." Hyun-Ra tersenyum sambil menempelkan ponsel di telinganya, mendengarkan rentetan Daehyun di seberang sana. Kekasihnya itu memang selalu begitu, sering mencemaskannya karena ia tinggal seorang diri. "Sampaikan salamku pada Eomma, besok aku pasti datang."
"Aku akan menjemputmu pagi-pagi."
"Tapi aku masih harus membereskan rumah... "
"Tidak perlu, aku akan menyuruh pelayan untuk melakukannya."
"Jangan, Dae, aku tidak mau. Aku sudah biasa melakukan semua sendiri, aku sanggup... "
"Aku akan sedih kalau kau menolak ini. Sudah berapa kali aku bilang kalau aku tidak ingin kau kelelahan dan biar pelayan saja yang mengurus rumahmu?"
"Tapi aku tidak biasa seperti itu, aku tidak akan tega melihat orang lain membersihkan bekas sampah dan kotoran yang kubuat?"
"Kau harus biasa. Karena saat nanti kita sudah menikah, kau akan setiap hari melihat pelayan bekerja keras disini."
Hyun-Ra mendesah, ini bahkan perdebatan mereka yang sudah kesekian kali. Selalu saja ia lupa kalau sekarang ia sedang berpacaran dengan pria kaya.
"Ya, baik lah," Hyun-Ra akhirnya mengalah. "Tapi untuk kali ini saja... "
"Iya, Sayang, kali ini saja... Tapi lain kali mungkin bisa sekali lagi."
"Dae!"
"Jangan marah-marah, ini sudah malam dan jangan buat aku ingin mengebut kesana. Arg!" Tiba-tiba Hyun-Ra mendengar suara Daehyun seperti terpekik, terkejut. "Sialan Cho Kyuhyun!!"
Hyun-Ra mengernyit. "Ada apa?"
Daehyun tidak menjawab.
"Dae, ada apa??"
"Tidak apa-apa, Sayang, tadi Kyuhyun hanya menyebalkan saja."
"Memangnya dia kenapa?"
"Melempariku dengan stik, terus masuk ke kamarnya sambil banting pintu."
"Apa dia sedang marah?"
"Entah lah, tidak usah kau pikirkan, Kyuhyun orangnya memang iseng. Sekarang tidur lah."
"Good night."
"I love you."
Hyun-Ra mematikan ponselnya setelah Daehyun di sana memutus sambungan. Dan tiba-tiba ia jadi terpikirkan saat terakhir kali ia bertemu Kyuhyun, ketika Daehyun membawanya kemudian melamar nya di depan orang tuanya.
Saat itu Kyuhyun seperti tidak menyukai kedatangannya dengan sikapnya yang terlihat acuh tak acuh. Dan tiba-tiba saja ia merasa ciut untuk besok datang ke sana lagi. Tapi ia sudah terlanjur berjanji pada ibu Daehyun jadi dia harus tetap datang.
Tapi benarkah Kyuhyun tidak menyukai kedatangannya?
▪▪▪
Hyun-Ra mengikuti langkah Daehyun menaiki undakan teras rumah kediaman keluarga Cho dan membiarkan pria itu menggenggam tangannya. Sesuai janjinya kemarin, hari ini Hyun-Ra benar-benar datang memenuhi keinginan ibu Daehyun untuk menemani beliau.
Meski sejujurnya ia cukup was-was dengan reaksi Kyuhyun yang bahkan terakhir kali tampak berbeda dan seperti tidak menyukai dirinya.
Ketika sudah memasuki rumah super mewah itu, Hyun-Ra langsung disuguhkan dengan suara musik indah yang tiba-tiba membuatnya terpesona. Alunan nadanya begitu halus seolah membelai pendengaran dengan sangat lembut, menghipnotis, dan jabarannya seperti berbulan-bulan mengalami kekeringan lalu dengan seketika menemukan sumber mata air untuk melepas dahaga.
Alunan musik itu sungguh luar biasa, dan yang memainkannya pastilah dengan sepenuh hati.
Langkah Hyun-Ra terhenti, membuat Daehyun ikut berhenti.
"Siapa yang memainkan musik itu?"
"Adikku, Kyuhyun, dia sedang berlatih."
"Permainannya sangat indah."
"Ya. Kejeniusannya bermain piano memang tak bisa dikalahkan."
Dan tiba-tiba Hyun-Ra jadi penasaran bagaimana ekspresi Kyuhyun ketika sedang bermain piano seindah itu.
Hyun-Ra mengernyit.
Dan kenapa ia harus merasa penasaran?
"Kenapa?" Daehyun menyipit heran.
"Tidak apa-apa. Hanya saja ini pertama kalinya aku mendengar permainan dia secara langsung. Biasanya hanya di televisi."
"Kau sering menonton konser Kyuhyun?"
"Tidak sering, hanya ketika tidak sengaja menemukan channel yang menayangkan konsernya."
Daehyun hanya manggut-manggut, lalu kembali membawa Hyun-Ra untuk masuk lebih dalam.
Nyonya Cho keluar dengan senyum sumringahnya, menghampiri Hyun-Ra dengan raut senang lalu memeluknya dengan hangat.
"Eomma pikir kau tidak akan datang."
"Tentu saja saya pasti datang, Eomma... Di rumah juga tidak ada siapa-siapa yang bisa saya ajak mengobrol."
"Kalau begitu kau harus lebih sering kemari biar tidak bosan di rumah sendirian."
Hyun-Ra tersenyum menanggapinya dan setelah itu ia membiarkan Nyonya Cho mengajaknya untuk sibuk berdua.
Daehyun mengernyit dengan kerutan protes.
"Sisakan waktu dia untukku, Eomma."
"Tidak." Ibunya berbalik sebentar hanya untuk menggeleng. "Kau tidak boleh mengganggu perempuan-perempuan yang sedang sibuk. Nanti akan kami panggil kalau kau memang diperlukan."
Daehyun terperangah dengan ucapan ibunya, dan sepertinya ibunya sudah begitu menyukai Hyun-Ra sehingga tampak begitu semangat seperti itu.
Daehyun mendesah tetapi tentu saja ia merasa senang.
Memang tak ada lagi yang perlu ia khawatirkan tentang hubungannya dengan Hyun-Ra, gadis itu akan menjadi gadis terakhir satu-satunya dalam hidupnya.
Dan apalagi yang akan para perempuan itu lakukan kalau bukan mengekspresikan diri dengan cara memasak?
Hyun-Ra menatap berbinar ke arah bahan-bahan masakan yang sudah tersedia di sana. Dan kalau sudah seperti itu, otak Hyun-Ra pasti langsung berputar hal apa saja yang bisa ia lakukan untuk mengeksekusinya. Ia memang suka mencoba hal-hal yang belum tercipta untuk menghasilkan suatu terobosan baru.
"Sekarang temani Eomma memasak. Sekalian Eomma akan mengajarimu beberapa resep yang enak. Dan berhubung kau akan menjadi anak menantu di rumah ini, jadi mulai sekarang kau harus belajar terbiasa berada disini, jangan canggung, anggap rumah sendiri." Nyonya Cho mulai mengambil bahan-bahan yang diperlukan lalu membawanya ke meja rajang.
Hyun-Ra memikirkan semua ucapan ibu Daehyun, karena bahkan ia saja belum terpikirkan kapan akan menikah dengan Daehyun dan tinggal di rumah ini.
"Dan ngomong-ngomong, Daehyun sudah membicarakan tentang pertunangan. Apa kau sudah siap? Eomma harap kau akan siap. Tidak ada hal yang mengharuskan kalian menunda pertunangan."
Hyun-Ra mendekati ibu Daehyun lalu membantu apa yang sedang beliau kerjakan. Tetapi bahkan pikirannya mulai dipenuhi semua perkataan ibu Daehyun.
Pertunangan?
Daehyun merencanakan pertunangan?
Senyum Hyun-Ra tiba-tiba terukir dan ia menatap Nyonya Cho.
"Kalau soal pertunangan, saya serahkan semua pada Daehyun, Eomma... "
Nyonya Cho tersenyum. "Berarti Eomma anggap kau setuju kapanpun akan dilangsungkan."
Memangnya apa alasan ia tidak akan setuju? Ia senang Daehyun menghargainya dan berniat seserius itu padanya. Dan Daehyun memang seorang pria baik yang dikirim Tuhan untuk melengkapi hidupnya.
Lagi-lagi Hyun-Ra tersenyum membayangkan Daehyun.
"Nanti Eomma akan bicarakan ini dengan Daehyun. Dan Eomma harap tidak akan ada penghalang untuk hubungan kalian, dari pertunangan sampai menikah nanti."
"Eomma akan mencari tanggal yang bagus untuk pertunangan kalian."
Tiba-tiba suara pintu kulkas terbuka dan tertutup dengan kasar membuat Hyun-Ra dan Nyonya Cho terkejut. Mereka menoleh dan mendapati Kyuhyun mengambil botol minuman hingga kemudian pria itu berlalu dengan cepat dan pergi dengan langkah kasar.
Hyun-Ra mengernyit melihat sikap Kyuhyun.
Kenapa lagi dengan adik Daehyun itu? Selalu saja Kyuhyun bertingkah seolah tidak menyukai kedatangannya ke rumah ini.
"K—Kyuhyun kenapa, Eomma?" Hyun-Ra tidak tahan untuk bertanya, was-was, khawatir kalau dugaannya tentang Kyuhyun adalah benar.
Nyonya Cho tersenyum dengan sikap tidak enak, meminta pengertian Hyun-Ra.
"Dia memang seperti itu, jangan khawatir, dia mungkin hanya sedang lelah atau kesal dengan berita-berita yang tayang tentangnya." Nyonya Cho menjelaskan sambil terus mengupas sayur. "Sebenarnya berita itu hanya gosip yang sama sekali tidak benar kenyataannya. Kyuhyun bilang tidak menyukai satu pun perempuan-perempuan yang digosipkan dengannya, dia hanya iseng, tapi tetap saja kelakuannya itu membuat kami semua marah."
"Bahkan beberapa kali perempuan berbeda datang ke rumah ini dan mengadu banyak hal buruk tentang Kyuhyun, dan itu yang memicu Appa nya begitu keras menentang kehidupan Kyuhyun sekarang."
Nyonya Cho mendesah.
"Tapi apapun itu, Eomma hanya berharap suatu saat dia akan menemukan seorang gadis yang benar-benar dia inginkan dan tidak lagi suka bermain-main. Seperti Daehyun yang menemukanmu sekarang."
Hyun-Ra menyimak penjelasan Nyonya Cho dengan dahi yang berkerut-kerut. Dan jujur saja itu tidak sepenuhnya membuat rasa was-wasnya lenyap seketika. Karena bukan hanya sekarang Kyuhyun bersikap seperti itu, tapi sudah sejak pertama kali Hyun-Ra datang ke rumah ini.
Dan kalau Kyuhyun memang tidak suka dengan kedatangannya, kenapa pria itu tidak langsung saja mengungkapkan di hadapannya?
Tiba-tiba beberapa pelayan datang menghampiri Nyonya Cho.
"Apakah ada yang perlu kami kerjakan, Nyonya besar?"
Ibu Daehyun menggeleng. "Tidak, kalian bisa tinggalkan kami dan biar aku dan Hyun-Ra yang memasak sendiri."
Para pelayan itu mengangguk patuh lalu kembali keluar dari area tempat memasak itu.
"Apa kau bisa menebak Eomma akan memasak apa sekarang?" celetuk Nyonya Cho membuyarkan pikiran Hyun-Ra.
Gadis itu mengerjap dan kembali pada kesadarannya, menatap Nyonya Cho kemudian beralih mengamati bahan-bahan yang ada di depannya.
"Galbi? Bulgogi?"
Nyonya Cho tersenyum puas.
"Sepertinya kau sudah bisa menebak dengan hanya melihat bahan masakannya."
Dan keduanya kemudian saling tertawa.