Satu Jam Lagi

1350 Words
Jangan tatap wajahnya kalau kau tidak ingin terjerat. Kekuatan sihirnya berada di tatapan maut dan senyum mematikannya. Karena sekali kau menatapnya, kau akan terjerumus dan jatuh ke dalam pesonanya. Hyun-Ra meletakkan tumpukan map di atas meja dengan benak termenung-menung, mengingat perkataan para perempuan kantor ketika kabar tentang Presdir besar Cho yang ingin anak kembar bungsunya bergabung ke perusahaan. Banyak yang bilang bahwa pesona Si kembar begitu mematikan, dan terlebih itu Cho Kyuhyun, Si bungsu yang memang dengan sengaja menguarkan aura mautnya bagaikan asap beracun untuk melumpuhkan semua perempuan. Ditambah dengan berita-berita panas yang sering Hyun Ra saksikan di setiap media semakin meyakinkan semua dugaan itu. Karena di luar kejeniusannya dalam bermain piano, Cho Kyuhyun adalah jenis pria sempurna yang benar-benar harus dihindari. Berbeda dengan Si kembar sulung, Cho Daehyun merupakan pria sempurna yang sopan pada perempuan, menghargai mereka, tidak pernah ada catatan cacat tentang dirinya soal percintaan. Meski pun dia memang terlihat kaku, dingin, dan sulit didekati, tapi Cho Daehyun adalah seorang Presdir yang bijaksana dan menjadi dambaan kaum wanita. Jadi, semua orang sudah tahu bahwa kedua pria kembar yang sempurna ini bertolak belakang dalam hal sifat dan kelakuannya. Identik, seperti pinang dibelah dua, dan jika penampilan mereka tidak berbeda, orang-orang tidak akan bisa membedakan mana Si Daehyun yang baik, dan mana Si Kyuhyun yang nakal. Tapi, apakah ia tidak keterlaluan jika bersikap seperti tadi pada saudara Presdir? Hyun-Ra mengingat bagaimana ketika ia kabur dari hadapan Kyuhyun dan tidak menjawab pertanyaannya, dan itu adalah suatu ketidak sopanan seorang staff kepada atasannya. Hyun-Ra merasa takut untuk berurusan dengan anak Presdir yang satu itu dengan semua predikat buruknya yang cukup terkenal, suka menggoda, membuat perempuan terbang melayang dengan semua sikap istimewanya hanya untuk kemudian menghempaskannya, memainkan perasaan mereka sesuka hatinya. Ia takut menjadi salah satu dari perempuan-perempuan pemuja Kyuhyun yang kemudian berakhir mengenaskan, meskipun ia yakin kalau dirinya tidak mungkin masuk ke dalam level yang diminati pria itu. Dan jujur saja baru kali ini Hyun-Ra bertemu langsung dengan Si kembar bungsu itu selain dari televisi yang sering ia tonton. Dan memang... ya, Hyun-Ra akui bahwa mereka berdua sungguh-sungguh luar biasa. "Hyun-Ra!" Seseorang memanggilnya membuat Hyun-Ra tersentak kaget. Ia melihat Seo Jin—temannya sekaligus sahabatnya yang berada di divisi lain—datang tiba-tiba lengkap dengan raut berbinarnya yang penuh kegembiraan. Perempuan itu berjingkrak-jingkrak persis seperti orang yang sedang memenangkan undian berhadiah keliling dunia secara gratis. Seo Jin menggoyang-goyang bahu Hyun-Ra seolah tidak mampu membendung kegembiraannya. "Coba tebak siapa yang baru saja aku temui?" Hyun-Ra mengernyit, berpikir. "Pacarmu?" "Pacar? Pacar... " Seo Jin memegang kedua pipinya sendiri dengan mata memejam, seperti sedang mengkhayalkan sesuatu. Semoga saja Tuan Kyuhyun sebentar lagi memang akan jadi pacarku. Persetan dengan semua gosip tentangnya, Tuan Kyuhyun benar-benar tampan! Wangi! Tangannya lembut, dan senyumnya begitu menggoda! Dan yang paling penting, dia akan mengajakku makan malam! "Tapi bukannya kau sedang tidak punya pacar?" lanjut Hyun-Ra. Mata Seo Jin langsung membuka, terlalu gembira untuk memprotes karena Hyun-Ra mengingatkannya tentang kejombloannya, hal yang biasanya akan membuat Seo Jin cemberut. "Kali ini aku memaafkanmu karena aku sedang bahagia. Doakan saja semoga sebentar lagi aku tidak sendiri lagi. Aku akan bersama pangeran yang tadi aku temui!" "Memangnya siapa?" Hyun-Ra tiba-tiba jadi penasaran. "Tuan Kyuhyun!" pekik Seo Jin. "Dan kau tahu apa yang dia lakukan padaku? Dia menyentuh pipiku, Hyun-Ra, pipiku! Kau bisa bayangkan aku nyaris pingsan dibuatnya! Astaga... Tuan Kyuhyun sangat tampan! Tinggi! Dan aku... aku... " "Stop!" sela Hyun-Ra, ia mengerjap syok. "Jadi kau bertemu dengannya?" Seo Jin mengangguk. "Dan kau menatap matanya?" Seo Jin kembali mengangguk. "Dan aku tidak menyesal menatap wajahnya, dia benar-benar sempurna kau tahu! Wajahnya bersih dan bibirnya... Ya Tuhan! Bibirnya... " Jadi benar, sekali menatap matanya siapapun pasti akan tersihir dan jadi gila seperti Seo Jin. Hyun-Ra meringis. "Ingat, Seo Jin, Tuan Kyuhyun pemain perempuan, jangan sampai kau menjadi korbannya." "Aku tidak peduli!" Seo Jin menepiskan tangannya ke udara. "Asal bisa dekat dengan Tuan Kyuhyun, aku tidak masalah bagaimana pun tentang dia. Akan kuberikan apa pun yang dia inginkan." Seo Jin masih tetap di mabuk kepayangnya saat berbalik dan keluar dari ruangan kerja Hyun-Ra. Dan Seo Jin benar-benar sudah tersihir. Seketika Hyun-Ra merasa cemas, khawatir kalau Seo Jin akan mengalami nasib yang sama seperti para perempuan yang patah hati karena Kyuhyun. Dan sekarang Hyun-Ra sudah melihat buktinya sendiri, bahwa pesona Cho Kyuhyun ternyata benar-benar semengerikan itu. ▪▪▪ "Aku senang akhirnya kau mau datang kemari." Daehyun tersenyum, menghentikan kegiatan di laptopnya ketika melihat adik kembarnya benar-benar datang memenuhi permintaannya. Kyuhyun mendengus, menghempaskan tubuhnya dengan bosan ke sofa besar ujung ruangan. "Hanya karena aku sedang tidak ada jadwal hari ini jadi aku bersedia datang. Tapi lain kali mungkin kau perlu menyogokku jika ingin memintaku kembali." Daehyun tergelak kecil, ia tahu Kyuhyun masih tidak rela dengan kekalahannya. "Tapi ini adalah tempatmu, jadi mau tidak mau kau memang harus kembali." "Terus saja kalian berharap seperti itu." Kyuhyun meraih majalah di atas meja lalu berbaring nyaman di sofa sana. Ia benar-benar merasa malas. Daehyun mengernyit. "Kyu, kau harus mempelajari semua hal tentang perusahan, bukan bermalas-malasan." "Dan apa aku harus membaca tumpukan map yang ada di depanmu itu?" Daehyun melirik berkas-berkas yang dimaksud Kyuhyun. "Benar sekali, inilah yang harus kau pelajari." "Lebih baik aku mengepel kamar mandi dari pada harus melakukan pekerjaan membosankan itu!" "Baiklah, aku akan liburkan semua pelayan di rumah dan menjadi tugasmu untuk mengepel semua kamar mandi." Kyuhyun merengut, ia tidak menjawab lagi dan hanya membolak-balik halaman majalah dengan kesal. Daehyun melanjutkan ketikannya. "Aku tahu kau selalu butuh hiburan untuk bisa betah di tempat yang tidak kau inginkan," gumamnya dengan mata mengarah pada laptop. "Mungkin lain kali aku harus mencarikanmu hal yang membuatmu bersemangat." Kyuhyun mengernyit. Benar, hiburan. Dan ia jadi teringat kepada gadis mungil yang ia temui di lift tadi. Kyuhyun langsung bangkit dari berbaringnya. "Bolehkah aku mengencani pegawaimu?" tanyanya, keisengannya seketika muncul dan ia tersenyum miring. "Mungkin dengan begitu aku bisa betah disini." Daehyun mendongak lengkap dengan kerutan tak setujunya. "Jangan mempermainkan para perempuan disini." "Kalau itu tergantung. Jika salah satu dari mereka mampu membuatku senang dan menghiburku, mungkin aku akan sedikit mempertahankannya lebih lama." "Dan apa kau sedang mengincar pegawai disini?" Mata Daehyun menyipit. "Kau bahkan baru kali ini datang kemari, Kyu." Kyuhyun tersenyum. "Sebenarnya tadi aku bertemu dengan seorang gadis. Dan saat perempuan lainnya tidak bisa berhenti menatap wajahku, dia justru berpaling. Menarik, bukan? Dan itu membuatku tertantang." Daehyun kembali menghentikan kegiatannya. "Kau tahu siapa nama gadis itu?" "Sayang sekali gadis itu malah kabur saat aku menanyakan namanya." "Kartu identitas?" "Dia sedang tidak memakainya." "Seperti apa orangnya?" "Dia mungil." Mungil? Daehyun mengingat-ingat setiap pegawai wanitanya. "Apakah itu sekretarisku?" "Bukan." Sekretaris Daehyun memang mungil, tapi tidak menarik. "Dia cantik, manis, dan sepertinya dia juga pemalu." Daehyun bersandar di kursi besarnya dan memikirkan semua gambaran Kyuhyun. "Dan rupanya perempuan ini benar-benar menarikmu sampai-sampai kau bisa menjabarkan tentang dirinya." "Akan kucari gadis itu dan membawanya padamu." Kyuhyun kembali berbaring. "Tapi awas saja kalau kau juga menyukainya." "Tidak akan, karena aku sudah mempunyai seseorang." Kyuhyun menoleh cepat. "Siapa?" "Kekasihku." Kyuhyun kembali bangkit. "Siapa?" Kali ini Daehyun sedikit berpaling, menunjukkan ekspresi datarnya karena malu. "Dia pegawaiku." "Kau serius?" "Ya." "Dia di kantor ini atau di kantor Appa yang lain?" "Di kantor ini." "Brengsek!" Kyuhyun melemparkan bantal sofa ke arah Daehyun. "Kau berpacaran dan kau tidak memberitahuku?" "Kau tidak pernah bertanya." "Kau harus mengenalkannya padaku! Aku ingin tahu gadis seperti apa yang sudah berhasil menarik laki-laki dingin dan membosankan sepertimu." Daehyun tertawa kecil. "Satu jam lagi aku akan memanggilnya kemari. Dan awas saja kalau justru kau yang menyukainya." "Lihat saja nanti." Satu jam lagi. Demi apa Kyuhyun benar-benar penasaran dengan sosok gadis yang berhasil membuat kakak kembarnya itu mengatakan 'kekasihku'. Karena selama ini Daehyun bahkan tidak pernah terlihat berkencan, terlalu sibuk mengurus perusahaan dan terlalu kaku saat membicarakan perempuan. Meskipun ia tahu kalau Daehyun juga menjadi incaran para perempuan, apalagi dengan nilai plus bahwa kakaknya itu setia dan penyayang. Belum lagi Daehyun adalah satu-satunya pria yang mampu menyainginya dalam segala hal, dalam semua kesempurnaannya di mata para wanita. Karena apa yang terlihat indah di wajahnya, terlihat mempesona juga di wajah Daehyun karena keidentikan mereka. Ah, kenapa harus ada wajah yang sama dengan dirinya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD