Pagi itu, Jakarta tidak disambut oleh kicau burung, melainkan oleh keheningan yang mencekik di dalam rumah besar milik Papa Bram. Matahari merayap naik melalui celah gorden sutra di ruang makan, menyinari meja yang sudah tertata rapi dengan piring-piring porselen terbaik. Seharusnya, pagi ini adalah pagi di mana penata rias datang, di mana aroma melati memenuhi udara, dan di mana janur kuning di depan gerbang berdiri tegak sebagai simbol persatuan. Namun, yang terdengar hanyalah denting jam dinding yang terasa seperti detak bom waktu. Ressa terbangun dengan jantung yang bertalu. Ia tidak tidur sedetik pun semalam. Bayangan Regin yang duduk di depan pintu kamarnya, tatapan pria itu yang dingin namun protektif, terus berputar di kepalanya. Ia bangkit dari tempat tidur, kakinya terasa berat

