"Laura!"
Kinara dan Laura menoleh, mereka melihat Lisa sudah berdiri di dekat pintu dengan tatapan tidak sukanya pada Kinara. Kedatangan Lisa membuat Laura tidak bisa melanjutkan perkataannya, sehingga Kinara tidak mendapat informasi lebih dari wanita itu.
"Ngapain kamu ngobrol sama dia?" ucap Lisa sambil menunjuk pada Kinara.
"Hanya menyapa calon istri Arjuna, Lis. Siapa tahu dia sadar lalu mengundurkan diri dari pernikahan itu," ejek Laura.
Kinara menghela napas berat, sekali lagi ia harus bersikap tenang, tidak terbawa emosi dan tetap ramah.
"Maaf, aku tidak akan membatalkan pernikahan ini," jawab Kinara mantap.
"Sudahlah, Laura. Sia-sia saja memberitahunya, urat malunya juga sudah putus," ejek Lisa.
Kinara menghela napas pelan, kemudian ia tersenyum menatap kedua wanita itu. Sebisa mungkin ia harus bersikap ramah.
"Maaf. Aku permisi Kak Lisa, Laura."
Kinara hendak melangkah namun dicegah oleh Lisa. Wanita itu menatap tajam mata Kinara seakan Kinara adalah musuh yang harus di musnahkannya saat itu juga.
"Jangan pernah berpikir kamu bisa menjadi menantu kesayangan di rumah ini. Meskipun ibu menyukaimu, jangan berharap kamu bisa berkuasa karena aku tetaplah menantu pertama disini, dan akulah yang lebih penting daripada kamu. Mengerti?" jelas Lisa.
Kinara tersenyum kecut. Lisa seakan takut kalau Kinara akan menjadi menantu kesayangan menggantikan dia yang lebih dulu menjadi menantu keluarga Atmaga. Setahu Kirana, Rama dan Lisa sudah menikah 8 tahun dan pernikahan mereka baik-baik saja, namun mereka memang belum memiliki anak.
"Jadi kak Lisa pikir aku akan merebut posisi kak Lisa setelah menikah dengan Arjuna? Kenapa berpikir kekanak-kanakan seperti itu?" Kinara melihat Lisa menahan marah dengan menggertakkan giginya.
"Berani sekali kamu bilang begitu!"
"Kalau begitu bersikaplah dewasa, kak. Aku menikah dengan Arjuna bukan untuk merebut posisimu atau apapun. Aku justru menghormatimu sebagai kakak," jelas Kinara.
"Aku semakin membencimu!" ucap Lisa dengan ekspresi marah.
"Itu urusanmu, kak." Kinara tidak ingin berdebat lagi dengan calon kakak iparnya itu. Segera Kinara meninggalkan tempat itu. Ia tidak peduli dengan ekspresi calon kakak iparnya yang terlihat marah.
Kinara menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak menyangka kalau Lisa akan berpikir seperti itu. Harusnya dia bersikap lebih dewasa mengingat umurnya yang lebih tua dari Kinara. Yah, walaupun umur tidak menentukan kedewasaan seseorang.
"Kenapa lama?"
Kinara terkejut karena suara itu mengangetkanya, sedangkan ia tidak tahu dimana sosok yang baru saja bertanya padanya itu. Kinara menoleh ke kanan dan kiri, dan melihat Arjuna sedang bediri di depan sebuah kamar.
"Perutku mules. Ngapain kamu di situ? Mengagetkan saja."
"Aku mau ke kamar. Kamu mau ikut?"
Kinara mencerna sebentar perkataan Arjuna. Apa Kinara tidak salah dengar? Arjuna mengajaknya ke kamarnya? Mau ngapain?
"Kenapa mukamu begitu? Jangan berpikir konyol," ucap Arjuna.
"Baiklah. Aku ikut."
Kinara sebenarnya tidak ingin masuk ke kamar Arjuna, terlalu beresiko mengingat Arjuna laki-laki berotak m***m, namun Kinara ingin tahu sosok calon kakak iparnya. Jadi, ia putuskan untuk mengikuti langkah Arjuna menuju kamarnya, kemudian ia bisa bertanya pada Arjuna.
Kinara memasuki kamar Arjuna. Kesan pertama masuk ke kamarnya adalah ruangan yang luas, bersih, nyaman dan bau pengharum ruangan yang entah kenapa tercium sangat maskulin. Warna biru dongker yang mendominasi di ruangan itu menambah kesan macho pemiliknya. Ah, otak Kinara bergerilya kemana - mana. Di sebelah samping kasur terdapat kursi dan meja yang di atasnya ada beberapa berkas dan sebuah laptop. Lalu ada pula rak buku besar yang menyimpan buku-buku yang kebanyakan berhalaman tebal. Kinara melangkah menuju rak dan mengamati buku-buku itu.
"Suka?" tanya Arjuna.
"Gak terlalu suka baca, mengamati buku-buku disusun di rak seperti ini senang saja lihatnya. Ini udah kamu baca semu...."
Kinara yang menoleh untuk melihat Arjuna, harus dikejutkan dengan tubuh six pack Arjuna. Laki-laki itu baru saja melepas bajunya dan memperlihatkan tubuhnya yang atletis. Kinara menelan ludahnya kasar dan segera berbalik membelakangi Arjuna.
"Kenapa?"
"Ngapain lepas baju?"
"Gerah, emang gak boleh lepas? Ini kamarku."
"Kan ada AC, Juna. Kamu sengaja?" Kinara masih membelakangi Arjuna.
"Kamu tergoda?" canda Arjuna.
"Diamlah dan segera pakai bajumu!" Kinara malu mengatakannya tapi sungguh tubuh Arjuna memang menggoda.
Kinara tidak lagi mendengar suara Arjuna, ia ingin membalikkan tubuhnya menghadap Arjuna tapi takut calon suaminya itu belum memakai baju. Kinara akhirnnya diam ditempat sampai ia merasakan tubuhnya dipeluk oleh seseorang dari belakang. Tubuh Kinara membeku seketika kala tangan kekar itu terkesan posessif memeluknya dan ditambah dengan hembusan napas di lehernya yang membuat merinding.
"Arjuna, kamu---"
"Diamlah."
"Tapi aku---"
"Nikmati saja."
Apa Arjuna gila? Nikmati? Bagaimana mungkin dia semudah itu mengatakannya. Dia dan Kinara sama-sama sudah dewasa, lalu berada di ruangan yang sama dengan posisi seperti ini, bukankah itu bahaya? Kinara ingin memberontak tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan Arjuna.
"Bi..Bisakah kamu melepaskanku?"
"Gak bisa."
"Tapi Jun, aku---"
Dengan cepat Arjuna merubah posisi Kinara menjadi menghadapnya. Kinara bisa melihat jelas d**a bidang Arjuna yang tidak tertutup apapun. Lagi-lagi Kinara harus menelan ludah dan jangtungnya berpacu dengan cepat.
Astaga, manusia satu ini benar-benar meresahkan! Batin Kinara.
"Juna, please jangan begini." Kinara berusaha mendorong tubuh Arjuna tapi sia-sia. Justru Kinara yang terdorong ke belakang hinggu tubuhnya menabrak rak buku dibelakangnya.
"Juna, kamu sudah melanggar pejanjian kita. Di perjanjian itu, kita tidak boleh saling mengganggu dan mengurusi privasi masing-masing," jelas Kinara.
"Lalu?"
"No s*x no love. Ingat? Jangan begini, aku takut kamu hilang kendali."
"Sepertinya kamu melupakan sesuatu. Kamu tidak membaca tulisan kecil di bagian paling bawah kertas?"
"Hah, memangnya ada?" jantung Kinara masih saja berdetak lebih kencang, debaran-debaran itu sejak tadi juga muncul tanpa di undang.
Arjuna mengambil ponsel pada saku celananya, kemudian menunjukkan pada Kinara foto surat perjanjian yang telah di tandatangani Kinara. Arjuna zoom pada bagian bawah foto kertas itu.
Disana tertulis keputusan mutlak ditangan pihak pertama (Arjuna). Arjuna boleh menghapus atau menambah poin apapun tanpa harus mendapat persetujuan pihak kedua (Kinara).
"Apa-apaan ini? Kamu curang, Jun. Tulisan ini terlalu kecil dan tidak terlihat," protes Kinara. Waktu Kinara menanda tangani kertas itu memang tidak konsentrasi karena pikirannya tertuju pada ibu Diana. Ia tidak memperhatikan hal-hal kecil seperti tulisan yang sengaja Arjuna taruh paling bawah dengan ukuran font kecil. Memang licik!
"Terlambat. Kamu sudah tanda tangan Kinara."
Kinara menelan ludahnya kasar. Ia menegang ketika Arjuna mulai memajukan wajahnya untuk menyatukan bibir mereka.
"Juna, Kinar, uppsss.."
Kinara dan Arjuna menoleh dan melihat Safira sudah berada di pintu kamar Arjuna.
"Maaf, ibu mengganggu aktivitas kalian. Hahaha," ucap Safira sambil tertawa.
Arjuna segera melepas tubuh Kinara dan memakai bajunya kembali. Sementara Kinara hanya diam karena terlalu malu.
"Ada apa, bu?" tanya Arjuna.
"Jangan lupa tutup pintu, Jun."
"Ah, maaf, Juna lupa."
"Kinar, kamu tidur di sini saja, sudah malam juga. Kamu kan calon istrinya Juna, kamu harus menyesuaikan diri dengan rumah kami," jelas Safira.
"Baik, bu."
Safira mengucapkan selamat malam dan pergi dari kamar Arjuna. Kinara menghela napas lega kedatangan Safira menghentikan aksi mesumnya Arjuna. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika tadi Safira tidak datang.
"Kamu mau kita lanjut yang tadi?" goda Arjuna.
"Jangan mimpi!"