16. Rumah Arjuna

1070 Words
Kinara membuka matanya lalu mendudukkan tubuhnya perlahan. Ia mengerjapkan mata berkali-kali sebelum sadar kalau ini bukan kamarnya. Kinara melihat sekitar dan ingat kalau ia berada di ruang Arjuna dan ketiduran. "Astaga, jam berapa ini?" Kinara mengecek jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 16.30 itu artinya karyawan sudah meninggalkan kantor. Kinara mencari Arjuna dan Argan tapi tidak ada di ruangan itu, kemungkinan masih rapat atau pekerjaan lainnya. Kinara tiba - tiba teringat tadi pagi saat Arjuna mendadak menghentikan mobilnya karena melihat seseorang, kemudian ia hubungkan dengan wanita yang Arjuna sebut malam itu dan disebut Laura juga. Apa orang yang sama? Siapa? Mumpung Arjuna keluar, Kinara menuju meja Arjuna dan mencari sesuatu di sana. Siapa tahu ada foto atau catatan lainnya yang bisa di jadikan petunjuk. Kinara memeriksa meja, laci dan buku-buku yang ada di sana, namun nihil, Kinara tidak menemukan apapun. Kinara segera kembali ke sofa sebelum Arjuna melihatnya mengacak meja kerjanya, sebelumnya Kinara sudah tata barang Arjuna sesuai tempatnya semula agar Arjuna tidak curiga. Beberapa menit kemudian Arjuna dan Argan memasuki ruangan. Kinara menyambut kedua laki-laki itu dengan senyuman. "Puas tidur di sofa yang empuk?" tanya Arjuna. "Puas. Aku bahkan tidur hampir 2 jam." "Sepertinya kamu sudah kembali segar, Kinara," ucap Argan. "Iya, pak. Aku merasa lebih baik", jawab Kinara. "Baguslah. Setelah ini kita pergi ke rumahku, tapi sebelum itu ganti dulu bajumu," perintah Arjuna. "Baiklah." Kinara bergegas ke kamar mandi untuk berganti dengan pakaian yang di bawanya dari kontrakan. Tidak lupa ia memoles wajahnya dengan make up tipis agar tidak terlihat pucat. Kinara keluar kamar mandi menggunakan dress putih panjang dibawah lutut dengan hiasan renda di bagian kerah dan lengan. Rambut yang sengaja ia sanggul sebisanya, memberikan kesan dewasa pada diri Kinara. Kinara segera menghampiri Arjuna dan Argan. Perasaan gugup kembali mendera Kinara, padahal ini bukan kali pertama dirinya pergi kerumah Arjuna. 20 menit kemudian Kinara dan Arjuna sampai di kediaman Atmaga. Ia dan Arjuna segera masuk untuk menemui orang tua Arjuna. Saat Kinara sampai di ruang makan, disana sudah ada orang tua, Rama, Lisa dan Laura. Kinara tanpa sengaja bertatapan dengan Laura dan dengan segera langsung ia alihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak menyangka akan bertemu Laura kembali di rumah Arjuna. "Juna, Kinara, kemarilah, kita makan malam bersama dulu," ajak Safira. Kinara tersenyum ramah menyambut ajakan Safira. Ibu Arjuna itu selalu menunjukkan sikap hangat dan murah senyumnya, Kinara sangat ingin lebih dekat dengan Safira. Keluarga itu makan dengan tenang. Mereka selalu menyelesaikan makan terlebih dahulu, kemudian baru memulai percakapan. "Kinara, kamu masih kuliah?" tanya Safira. "Iya tante, semester 4," jawab Kinara. "Juna ambil jurusan ekonomi juga dan tahap skripsi. Ibu ingin kamu menyelesaikan Kuliahmu, Jun. Bisa dibantu Kinara," jelas Safira. "Baik, bu." "Oh ya, persiapan pernikahan sudah selesai, tinggal menunggu waktu seminggu lagi," jelas Arjuna. Tiba-tiba terdengar suara dentingan keras. Semua mata mengarah pada sumber suara yaitu Laura. Dia menaruh sendok dan garpunya di piring dengan kasar sehingga menimbulkan dentingan keras. "Maaf, aku tidak sengaja," ucap Laura. Kinara yakin Laura sengaja melakukannya setelah Arjuna membahas tentang pernikahan. Lagi-lagi tatapan Kinara bertemu dengan Laura. Kinara bisa melihat Laura mendecih kemudian segera membuang muka, seperti muak melihat Kinara. Kinara menghela napas berkali-kali dan menghembuskannya pelan. Ia harus perbanyak stok sabar, apapun yang terjadi ia hanya harus mengikuti alur pernikahan yang dibuat Arjuna. Setidaknya satu tahun ini ia harus bertahan. Setelah aktivitas di ruang makan selesai mereka berpindah ke ruang keluarga. Disana mereka membahas tentang persiapan pernikahan Arjuna. Rama, Lisa dan Laura sengaja pergi dari ruang itu karena malas membahas tentang penikahan. Arjuna bersikap acuh karena tahu kalau ketiga orang itu tidak menyetujui pernikahannya dengan Kinara. sementara Kinara hanya mengangguk setuju dengan pendapat Safira dan Arjuna, ia tidak mau ambil pusing dengan pernikahannya nanti, setidaknya terima beres dan tinggal duduk di pelaminan sudah cukup baginya. "Kinar, mulai besok Arjuna akan sering ke kampus untuk mengurus skripsinya. Ibu ingin dia segera lulus dan memegang perusahaan papanya. Ibu minta kamu semangati dia, dan bantulah dia agar cepat wisuda," pinta Safira. "Iya, bu. Akan Kinar bantu." Kinara melirik Arjuna yang kebetulan juga sedang meliriknya. Sebuah seringaian tercetak di bibirnya, membuat Kinara merinding. Astaga, sungguh meresahkan! Batin Kinara. "Aku sudah lulus, bu," ucap Arjuna sambil memainkan ponselnya. "Papa ingin kamu lulus dari jurusan ekonomi, Jun. Bersungguh-sunghuhlah dengan skripsimu." Ardi yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. "Baiklah." "Kalian bisa bekerja sama dengan baik dalam segala hal, termasuk dalam hal pekerjaan," ucap Safira. Kinara dan Arjuna hanya mengangguk. Melihat Safira yang sepertinya tulus, Kinara jadi khawatir kalau suatu hari nanti dia tahu perjanjian nikah kontrak antara dirinya dan Arjuna membuat Safira kecewa. Kinara segera menepis pikiran negatifnya. Ia tidak ingin memikirkan hal-hal yang bisa membuatnya pusing untuk saat ini. "Tante, Kinar mau ke toilet dulu," ijin Kinara. Mendapat anggukan dari Safira, Kinara segera menuju toilet. Untungnya Kinara pernah ke toilet sebelumnya, jadi ia tidak kesulitan menemukannya di rumah sebesar ini. Saat masuk ke toilet, di depan wastafel ada Laura yang sedang memperbaiki makeup nya sehabis makan tadi. Wastafel di toilet ini memang terpisah dengan kamar mandi. Kinara langsung menuju kamar mandi tanpa menyapa Laura. Aktivitas Kinara di kamar mandi selesai, segera ia keluar dan melihat Laura masih berdiri di depan kaca wastafel. "Tunggu!" Kinara menghentikan langkahnya dan menoleh pada Laura. Sebenarnya ia tidak ingin berbicara pada Laura, tapi jika ia mengacuhkannya, tentu akan terlihat sangat tidak sopan. "Iya?" "Aku ingin bicara sebentar," ucap Laura. "Baiklah." Kinara dan Laura saling menatap. Laura lebih lembut dari pertemuan mereka sebelumnya. "Kamu dan Arjuna baik-baik saja?" Kinara agak bingung dengan pertanyaan Laura dan nada bicaranya yang lebih lembut dari sebelumnya. "Tentu kami baik-baik saja." "Baguslah." "Kenapa memangnya?" tanya Kinara. "Ternyata kamu gak tahu apa-apa ya tentang masa lalunya Arjuna." Laura mendecih kemudian tersenyum mengejek pada Kinara. "Memangnya apa yang harus aku ketahui?" Kinara sengaja memancing Laura, mungkin saja Laura mengatakan sesuatu tentang 'wanita itu' padanya. "Aku tidak mengerti kenapa Arjuna mau menikahmu. Tapi, yang perlu kamu tahu adalah Arjuna itu begitu mencintai masa lalunya. Jadi, sangat kecil kemungkinan dia jatuh cinta padamu secepat ini." Mencintai masa lalu? Jadi Arjuna sangat mencintai 'wanita itu', lalu kemanakah perginya dia sekarang? Apa yang terjadi pada hubungan mereka hingga berakhir? Batin Kinara. Kinara sangat penasaran dengan masa lalu Arjuna. Mungkin, inilah kesempatan Kinara untuk bertanya pada Laura. "Laura, boleh aku tahu siapa wanita yang dicintai Arjuna?" "Kamu penasaran?" tanya Laura. "Hanya ingin tahu saja," jawab Kinara. Laura berjalan ke arah Kinara berdiri dan mendekatkan wajah cantiknya pada Kinara. "Dia itu wanita yang penuh dengan---" "Laura!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD