"Kinara?"
"Kinaraaaa?"
"Astaga, Amel! Kenapa harus berteriak?" Kinara mengusap telinga kanannya yang baru saja mendengar teriakan kencang dari sahabatnya itu.
"Lo ngelamun, gue panggil daritadi juga." Amel merengut kesal.
"Eh, maaf deh Mel, hehe."
"Buruan cerita ke gue. Lo kenapa sih akhir-akhir ini sibuk banget, suka melamun juga," tanya Amel.
Kinara melihat jam tangannya, masih ada waktu 1,5 jam sebelum ia masuk kantor. Arjuna juga sudah pergi dari kampus ini sekitar 2 jam yang lalu. Kinara bahkan masih syok dengan kenyataan bahwa Arjuna juga mahasiswa di kampus ini, satu jurusan pula.
"Kinaraaa."
"Aduh, sorry, Mel. Hehee."
"Kebiasaan!"
"Yaudah, gue cerita. Please jangan terkejut dengan apa yang gue bilang. Oke?"
"Tambah bikin gue penasaran deh, emang apaan?"
"Gue mau nikah."
Kinara bisa melihat perubahan ekspresi wajah Amel, saking terkejutnya Amel sampai berteriak.
"Nikaaah?"
"Astaga, lo ngegas amat sih, Mel." Kinara sampai harus menutup mulut Amel dengan tangannya.
"Sama siapa? Kapan? Kapan lo pacaran, kok gue gak tahu?"
Kinara sampai pusing harus menjelaskan darimana. Terlalu banyak hal yang harus Kinara ceritakan, waktu 1 jam tidak mungkin cukup, apalagi Amel tipikal wanita yang cerewet dan banyak tanya.
"Gue jelasin dikit. Sisanya nanti malam gue telepon, kalau gak lupa. Soalnya bentar lagi gue harus ke kantor. Lo tahu kan kepala OB di kantor gue disiplin banget."
"Yaudah, ceritain intinya dulu deh," ucap Amel.
"Gue mau nikah sama Arjuna, bos di kantor gue kerja. Tapi bukan nikah beneran, hanya nikah kontrak. Gue butuh biaya operasi ibu Diana dan dia butuh seseorang yang mau dinikahi, hanya untuk sementara."
"Ini nyata kan? Bukan film? Kok ada sih yang begitu?" tanya Amel.
"Nyata. Gue buktinya," jawab Kinara.
"Dia gimana sama lo? Maksud gue, dia baik kan? Gue takut lo diperlakukan tidak baik, dan ujung-ujungnya lo yang sakit hati, Kin." Amel menatap khawatir pada Kinara.
Entah kenapa apa yang dikhawatirkan Amel memang terjadi. Kinara sudah sakit hati bahkan sebelum menikah. Ia tidak tahu bagaimana nasib akan membawanya, kebahagian atau air mata.
Kinara memeluk Amel. Ia butuh seseorang untuk menghiburnya. Dan Amel adalah orang yang tepat. Amel selalu mendukung Kinara dan menemaninya di saat sedih dan senang.
"Gue tahu lo gak baik-baik saja. Please, cerita ke gue apapun. Gue akan bantu sebisa gue, Kin. Lo tau kan gue sayang sama lo, gue udah nganggep lo saudara." Amel mengelus punggung Kinara.
Kinara melepas pelukannya pada Amel. Ia tatap sahabatnya itu, Amel memang sahabat terbaiknya.
"Gue tahu, lo emang sahabat terbaik gue, Mel. Gue akan cerita semuanya, tapi gue harus ke kantor. Nanti malam gue telepon."
Amel mengangguk. Kinara membereskan dirinya kemudian berjalan keluar kelas bersama Amel. Papa amel sudah menunggu di depan kampus, sementara Kinara naik angkot menuju kantor Arjuna.
Sesampainya di kantor Arjuna, Kinara segera masuk ke dalam kantor dan menuju ruang OB. Di sepanjang jalan Kinara terus mendapat tatapan meremehkan dari karyawan disana. Hati Kinara bergemuruh, ia mulai memikirkan hal yang mungkin saja terjadi selama dirinya tidak masuk kemarin. Kinara mencoba tidak menghiraukan tatapan-tatapan itu dan berjalan memasuki ruang OB. Tiba disana Kinara langsung disambut oleh Alex dan beberapa OB yang belum bekerja. Kinara langsung diberondong pertanyaan-pertanyaan seputar gosip yang beredar, bahwa ia akan menikah dengan Arjuna.
"Kinara, berita itu benar?" tanya Alex.
"Kamu akan menikah dengan pak Arjuna?"
"Kamu beruntung, Kinara."
"Jodoh gak kemana ya, Kinara. Oh, Astaga kamu beruntung sekali."
Kinara hanya tersenyum tidak bisa menjawab pertanyaan mereka satu-satu. Rasanya tidak karuan, Kinara bingung harus menjelaskan bagaimana.
"Cih. Kamu pintar ya menggoda, apa jangan-jangan kamu menjual tubuhmu?" ucap salah satu office girl berambut pendek.
"Muka biasa saja dan tubuh tidak seksi. Apa pakai pelet?" tanya salah satu office girl juga.
Mereka tertawa meremehkan, sementara lainnya hanya diam. Mereka menunggu klarifikasi dari Kinara.
Kinara menahan dirinya untuk tidak meladeni dua wanita yang sejak tadi menyudutkannya. Sejak awal Kinara masuk dua wanita itu memang tidak suka padanya. Kini, semua mata tertuju pada Kinara seakan mereka haus akan informasi.
"Jawablah, Kinara. Kami ingin tahu kebenarannya," ucap Alex.
"Aku sebenarnya---"
Pintu ruang OB terbuka. Arjuna dan Argan masuk ke ruang itu, membuat semua orang disana terkejut dan menunduk.
"Kenapa bergerombol, Alex? Bukankah sudah waktunya kerja?" tanya Argan.
"Maaf, pak. Akan saya suruh mereka bekerja kembali," ucap Alex gugup.
"Ada yang butuh klarifikasi?" suara Arjuna mengagetkan semuanya.
Arjuna berjalan menghampiri Kinara. Sementara Kinara daritadi merasa gugup dan bingung harus berbuat apa. Kinara diam saja ketika Arjuna berhenti tepat di sebelahnya.
"Kalian mau tahu kan, siapa calon istri saya? Kalau begitu akan saya kenalkan, namanya Kinara. Sekarang sedang berdiri di samping saya," jelas Arjuna.
Kinara menghela napas lega, setidaknya Arjuna sendiri yang mengatakan itu, ia tidak perlu repot menjelaskan pada seluruh karyawan disini. Kinara bahkan tidak peduli dengan tatapan tidak suka dan mengintimidasi serta hujatan yang mengarah padanya. Mereka hanya sibuk berkomentar tanpa tahu keadaan Kinara yang sebenarnya.
Arjuna menarik tangan Kinara keluar dari ruang OB. Sesampainya di luar Kinara dapat mendengar para OB itu heboh dengan berita yang baru saja mereka dengar langsung dari Arjuna dan dengan cepat berita itu menyebar di seluruh penjuru kantor.
"Argan, bisa tinggalkan kami berdua?" pinta Arjuna.
"Baik, pak." Argan segera menuju ruangannya.
Kinara duduk gelisah di sofa ruang Arjuna. Ia hilangkan kegelisahannya dengan membuka ponsel.
"Sudah saatnya mereka tahu," ucap Arjuna.
"Benar."
"Seiring waktu, kehebohan mereka akan mereda dengan sendirinya."
"Aku tahu," ucap Kinara.
Arjuna menghampiri Kinara dan ikut duduk di sofa.
"Jangan lupa nanti malam ke rumahku." Arjuna mengingatkan Kinara.
"Iya."
"Kamu kenapa?" tanya Arjuna.
"Eh? Gakpapa kok, masih syok saja tadi di berondong dengan banyak pertanyaan," jawab Kinara.
"Oh. Kamu akan terbiasa dengan yang seperti itu."
"Aku sepertinya harus pergi, banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan," ucap Kinara.
"Tunggu! Kamu tidak perlu melakukan pekerjaan itu, Kinar."
"Hah? Aku di pecat?" tanya Kinara.
Arjuna menghela napas pelan. Ia sepertinya harus banyak bersabar menghadapi Kinara.
"Dengar, Kinar. Statusmu sudah berubah menjadi calon menantu Atmaga. Kamu disini saja, menemaniku."
"Oh, iya. Lalu aku harus ngapain?" tanya Kinara.
"Terserahmu. Oh iya, gimana hubungan kamu dengan Arya?" tanya Arjuna. Tadi pagi Arjuna agak kesal karena bertemu Arya di kampus.
"Hah? Kenapa tanya seperti itu? Tentu saja hanya sebatas mahasiswa dan dosen," jawab Kinara enteng, karena memang tidak ada hubungan spesial apapun.
"Benarkah? Kenapa dia bersikap beda sama kamu?" tanya Arjuna.
"Benarkah? Aku rasa tidak. Kamu cemburu?" goda Kinara.
"Diamlah, Kinar. Jangan dekat-dekat sama dia. Atau---"
"Atau apa? Uh Arjuna sepertinya sedang cembura. Menggelikan." Kinara terkekeh geli, apalagi melihat muka Arjuna membuat Kinara semakin ingin tertawa.
"Diam, Kinar! Jika kamu terus tertawa aku akan membuatmu bungkam." Arjuna serius dengan perkataannya, sementara Kinara justru menikmati raut muka kesal Arjuna.
Arjuna membuka jasnya dengan tergesa, kemudian melonggarkan dasinya dan membuangnya asal. Setelah itu, ia buka kancing kemerjanya sampai terlepas semua. Kinara hanya melongo melihat apa yang dilakukan Arjuna.
Setelah selesai melepas kancing kemejanya, Arjuna mendekati Kinara dengan senyum seringainya.
"Ma.. mau apa?" Kinara semakin meringkuk di sofa.
"Takut?" tanya Arjuna.
Kinara mengangguk. Ia takut dengan Arjuna yang seperti ini, bisa saja dia hilang kendali. Arjuna semakin mendekat, Kinara segera mengambil bantal sofa untuk menutupi tubuhnya bagian depan.
"Ayo ketawa lagi, aku pastikan kamu langsung bungkam," ucap Arjuna.
Kinara menggeleng pelan dan menutup matanya ketika tubuh Arjuna semakin mendekat hingga dahi mereka hampir bersentuhan.
"Hahahaha, lucu sekali mukamu." Arjuna menjauhkan tubuhnya dari Kinara dan mengancingkan kemejanya kembali.
"Kamu mengerjaiku?" tanya Kinara kesal.
"Begitulah."
"Kurang ajar." Kinara hampir memukul lengan Arjuna namun ia urungkan segera karena Arjuna kembali membuka kancing kemejanya. Kinara segera mundur ke tempat duduknya semula.
Arjuna tertawa kemudian kembali ke mejanya untuk memeriksa beberapa berkas. Sementara Kinara yang masih merasakan debaran di dadanya, bingung harus melakukan apa, Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Amel. Ia menceritakan apa yang di alaminya hari ini di kantor. Beberapa menit telah berlalu, entah kenapa mata Kinara susah untuk terbuka lebar. Kinara memposisikan diri untuk berbaring di sofa. Dengan perlahan Kinara memejamkan mata dan tertidur.
"Sepertinya dia kelelahan." Argan keluar dari ruangannya dan menuju meja Arjuna.
"Biarkan saja Kinar tidur. Oh ya, Gan, tolong kamu cari info tentang dia, aku tadi pagi seperti melihatnya di jalan. Aku yakin itu dia."
"Kamu yakin ingin mencarinya?" tanya Argan.
"Yakin."
"Baiklah, akan aku cari."
"Jangan beri tahu Kinar apapun soal ini," ucap Arjuna.
"Baiklah."