Kinara merebahkan dirinya di kasur sambil beberapa kali memijat pelipisnya karena mendadak kepalanya pusing. Ia memang akhir-akhir ini sering kelelahan, lelah fisik dan lelah hati. Tugas kuliah yang semakin banyak ditambah pekerjaan kantor yang menguras fisiknya. Sebenarnya tidak masalah bagi Kinara karena sejak kecil fisiknya sudah terbiasa melakukan apapun. Ibu Diana dan ibu Linda selalu mendidiknya untuk mandiri dan tidak manja. Tapi di tambah lelah hati? Rasanya capek sekali harus menahan semuanya sendiri. Mengenal Arjuna membuat air mata Kinara sering terjatuh. Ah, Kinara tahu ini sudah menjadi resikonya. Ia telah mengambil keputusan ini untuk membantu orang yang di cintainya, sekarang Kinara harus siap menghadapi apapun kedepannya.
Kinara teringat perkataan Arjuna tadi setelah mengantarnya pulang ke kontrakan. Besok malam Arjuna akan mengajaknya pulang ke rumah untuk makan malam dan bertemu dengan orang tuanya. Kinara tidak masalah dengan itu, hanya saja ia sedikit malas bertemu dengan kakak Arjuna.
"Itu dipikirin besok saja deh, besok pagi kuliah setelah itu kerja dan ikut Arjuna ke rumahnya. Ah, semoga tidak ada masalah di kantor.."
Kinara ingat kejadian waktu itu dengan Laura, di tambah ia tidak masuk kerja beberapa hari. Kinara yakin isu tentang pernikahan Arjuna semakin panas.
Kinara memilih untuk tidak memikirkan apapun lagi, ia harus segera tidur untuk menyiapkan fisiknya besok.
Malam berganti pagi begitu cepat, tidak terasa matahari sudah muncul kembali. Kinara yang ada jam kuliah pagi, harus bangun lebih awal untuk memasak, membersihkan kontrakan dan siap-siap menuju kampus.
Kinara beberapa kali melihat ponselnya, karena sejak tadi Amel mengirim pesan untuknya. Amel memintanya untuk datang lebih awal karena dia ingin mendengar cerita Kinara yang tertunda waktu itu. Kinara bertemu Amel sejak semester satu, mereka satu kelas kemudian menjadi sangat dekat. Amel lah yang selama ini membantu Kinara terutama menyangkut perkuliahan.
Kinara segera menyimpan ponselnya di dalam tas dan keluar kontrakan. Kinara yang baru membuka pintu kontrakannya langsung dibuat ternganga dengan apa yang dilihatnya di depan kontrakan. Arjuna sudah berdiri menyender di mobilnya. Bukan setelan jas yang ia kenakan, tapi celana jeans dan kemeja seperti yang biasa anak kuliahan pakai.
"Kenapa sepagi ini sudah di sini?" tanya Kinara sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 7 pagi.
"Melihatmu, memang tidak boleh?"
Astaga, sepagi ini sudah membuat Kinara baper. Oh, hati kuatkanlah, batin Kinara.
"Memangnya tidak masuk kantor?" tanya Kinara.
"Males. Ada Argan yang menghandle semuanya."
"Dasar bos, seenaknya sendiri, apalagi kalau nyuruh-nyuruh, dih ahli sekali," gumam Kinara. Meskipun lirih Arjuna masih bisa mendengarnya.
"Ngomong apa barusan?"
"Aku gak ngomong apa-apa, kok." Kinara tersenyum.
"Naik ke mobil!"
"Tuh kan nyuruh-nyuruh, suka maksa lagi," gumam Kinara.
"Kinar!"
"Iya, aku masuk mobil. Astaga." Kinara masuk ke mobil Arjuna dengan malas.
Kinara dan Arjuna hanya diam di mobil. Kinara masih kesal pada Arjuna dan laki-laki disampingnya itu seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu..kok tumben berpakaian kayak anak kuliahan?"
"Memang kenapa?"
"Gak seperti biasanya, kan biasanya pakai setelan jas," jawab Kinara.
"Auuuh.."
Kinara kaget karena kepalanya membentur dashboard mobil. Arjuna menghentikan mobilnya mendadak, untung saja jalanan sepi. Kinara juga lupa tidak memasang seatbelt. Benar-benar ceroboh.
"Kenapa rem mendadak?" tanya Kinara.
Kinara menoleh, ingin protes kepada Arjuna. Tapi, laki-laki itu justru melihat kesana-kemari seperti mencari sesuatu di sekitar jalan. Kinara ikut mengamati kemana arah mata Arjuna, tapi ia tidak menemukan apapun, hanya jalanan sepi dan beberapa orang berlalu lalang dan Kinara yakin bukan salah satu dari mereka yang Arjuna cari.
"Kamu mencari siapa?" tanya Kinara.
"Aku mencari In...."
"In apa?" tanya Kinara.
Arjuna menoleh, melihat mata Kinara yang penuh tanya. Arjuna menghela napas berat, hampir saja keceplosan.
"Bukan apa-apa." Arjuna kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan.
"Kenapa gak kamu lanjutkan, tadi mau ngomong apa? In In.. itu apa?" Kinara penasaran dengan perkataan Arjuna tadi.
"Diamlah, Kinar. Aku sedang tidak mood membahas sesuatu."
"Kamu yang memulainya," ucap Kinara kesal.
Arjuna kembali menghentikan mobilnya mendadak, membuat kepala Kinara membentur dashboard lagi. Kinara memang ceroboh, ia bahkan belum memakai seatbeltnya. Segera ia pakai benda itu, ia tidak mau kepalanya terbentur lagi.
"Aku tidak ingin berdebat denganmu. Kalau aku bilang tidak ingin membahasnya, diamlah! Bisakan kamu tidak membantah?"
Kinara diam. Ia tidak berani mengatakan apapun lagi. Beginilah Arjuna kalau marah, ia akan menggunakan nada tinggi yang cukup membuat hati Kinara terasa sakit.
Arjuna kembali melajukan mobilnya. Suasana kembali hening. Kinara memalingkan wajahnya ke cendela.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Arjuna.
"Sudah."
"Mau beli sesuatu?"
"Tidak."
"Aku belum sarapan," ucap Arjuna.
"Aku ada kuliah jam 8."
"Sarapan di kampus saja," ucap Arjuna yang tidak mendapat respon dari Kinara.
Arjuna menambah kecepatan laju mobilnya agar segera sampai di kampus Kinara.
Kinara dan Arjuna keluar dari mobil. Kuliah hari ini kelasnya di lantai 1, jadi Kinara tidak perlu terburu-buru menuju kelas, lagi pula masih ada waktu 10 menit lagi.
"Kamu jadi sarapan di sini?" tanya Kinara.
"Jadi."
Kinara dan Arjuna berjalan masuk ke area kampus. Kinara merasa risih karena dari tadi banyak mata yang melihat kearahnya, lebih tepatnya ke arah Arjuna. Mungkin saja mereka heran, bagaimana mungkin seorang Kirana berjalan dengan makhluk hidup setampan Arjuna. Ah, sungguh menyebalkan.
Kinara sengaja mempercepat laju berjalannya agar jauh dari Arjuna, tapi Arjuna justru menarik tangan Kinara, menyebabkan Kinara harus mundur lagi sejajar dengan tubuh Arjuna. Kinara melotot seakan protes dengan gerakan tiba-tiba Arjuna tapi laki-laki itu tidak menggubris dan menggenggam tangannya erat.
"Kenapa?" tanya Arjuna.
"Lepas."
"Gak bisa!" ucap Arjuna semakin erat menggenggam tangan Kinara.
"Tapi---"
"Arjuna?"
Kinara dan Arjuna menoleh dan melihat pak Wira tersenyum kemudian berjalan ke arahnya dan Arjuna. Kinara langsung melepas genggaman tangan Arjuna.
"Selamat pagi, pak Wira," sapa Arjuna sambil bersalaman dengan pak Wira.
Kinara melakukan hal yang sama, ia menyapa pak Wira dan bersalaman dengan dosennya itu. Kinara tidak mengerti, bagaimana Arjuna mengenal pak Wira?
"Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu, Jun?" tanya pak Wira.
"Baik. Bapak sendiri bagaimana?" tanya Arjuna.
"Saya baik, tapi kesehatan saya menurun beberapa bulan belakangan, jadi saya sering cuti."
"Semoga bapak selalu diberi kesehatan."
"Terimakasih, Jun. Kamu bareng Kinara?" tanya pak Wira.
"Iya, pak."
"Pak Wira kenal dengan Arjuna?" tanya Kinara.
"Iya, Kinara. Arjuna ini mahasiswa di sini, dia mengambil jurusan ekonomi juga," jawab pak Wira.
"Hah?" Kinara ternganga mendengar jawaban pak Wira, ia reflek menatap Arjuna.
"Arjuna ambil Double Degree. Salah satunya di kampus kita."
Kinara masih ternganga. Setahu Kinara Arjuna sudah lulus kuliah dan langsung memimpin anak perusahaan milik papanya, ternyata dia kuliah di dua tempat yang berbeda.
"Bagaimana kuliahmu di kampus satunya, Jun?" tanya pak Wira.
"Sudah lulus, pak."
"Syukurlah. Kalau begitu kamu harus menyelesaikan skripsimu dikampus ini juga."
"Baik, pak." jawab Arjuna.
"Pak wira, ada yang ingin saya katakan." Arya tiba-tiba muncul. Napasnya memburu karena terburu-buru berlari setelah melihat pak Wira.
"Loh Kinara, kamu disini?" tanya Arya.
"Iya, pak. Kebetulan lewat," jawab Kinara.
Arya menatap Arjuna begitupula sebaliknya. Kinara teringat dengan kejadian waktu di kantin rumah sakit. Suasana yang sama, aneh dan canggung.
"Eh, Arya, kenalin ini Arjuna, mahasiswa disini juga. Dia mahasiswa berbakat seperti kamu," ucap pak Wira.
"Kami sudah berkenalan, pak," ucap Arya.
Kinara masih ternganga. Tiba-tiba ia merasakan hawa panas di antara kedua laki-laki itu. Ah, Kinara lupa kan kalau ada kelas jam 8!