13. Permintaan Maaf

1157 Words
Berbagai asumsi Kinara pikirkan. Salah satu asumsinya adalah, kemungkinan wanita itu pernah dicintai Arjuna kemudian menghianatinya. Hanya saja Argan menutup mulutnya rapat-rapat dan untuk bertanya pada Arjuna juga tidak mungkin. Dia pasti marah jika Kinara menanyakan masa lalunya. Lalu haruskah ia bertanya pada Laura? Sejujurnya, Kinara tidak mau berurusan dengan wanita itu lagi. "Kinara?" "Ah, iya. Maaf, pak. Aku melamun." "Tolong pikirkan baik-baik yang aku bilang tadi. Sebisa mungkin jangan terbawa suasana dan terlena dengan semua sikap manis Arjuna. Sebenarnya, aku juga khawatir kamu yang akan tersakiti. Jadi---" "Tenang saja, pak. Aku akan belajar untuk tidak baper dengan sikap Arjuna." Kinara tidak tahu apa hatinya kuat, tapi ia harus berusaha. "Aku harap begitu.. udah ya jangan sedih, kamu harus kembali semangat." "Makasih pak Argan," ucap Kinara tulus. "Sama-sama, Kinara." "Argan.." Argan menoleh, seseorang baru saja memanggilnya. Sementara Kinara yang mengenal suara itu hanya mematung di tempatnya duduk. Seseorang yang dihindarinya malah harus bertemu di tempat ini. Kinara menoleh dan melihat Arjuna menuju tempatnya duduk. "Lo ngapain disini?" "Beli sesuatu dan gak sengaja ketemu Kinara," jawab Argan. "Oh." Kinara hanya diam. Ia tidak berniat melihat atau berbicara pada Arjuna. "Gue harus pulang, Jun." "Baiklah," sahut Arjuna. "Kinara, aku pulang dulu ya," ucap Argan. "Baik, pak. Makasih." Argan berjalan menuju mobilnya, meninggalkan Kinara dan Arjuna di tempat itu. Suasana berubah jadi hening. "Maaf. Aku harus pulang." "Tunggu, Kinar." "Maaf. Tidak ada yang perlu kita bicarakan," ucap Kinara. Kinara hendak pergi namun tangannya di tarik oleh Arjuna dan membawanya menuju mobil. "Arjuna, berhenti!" "Kita harus bicara." Netra Arjuna terus menatap Kinara, membuat nyali wanita di depannya itu menciut. "Bi..bicara apa? Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan." Sungguh, Kinara malas berbicara dengan Arjuna. Ia tidak mau sakit hati lagi mendengar perkataan kasar Arjuna. Tanpa menunggu persetujuan Kinara, Arjuna menarik dan mendorong Kinara masuk ke dalam mobilnya. Awalnya Kinara memberontak tapi kemudian ia menuruti gerakan tangan Arjuna. Ia merasa sangat kesal dengan sikap Arjuna yang seenaknya sendiri. Suasana di mobil kembali hening, tidak ada suara dari Arjuna ataupun Kinara. Keduanya diam dengan aktivitas masing-masing. Kinara memilih untuk tidak peduli dan menatap pemandangan dari cendela mobil. "Kinar?" Kinara mendengar Arjuna, tapi malas merespon panggilannya. Ia pura-pura saja tidak mendengar dan memilih untuk tetap menghadap cendela. "Kamu sengaja tidak merespon?" tanya Arjuna. "Kamu ngomong sama aku?" tanya Kinara tanpa menoleh pada Arjuna. "Ngomong sama patung," jawab Arjuna kesal. Kinara menoleh pada Arjuna dan menatapnya kesal. Arjuna hanya tersenyum tipis melihat ekspresi kesal Kinara. "Kamu aneh ya, ngomong sama patung," ejek Kinara. "Kamu baru saja bilang kalau calon suamimu aneh?" Kinara hanya mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Arjuna. Ia berusaha mati-matian menahan dirinya agar tidak terbuai dengan perkataan Arjuna. Laki-laki disampingnya itu memang menyebalkan, entah kenapa hanya dengan melihat wajah tampannya membuat jantung Kinara berdebar kembali. Sial. "Kita makan dulu," ucap Arjuna. Kinara diam, ia ikut saja kemana Arjuna akan membawanya. Kinara tidak peduli, ia hanya ingin tahu kemana arah pembicaraan Arjuna nanti, Kinara harap Arjuna membatalkan pernikahan mereka. Setelah sampai di tempat makan, Kinara dan Arjuna langsung duduk di kursi dan memesan makanan. "Kamu mau ngomong apa?" tanya Kinara. "Pernikahan kita." Kinara menaikkan sebelah alisnya. Semoga dugaannya benar, Arjuna meminta untuk membatalkan pernikahan. "Kamu mau pernikahan kita---" "Persiapan pernikahan kita sudah selesai, tinggal menunggu hari," sahut Arjuna. "Apa?" tanya Kinara. Kinara tidak menyangka Arjuna tetap melanjutkan pernikahan ini. Kinara hanya menatap Arjuna kemudian mendengus kesal. "Kenapa?" tanya Arjuna. "Aku kira kamu akan membatalkan pernikahan ini." "Kenapa berpikir seperti itu?" tanya Arjuna. "Kita baru saja bertengkar. Kamu bahkan... sudah keterlaluan tadi malam." Kinara kembali mengingat betapa kasarnya Arjuna tadi malam. "Maaf, aku tidak bisa mengontrol emosiku tadi malam," ucap Arjuna. . "Lalu?" tanya Kinara. "Ya, maaf soal tadi malam. Kita tetap melanjutkan pernikahan ini," ucap Arjuna. Kinara ternganga. Hanya begitu? Apa Arjuna lupa, tadi malam dia telah menuduhnya, menciumnya kasar dan meninggalkannya begitu saja. "Aku belum memafkan kamu, ya." Jujur saja Kinara masih kesal. "Oke. Kamu mau apa?" Kesempatan. Kinara akan menanyakan 'wanita itu' pada Arjuna. "Tadi malam, waktu kamu marah, kamu bilang kalau aku sama saja dengan 'wanita itu'. Katakan padaku, siapa dia?" Arjuna tampak berpikir. Ia seperti bimbang ingin mengatakan sesuatu, sementara Kinara menunggu jawaban Arjuna. "Bukan siapa-siapa. Kamu tidak perlu tahu." "Tapi aku ingin---" "Kinar stop! Aku tidak ingin membahasnya. Jangan memaksaku!" "Oke, baiklah." Kinara memilih mundur, ia melihat kesedihan dan kekecewaan di wajah Arjuna saat membahas wanita itu. Sepertinya Kinara harus mencari tahu sendiri. Beberapa saat setelah itu hanya ada keheningan diantara keduanya. Kinara dan Arjuna diam. Merasa risih, akhirnya Kinara membuka pembicaraan lebih dulu. "Baiklah, kita akan melanjutkan pernikahan ini. Tapi ingat Arjuna, jangan bersikap manis lagi padaku." Kinara menghindari tatapan Arjuna dengan mengalihkan tatapannya ke arah lain. Bahkan ia sejak tadi tidak lagi menggunakan embel-embel 'pak' pada nama Arjuna. "Lalu, kamu ingin aku bersikap kasar?" "Bukan begitu maksudku---" "Dengar, Kinar. Disini aku yang menentukan, karena kamu sudah mendapat hakmu tinggal aku yang meminta hakku. Terserah aku mau bersikap manis atau kasar padamu, itu keputusanku. Dan perjanjiannya tetap sama No Love each other. Understand?" Rasanya Kinara ingin menjambak rambut Arjuna dengan kencang untuk melampiaskan kekesalannya. Tapi apa daya, ini sudah menjadi resiko atas keputusan yang diambilnya waktu itu. Ia hanya cukup menjalani ini semua dengan kuat dan tidak membawa perasaan dalam keadaan apapun. Sepertinya sulit mengingat Arjuna tipikal laki-laki yang seenaknya sendiri tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Benar-benar double sial! "Terserah kamu, Arjuna. Aku hanya cukup mengikuti permainan konyolmu," ucap Kinara. Kinara melihat Arjuna tersenyum menyeringai, membuat Kinara menatap jengah laki-laki itu. "Kinar?" "Apa?" Kinara menghentikan aktivitas makannya dan mendongak menatap Arjuna. Arjuna tersenyum dan menyentuh bibir Kinara untuk membuang satu butir nasi yang menempel. Kinara hampir saja menyentak tangan Arjuna namun tiba-tiba tangannya terasa kaku untuk digerakkan. Pesona mata Arjuna membuat Kinara kehilangan akal. "Makan pelan-pelan," ucap Arjuna. "Iya." Kinara sungguh kesal dengan dirinya yang mudah terbuai dengan pesona Arjuna. "Kamu gampang baper, ya?" Arjuna tersenyum mengejek. "Makanya jangan dibaperin terus!" ketus Kinara. Kinara melihat Arjuna tertawa. Astaga seandainya Kinara lebih kuat dari Arjuna, rasanya ingin melemparkan tubuh itu ke laut dalam. Sekesal itu Kinara pada Arjuna. "Mingkem, Jun. Kamu tidak takut lalat masuk mulutmu, hah?" Arjuna berhenti tertawa dan menatap tajam Kinara yang duduk di depannya. Kinara harus menelan ludahnya berkali-kali karena tatapan itu selalu sukses membuat nyalinya menciut. "Bilang apa tadi?" "Lupa," jawab Kinara asal. Kinara melihat Arjuna yang menahan emosi. Kepuasan tersendiri bagi Kinara membuat Arjuna kesal. "Ayo, pulang," ajak Arjuna. "Oke." Kinara berdiri dan berjalan menuju mobil Arjuna. Saat hendak membuka pintu mobil, pinggang Kinara ditarik oleh Arjuna. Laki-laki itu membuat tubuh Kinara menempel di tubuhnya. Tangan kekarnya melingkar di pinggang Kinara agar tidak memberontak. "Arjuna, kamu mau ngapain---" Kinara diam ketika bibir Arjuna mendekat ke telinganya dan membisikkan sesuatu. "Aku suka warna lipstikmu, membuatku bergairah." Kalimat Arjuna berhenti, berganti dengan gigitan pelan di daun telinga Kinara. Arjuna melepaskan tangannya dari pinggang Kinara dan berjalan menuju kursi kemudi, meninggalkan Kinara yang masih diam mematung. "Jangan baper!" teriak Arjuna. "Arjuna kamu---" "Cepat masuk, Kinar." "Menyebalkan!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD