Kinara terkejut melihat mobil Arjuna tepat di depan kontrakannya. Seingatnya, Arjuna tidak mengabari kalau mau berkunjung.
"Pak Arjuna?"
Kinara mendekat ke mobil Arjuna, dan benar saja laki-laki itu segera keluar dari mobil dengan ekspresi datarnya. Kinara sejak tadi menelan ludahnya kasar, ia takut Arjuna tahu kalau sebelumnya ia pulang dengan Arya. Meskipun mereka tidak memiliki rasa diantara keduanya, terutama Arjuna, laki-laki itu terkadang bersikap possesif pada Kinara.
"Pak Arjuna kok tidak bilang dulu mau berkunjung?"
Arjuna hanya diam, kemudian menarik tangan Kinara menuju ke dalam kontrakan.
"Pak?"
"Jadi, aku harus bilang dulu kalau mau kesini, biar kamu gak ketahuan jalan dengan laki-laki lain?"
Benar dugaan Kinara, Arjuna tahu ia diantar pulang oleh Arya. Tiba-tiba Kinara kesal. Kenapa harus terlihat marah seperti itu? Toh, ia dan Arjuna tidak memiliki perasaan apapun dan pernikahannya nanti hanyalah pernikahan palsu. Dan bukankah di surat perjanjian tercantum kalau dilarang mengurusi privasi masing-masing? Ah, Kinara baru sadar kalau calon suami pura-puranya itu terkadang bersikap seenaknya sendiri.
"Jawab, Kinar!"
"Ah, iya, maaf." Kinara sedikit menunduk, ia takut dengan Arjuna yang tiba-tiba berbicara dengan nada tinggi.
"Kamu ngapain sama dosenmu itu?" tanya Arjuna.
"Dia mengantarku pulang," jawab Kinara.
"Kamu dekat sama dia?" Arjuna duduk di sofa, tatapannya tidak beralih pada wanita yang duduk sampingnya.
"Gak kok, kebetulan saja tadi dia nawarin pulang bareng."
"Gak dekat tapi pulang dan makan bareng?" tanya Arjuna.
Kinara lagi-lagi menelan ludahnya kasar. Bagaimana Arjuna tahu? Apa dia punya mata dimana-mana? Ah, rasanya Kinara ingin memberontak, kenapa Arjuna harus semarah itu?
"Pak Arjuna tahu? Maaf, dia mengajakku makan dan bilang akan mempertimbangkan nilaiku di mata kuliahnya." Kinara menunduk.
"Oh, jadi kalau dia mengajakmu tidur dengan iming-iming akan memberimu nilai bagus, kamu akan menurutinya?"
Hati Kinara mencelos, rasanya sakit Arjuna mengatakan itu. Arjuna pikir harga dirinya serendah itu? Arjuna benar-benar keterlaluan. Kinara masih menunduk, bulir air matanya sudah terjatuh, namun sekuat tenaga ia tahan agar isakannya tidak terdengar.
"Kenapa? Aku benar, ya?"
Kinara meremas roknya, ia tahan semua emosi yang sebentar lagi mungkin akan meledak.
"Kinar, kamu---"
Plaaak
Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Arjuna. Ya, Kinara baru saja menampar laki-laki di depannya itu. Ia tidak tahan dengan perkataan Arjuna yang membuat hatinya terluka. Meskipun Kinara tahu ia hanya orang miskin yatim piatu, bukan berarti harga dirinya serendah itu. Ibu panti memberikan pelajaran moral yang baik pada Kinara. Sejak kecil Kinara di didik untuk menjaga dirinya dengan baik. Dan sekarang, laki-laki di depannya ini yang bahkan belum mengenal baik dirinya, dengan seenaknya merendahkan harga dirinya.
"Jangan pernah menghinaku seperti itu. Jika tidak tahu kejadiannya, jangan berasumsi sendiri. Kamu sudah menyakiti hatiku, Arjuna." Kinara menatap tajam mata hazel Arjuna.
"Benarkah?"
Arjuna tersenyum mengejek. Ia juga mendekatkan tubuhnya pada Kinara, membuat wanita itu menggeser tubuhnya kebelakang. Arjuna mendorong tubuh Kinara dan menindihnya. Ia mengunci kedua tangan Kinara disisi kanan dan kiri kepalanya.
"Arjuna, lepas!"
Kinara berusaha melepas tangannya dari cengkeraman Arjuna tapi sia-sia karena tenaganya tidak cukup besar untuk melawan tubuh kekar Arjuna.
"Bagian tubuh mana yang sudah disentuhnya?" tanya Arjuna.
"b******k! Jaga bicaramu! Aku tidak pernah disentuhnya!" Kinara terus memberontak.
"Benarkah?"
"Terserahmu. Lepaskan Arjuna!"
Bukannya melepaskan Kinara, Arjuna justru mempererat cengkeramannya pada kedua tangan Kinara. Dengan kasar Arjuna mencium bibir Kinara. Sementara Kinara terus menolak dengan menutup rapat bibirnya. Arjuna geram dengan sikap Kinara, ia gigit bibir Kinara agar terbuka dan menciumnya kembali dengan kasar. Kinara tidak bisa melawan Arjuna, tubuhnya terlalu lemas dan matanya perih mengeluarkan banyak air mata. Arjuna selesai dengan bibir Kinara beralih menenggelamkan wajahnya di leher Kinara. Beberapa menit Arjuna melakukan aktifitas disana sampai ia akhirnya berhenti dan menatap Kinara yang pasrah sambil menangis.
"Sialan! Kamu sama saja dengan wanita itu!"
Arjuna melepaskan tangannya dari tangan Kinara, berdiri dan pergi meninggalkan Kinara tanpa berkata apapun lagi.
Kinara masih terus menangis, ia meringkuk di sofa dan memeluk tubuhnya sendiri.
"Kamu keterlaluan, Arjuna! Ibu panti, hati Kinar sakit, hiks, hiks."
Kinara terus menangis dan akhirnya tertidur di sofa.
*****
Kinara membuka mata perlahan, ia merasakan sakit di mata dan tubuhnya. Efek menangis terlalu lama membuat matanya sembab dan sakit. Kinara melihat penampilannya yang begitu berantakan, hatinya terasa sakit kembali mengingat kejadian tadi malam. Sungguh di luar dugaan, ia bertengkar dengan Arjuna seperti itu, padahal pernikahan mereka tinggal menghitung hari. Kinara tidak tahu harus berbuat apa setelah ini. Jika Arjuna membatalkan pernikahannya, ia akan senang hati menyetujuinya.
Kinara beranjak dari sofa dan menuju kamar mandi. Ia harus membersihkan dirinya dan membeli sarapan. Selesai mandi dan membersihkan diri, Kinara pergi ke warung untuk membeli makan.
Hari ini hari minggu, Kinara libur kerja dan kuliah, ia bisa sedikit mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
Sebelum pulang, Kinara bejalan ke minimarket terdekat untuk membeli cemilan dan minum.
"Kinara?"
Kinara menoleh dan melihat laki-laki berkulit putih dan tinggi 170 cm sedang menatapnya. Kinara celingak-celinguk mencari seseorang disekitar laki-laki itu.
"Mencari Arjuna?" tanya Argan.
Kinara menganguk. Matanya melihat sekitar tapi tidak menemukan sosok Arjuna.
"Aku sendiri, Kinara."
"Oh." Kinara bernapas lega, untuk saat ini ia tidak ingin bertemu Arjuna. Kinara masih sakit hati mengingat perkataan Arjuna tadi malam.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Argan.
"Iya, pak."
"Yakin? Matamu sembab, kamu habis nangis?" tanya Argan lagi.
Kinara mengangguk. Ia tidak mungkin bohong, matanya memang masih sembab karena terlalu banyak air mata yang keluar.
"Karena Arjuna?"
Lagi-lagi Kinara mengangguk. Argan tampak menghela napas kemudian mengambil keranjang belanja Kinara dan di bawanya ke kasir.
"Tunggu aku di luar, biar ku bayar belanjaanmu," ucap Argan.
Kinara menurut. Ia segera keluar minimarket dan menunggu Argan di kursi teras minimarket.
"Ini punya kamu." Argan memberikan tas belanjaan pada Kinara.
"Makasih, pak. Jadi ngrepotin."
"Gakpapa, Kinara. Kamu ada masalah dengan Arjuna?"
Kinara mengangguk. Ingatannya tentang perlakuan kasar Arjuna tadi malam terngiang-ngiang di otaknya.
"Apa yang sudah Arjuna lakukan?" tanya Argan.
"Aku tidak mengerti dengan sikap Arjuna. Dia sering bersikap manis padaku, tapi dia bilang tidak menyukaiku. Aku tahu perjanjiannya memang dilarang untuk saling jatuh cinta. Jika memang begitu, seharusnya dia jangan bersikap manis seperti itu. Apa aku salah, kalau aku kemudian punya perasaan padanya?" tanya Kinara.
"Maaf, Kinara. Arjuna memang seperti itu terhadap wanita. Dia bisa bersikap lembut dan manis tapi juga bisa bersikap kasar."
"Aku harap kamu tidak terbawa suasana dan memiliki perasaan lebih karena Arjuna itu susah jatuh cinta setelah..."
Kinara menaikkan sebelah alisnya karena Argan menghentikan perkataannya, seakan tidak ingin Kinara tahu lanjutannya.
"Apa itu karena seorang wanita? Wanita yang sama seperti yang dikatakan Laura waktu itu dan dikatakan Arjuna tadi malam?" tanya Kinara.
"Apa yang dikatakan Arjuna?"
"Tadi malam, aku di antar dosenku pulang. Arjuna tahu dan marah. Dia berkata kasar dan menciumku paksa. Sampai akhirnya dia bilang, aku sama saja dengan 'wanita itu'. Jadi, siapa wanita itu?" Kinara penasaran.
"Kurasa belum saatnya kamu tahu. Dan aku tidak berhak untuk mengatakannya padamu."
Sudah Kinara duga, Argan mengetahui semua perjalanan hidup Arjuna, termasuk wanita yang dikatakan Arjuna tadi malam.
Sebenarnya siapa wanita itu?