11. Makan dengan Arya

1070 Words
Kinara berlari menuju kelas mata kuliah ekonomi industri yang akan dimulai pukul 3 sore. Masih ada sisa waktu 5 menit untuk sampai di tempat duduknya dan tidak terlambat. Kinara memang mewanti-wanti dirinya agar tidak terlambat di mata kuliah ini, karena dosen yang mengajar adalah pak Wira, dosen killer selain Arya yang juga ditakuti para mahasiswa. Bedanya dengan Arya, dosen ini sudah berumur 49 tahun. "Kinar, sini!" Kinara melihat Amel sudah duduk manis di kursi. Kinara segera menghampiri Amel dengan napas masih memburu. Ia sengaja lari menuju kelasnya yang terletak di lantai tiga agar tidak terlambat. "Hampir saja," ucap Kinara. "Tumben lo datangnya mepet, lo sibuk apa, sih?" Mumpung dosen belum datang, Amel masih bisa ngobrol dengan Kinara. "Gue mau cerita, tapi--" "Cerita cepetan, pak dosen belum masuk, telat mungkin." Amel begitu semangat sampai memajukan wajahnya mendekat ke arah Kinara. "Sebenarnya gue---" Kinara tidak bisa melanjutkan bicaranya karena dosen sudah masuk ke dalam kelas. Kinara ingin bercerita pada Amel tentang hubungannya dengan Arjuna dan perjanjian nikah kontrak itu. Saat ini Kinara butuh cerita dan meluapkan segala yang dirasakannya. Sebenarnya Kinara masih kesal dengan perkataan Arjuna kemarin malam. Tapi apa daya, hidup terus berlanjut, ia harus menata hatinya dan mengabaikan semua perlakuan manis Arjuna. "Selamat sore semuanya," sapa dosen masuk ke dalam ruangan. "Kok pak Arya?" tanya Amel. Kinara hanya mengangkat bahu tidak tahu. Tidak sengaja tatapan Arya bertemu dengan tatapan Kinara, Arya tersenyum tipis kemudian mengalihkan tatapannya pada mahasiswa dalam ruangan itu. Kinara mengernyit kemudian memilih tidak peduli. "Pak Wira ada urusan, dia meminta saya untuk menggantikan mengajar. Peraturan selama di kelas saya tetap sama, jadi saya harap kalian tertib." Sebagian mahasiswa terlihat senang, ada pula yang mengeluh karena Arya lebih killer dan tertip daripada pak Wira. Ruang gerak mereka di kelas sangat dibatasi. Kelas berjalan dengan tertib, tidak ada yang berani mengobrol dengan mahasiswa lain atau tidur karena nilai D terlalu ditakuti semua mahasiswa. "Baiklah, terimakasih untuk hari ini. Tetap semangat belajar, kita bertemu lagi di mata kuliah saya. Tugas makalah bisa dikumpulkan di pak Wira minggu depan. Kelas saya tutup. Silahkan, kalian bisa pulang." Mahasiswa bersorak dan bergegas keluar kelas. Ada beberapa yang menghampiri Arya untuk sekedar bertanya sesuatu atau hanya menarik perhatiannya. Di lihat dari manapun Arya memang tampan, apalagi pesonanya sebagai dosen muda jelas membuat para wanita menjerit. "Gue balik dulu ya, Kin. Ditunggu papa, daritadi telepon terus. Bye." Amel melambai pada Kinara dan segera berlari keluar kelas. Amel tipikal wanita yang penurut dan disiplin. Dia selalu melakukan yang terbaik untuk membuat bangga orang tuanya. Saat hendak keluar kelas, tiba-tiba ponsel Kinara berbunyi, panggilan dari ibu Linda. Ia berhenti dan mengangkat telepon itu di sudut ruang kelas. Beberapa menit kemudian percakapan selesai, Kinara segera menutup ponselnya. "Kinara?" Kinara mendongak dan melihat Arya masih berada di dalam kelas. Bahkan ia tidak sadar hanya ada dirinya dan Arya disana. "Ah, maaf, pak. Saya dapat telepon dari ibu panti. Kalau begitu saya permisi." "Tunggu." Kinara menoleh dan melihat Arya menghampirinya, seketika membuat Kinara sedikit takut. "Mau pulang?" "Iya, pak. Sudah tidak ada kelas," ucap Kinara jujur. "Oh, baiklah. Em.. mau makan sama saya? Sebenarnya kemarin waktu di kantin mau saya ajak makan, tapi kamu pergi dengan temanmu. Jadi, saya pikir hari ini saya bisa ajak kamu makan." Kinara tampak berpikir. Aneh saja rasanya dosen muda killer ini memintanya untuk makan bersama. Apa Kinara salah dengar? Sepertinya tidak, dosennya itu memang mengajaknya makan. "Saya akan pikirkan kembali untuk memberimu dan temanmu nilai D di mata kuliah saya." Mata Kinara berbinar, ia segera mengangguk setuju dengan ajakan Arya. Selain nilainya tidak jadi D, perutnya juga terasa lapar. Lumayan sih makan gratis, ya begitulah anak kontrakan. Kinara tersenyum sumringah. "Kafe Barista?" "Boleh, pak." "Kamu ke parkiran dulu ya, saya bereskan berkas-berkas saya di ruang dosen," ucap Arya. "Oke, pak." Kinara mengacungkan jempolnya dan berjalan menuju parkiran. Sementara Arya masih berdiri ditempat dengan senyuman tipisnya. ***** Kinara sudah berada di kafe Barista dan duduk di depan Arya. Kinara tadi menunggu Arya agak jauh dari kampusnya, bukan apa-apa hanya saja ia takut terjadi kesalahpahaman jika ada yang melihat mereka pulang bersama. Apalagi penggemar Arya tidak main-main, banyak mahasiswi dan dosen yang menyukai laki-laki berkulit putih dengan tinggi 175 cm itu. "Jadi, pak Arya lulus S2 langsung ngajar di sini ya?" "Gak langsung sih, saya kerja dulu diperusahaan swasta, lalu melamar kerja disini." "Oh," sahut Kinara. "Kamu tinggal di panti asuhan?" tanya Arya. "Iya, pak. Tapi karena lokasinya jauh, saya ngontrak disini," jawab Kinara. "Bagus dong, kamu punya semangat untuk belajar," sahut Arya. "Kalau saya selalu semangat belajar biar jadi orang sukses. Tanggung jawab saya besar pak, saya harus bisa menyemangati adik-adik saya di panti dan membantu sekolah mereka." "Prinsip yang bagus, Kinara." "Makasih, pak." Kinara dan Arya ngobrol sampai petang. Tanpa terasa obrolan keduanya mengalir begitu saja, sehingga tidak ada kecanggungan diantara keduanya. Arya memaksa untuk mengantar Kinara pulang, padahal Kinara sudah menolak secara halus. "Makasih, pak. Maaf ngrepotin," ucap Kinara saat keluar dari mobil dan Arya mengikuti Kinara keluar dari mobilnya juga. Mereka ngobrol sebentar di depan kontrakan Kinara. "Sama-sama. Ngobrol sama kamu asik kok, kamu lucu." Arya tersenyum. "Hah? Hahaha, saya jadi malu, pak." Kinara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Kalau di luar pakai aku-kamu saja ya, kalau di kampus tetap pakai bahasa formal." "Baik, pak." "Pak Arya juga beda ya kalau di luar, gak galak dan nakutin. Hahaha." "Aku nakutin?" tanya Arya. "Tentu saja, semua mahasiswa takut dapat nilai D." "Aku menerapkan itu biar semua tertib, kalau ada yang ngobrol dan tidur, mereka tidak akan konsentrasi dengan apa yang kusampaikan," jelas Arya. "Benar juga, tapi banyak juga yang suka sama pak Arya." "Benarkah?" Arya mulai tertarik dengan arah pembicaraan Kinara. "Ya suka gitu, pada ngefans," ucap Kinara. "Kamu juga?" "Gak sih, pak. Biasa aja, hahaha." Kinara tertawa diikuti oleh tawa Arya. "Yasudah, aku pulang. Jangan lupa tugas makalah kamu, kumpulkan segera." "Baik, pak." "Selamat malam, Kinara." Arya melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil. "Selamat malam, pak. Terimakasih." Kinara melihat mobil Arya semakin menghilang. Ia masih tidak percaya dengan sikap Arya yang jauh berbeda dari Arya saat mengajar. Kinara senang berbicara dengan dosennya itu. Arya orang yang baik dan ramah, itu menurut Kinara. "Ah, beruntung sekali hari ini. Gak jadi dapat nilai D, udah gitu perut kenyang, bisa hemat, hahaha." Kinara melangkah menuju kontrakannya. Saat hendak membuka pintu, ia di kagetkan oleh bunyi klakson mobil yang memekik di telinganya. Kinara langsung menoleh dan melihat mobil Arjuna berada di depannya. "Pak Arjuna?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD