Arjuna terus saja menarik tangan Kinara meninggalkan kantin. Kinara tidak tahu kenapa Arjuna sepertinya kesal dan meninggalkan kantin sebelum membeli makan. Perut Kinara semakin perih, badannya juga lemas kurang energi.
"Pak, berhenti," teriak Kinara.
Bukannya berhenti, Arjuna terus menarik tangan Kinara sampai di parkiran dan meminta calon istrinya itu untuk masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju dengan kecepatan kencang membuat Kinara merasa takut. Ia takut mati mendadak karena kelaparan atau mati mendadak karena kelalaian pengemudi mobil. Selama di perjalanan Kinara terus merapalkan doa sambil menahan perih di perutnya.
"Pak, Bisakah kita berhenti, peru---Akh." Kinara berteriak kaget karena Arjuna mempercepat laju mobilnya. Terpaksa Kinara menahan sakit perutnya sampai mobil Arjuna berhenti.
Kinara merasa mual dan pusing, ditambah sakit di perutnya, rasanya bercampur jadi satu. Mobil Arjuna tiba-tiba berhenti di depan minimarket. Arjuna keluar dan meminta Kinara untuk keluar juga. Dengan hati-hati Kinara keluar dari mobil sambil meringis dan memegang perutnya. Kinara memutuskan turun dari mobil untuk membeli beberapa cemilan, ia harap cemilan bisa membantu mengurangi rasa lapar dan nyeri di perutnya.
Baru berjalan lima langkah, pandangan Kinara semakin kabur, tubuhnya lemas kemudian tidak terlihat apapun lagi. Kinara pingsan.
Arjuna segera menghampiri Kinara, menggendong tubuh calon istrinya itu dan memasukkannya ke dalam mobil.
*****
Kinara membuka matanya perlahan. Tubuhnya lemas, kepalanya pusing dan perutnya terasa nyeri. Kinara mengerjapkan matanya berkali-kali dan melihat suasana kamar yang asing baginya. Benar saja, ini bukan kamarnya. Apa mungkin kamar Arjuna? Atau kamar siapa? Seingat Kinara, dirinya pingsan saat ingin masuk ke minimarket.
"Udah bangun?"
Suara bariton itu mengagetkan Kinara. Ia melihat Arjuna menghampiri dan membawa semangkuk bubur hangat.
"Aku pingsan?" tanya Kinara.
"Iya."
"Maaf." Kinara menunduk, kemudian ia menyadari ada yang berbeda dari tubuhnya. Kemana perginya celana jeans dan kemeja dusty pink yang ia pakai sebelumnya? Kenapa berganti dengan piyama? Kinara mendongak dan menatap tajam Arjuna.
"Kenapa bajuku ganti?"
"Bajumu kotor," jawab Arjuna.
"Si.. siapa yang mengganti?" tanya Kinara gugup.
"Siapa lagi, hanya ada aku dan kamu disini."
Kinara melotot dan memeluk tubuhnya sendiri. Jika benar Arjuna yang menggantinya, berati Arjuna sudah melihat tubuhnya tanpa sehelai benang. Astaga, Kinara ingin berteriak sekencang-kencangnya karena malu.
"Kenapa?"
"b******k!" Kinara mengambil bantal dan memukul Arjuna.
"Kamu calon istriku, bukannya tidak masalah aku melihat tubuhmu?"
"Itu masalah! Kita belum menikah, Lagipula, pernikahan kita hanya pura-pura," jawab Kinara.
"Makan buburnya. Perutmu sakit karena belum makan, kan?" Arjuna menyerahkan semangkuk bubur pada Kinara. Perut Kinara memang sakit, tapi ia masih ingin mendengar jawaban Arjuna, ada yang harus ia tanyakan lagi.
"Salahmu! di kantin tadi aku mau makan tapi malah kamu tarik keluar."
"Aku gak mood makan disana," ucap Arjuna.
"Hah? Karena ada pak Arya?" Kinara menatap menyelidik pada Arjuna.
"Bukan."
"Lalu?"
"Bisa diam gak! Kamu gak perlu tahu semua alasan dari tindakanku!" Arjuna marah dan berjalan menuju sofa.
Kinara ternganga. Kenapa harus marah seperti itu? Kinara malas untuk bertanya lagi. Segera ia habiskan bubur yang ada di tangannya. Arjuna menghampiri Kinara dan memberikan obat untuk di minum tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kinara paham, mungkin saja Arjuna memang masih kesal padanya. Kinara memutuskan untuk berbaring kembali setelah obat sudah ia minum.
Saat Kinara akan memejamkan mata, sebuah tangan melingkar dipinggangnya yang ramping. Kinara terkejut, namun tidak bisa berkata apapun karena tangan itu semakin erat memeluknya, ia juga bisa merasakan hembusan napas dari belakang yang membuat bulu kuduknya merinding.
"Pak?"
"Hm."
"Lepas. Aku mau tidur." Jujur saja Kinara risih dengan perlakuan Arjuna saat ini. Ia belum pernah tidur berdua seranjang dengan laki-laki dewasa, di tambah dengan pelukan yang membuat Kinara berdebar-debar tidak karuan.
"Kamu mau tanya sesuatu?"
Bukannya melepas pelukan, Arjuna justru semakin menenggelamkan wajahnya di tengkuk Kinara, membuat Kinara semakin merinding.
"Iya."
"Apa?"
"Ini di mana?" tanya Kinara.
"Apartemenku. Hanya aku pakai kalau malas pulang ke rumah."
"Oh. Lalu bajuku?"
"Kenapa?"
"Aku serius! siapa yang menggantinya?"
"Bik Almah. Dia yang sering kesini membersihkan apartemen ini."
Kinara bersyukur bukan Arjuna yang mengganti bajunya. Ah, betapa malunya Kinara kalau Arjuna yang melakukannya.
"Pak?"
"Iya?"
"Boleh aku tanya satu lagi?"
"Hm."
"Kenapa kamu memperlakukanku seperti ini? Jika memang kita tidak boleh saling jatuh cinta, ha.. harusnya kamu tidak bersikap manis seperti ini."
"Hm."
"Apa kamu menyukaiku?"
"Bicara apa kamu, tentu saja aku tidak menyukaimu."
Deg.
Hati Kinara mencelos seketika. Ia tahu seharusnya ia tidak perlu bertanya seperti itu, tapi sejak debaran-debaran di dadanya mulai muncul ketika bersama Arjuna, rasanya ia harus bertanya tentang perlakuan Arjuna yang manis itu.
"Kalau begitu jangan bersikap manis kepadaku, atau---"
"Tidurlah!" perintah Arjuna.
"Aku belum selesai ngomong, pak."
"Apalagi?" tanya Arjuna.
"Aku ini---"
"Jangan terlalu baper dengan sikapku. Kamu bukan siapa-siapa, Kinar. Aku hanya menggunakanmu sebagai alat, seharusnya kamu paham itu. Sudah, tidurlah!"
Kinara diam. Arjuna memang benar, ia hanya alat untuk menghindari pernikahan dengan Laura. Hanya saja, apakah salah jika Kinara mengharap lebih dari itu? Perlakuan manis Arjuna membuat semua tampak berbeda. Hati beku Kinara tiba-tiba mencair. Ia bisa menerima semua perlakuan Arjuna yang membuat jantungnya berdetak kencang. Bahkan, debaran-debaran itu selalu hadir hanya dengan melihat wajah Arjuna. Apakah ini cinta? Apakah Kinara mulai merasakan cinta? Entahlah, mendengar perkataan Arjuna tadi membuat Kinara sedih. Ia terus menahan air matanya yang sebentar lagi jatuh. Dan benar saja, air matanya sudah membasahi pipi Kinara. Segera Kinara hapus sebelum Arjuna tahu. Biarlah dirinya yang merasakan ini sendiri. Kinara akan menahannya sampai kontrak pernikahan itu selesai. Satu tahun bukan waktu yang lama, ia akan menjalani pernikahan pura-pura itu dan menahan semua rasanya sendiri.
Kinara akui pelukan hangat Arjuna bisa sedikit menenangkannya. Kinara mulai memejamkan mata dan tertidur.
*****
Kinara membuka matanya perlahan, ia ingat ini kamar Arjuna. Kinara sudah tidak merasakan tangan Arjuna di pinggangnya, dan benar saja laki-laki itu sudah tidak ada di disampingnya. Kinara mendudukkan tubuhnya perlahan dan meraih ponselnya di atas nakas. Ia melihat pesan dari Arjuna yang mengatakan kalau dia harus segera pulang ke rumah. Arjuna meminta Kinara menunggu Argan datang untuk mengantarnya pulang, dia juga memberikan ijin kepada Kinara untuk tidak masuk kerja.
"Cih. Menyebalkan. Harusnya kamu gak perlu perhatian kepadaku. Aku ini siapa? Bukan siapa-siapa kamu, kan!" Kinara hampir saja membanting ponselnya, untung saja ia ingat harga ponsel tidaklah murah.
Pagi itu, Kinara diantar Argan pulang ke kontrakannya. Kinara segera masuk ke dalam kontrakan dan bersih-bersih karena jadwal kuliahnya sore. Kinara terus saja kepikiran dengan perkataan Arjuna tadi malam. Sekali lagi Kinara kesal, jika memang Arjuna tidak menyukainya kenapa harus bersikap manis? Kinara tidak menyangka akan berada di situasi seperti ini.
"Uh, menyebalkan!"