9. Cemburu?

1136 Words
Kinara dan Arjuna bersiap pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Ibu Diana. Awalnya Kinara menolak tawaran Arjuna yang ingin mengantarnya. Lagi pula, Kinara bisa pergi sendiri karena ia wanita yang mandiri. Sebenarnya, karena efek 20 tahun Kinara menjomblo, sehingga tidak ada yang bisa menemaninya ketika bepergian. Ngenes? Mungkin iya, mungkin saja tidak, toh Kinara menikmati hidupnya. Bahkan ia berfikir jika memiliki kekasih akan membuat hidupnya tidak bebas dan rumit. "Kamu sudah siap?" tanya Arjuna. "Sudah, pak." Kinara keluar kamar menemui Arjuna yang menunggu di ruang tamu. Kinara melihat Arjuna yang mengamati penampilannya dari atas ke bawah. Kinara reflek menunduk melihat dirinya sendiri. "Ada yang salah, pak?" "Ada," jawab Arjuna. "Benarkah? Apa?" tanya Kinara. "Bajumu kekanak-kanakan." Arjuna berjalan keluar kontrakan menuju mobilnya, meninggalkan Kinara yang masih ternganga. Apa benar penampilannya kekanak-kanakan? Kinara melihat dirinya lagi. Ia hari ini memakai celana jeans dan kemeja pendek berwarna dusty pink. "Memangnya yang tidak kekanak-kanakan seperti apa? Apa harus berpakaian seperti Laura yang memakai dress seksi kekurangan bahan, itu? Cih," Kinara teringat gaya berpakaian Laura yang menurutnya kurang sopan. Kinara berjalan menuju mobil Arjuna dan masuk ke dalamnya. Sepanjang perjalanan Kinara dan Arjuna terdiam, tidak ada percakapan diantara keduanya, hanya alunan musik yang sedikit mencairkan suasana. "Pak?" "Hm." "Boleh aku bertanya?" "Tidak." "Dih, pelit." "Memang." Astaga, ternyata Arjuna lebih menyebalkan dari dugaan Kinara. Ia segera memalingkan muka untuk melihat pemandangan dari cendela mobil. "Mau tanya apa?" "Pak, sikap Laura yang kemarin---" Lagi-lagi Arjuna memotong perkataannya sebelum selesai. "Aku sudah mengurusnya." "Bagaimana dengan tanggapan para karyawan yang melihatnya?" tanya Kinara. "Aku tidak peduli." "Maksudku---" "Bisakah kamu tidak peduli dengan hal-hal yang tidak penting?" "Bagiku itu penting," jawab Kinara. "Sepenting apa?" "Mereka meremehkanku hanya karena aku miskin dan yatim piatu." "Kenapa kamu peduli dengan perkataan orang lain? Aku saja tidak peduli," ucap Arjuna. "Benar, seharusnya aku tidak peduli. Toh, pernikahan kita hanya pura-pura." "Baguslah, otakmu bekerja dengan baik," sahut Arjuna. Kinara merenggut kesal. Ia memilih diam setelah itu. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, tanpa terasa sudah sampai di rumah sakit. Arjuna memarkirkan mobilnya, setelah itu mereka segera menuju kamar rawat inap ibu Diana. Kinara dan Arjuna menyapa Ibu Linda kemudian bersalaman. "Maaf, bu. Kinar baru bisa datang kesini," ucap Kinara sambil memeluk ibu Linda. "Gakpapa, sayang. Alhamdulillah, ibu Diana sudah melewati masa kritisnya, tapi dia harus banyak istirahat." Kinara mendekati ibu Diana yang tertidur, mencium tangan dan pipinya. Kinara melakukannya dengan hati-hati agar tidak membangunkan beliau. "Arjuna, bagaimana persiapan pernikahan kalian?" tanya ibu Linda. "Hampir selesai, bu. 10 hari lagi saya dan Kinara menikah," jelas Arjuna. "Syukurlah. Saya harap kamu bisa menjaga Kinara. Dia itu mandiri tapi sebenarnya rapuh, jadi kalian harus saling melengkapi," jelas ibu Linda. Kinara mendengar percakapan mereka dan segera menghampiri keduanya yang sedang membicarakan pernikahan. Arjuna kemudian berpamitan keluar ruangan untuk membeli minum. "Kinar, dengar ya, Nak. Setelah menikah semua tanggung jawab berpindah ke suamimu. Kamu harus jadi istri yang baik, nurut kata suami dan melayaninya sebaik mungkin," jelas ibu Linda. Kinara hanya mengangguk. Jujur saja, ia belum mengerti segala hal tentang pernikahan, yang ia tahu, pernikahan itu adalah ikatan lahir dan batin antara suami dan istri. Pernikahan akan meleburkan sifat yang berbeda antara keduanya, menjadikan kelemahan dan kelebihan sebagai pelengkap, menjalani hidup penuh cinta dan saling menghargai serta memiliki keturunan untuk melengkapi kebahagian dalam rumah tangga. Tapi, bagaimana dengan dirinya dan Arjuna? Semua itu seakan mustahil karena pernikahan yang akan dijalaninya adalah pernikahan palsu. Kinara hanya bertanya-tanya, apa Arjuna mulai menyukainya? Kenapa tadi malam dia menciumnya? Dan perlakuan-perlakuan manis itu, apa maksudnya? Kinara kemudian tersadar, Arjuna tidak mungkin menyukainya, bahkan dengan tegas mengingatkan kembali bahwa Kinara tidak boleh jatuh cinta padanya. Lalu, maksud perlakuan manis itu apa? Ah, Kinara berusaha tidak peduli, tapi sungguh melihat Arjuna saja debaran-debaran di dadanya kembali hadir. "Kamu juga harus ingat, Kinar. Kamu harus melayani suamimu dengan senang hati. Apapun, jika dia memintamu dan itu baik, turuti lah perkataan suamimu." Kembali ibu Linda memberikan nasihat pada Kinara. "Baik, bu. Kinar akan menurut kata suami." Lain di mulut lain di hati karena sejujurnya hati Kinara ingin menolak semua nasihat ibu Linda. Kinara terus saja berpikir tenang nasib pernikahannya nanti yang tinggal menghitung hari. "Kinar, ibu istirahat dulu ya. Kamu ajak nak Arjuna makan atau jalan-jalan." "Baik, bu. Nanti kalau Arjuna mendadak ada perlu dan harus ke kantor, Kinar sekalian pamit ya," ucap Kinara sambil mencium tangan ibu Linda. Ibu Linda mengangguk dan mempersiapkan diri untuk istirahat. Kinara segera menghampiri Arjuna di ruang tunggu. Ia melihat laki-laki itu duduk sambil meminum kopi kemasan. "Pak, maaf menunggu," ucap Kinara. "Hm." "Dari pagi kita belum makan, apa sebaiknya kita makan di kantin?" tanya Kinara. "Oke, baiklah. Aku harus ke kamar mandi dulu." "Kalau begitu aku duluan kesana." Kinara segera berjalan menuju kantin rumah sakit. Perut Kinara sejak tadi agak perih karena lapar. Pagi tadi ia dan Arjuna belum sempat membeli makanan dan hanya membeli roti di minimarket sepanjang jalan ke rumah sakit. Kinara yang buru-buru tidak sengaja menyenggol lengan laki-laki yang hendak duduk di kursi kantin. "Maaf." "Kinara?" Kinara mendongak dan melihat laki-laki yang ia kenal. Dia adalah pak Arya, dosen killer mata kuliah manajemen Akuntansi yang kemarin memberinya hukuman. "Pak Arya, aduh maaf, pak. Saya gak sengaja," ucap Kinara agak takut karena pak Arya terkenal killer di kampus. "Ngapain kamu di sini?" "Jenguk ibu panti yang habis operasi. Pak Arya sendiri ngapain di sini?" tanya Kinara. "Nenek saya sakit. Saya menjenguknya," jawab Arya. "Semoga cepat sembuh ya, pak." "Terimakasih. Semoga ibu panti kamu juga segera pulih pasca operasi." "Makasih, pak," jawab Kinara. "Kamu---" Arya menarik tubuh Kinara dan membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Kinara yang mendapat gerakan tiba-tiba tidak dapat berbuat apapun. "Pak?" Arya segera melepaskan dekapannya pada Kinara. Sebelumnya Arya melihat seorang laki-laki berjalan di belakang Kinara dengan tumpukan piring dan gelas kotor yang menghalangi penglihatan laki-laki itu. Kalau saja Kinara tidak ditarik oleh Arya, tumpukan piring itu bisa mengenai tubuh Kinara dan kemungkinan yang terjadi adalah, Kinara, laki-laki itu dan piring akan terjatuh secara bersamaan. "Maaf. Saya reflek, kalau tidak saya tarik, kamu bisa jatuh terkena tumpukan piring itu." Arya menunjuk laki-laki yang membawa piring tadi." "Iya, ma.. makasih, pak." "Kamu mau makan?" tanya Arya. "Iya, pak." Kinara tersenyum canggung. Ia rasa Arya yang di lihatnya sekarang berbeda sikap dengan Arya saat mengajar. Arya di luar kampus lebih ramah dan tidak galak. "Bagaimana kalau makan sama---" perkataan Arya terpotong. "Kinar?" Kinara menoleh dan melihat Arjuna sedang menatapnya dingin lalu menghampirinya dan Arya. "Maaf, pak. Saya datang kesini sama teman, namanya Arjuna." Dua laki-laki itu saling menatap. Entah kenapa suasana menjadi aneh dan canggung. "Saya Arya, dosen Kinara." Arya memajukan tangannya untuk berjabat dengan Arjuna. "Arjuna," ucap Arjuna sambil menyambut jabatan tangan Arya. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Saya tidak asing dengan wajah anda," tanya Arya. "Mungkin," jawab Arjuna. Kinara tersenyum kaku menatap dua laki-laki di depannya. Kenapa suasananya jadi aneh begini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD