8. Menginap

1056 Words
"Hah?" "Buka bajumu," titah Arjuna. "Jangan bercanda, pak." Kinara memalingkan muka karena malu. Baru saja bosnya itu mengatakan akan mengoleskan saleb memar ke punggungnya. "Memangnya, kenapa?" "Malu! Bisa bahaya." Kinara menyilangkan kedua tangannya di depan dada "Hahaha, lucu sekali muka kamu, Kinar." Arjuna tidak sungguh-sungguh mengatakan itu. Ia hanya ingin melihat wajah paniknya Kinara, yang kata Arjuna sangat menggemaskan. "Bercandanya kelewatan, pak." Kinara mendengus kesal. "Sudah makan?" tanya Arjuna. "Sudah. Mie instan," jawab Kinara jujur. Arjuna mengernyit. Arjuna memang anti sekali dengan mie instan. Seumur hidupnya, ia belum pernah menelan mie seduh yang di beri bumbu instan olahan pabrik itu. Jika bicara tentang ini, tentu saja Arjuna dan Kinara berbeda. Arjuna bisa makan apapun masakan enak, halal dan sehat sementara Kinara anak kontrakan yang harus menghemat biaya hidup setiap bulannya. Walaupun makan mie instan dua minggu sekali, Kinara selalu nyetok mie itu di kontrakannya. Arjuna memberikan plastik satunya kepada Kinara. Plastik tersebut berisi martabak telur yang ia beli di sepanjang jalan menuju kontrakan Kinara. "Buatku?" tanya Kinara. "Buat kucing." "Aku gak punya kucing." "Ya kamu kucingnya," jawab Arjuna sambil terkekeh. "Berati aku lucu dong." "Lucu. Jadi pengen ku makan." Kinara diam tanpa menjawab lagi. Segera ia buka bungkus martabak itu dan memakannya sampai habis, ia tidak peduli dengan Arjuna yang terus menatapnya aneh. "Kinar?" "Iya, pak?" Kinara sudah selesai makan dan membersihkan dirinya. Ia kembali duduk di sofa menemani Arjuna. "Aku capek." Arjuna mendekati Kinara, memposisikan tubuhnya berbaring dan meletakkan kepalanya dipangkuan Kinara. "Pak?" "Diamlah sebentar. Aku mau tidur." Kinara membeku di tempat. Ia diam cukup lama sampai dirasa Arjuna sudah tertidur lelap. Kinara mengamati wajah tampan calon suaminya. Benar-benar tampan, pantas saja Laura begitu tergila-gila dengan Arjuna. Sayangnya, sikap Arogan dan tidak sopan Laura membuat dirinya minus di mata Arjuna. Ah, mengingat Laura membuat Kinara mengingat kejadian tadi siang di kantor Arjuna. Kirana tanpa sadar menyentuh wajah Arjuna. Dengan perlahan tangan mungil Kinara menyentuh dari mata, pipi, hidung sampai tangan mungilnya akan menyentuh bibir Arjuna, namun gerakan tiba-tiba Arjuna membuat Kinara terkejut. Arjuna memegang kedua tangan Kinara dan membawanya ke sisi kanan dan kiri tubuh Kinara yang bersandar pada sofa membuat tubuh mungil Kinara terkunci oleh tubuh kekar Arjuna. Kinara sampai harus menekan tubuhnya ke sandaran karena wajah Arjuna yang semakin mendekat ke wajahnya. "Menggodaku?" Kinara menggeleng, ia tidak tahu kalau Arjuna sudah terbangun, atau memang belum tidur sejak awal. "Lalu, apa namanya kalau tidak menggoda?" "Itu, maaf.. aku tanpa sadar menyentuh wajahmu." Kinara memalingkan muka agar tidak bertatapan dengan Arjuna. "Tatap mataku!" Kinara menoleh agar bisa menatap wajah Arjuna. Jarak yang begitu dekat membuat jantung Kinara berpacu cepat. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Arjuna setelah ini. "Ingat, Kinar. Jangan jatuh cinta padaku. Hubungan ini hanya perjanjian di atas kertas. Paham?" Kinara mengangguk. Ia tahu perjanjiannya memang dilarang untuk saling jatuh cinta. Tapi, jika Arjuna terus bersikap manis, dan debaran-debaran di dadanya tidak bisa Kinara kontrol, haruskah Kinara menolak rasa itu? "Buka bibirmu!" Kinara diam. Ia tidak mengerti kenapa Arjuna memintanya untuk membuka bibir. Kenapa calon suaminya itu jadi suka memerintah dengan seenaknya sendiri, dan dengan bodohnya Kinara akan menuruti perintahnya. "Buka bibirmu!" Kinara pasrah, ia akhirnya memberikan jarak antara bibir atas dan bawahnya. Seringaian muncul di bibir Arjuna dan dengan gerakan cepat, bibir Arjuna sudah menempel sempurna di bibir Kinara. Tubuh Kinara bergetar, ia seperti merasakan sengatan listrik dalam tubuhnya. Bahkan, kali ini berbeda dengan kecupan yang Arjuna berikan tadi siang. Kali ini bibirnya jauh lebih menuntut, membawa dua benda kenal itu beradu dalam lumatan. Kinara yang belum pernah berciuman sebelumnya mulai memejamkan mata dan pasrah mengikuti permainan Arjuna. Kinara mendorong tubuh Arjuna ketika pasokan udara mulai menipis. Kinara terengah, napasnya memburu. "Jangan ganggu tidurku, atau aku akan melakukan hal lebih," ancam Arjuna. Arjuna kembali tidur di pangkuan Kinara dan memejamkan mata. Sementara Kinara sejak tadi mengatur debaran di dadanya yang tak kunjung menghilang. Kinara masih bingung sebenarnya sifat Arjuna itu seperti apa, karena terkadang dia begitu manis dan hangat, lalu di lain waktu dia bisa menjadi pemarah, penuntut dan seenaknya sendiri. Entahlah, semua begitu membingungkan bagi Kinara. Kinara yang mengantuk akhirnya ikut memejamkan mata, ia sandarkan kepalanya di sofa dan perlahan menuju mimpi indahnya. ***** Kinara mulai membuka matanya perlahan dan merasakan berat tertumpu pada pahanya. Benar saja, Arjuna tadi malam tidur diatas pahanya dan laki-laki itu masih tertidur disana. Tidur dengan posisi duduk membuat tubuh Kinara terasa sakit, dan tiba-tiba kepalanya menjadi pusing. Kinara memijat pelipisnya perlahan untuk meredakan sakit yang di rasanya. Jam menunjukkan pukul 8 pagi, Kinara begitu terkejut karena harusnya ia berangkat ke kantor untuk bekerja. "Pak, bangunlah.." Kinara menggoyangkan bahu Arjuna, berharap laki-laki itu segera membuka mata. Lagi pula, Arjuna harus pergi ke kantor juga. "Nghh.. Jangan ganggu tidurku!" Bukannya bangun, Arjuna justru menoleh menghadap perut Kinara, menenggelamkan wajahnya di sana dan memeluk pinggangnya erat. "Pak Arjunaaa..." Kinara memekik kaget. Kinara tidak habis pikir, bagaimana caranya agar Arjuna segera bangun. Ia sendiri tidak bisa bergerak dan melakukan apapun. "Pak Arjuna.." Sekali lagi Kinara menggoyangkan tubuh Arjuna. "Bangun, pak. Kamu harus ke kantor!" Arjuna mulai membuka mata perlahan dan mendudukkan tubuhnya. Kinara lega kini ia bisa bebas, namun tubuhnya masih terasa sakit, semalaman tidur dengan posisi ini membuat tulang-tulanngnya terasa kaku untuk digerakkan. "Jam berapa?" tanya Arjuna. "Jam 8 pak, aku telat masuk kantor, kamu juga," jawab Kinara. Arjuna telat tidak masalah, karena ia adalah bosnya, tapi seorang bos harus memberikan contoh yang benar kepada bawahannya. Sementara Kinara? Ia hanya office girl dan baru bekerja di perusahaaan itu. "Aku sudah bilang Argan untuk menghandle semuanya. Kamu tidak usah masuk dulu, bukannya masih sakit?" "Baiklah." "Mau kemana hari ini?" tanya Arjuna. "Aku mau ke rumah sakit, pak. Ketemu ibu Diana dan ibu Linda. Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar. Tapi ibu Diana masih harus dirawat di rumah sakit," jawab Kinara jujur. "Aku antar." "Loh, kamu gak ke kantor?" tanya Kinara. "Tidak. Sudah diurus sama Argan." "Oke." "Ambilkan aku handuk dan sikat gigi, aku harus mandi." Kinara mengangguk dan segera mengambil handuk, untung saja ia memiliki persediaan sikat gigi yang masih baru. "Ini, pak." Kinara memberikan handuk dan sikat itu pada Arjuna. Calon suaminya itu juga sudah mengambil baju ganti yang ada di mobilnya. "Kenapa?" Arjuna memergoki Kinara yang sejak tadi memperhatikannya. "Ah, tidak, silahkan mandi dulu," ucap Kinara. "Kalau begitu, ikut aku mandi sekalian." sebuah seringaian terlihat jelas di bibir Arjuna, membuat Kinara menelan ludah berkali-kali. "Ma.. maaf. Apa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD