Hari ini Kinara kuliah jam 10 pagi, jadi ia masih punya waktu untuk membersihkan kontrakan sebelum berangkat ke kampus. Selepas kepergian Arjuna tadi malam, Kinara lebih banyak diam dan melamun. Ia tidak menyangka akan memiliki perasaan lebih pada Arjuna. Awalnya, Kinara pikir, Arjuna akan bersikap cuek, datar dan tidak menyangkut hati. Faktanya, semua berbanding terbalik dengan ekspektasi Kinara.
Lamunan Kinara buyar, ketika ponselnya berbunyi. Ia segera mengambil ponsel itu di atas sofa dan melihat nama pengirim pesan, yang ternyata adalah Arjuna. Arjuna meminta Kinara menunggunya setelah kuliah untuk bertemu dengan Safira.
Kinara menatap malas layar ponsel yang menampilkan isi pesan dari Arjuna. Rasanya ingin marah meluapkan kekesalannya pada ponsel itu.
"Kenapa kamu begitu menyebalkan, Juna! Kenapa kamu susah sekali ditebak. Harusnya kamu cuek saja dan tidak perlu peduli padaku. Ah, aku bisa gila!" Kinara membanting ponselnya di sofa.
Kinara kembali menyapu, mengepel dan mencuci baju. Setelah acara bersih-bersih selesai, Kinara bergegas mandi dan bersiap menuju kampus.
Kinara membuka pintu kontrakannya dan begitu terkejut melihat Argan sudah berdiri di depannya. Kinara hampir saja mengumpat kasar. Kenapa para laki-laki itu suka sekali mengejutkannya dengan berdiri di depan pintu. Menyebalkan!
"Pak Argan mengangetkanku," protes Kinara.
"Maaf. Aku diminta Arjuna untuk mengantarmu ke kampus."
Astaga, Kinara tidak habis pikir, kenapa Arjuna harus repot-repot meminta Argan mengantarnya ke kampus. Ia bahkan sudah 20 tahun dan bisa sendiri kemanapun pergi. Kinara suka dengan perhatian yang Arjuna berikan, tapi Kinara juga benci dengan keadaan ini. Ingin rasanya ia kubur dalam-dalam perasaan yang hinggap di hatinya tanpa permisi itu, namun rasanya begitu sulit.
"Aku bisa sendiri kok, pak. Lagian sudah biasa naik angkot," ujar kinara.
"Aku antar saja ya, ini perintah," ucap Argan.
Terpaksa Kinara setuju dan segera naik ke mobil Argan. Suasana hening saat perjalanan menuju kampus. Kinara sesekali melirik laki-laki di kursi kemudi itu. Argan laki-laki tampan, tegas, dan mempesona seperti halnya Arjuna.
"Pak Argan sepertinya sibuk terus," ucap Kinara memecah keheningan.
"Hidupku untuk bekerja, Kinara."
"Gak capek, pak?" tanya Kinara.
"Ya capek. Kamu nanyanya kok lucu. Setelah kuliah bukannya kamu juga ingin kerja?" Argan menahan tawanya agar tetap terlihat berwibawa.
"Iya, habis kuliah ya pengen kerja, pak. Aku harus bantu adik-adik di panti," ucap Kinara.
"Iya, kamu harus semangat." Argan tersenyum.
"Makasih, pak. Emang pak Argan gak punya pacar?" tanya Kinara.
"Hahahahaha, belum. Kamu mau jadi pacarku?"
"Bapak bercandanya suka kelewatan deh," celetuk Kinara.
"Kamu nanyanya suka tiba-tiba soalnya. Nanya hal pribadi lagi," sahut Argan.
"Maaf, pak."
Kinara melihat Argan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Kinara sendiri sebenarnya hanya ingin membuka pembicaraan di antara mereka, daripada suasana hening di dalam mobil.
"Pak Argan?"
"Iya?"
"Mau nanya, tapi mungkin pak Argan gak mau jawab," ucap Kinara.
"Soal Arjuna?"
"Iya, pak."
"Nanya boleh, tapi aku gak janji untuk jawab."
"Sama saja dong, pak. Gak jadi deh."
Kinara mengerucutkan bibirnya. Sia-sia menanyakan tentang Arjuna pada Argan karena dia pasti memihak pada bosnya itu.
Mobil Argan berhenti di depan kampus. Kinara mengucapkan terimakasih pada Argan dan segera masuk kedalam kampus. Ia melihat jam tangannya, masih ada waktu 30 menit sebelum kelas di mulai. Kinara melihat ponselnya dan belum ada balasan dari Amel, itu artinya sahabatnya itu belum sampai di kelas. Kinara memutuskan untuk ke kantin terlebih dahulu.
Kinara membeli dua botol air mineral dan beberapa cemilan untuknya dan Amel. Saat berada di kasir Kinara menyenggol seseorang dan ternyata orang itu adalah Arya. Kinara terkejut dan segera meminta maaf.
"Sudah baikan?" tanya Arya.
"Sudah, pak. Gak baik lama-lama ijin. Hehe."
"Syukurlah. Oh ya, sini belanjaanmu, biar aku bayar," ucap Arya.
"Eh, gak usah pak," tolak Kinara.
Arya langsung mengambil belanjaan Kinara dan meminta mahasiswanya itu menunggu di luar antrian.
"Nih, punyamu." Arya memberikan kantong plastik berisi belanjaan milik Kinara setelah urusan di kasir selesai.
"Makasih, pak."
"Yaudah, sana ke kelas, belajar yang rajin," ucap Arya.
"Makasih, pak."
Kinara pamit menuju kelasnya, disana sudah ada Amel yang menunggu. Kelas berjalan tertib dan lancar. Amel pamit lebih dulu karena ada acara dengan keluarganya, sementara Kinara harus menunggu kedatangan Arjuna.
Kinara memutuskan untuk menunggu Arjuna di taman kampus, sebelum itu ia ingin pergi ke toilet terlebih dahulu. Belum sampai di toilet, Kinara di kejutkan oleh seseorang yang dengan kasar menarik rambutnya dari belakang.
"Auuhh."
Kinara menoleh dan melihat dua wanita yang menatapnya tajam. Salah satu dari wanita itu menarik tangan Kinara menuju tempat sepi.
"Kak Serin, apa-apaan, sih? Kenapa bawa aku kesini?" tanya Kinara setelah Serin melepaskan tangan Kinara.
"Gue cuma mau kasih pelajaran untuk wanita gak tahu diri seperti lo!" ucap Serin dengan penuh penekanan.
"Des, awasi sekitar," ucap Serin pada Dessy.
"Oke." Dessy mulai mengawasi sekitar.
"Maksud kak Serin, apa ya?" Kinara mengerutkan keningnya. Ia benar-benar tidak tahu kenapa Serin melakukan ini padanya.
"Lo punya hubungan apa dengan pak Arya?" tanya Serin.
"Hah? Hubungan apa? Tentu saja dosen dan mahasiswa," jawab Kinara.
"Bagaimana dengan hari ini saat di kantin? Dan waktu itu pak Arya rela gendong lo dan gue diabaikan!" Serin berteriak marah.
"Aku tidak tahu, kak. Aku hanya pingsan. Jangan salahkan aku." Kinara berusaha menggunakan intonasi pelan ketika berbicara.
"Lo tuh yang ganjen dan kegenitan." Serin menunjuk-nunjuk muka Kinara.
Kinara yang daritadi berusaha mengendalikan emosi akhirnya mulai kesal dengan sikap Serin yang keterlaluan.
"Jangan asal bicara, kak. Kenapa marah padaku? Cemburu? Emang pak Arya siapanya kak Serin, ya?" Kinara memiliki keberanian untuk melawan ucapan Serin.
"Kurang ajar!"
Serin mendekati Kinara dan menjambak rambutnya kasar. Kinara berusaha melepaskan dan menghindar dari amukan Serin tapi justru pukulan dan cakaran yang ia terima. Tidak tahan dengan amukan Serin Kinara membalas dengan menjambak dan mencakar wanita itu. Dessy ingin melerai tapi langkahnya dihentikan seseorang. Orang itu menarik tubuh Kinara dan mendekapnya dari belakang agar Kinara tenang. Serin mendongak dan menatap siapa yang berani melerai pertikaian mereka.
"Kak Arjuna!" teriak Serin.
Kinara yang awalnya memberontak langsung mendongak ke atas menatap seseorang yang mendekapnya dan ternyata benar orang itu adalah Arjuna.
"Oh, kamu kan Serin. Kelakuanmu tidak berubah ya," ejek Arjuna.
"Gue gak ada urusan sama lo, kak."
Serin merapikan diri dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan maaf pada Kinara. Bagaimana Serin kenal dengan Arjuna? Pikir Kinara. Kemudian Kinara ingat , Serin satu tingkat diatasnya, mungkin Arjuna dan Serin sering bertemu waktu kuliah dulu. Harusnya, Kinara juga bertemu dengan Arjuna sebelumnya. Mungkin saja. Kinara terlalu sibuk dengan pekerjaannya, ia sama sekali tidak ada waktu berlama-lama di kampus. Kuliah selesai langsung pulang untuk bekerja.
"Mau jadi jagoan dan berkelahi di kampus, huh?" ucap Arjuna masih dengan mendekap tubuh Kinara.
"Lepaskan aku, Jun!" Kinara memberontak dan akhirnya terlepas dari Arjuna.
"Kenapa berurusan dengan Serin?" tanya Arjuna.
"Bukan urusanmu," ucap Kinara ketus.
Arjuna hanya menatap Kinara yang merapikan pakaian dan rambutnya. Setelah selesai, Arjuna segera menarik tangan Kinara menuju mobilnya. Kinara menurut saja tanpa memberontak. Tenaganya terkuras akibat pertengkarannya dengan Serin tadi.
Di dalam mobil Kinara hanya diam begitu pula Arjuna. Kinara juga tidak berniat menjelaskan kenapa dirinya bisa bertengkar dengan Serin. Mengingat kejadian tadi saja membuat Kinara kesal.
Ponsel Arjuna berbunyi. Arjuna menepikan mobilnya dan berhenti untuk menerima panggilan telepon itu.
"Oke, baiklah, aku segera kesana.." ucap Arjuna dengan seseorang di ponselnya.
"Kinar, aku tidak bisa mengantarmu ke tempat ibu."
"Lalu untuk apa kamu menjemputku di kampus?" tanya Kinara.
"Maaf," jawab Arjuna.
"Memang mau kemana? Mau ngapain?" selidik Kinara.
"Ada sesuatu yang harus aku urus," jawab Arjuna.
"Jadi?"
"Aku harus pergi, kamu bisa naik taksi atau ojek ke tempat ibu," jelas Arjuna.
"Urusan apa?" Kinara curiga, entah kenapa Kinara ingin tahu siapa yang menelepon Arjuna tadi.
"Bukan urusanmu, Kinar."
"Kalau begitu siapa yang menelepon?"
"Kamu tidak perlu tahu," ucap Arjuna dengan nada agak tinggi.
"Kalau begitu aku ikut denganmu, setelah urusanmu selesai, kita bisa ke tempat ibu."
"Cukup, Kinar. Jangan membantah! Aku bilang keluar!"
"Gak! Aku mau ikut!"
"Keluar!"
"Kamu mengusirku?" tanya Kinara dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, keluarlah dari mobilku." Arjuna menurunkan intonasi bicaranya saat melihat air mata Kinara yang hampir jatuh.
Kinara menyerah. Ia sudah tidak bisa menahan air matanya yang hampir terjatuh.
Kinara hanya diam, tidak berniat merespon perkataan Arjuna. Kinara keluar dan membanting pintu mobil dengan kasar. Setelah mobil Arjuna berjalan menjauh, Kinara tidak bisa menahan air matanya lagi, beberapa kali ia mengusap matanya sambil membuka ponselnya untuk memesan taksi online. Andai saja waktu bisa kuputar kembali.