Suara ketukan pintu membangunkan tidur Kinara. Ia membuka matanya perlahan, lalu beranjak dari kasurnya untuk melihat siapa pagi-pagi begini yang datang berkunjung.
Kinara membuka pintu dan melihat Arya berdiri di depannya membawa beberapa kantong plastik.
"Pak Arya, silahkan masuk."
Kinara mempersilahkan laki-laki itu masuk ke ruang tamu kontrakannya. Ia sebenarnya takut jika Arjuna tahu, tapi mengabaikan Arya juga tidak mungkin. Akhirnya Kinara meminta Arya untuk duduk.
"Maaf pak, aku berantakan, belum mandi," ucap Kinara malu.
"Gakpapa Kinara, gimana keadaanmu?" tanya Arya.
"Alhamdulillah sudah mendingan pak. Aku ijin tidak masuk kuliah, aku sepertinya harus istirahat sehari lagi," jawab Kinara.
"Iya, istirahatlah dulu. Oh ya, aku bawa beberapa makanan. Kamu harus makan banyak." Arya menyerahkan kantong plastik pada Kinara yang isinya beberapa roti dan cemilan lainnya.
"Makasih, pak. Banyak banget," ucap Kinara sumringah.
"Iya. Aku sebenarnya ingin minta maaf atas ucapanku kemarin saat kamu masuk ke ruanganku. Maaf, aku sedang banyak kerjaan," jelas Arjuna.
Kinara teringat kemarin saat dirinya masuk ke ruangan Arya. Dosennya itu menjadi cuek, bahkan mengakatan hal yang membuat Kinara kecewa.
"Gakpapa, pak. Tapi percayalah, aku tidak pernah berpikir untuk memanfaatkanmu atau apapun itu dan aku menghormatimu sebagai dosen," jelas Kinara.
"Aku tahu itu, Kinara. Aku sudah keterlaluan."
"Kita lupakan saja kejadian kemarin, gimana?" Kinara tersenyum manis.
Arya ikut tersenyum. Ia merasakan debaran aneh di dadanya ketika melihat Kinara dengan senyum manisnya dan tanpa sadar tangannya telulur mengelus lembut kepala Kinara.
"Pak?"
"Ah, maaf." Arya segera menjauhkan tangannya dari kepala Kinara.
"Reflek, kamu manis sekali," ucap Arya.
Kinara tersipu malu saat Arya mengatakan itu. Menggelikan ketika seseorang menyebutnya manis, karena menurut Kinara, ia tidak manis sama sekali.
"Eh, pak Arya gak ke kampus?" tanya Kinara.
"Nanti jam 9 aku harus ke kampus untuk ngajar. Oh iya, karena kamu dan temanmu sudah mengumpulkan tugas, aku tidak akan memberikan nilai D," jelas Arya.
Kinara begitu senang dan tanda sadar berteriak, membuat Arya sekali lagi tertawa melihat tingkah Kinara.
"Ehem.."
Kinara dan Arya menoleh dan melihat laki-laki berdiri di pintu kontrakan. Kinara menelan ludahnya kasar.
"Pak Argan," sapa Kinara.
Argan menatap Kinara kemudian beralih menatap Arya. Kinara mempersilahkan Argan masuk dan ikut duduk di sofa.
"Pak Arya, ini pak Argan, asisten pribadinya Arjuna."
Argan dan Arya saling menyapa dan memperkenalkan diri masing-masing. Entah kenapa suasana menjadi canggung dan aneh, sama seperti ketika Arjuna bertatapan dengan Arya.
"Arjuna menyuruhku kesini karena dia sedang ada rapat. Aku bawakan makanan untukmu."
Kinara menerima kantong plastik pemberian Argan. Beruntung sekali dirinya hari ini mendapat banyak makanan dari Argan dan Arya. Ia tidak perlu repot-repot membeli makanan sendiri.
"Makasih, pak," ucap Kinara sumringah.
"Bukankah anda harus mengajar, pak Arya?" tanya Argan.
Argan berkata dengan sopan tapi entah kenapa bagi Kinara terkesan mengusir Arya.
"Iya, saya memang harus mengajar setelah ini. Kalau begitu, aku ke kampus dulu, Kinara. Cepat sembuh dan makan yang banyak, aku tunggu di kampus secepatnya." Arya berpamitan dan segera keluar dari kontrakan Kinara.
"Kinara?"
"Iya, pak Argan?"
"Kamu berhubungan dekat dengan Arya?" tanya Argan.
"Gak, pak. Hanya sebatas dosen dan mahasiswa," jawab Kinara.
"Oke. Jangan main-main dengan Arjuna. Kamu sudah di klaim sebagai miliknya, sebaiknya kamu jaga jarak dengan dosenmu itu." Argan memperingati Kinara.
Kinara tersenyum kecut. Benar, Arjuna sudah meng-klaim tubuh Kinara sebagai miliknya. Perlu digaris bawahi hanya tubuh Kinara, tanpa melibatkan hati. Dengan terpaksa Kinara harus menjaga jarak dengan laki-laki manapun karena empat hari lagi mereka menikah.
"Aku tahu batasannya. Aku bisa jaga diri," jawab Kinara.
"Baiklah, aku permisi. Kamu istirahat."
"Pak, itu..jangan bilang Arjuna ya kalau Arya datang kesini, dia pasti marah." pinta Kinara.
"Maaf, Kinara. Aku tidak bisa bohong. Juna memintaku untuk memberikan informasi apapun tentangmu. Tenang saja, aku akan bilang kalau Arya kesini sebentar, tidak terjadi apapun antara kalian."
Kinara mengangguk. Ia tahu Argan sangat menghormati Arjuna, ia tidak akan berbohong bahkan menghianati Arjuna.
"Aku pulang dulu. Semoga cepat membaik, Kinara." Argan berpamitan dan pergi dari kontrakan Kinara.
Kinara memutuskan untuk mandi setelah itu istirahat. Ia mengambil ponsel yang sejak kemarin belum disentuhnya. Terdapat beberapa panggilan dan pesan masuk. Salah satunya dari Amel, sahabat terbaiknya. Kinara segera menelepon Amel dan memberitahukan keadaannya sekarang. Amel begitu terkejut dan bergegas menuju kontrakan Kinara sepulang kuliah.
Siang itu sampai sore, kegiatan Kinara di isi dengan ngobrol bersama Amel. Kinara menceritakan kejadian kemarin saat dirinya pingsan dan ditolong Arya. Amel begitu terkejut dan menganggap tindakan Arya sebagai bentuk perhatian yang mengarah pada rasa sukanya pada Kinara. Sementara Kinara hanya tertawa mendengar asumsi sahabatnya itu dan menganggap perhatian Arya masih wajar antara dosen dan mahasiswa.
Tanpa terasa siang menjadi senja. Amel berpamitan pulang karena papanya sudah menelepon berkali-kali. Kinara senang bisa ngobrol sepuasnya dengan sahabatnya itu. Selepas Amel pulang, Kinara duduk santai di sofa ruang tamu kontrakannya. Keadaan tubuhnya juga sudah membaik. Suhu tubuhnya kembali normal dan pusingnya juga menghilang.
Kinara beranjak dari sofa ingin menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti ketika pintu kontrakannya diketuk oleh seseorang. Kinara segera menuju pintu dan membukanya. Tubuh Kinara mematung seketika melihat Arjuna berdiri di depannya dengan ekspresi datarnya. Dia masuk begitu saja tanpa ijin dari Kinara. Arjuna langsung duduk di sofa lalu melepas jas dan dasi yang melekat di tubuhnya. Kinara menghampiri dan duduk di sebelah Arjuna.
"Dari kantor?"
"Hm."
"Mau minum apa?" tawar Kinara. Ia merasa Arjuna berbeda dari biasanya, mungkin saja dia marah setelah mendengar cerita dari Argan.
"Gak usah. Kamu udah baikan?" tanya Arjuna.
"Sudah."
"Sini! Aku cek suhu tubuhmu." Arjuna meminta Kinara untuk mendekat.
Kinara merapatkan tubuhnya pada Arjuna, kemudian laki-laki itu memegang dahi Kinara.
"Sudah dingin," ucap Arjuna.
"Iya," jawab Kinara.
"Kamu sudah makan?" tanya Arjuna.
"Sudah, Jun."
Suasana kembali hening. Tidak ada percakapan diantara keduanya. Kinara merasa aneh dengan suasana seperti ini.
"Jun, aku---"
"Tadi Arya ngapain?" tanya Arjuna.
"Hanya mampir sebelum ke kampus. Aku gak enak kalau mengusirnya," jawab kinara.
"Hm."
Keheningan kembali Kinara rasakan. Kinara dan Arjuna sama-sama menoleh dan tatapan mereka pun bertemu dalam beberapa detik, sampai akhirnya Arjuna menarik tubuh Kinara hingga menempel pada tubuhnya.
Arjuna menarik dagu Kinara dan membiarkan bibirnya menempel sempurna di bibir Kinara. Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi kasar dan menuntut. Kinara mengalungkan tangannya di leher Arjuna sementara tangan Arjuna membuka tiga kancing baju tidur Kinara. Puas dengan bibir Arjuna beralih ke leher Kinara. Kinara hanya memejamkan mata dan menikmati perlakuan Arjuna.
"Aku merindukanmu, Indi."
Deg.
Kinara mendorong tubuh Arjuna. Ia mundur menjauh dan mengancingkan bajunya kembali. Kinara merasakan sesak di dadanya karena Arjuna menyebut nama Indira.
"Kenapa?" tanya Arjuna dengan wajah yang masih sayu.
"Aku Kinara, bukan Indi," ketus Kinara.
"Apa aku menyebut nama itu?"
"Kamu jelas-jelas menyebutnya. Kamu merindukannya, Jun?"
Arjuna mengusap wajahnya kasar. Ia tidak sadar menyebut nama 'Indi' didepan Kinara.
"Aku gak sadar mengatakannya," jelas Arjuna. Lagi-lagi Arjuna menghindari pertanyaan soal perasaannya pada Indira.
Apa kamu masih mencintainya, Jun? Lalu dimanakah sebenarnya Indira? Batin Kinara.
Keheningan kembali Kinara rasakan. Arjuna tetap diam hingga dia pergi dari kontrakan Kinara tanpa pamit, meninggalkan Kinara sendiri dengan perasaan yang sudah campur aduk.