Kinara sampai di kampus dan segera menemui Amel di kelas, sementara Arjuna ke kantor dulu baru ke kampus menemui dosen pembimbing. Pagi ini Kinara merasakan tubuhnya sedang tidak baik-baik saja, kepala pusing dan badannya terasa lemas, padahal ia sudah sarapan tadi pagi di panti asuhan. Ia berusaha tidak mempedulikan keadaan tubuhnya, karena hari ini ia harus bertemu Arya untuk mengumpulkan tugas makalah dan meminta maaf karena sudah meninggalkannya di kafe kemarin siang.
"Kinara." Amel melambaikan tangannya kepada Kinara.
"Pagi, Mel," sapa Kinara.
"Tugas sudah selesai, kan?" tanya Amel.
"Sudah, habis kuliah bu Santi gue ke ruang pak Arya." Kinara tertunduk lesu, ia kembali merasa bersalah pada Arya.
"Lo kenapa?" tanya Amel.
"Astaga badan lo anget, Kin." Amel memegang dahi Kinara.
"Iya nih, gue gak enak badan. Dari tadi bawaannya pusing dan lemas," keluh Kinara.
"Sudah sarapan?"
"Sudah, Mel."
"Harusnya lo gak perlu masuk, biar gue ambil tugas di kontrakan lo lalu gue kumpulin ke pak Arya."
Kinara menggeleng. Ia memang memaksakan diri buat masuk ke kampus untuk menyelesaikan urusannya dengan Arya.
"Gue harus minta maaf sama pak Arya," ucap Kinara lesu.
"Hah? Emang lo salah apa? bukannya kemarin udah minta maaf karena lupa gak ngerjain tugasnya?"
"Bukan itu, kemarin pak Arya ngajak makan siang. Pas di kafe gue ketemu Juna dengan wanita yang kemarin sama dia itu. Nah, Juna marah trus narik gue buat ikut dia pulang. Pak Arya gue tinggal sendiri di kafe," jelas Kinara.
Amel ternganga, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Lo serius? Pak Arya ngajak lo makan?" tanya Amel.
"Iya, sudah dua kali ini kok, Mel."
"Eh, beneran deh, jangan-jangan pak Arya suka sama lo, Kin," tebak Amel.
Kinara hanya mengangkat bahunya. Ia tidak tahu kenapa Arya mengajaknya makan siang kemarin. Mungkin karena perhatian atau mungkin saja kasihan. Amel hendak bertanya lagi pada Kinara namun terhalang oleh dosen yang baru saja masuk ke kelas mereka. Terpaksa Kinara dan Amel berhenti ngobrol dan mengikuti kuliah dengan tertib.
Kelas selesai, Kinara segera menuju ruang dosen untuk bertemu Arya. Kinara mengetuk pintu ruang Arya dan dipersilahkan masuk. Kinara melihat Arya sedang sibuk mengoreksi tugas mahasiswa.
"Pak, ini tugas makalah saya," ucap Kinara sambil menaruh tugas makalahnya di meja Arya.
"Iya," jawab Arya singkat tanpa melihat Kinara sama sekali.
Kinara masih berdiri didepan meja Arya, ia ingin meminta maaf tapi bingung harus berbicara seperti apa. Melihat reaksi Arya bisa dipastikan dosennya itu marah karena kejadian kemarin siang.
"Pak, itu..saya mau minta maaf soal kemarin. Saya---"
"Saya tidak bisa membahas masalah diluar kampus," tegas Arya.
Kinara menelan ludahnya kasar. Arya benar-benar marah. Hati Kinara semakin kalut, ia merasa bersalah pada dosennya itu.
"Maaf, pak. Kalau begitu saya permisi."
Kinara berbalik dan melangkah menuju pintu. Ia hendak membuka pintu namun suara Arya menghentikannya.
"Tunggu!"
Kinara berbalik untuk menatap Arya. Ia berharap Arya mau memaafkannya.
"Dengar Kinara. Kamu mahasiswa dan saya dosen. Jangan pikir karena kita pernah makan bersama, kamu jadi ngelunjak dan tidak menghormati saya."
Kinara menunduk, ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk ngelunjak bahkan ia sangat menghormati Arya sebagai dosennya saat di kampus.
"Maaf, pak."
"Jangan pikir saya menyukaimu hanya karena saya ajak kamu makan. Kamu salah jika berpikir seperti itu," jelas Arya.
Kinara tidak pernah berpikir kalau Arya menyukainya ataupun berharap bisa memanfaatkan Arya karena kedekatan mereka. Salah. Kinara tidak pernah berpikir seperti itu. Entah kenapa ada perasaan kecewa di hati Kinara.
"Saya tidak pernah berpikir begitu, pak. Salah jika anda menduga saya seperti itu. Saya benar-benar minta maaf. Saya janji tidak akan menyusahkan anda lagi. Saya permisi."
Hati Kinara bergemuruh, rasa kesal dan kecewa menjalar di ubun-ubunnya. Ia melangkah dengan berat karena kondisi tubuhnya yang kurang fit ditambah mood nya yang berantakan.
Kinara mengirim pesan pada Amel dan memintanya untuk menuju kelas dulu karena Kinara ingin pergi ke toilet.
Setelah selesai dari toilet, Kinara merasakan sakit kepala yang lebih hebat. Ia sampai harus berjalan dengan berpegangan pada dinding. Setelah berjalan beberapa langkah, Kinara merasa pandangannya kabur dan dengan sekejab sudah tidak terlihat lagi apapun.
*****
Kinara membuka matanya perlahan. Ia memijit pelipisnya yang terasa sedikit pusing. Ia melihat sekitar ruangan yang seperti di puskesmas. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, hanya ada dirinya disitu, membuat Kinara bingung kenapa tiba-tiba ia bisa berada di puskesmas. Kinara ingat kalau ia tidak sadarkan diri setelah dari toilet. Lalu siapa yang membawanya ke puskesmas? Kinara celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang yang menolongnya.
"Kamu sudah bangun?"
Kinara menoleh melihat Arya masuk ke dalam ruangan. Dia membawa beberapa bungkus makanan dan minuman.
"Sudah, pak." Kinara menunduk, ia ingat setelah dari ruang Arya, Kinara ke kamar mandi dan kepalanya terasa lebih pusing.
"Maaf, sudah merepotkan pak Arya," ucap Kinara.
"Sudahlah, Kinara. Istirahatlah dan makan yang banyak biar kamu segera sehat," ucap Arya.
Kinara mengangguk. Ia lega setidaknya Arya mau menolongnya hari ini. Arya membuka bubur ayam yang dibelinya kemudian memberikan kepada Kinara.
Kinara menerima pemberian Arya dan memakannya. Tidak lupa ia ucapkan terimakasih kepada Arya.
"Pak Arya sudah tidak marah, kan?" tanya Kinara.
"Aku tidak marah Kinara," jawab Arya tidak lagi menggunakan bahasa formal.
"Terimakasih, pak." Kinara tersenyum manis sekali membuat Arya juga ikut tersenyum.
Beberapa saat kemudian perawat datang dan mengatakan kalau Kinara sudah bisa pulang. Arya segera membayar biaya puskesmas dan menebus obat. Kinara sakit karena kecapekan dan diminta untuk banyak istirahat dan perbanyak minum air putih.
Arya segera kembali ke ruang Kinara dan membantunya untuk pulang. Tidak lupa ia menyerahkan obat dari puskesmas kepada Kinara.
"Aku bantu berjalan." Arya memegang lengan Kinara.
"Kinara!"
Kinara dan Arya menoleh dan melihat Arjuna berjalan mendekat ke arah mereka. Arya segera melepas pegangannya pada lengan Kinara.
Arjuna menarik Kinara untuk lebih dekat dengannya kemudian menatap Arya, begitu pula sebaliknya.
"Aku yang antar Kinara pulang," ucap Arjuna dengan penuh penegasan. Ia tidak lagi menggunakan bahasa formal.
"Kamu pacarnya, kan?" tanya Arya.
"Tentu saja," jawab Arjuna.
"Perhatikan makan dan kondisi tubuhnya dengan baik. Harusnya kamu lebih perhatian padanya agar tidak pingsan lagi di kampus."
"Aku akan menjaganya dengan baik." Arjuna mengepalkan tangannya, perkataan Arya membuat Arjuna kesal.
"Baiklah, Kinara. Cepat sembuh dan perbanyak istirahat," ucap Arya.
"Terimakasih banyak, pak."
Arya tersenyum dan meninggakan tempat itu. Setelah punggung Arya tidak terlihat lagi, Kinara melirik Arjuna yang sepertinya masih kesal.
"Tahu dari mana aku---"
"Diam!"
Arjuna menatap Kinara kemudian dengan tiba-tiba menggendong tubuh Kinara ala bridal style.
"Juna, turunkan! Gak perlu seperti ini." Kinara malu harus digendong Arjuna.
Arjuna tidak menggubris perkataan Kinara, ia menggendong Kinara sampai masuk ke dalam mobil. Arjuna melajukan mobilnya pelan, beberapa kali berhenti untuk membeli vitamin, makanan dan minuman.
Setelah sampai di kontrakan, Arjuna kembali menggendong Kinara sampai kamar dan dibaringkannya tubuh Kinara di kasur. Arjuna mengambil kain tipis untuk menyelimuti Kinara.
"Kenapa gak bilang?" tanya Arjuna sambil membenarkam selimut Kinara.
"Maaf. Aku pikir hanya pusing sebentar." Kinara terus memperhatikan gerak-gerik Arjuna.
"Kenapa bisa di tolong Arya?"
"Aku tidak tahu. Aku pingsan dan setelah sadar ada Arya disana." Kinara mencuri pandang untuk melihat ekspresi wajah Arjuna.
"Kamu marah?" tanya Kinara.
"Pikir sendiri."
"Maaf," ucap Kinara.
"Jangan membuatku seperti tidak bisa mengurusmu dengan baik!" Arjuna kembali mengingat perkataan Arya, kemudian ia kesal dengan sendirinya.
"Maafkan aku, Jun."
"Iya." Arjuna mengecup kening Kinara lama dan hangat, membuat Kinara merasakan debaran hebat di dadanya.
"Aku harus ke kantor, istirahatlah. Kalau ada apa-apa hubungi aku atau Argan."
Kinara mengangguk kemudian Arjuna pamit pulang. Kinara berusaha mengusir debaran sialan yang hinggap didadanya, namun debaran itu tidak mau pergi. Kinara kesal dengan dirinya sendiri. Kenapa ia harus terlibat hubungan dengan manusia seperti Arjuna dan sialnya harus terjebak cinta yang susah untuk di raih.
Kinara memejamkan mata, berharap segera tidur untuk melupakan kejadian hari ini. Namun, bukannya tertidur justru air mata yang terjatuh secara perlahan dan susah untuk berhenti.
Tuhan, kuatkan hatiku, batin Kinara.