22. Ungkapan Arjuna

1026 Words
Setelah bertemu Agatha, Kinara mengajak Arjuna untuk berkunjung ke panti asuhan menemui ibu Diana. Ini pertama kalinya Arjuna berkunjung ke panti asuhan. Setelah sampai di panti asuhan, Kinara langsung menuju ruang ibu Diana beristirahat. Kinara begitu bahagia bisa mengobrol kembali dengan ibu Diana. Segala rasa Kinara curahkan pada wanita yang sudah dianggapnya ibu itu. Kinara juga meminta doa semoga pernikahannya nanti berjalan dengan lancar. Arjuna juga menemui ibu Diana dan meminta restu. Ada debaran dan rasa bahagia melihat Arjuna mengobrol dengan ibu Diana, Kinara merasa benar-benar dilamar oleh seorang laki-laki. Lamunan Kinara buyar seketika tatkala ia menyadari bahwa semua ini hanya pura-pura. Setelah selesai mengobrol dengan ibu Diana, ibu Linda mengajak Kinara dan Arjuna untuk makan malam bersama anak panti. Suasana makan malam kali ini menjadi heboh karena kedatangan Arjuna. Laki-laki berparas tampan ini membuat seisi panti terpesona. Arjuna di kerumuni oleh anak-anak panti hanya untuk foto dan bertanya banyak hal. Ibu Linda segera mengatur situasi agar makan malam berjalan tertib. Kinara tertawa melihat kehebohan anak panti sementara Arjuna daritadi terlihat tersenyum walaupun Kinara tahu dia mati-matian untuk bersikap sabar dan ramah. Entah kenapa Kinara menikmati suasana ini, bahkan melihat Arjuna menahan rasa kesalnya menjadi hiburan tersendiri bagi Kinara. Selesai makan, ibu Linda memberi kesempatan anak panti untuk menyapa dan ngobrol dengan Arjuna. Sementara Kinara ditarik oleh anak panti senior yang seumuran atau lebih tua dari Kinara. Mereka bertanya banyak hal pada Kinara, termasuk rencana pernikahannya dengan Arjuna yang memang sudah menyebar di seluruh panti. Kinara harus menjawab satu persatu pertanyaan mereka, dan lagi-lagi mereka mengagumi wajah tampan Arjuna. Kinara akui Arjuna memang tampan dan bertubuh tinggi, pantas saja banyak wanita yang tergila-gila padanya. Setelah di interogasi oleh beberapa anak panti, Kinara mencari keberadaan Arjuna di aula panti namun tidak menemukan laki-laki itu. Ia coba mencari disekitar taman samping bangunan panti dan melihat seseorang duduk di kursi taman, segera Kinara menuju kursi itu dan benar saja, Arjuna duduk di sana sendirian. Kinara ikut duduk disamping Arjuna. "Aku cariin ternyata disini," ucap Kinara. Arjuna menoleh menatap Kinara yang sedang tersenyum. Senyum manis yang selalu Kinara berikan untuk orang-orang di sekitarnya. Kinara memang seperti itu. "Sudah kangen?" goda Arjuna. "Gak tuh," Kinara menatap langit malam yang begitu indah dihiasi banyak bintang. "Lalu?" tanya Arjuna. "Kalau kamu hilang gimana, Jun. Kemana harus ku cari?" Kinara terkekeh. "Kamu kira aku anak kecil, huh?" Kinara tidak beniat membalas perkataan Arjuna, ia lebih fokus melihat bintang-bintang di langit yang entah kenapa hari ini terlihat sangat banyak. "Kamu sejak kecil tinggal disini?" tanya Arjuna. "Hm, tentu saja, keluargaku disini," ucap Kinara. "Kamu, bahagia?" "Iya, ada ibu Linda, ibu Diana dan pengurus panti lainnya, serta kakak dan adik-adik sini. Keberadaan mereka sudah cukup membuatku bahagia." Arjuna menghela napas berat, kemudian ia kembali memandang Kinara yang duduk disampingnya. Arjuna menyentuh rambut Kinara yang terbawa angin dan menutupi wajahnya, kemudian ia selipkan di belakang telinga Kinara. "Jun, boleh aku tanya?" "boleh," Jawab Arjuna. "Kamu..itu kamu..masih mencintai dia?" tanya Kinara ragu-ragu. "Dia siapa?" tanya Arjuna. Kinara ragu untuk mengatakannya, ia takut Arjuna marah. Tapi ia harus tahu, setidaknya untuk memutuskan harus dibawa kemana perasaannya pada Arjuna. Bertahan atau dilupakan. "Wanita yang pernah kamu cintai," ucap Kinara. Arjuna diam untuk beberapa saat. Ia enggan untuk merespon pertanyaan Kinara. Sementara Kinara sudah siap jika Arjuna akan marah lagi. "Darimana kamu tahu?" tanya Arjuna. "Setiap orang punya masa lalu, kan? Aku hanya menebaknya," jelas Kinara. "Aku hanya tanya apa kamu masih mencintainya?" tanya Kinara "Apa itu penting?" tanya Arjuna tanpa merespon pertanyaan Kinara sebelumnya. Kinara berpikir sejenak. Seharusnya ia tidak ikut campur urusan pribadi Arjuna. Bukankah perjanjian di awal seperti itu? Kinara segera menggeleng pelan. Ia sadar batasan yang harus ia jaga. Tiba-tiba ingatan Kinara berselancar ke beberapa hari yang lalu, saat ia dan Arjuna perjalanan menuju kampusnya, Arjuna menghentikan mobilnya mendadak karena melihat seseorang yang dia sebut 'In'. Orang itu kemungkinan besar adalah Indira seperti yang di ceritakan Agatha. "Kinar?" "Iya?" "Kamu menyukaiku?" tanya Arjuna. Deg Pertanyaan macam apa itu, Kinara hanya menatap Arjuna tanpa meresponnya. Rasanya sulit untuk mengatakan 'tidak'. "Aku tidak menyukaimu," jawab Kinara. Arjuna tersenyum dan mengacak gemas rambut Kinara. Ah, bagaimana mungkin Kinara tidak menyukai Arjuna kalau diperlakukan manis seperti ini? Kinara bisa gila. "Harusnya seperti itu, tidak ada cinta diantara kita, baguslah kamu mengerti, Kinar." Arjuna kembali tersenyum. "Untuk saat ini aku tidak menyukaimu, tapi jangan bersikap manis lagi, jangan cium atau peluk aku....karena perlakuan manismu itu bisa mengubah perasaanku." Bohong. Kinara berbohong kalau ia tidak menyukai Arjuna. Ia tidak bisa membohongi dirinya atau menolak setiap debaran yang muncul di dadanya ketika berdekatan dengan Arjuna. Arjuna diam. Ia menatap langit untuk beberapa saat, hingga ia menoleh untuk menatap Kinara yang masih menatap langit malam. "Dengar Kinar, aku akan memberitahumu tentang diriku." Kinara menoleh menatap Arjuna. Tatapan mereka kembali beradu. Sekali lagi, Kinara harus terpesona dengan wajah tampan di depannya yang beberapa hari kebelakang selalu membuatnya berdebar-debar tidak karuan. "Selama surat perjanjian itu ada, kamu adalah milikku, aku berhak untuk melakukan apapun ke kamu. Aku bisa bersikap manis, kasar dan acuh. Kamu hanya perlu menerimanya tanpa melibatkan perasaan. Bisa?" Kinara mengangguk. Mana mungkin ia tidak melibatkan perasaan. Sangat mustahil. Kinara memang belum mengenal Arjuna lebih dalam. Ia bahkan tidak tahu Arjuna sosok yang seperti apa. Selama ini yang ia tahu Arjuna bisa menjadi manis, possesif, pemarah dan seenaknya sendiri. Ia belum tahu sifat-sifat Arjuna yang lain. "Aku ngantuk, aku harus istirahat," ucap Arjuna sambil berdiri dari duduknya. Malam ini ibu Linda memang menyuruh Kinara dan Arjuna untuk menginap. "Tidurlah, aku ingin disini sebentar," jawab Kinara. Arjuna segera pergi tanpa mengucap sepatah katapun. Mungkin saja dia memang sedang capek dan butuh istirahat, batin kinara. "Ayo hati, kamu harus kuat." Kinara kembali menyadarkan dirinya. Ia sudah memutuskan untuk menghilangkan rasa sukanya pada Arjuna. Bisa atau tidak itu urusan nanti, sekarang terpenting adalah niatnya dulu. Kinara segera berjalan ke dalam panti untuk beristirahat. Malam berganti dengan pagi, tanpa terasa waktu cepat berlalu. Kinara dan Arjuna sarapan kemudian pamit untuk pulang. Kinara dan Arjuna harus ke kampus pagi ini. Selama di perjalanan keduanya diam, tidak ada pembicaraan, hanya alunan musik yang memecah keheningan. Arjuna lebih acuh dari biasanya, setidaknya dengan seperti ini Kinara bisa membuang rasa sukanya pada Arjuna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD