Arjuna mengelus pipi kanannya yang terasa perih akibat tamparan dari Kinara. Arjuna menatap malas pada Kinara yang sejak tadi ingin tertawa. Rasanya ingin ia terkam tubuh mungil Kinara saat itu juga. Baru kali ini Arjuna mendapat tamparan dua kali dari wanita yang sama.
"Sakit?" tanya Kinara.
"Menurutmu?"
"Salah sendiri, kamu gak sopan menyentuhnya..itu..aku kan reflek jadi nampar kamu." Kinara malu mengatakannya. Ia memang reflek menampar Arjuna saat dia menyentuh bukit kembarnya.
"Bukannya enak?"
"Diam, Juna! Aku malu. Jangan bahas itu lagi!"
Kinara menatap malas pada Arjuna. Ia berdiri hendak menuju kamar mandi tapi Arjuna justru menariknya hingga Kinara terjatuh di pangkuan Arjuna.
"Juna!"
Kinara memberontak ingin berdiri namun ditahan oleh Arjuna. Mata cokelat Kinara bertemu mata hazel Arjuna, kedua saling pandang dalam beberapa detik.
"Juna, aku mau ke kamar mandi," ucap Kinara.
"Janji dulu, jangan makan sama dosenmu itu lagi." Arjuna memajukan wajahnya untuk mencium leher Kinara.
"Ke..kenapa, Jun?" Kinara merinding merasakan sensasi aneh di lehernya. Ia berusaha mendorong tubuh Arjuna agar menjauh.
"Masih tanya kenapa, huh?"
"Iya, aku janji. Lepaskan aku dulu." Kinara mendorong tubuh Arjuna lagi hingga dia melepaskan bibirnya.
Kinara bernapas lega, Arjuna melepaskan tubuhnya, ia kemudian segera menuju kamar mandi.
"Kinar, bersiap-siaplah Agatha ingin bertemu denganmu," ucap Arjuna setelah Kinara selesai dari kamar mandi.
"Hah? Bertemu denganku?"
"Kenapa? Bukankah kamu ingin tahu tentang wanita yang bersamaku tadi, yang sempat kamu cemburui?"
"Ah, iya baiklah. Eh Jun, ibu Linda bilang kalau ibu Diana sudah diijinkan pulang. Maukah kamu mengantarku ke panti malam ini?" Kinara ingat tadi pagi ibu Linda memberikan kabar baik bahwa ibu Diana sudah diperbolehkan pulang.
"Oke. Tapi ada syaratnya, Kinar."
Kinara mengernyit, melihat senyum Arjuna membuatnya merinding. Kinara yakin otak m***m Arjuna sedang bekerja saat ini, membuat rencana-rencana di luar dugaannya.
"Syaratnya apa? Jangan aneh-aneh," tanya Kinara.
"Sini duduk di sebelahku." Arjuna menepuk sofa disebelahnya, meminta Kinara untuk duduk.
Entah kenapa Kinara menurut kata Arjuna dan segera duduk di sofa. Kinara menatap Arjuna yang juga menatapnya. Lagi-lagi jantung Kinara berdebar, ia mengagumi wajah tampan Arjuna. Ingin sekali Kinara sentuh setiap inchi pahatan Tuhan yang sempurna ini, namun Kinara cukup sadar untuk tidak melewati batas.
"Kagum?" tanya Arjuna.
Kinara tersentak kaget dengan ucapan Arjuna. Ia malu dan segera membuang muka untuk menghindari tatapan Arjuna.
"Bukan begitu," jawab Kinara.
"Hadap sini!"
Kinara menghadap Arjuna, lagi-lagi jantungnya berdetak tidak karuan. Kinara beberapa kali harus menghela napas untuk menetralkan debaran di dadanya.
Arjuna mendekatkan wajahnya pada wajah Kinara, ia kecup kening Kinara lama kemudian beralih ke pipi. Kecupan yang sangat lembut dan jauh dari kata napsu belaka.
"Sudah?" tanya Kinara saat wajah Arjuna menjauh dari Kinara.
"Mau lagi?" tanya balik Arjuna.
Kinara menggeleng dan segera bersiap untuk menemui Agatha di kafe. Setelah selesai bersiap Kinara dan Arjuna segera menuju kafe tempat janjian dengan Agatha.
*****
Kinara dan Arjuna sampai di kafe. Kinara melihat seorang wanita memakai dress merah maroon selutut dengan riasan make up natural yang membuat wajah cantiknya begitu bersinar. Wanita itu melambai pada Kinara dan Arjuna.
Kinara dan Arjuna menuju meja Agatha, menyapa dan saling memperkenalkan diri. Agatha wanita yang ramah dan murah senyum sehingga Kinara dengan mudah menyesuaiakan diri dengan wanita itu.
"Kamu cantik dan sopan ya, Kinar," ucap Agatha sambil meminum greentea latte di depannya.
"Terimakasih, Agatha. Kamu juga cantik, ramah dan menyenangkan." Kinara mulai menyukai Agatha, mungkin karena umur mereka yang sama membuat keduanya cepat akrab.
"Kamu tadi cemburu?" tanya Agatha.
"Aku? Kata siapa?"
"Juna."
Kinara menatap malas pada Arjuna yang sedang makan nasi goreng. Daritadi Arjuna memilih untuk diam, membiarkan dua wanita di depannya ngobrol dan menjadi akrab.
"Aku ke toilet dulu," pamit Arjuna.
Agatha tertawa. Kinara mengernyit heran, kenapa Agatha bisa tertawa sepuas itu melihat Arjuna yang menuju toilet.
"Puas banget ketawanya, Tha," celetuk Kinar.
"Juna memang gak berubah, Kinara. Aku yakin nasi gorengnya ini agak pedas. Juna suka gitu, habis makan pedes dikit langsung bereaksi perutnya, hahaha," jelas Agatha.
Kinara tersenyum, Agatha memang sepupu Arjuna. Ia bahkan tahu segala hal tentang Arjuna, karena memang waktu kecil mereka dibesarkan bersama.
"Oh iya, selamat ya buat rencana pernikahan kalian. Kamu banyak sabar, Juna emang banyak nyebelinnya," ujar Agatha.
"Makasih, Tha. Sudah sabar banget deh ini. Hehe," jawab Kinara.
"Awalnya kaget Juna mau nikah karena setahuku Juna trauma sama yang namanya jatuh cinta, semenjak berhubungan dengan...." Agatha berhenti bicara.
Kinara penasaran dengan lanjutan perkataan Agatha yang kinara yakin berhubungan dengan cinta lama Arjuna. Kinara semakin ingin tahu tentang 'wanita itu'.
"Agatha, bisakan kamu ceritakan tentang cinta masa lalu Juna?" Kinara pikir Agatha bisa memberikan informasi.
"Juna tidak cerita?" tanya Agatha.
"Juna selalu marah saat aku menyinggung tentang masa lalunya. Aku, tidak punya keberanian lebih untuk bertanya," jelas Kinara.
"Aku rasa memang Juna yang berhak cerita sendiri, Kinara. Lambat laun dia pasti akan terbuka denganmu. Tapi, yang perlu kamu ingat, dia hanya masa lalu, dan sekarang masa depannya ya kamu," ujar Agatha.
Agatha tidak tahu kalau pernikahannya dengan Arjuna nanti hanyalah pernikahan kontrak. Perkataan Agatha benar, wanita dengan sebutan 'In' itu hanya masa lalu Arjuna, dan untuk satu tahun mendatang Kinara yang akan jadi masa depannya Arjuna. Meskipun hanya masa lalu Arjuna, entah kenapa Kinara pikir wanita itu akan muncul kembali di hidup Arjuna. Dan tiba-tiba Kinara tidak rela seandainya wanita itu kembali di hidup Arjuna.
"Baiklah, aku cerita dikit saja ya, aku pikir kamu berhak tahu, sisanya biar Juna yang cerita sendiri karena aku juga tahu hanya dari cerita Juna," ucap Agatha.
Kinara mengangguk, ia memang penasaran dengan sosok wanita berinisial 'in' itu.
"Namanya Indira. Wanita yang paling di cintai Juna dan dengan sekejap menjadi wanita yang paling mengecewakan di hidup Juna. Tapi, itu hanya masa lalu. Biarlah jadi kenangan." Agatha tersenyum, berusaha menyakinkan Kinara bahwa Indira hanyalah sosok di masa lalu Arjuna.
Dugaan Kinara benar, wanita dengan nama Indira itu adalah orang yang sangat dicintai Arjuna dan Kinara pikir Arjuna masih mencintainya. Ah, Kinara tidak mau ambil pusing dengan wanita itu, toh Arjuna memang dari awal tidak membuka hatinya untuk Kinara. Setidaknya itu yang dipikirkan Kinara saat ini, namun hatinya berkata lain, ia masih penasaran dengan sosok Indira.
"Eh, jangan bilang-bilang ya, kalau aku cerita Indira ke kamu, takutnya Juna marah. Sampai situ saja, untuk alasan mereka berpisah dan lainnya kamu bisa tanyakan langsung pada Juna," ucap Agatha.
"Iya, tenang saja. Aman kok, hehe."
Obrolan kedua wanita itu kembali dengan topik yang berbeda, sampai Arjuna keluar dari kamar toilet.
Agatha berpamitan kepada Kinara dan Arjuna karena masih ada yang harus diurusnya setelah itu, sementara Kinara harus segera ke panti asuhan.
"Tadi ngobrolin apa selama aku di toilet?" tanya Arjuna sambil berjalan menuju parkiran kafe.
"Banyak hal. Tentang kamu waktu kecil juga." Kinara menahan tawanya, ingat cerita Agatha.
"Cerita apa?"
"Banyak, yang manis, yang lucu sampai yang memalukan, hahaha." Kinara melihat ekspresi Arjuna yang terlihat malu. Sungguh menggemaskan.
"Agatha cerita waktu masih taman kanak-kanak kamu ketakutan sama guru sampai---"
"Diam, Kinar!"
"Hahaha."
Kinara berjalan di depan Arjuna dan masih tertawa. Tanpa sadar tangan Kinara ditarik Arjuna sampai tubuhnya berbalik dan menabrak tubuh Arjuna. Kinara bisa melihat ekspresi kesal Arjuna.
"Ketawa lagi?"
"Ma.. maaf, Jun."
Dengan gerakan tiba-tiba tangan Arjuna berulah, menyebabkan Kinara menegang seketika.
"Hukuman untuk gadis kecilku yang nakal. Hahahaha." Arjuna berjalan menuju mobilnya.
"Juna, kamu menyentuhnya. kurang ajar!"