Kinara segera pulang dari kampus setelah kuliahnya berakhir. Arjuna melarang Kinara untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai office girl. Ia boleh datang ke kantor hanya untuk menemani Arjuna, tidak untuk bekerja. Mendapat perhatian lebih dari Arjuna membuat Kinara memiliki perasaan yang berbeda pada laki-laki itu. Mungkin Kinara memang sudah jatuh hati pada Arjuna dan sebisa mungkin ia menolak mengakuinya. Arjuna tidak mungkin memiliki perasaan yang sama dengan Kinara karena selama ini dia hanya main-main saja.
Perkataan Amel tadi siang masih terngiang-ngiang di telinga Kinara. Ingin rasanya ia bertanya langsung pada Arjuna, siapa wanita yang bersamanya tadi siang. Namun, Kinara tidak punya cukup nyali untuk bertanya. Kinara mondar-mandir di kontrakannya, entah kenapa hatinya gelisah. Untuk menenangkan pikirannya, Kinara mengambil laptop dan mulai mengerjakan tugas makalah dari Arya. Hari ini harus selesai agar besok bisa ia kumpulkan di meja Arya. Satu jam kemudian Kinara selesai dengan tugasnya dan bergegas keluar kontrakan untuk mencetak makalahnya dan membeli makan.
Kinara yang baru saja keluar dari kontrakannya dikejutkan dengan seseorang yang sudah berdiri di depan mobilnya. Laki-laki itu Arya.
Kinara tidak tahu kenapa dosennya itu sudah berada di depan kontrakannya padahal mereka tidak membuat janji. Sebenarnya Kinara takut jika Arjuna tahu, tapi mau bagaimana lagi, ia tidak mungkin mengacuhkan Arya.
"Pak Arya ngapain ke sini?" tanya Kinara.
"Mampir saja. Sekalian ajak kamu makan."
"Pak Arya serius?"
"Kapan aku tidak serius?" ucap Arya.
Benar juga, dosennya itu sangat serius dengan ucapan dan tindakannya. Aneh saja rasanya dosennya itu rela datang ke kontrakannya hanya untuk mengajak makan siang.
"Tumben ngajak makan, pak. Tahu saja aku mau keluar ngeprint tugas dan cari makan."
"Nah, yaudah waktunya pas, kan. Masuk, Kinara." Arya menyuruh Kinara masuk ke dalam mobilnya.
Kinara yang awalnya ragu akhirnya masuk juga ke mobil Arya. Kinara pikir tidak masalah, toh Arjuna juga sedang bersama wanita lain.
"Antar aku print makalah pak Arya dulu ya, nanti malah lupa. Maaf pak, aku orangnya pelupa. Hehe," ucap Kinara sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Boleh, Kinara. Aku senang kok bisa ngantar kamu ke manapun."
"Pak Arya kesambet apaan sih, kok jadi baik?" tanya Kinara asal, daripada suasana menjadi hening.
"Gak boleh, ya?" tanya Arya.
"Boleh, boleh banget kok," jawab Kinara.
Arya tertawa, membuat Kinara harus menoleh menatap laki-laki di sampingnya itu.
"Kenapa ketawa, pak?"
"Kamu lucu," jawab Arya.
Kinara tertawa, entah kenapa ada perasaan nyaman ketika ngobrol dengan Arya. Sosok Arya yang lebih dewasa seperti kakak bagi Kinara.
Arya mengantar Kinara print tugas makalahnya, kemudian mengajak Kinara makan di sebuah kafe. Kinara dan Arya memasuki Kafe dan memilih tempat duduk. Keadaan kafe tidak ramai, hanya ada beberapa pengunjung yang mengisi beberapa meja. Arya segera memesan makanan untuknya dan Kinara.
Kinara memperhatikan sekitar dan matanya tertuju pada meja yang terletak di sudut ruangan. Kinara menajamkan penglihatannya. Tidak salah lagi, dimeja itu duduk seorang laki-laki dan wanita yang sepertinya sangat akrab. Kinara begitu kesal karena laki-laki itu adalah Arjuna yang duduk bersama seorang wanita cantik berambut panjang dengan aura yang mempesona. Tiba-tiba hati Kinara terasa sesak, ia mulai menebak kalau dia adalah wanita yang di cintai Arjuna.
Kinara mulai tidak nyaman dan hatinya terasa tidak karuan. Hanya melihat Arjuna bersama wanita lain membuat hatinya terasa sakit. Apakah Kinara sudah mencintai Arjuna? Kinara segera menggeleng dan menyadarkan dirinya, bahwa cinta itu seharusnya tidak boleh ada. Kinara harus membuang semua perasaan yang hadir dengan tiba-tiba ini agar tidak terluka di kemudian hari.
"Kinara, kamu baik-baik saja?" tanya Arya.
"Oh, iya pak. Aku baik kok. Udah selesai pesannya?" tanya Kinara.
"Udah. Kamu lihat apa?" Arya menatap penuh tanya pada Kinara. Ia segera melihat ke arah meja yang dilihat Kinara tadi.
"Arjuna bersama wanita?"
Kinara mengangguk. Ia tidak tahu harus berkomentar apa.
"Kamu ada hubungan apa sama Arjuna?" tanya Arya.
"Tidak ada hubungan apa---"
"Saya pacarnya Kinara." Arjuna tiba-tiba sudah berdiri di dekat kursi Kinara.
"Pacar?" tanya Arya.
"Iya, kami berpacaran," jawab Arjuna.
Arya masih terkejut dengan apa yang dia dengar barusan. Arya diam ditempat dan menatap Kinara penuh tanda tanya.
"Juna kamu---" ucap Kinara.
"Maaf, saya ada perlu dengan pacar saya." Arjuna segera menarik tangan Kinara, meninggalkan Arya yang masih mematung di tempatnya duduk.
Kinara melihat meja Arjuna, disana masih ada wanita yang bersama Arjuna tadi. Tiba-tiba perasaan kesal itu hadir kembali, membuat Kinara ingin protes sekarang juga pada Arjuna.
"Juna, lepas! Mau kemana?" tanya Kinara yang pergelangan tangannnya masih ditarik oleh Arjuna.
Arjuna membawa Kinara ke mobilnya, memasukkan paksa tubuh Kinara ke dalam mobil dan membanting pintu. Arjuna segera masuk dan melajukan mobilnya. Suasana didalam mobil terasa canggung karena baik Kinara atau Arjuna tidak ada yang bersuara.
Kinara ingin marah pada Arjuna. Kenapa dia bersikap seperti ini pada Kinara. Bahkan, dia Begitu marah melihatnya makan bersama Arya, sementara dia sendiri bermesraaan dengan wanita lain.
"Juna, mau kemana?" tanya Kinara.
"Apartemen."
"Ngapain?" tanya Kinara lagi.
Tanpa menjawab, Arjuna melajukan mobilnya menuju apartemen. Kinara harus menelan ludahnya berkali-kali saat menatap Arjuna. Wajah tampan Arjuna yang terlihat marah membuat Kinara memilih diam selama diperjalanan.
Jujur saja Kinara takut kalau kejadian malam itu terulang kembali, saat Arjuna terbawa emosi dan menciumnya kasar. Kinara berharap Arjuna kali ini tidak terbawa emosi dan bisa membicarakan semuanya secara baik-baik.
Mobil berhenti di partemen. Kinara ditarik oleh Arjuna untuk masuk ke dalam apartemennya. Arjuna membawa Kinara untuk duduk di sofa apartemen dan suasana menjadi hening untuk beberapa saat karena Arjuna daritadi menyenderkan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata tanpa bersuara.
"Kinar?"
"Iya?"
"Bisakah tidak membuatku marah?" tanya Arjuna.
"Kenapa harus marah?"
Arjuna membuka matanya dan menatap kesal pada Kinara.
"Aku sudah bilang kan, aku tidak suka kamu dekat dengan dosenmu itu. Kamu malah makan dengannya!"
"Cukup, Jun. Kamu sendiri jalan dengan wanita lain dan aku diam saja. Kenapa kamu harus marah?"
Kinara kesal dengan sikap Arjuna yang seenaknya sendiri. Melarangnya pergi dengan laki-laki lain tapi dia sendiri jalan dengan seorang wanita. Dan yang membuat Kinara tambah kesal adalah Arjuna tidak memiliki perasaan apapun padanya tetapi kenapa harus possesif sekali.
"Kamu cemburu dengan Agatha?" tanya Arjuna.
"Agatha?"
"Dia Agatha, sepupuku. Dia baru pulang dua hari lalu dari Jerman dan menemuiku di kampus, dia sengaja pulang karena tahu aku akan menikah" jelas Arjuna.
Kinara terkejut dengan penjelasan Arjuna. Kinara pikir wanita itu adalah si "In" cinta masa lalunya Arjuna tapi ternyata sepupu? Apa Arjuna berbohong?
"Aku tidak percaya!"
Arjuna menghela napas berat kemudian melakukan videocall dengan Agatha. Arjuna bahkan meminta Kinara untuk menyapa Agatha. Arjuna juga menunjukkan akun media sosial milik Agatha agar Kinara percaya.
"Kamu cemburu dengan sepupuku?" tanya Arjuna.
"Tidak!" Kinara malu dan memalingkan muka.
"Jadi, kenapa mau makan sama dosenmu itu?"
"Dia datang ke kontrakan ngajak makan, aku gak enak kalau menolak," jelas Kinara.
Arjuna mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya marah. Ia dorong tubuh Kinara dan dengan gerakan cepat menindih tubuh Kinara.
"Juna, kamu mau apa?"
Arjuna tidak merespon pertanyaan Kinara dan mengunci kedua tangan Kinara di atas kepalanya.
"Dia menyukaimu?"
"Aku gak tahu."
"Kamu menyukainya?" tanya Arjuna.
"Bukan urusanmu, Jun. Kenapa kamu possesif sekali? Ingat, Jun kita gak memiliki perasaan apapun!"
"Selama ada surat perjanjian itu, kamu milikku, Kinar. Gak ada yang boleh menyentuhmu selain aku. Paham?" jelas Arjuna.
"Ini gak adil!" Air mata Kinara sudah membendung di pelupuk matanya dan siap terjatuh, sebisa mungkin Kinara tahan agar Arjuna tidak melihatnya menangis.
"Buatku ini adil," ucap Arjuna sambil menenggelamkan wajahnya di leher Kinara. Seketika tubuh Kinara menegang karena kecupan dan gigitan yang Arjuna lakukan di sana. Kinara memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya.
Arjuna mendongak untuk menatap wajah cantik Kinara. Dengan lembut Arjuna menempelkan bibirnya pada bibir Kinara. Sangat lembut dan pelan membuat Kinara terbuai dan membalas lumatan Arjuna. Tanpa sadar pegangan tangan Arjuna terlepas dan membawa tangan Kinara melingkari leher Arjuna dan sesekali menekan kepala Arjuna.
Arjuna melepas bibirnya dan menatap lembut pada Kinara. Harusnya Kinara menolak semua perlakuan manis Arjuna, tapi entah kenapa ketika tubuhnya berusaha memberontak, justru ia sangat sulit untuk menghindar. Pesona Arjuna benar-benar sudah menguasai hati Kinara.
"Kinar?"
"Iyaa?"
"Boleh aku pegang?"
"Hah?"