Melihat gelagat Pak Karta yang menghindar, aku tidak jadi mengejarnya. Mungkin nanti aku akan ke rumahnya saja dan meminta maaf atas perkataan Mariska malam itu. Aku kembali melakukan perjalanan ke Desa Palan. Di langit sebelah barat, Lembayung senja sudah mulai muncul menampakkan diri. Itu berarti kemungkinan aku akan melaksanakan salat magrib di perjalanan. Benar juga kata ibu kalau aku harus sesegera membeli sepeda motor lagi agar pekerjaanku tidak tertunda. Bergantian sepeda motor dengan Mariska membuatku mengejar waktu. Sampai di Desa Palan, Mbak Wasis menjemputku dengan ciri khas tawa renyahnya. Apakah setiap wanita seperti ini? mereka terlihat gembira bila berhadapan dengan uang. “Gajian, Mbak?” celetuk salah satu pengunjung warung kopi. “Owh ... ya, jelas,” ucap Mbak Wasis berb

