Part 1 - Surat Pemutusan Kerja
“Sial! Gue dapet surat PHK. Mana belum bayar kontrakan lagi.” Yasmin menggerutu ketika mendapat surat Pemutusan Hubungan Kerja dari kantor lamanya, PT Asuransi Cepat. Karena sempat ada pergantian penanggung jawab sebulan lalu, PT mengalami degredasi, baik dalam pengolahan maupun kinerja karyawan. Kemungkinan besar disebabkan oleh penanggung jawab baru yang kurang kompeten dan pengalaman.
Setelah meneguk tandas jus jeruknya, dia berdiri lantas mengambil sling bag dan keluar dari kontrakan kecilnya yang berada di sudut Kebon Jeruk. Kedua kakinya yang beralaskan sandal jepit hijau melangkah percaya diri mencari informasi lowongan kerja. Kuota miliknya hanya tinggal 450 MB, dan itu tidak akan cukup untuk menyelam mencari lowongan kerja via media sosial. Apa lagi sore nanti merupakan jadwalnya untuk mengabari orang tua di Klaten, bahwa dirinya baik-baik saja di Jakarta.
Terik matahari memancarkan cahayanya dengan kuat. Sesekali perempuan 24 tahun berambut sebahu itu mengusap peluh di dahi dan berteduh sebentar di dekat ruko, di samping pohon jambu. “Susah juga cari kerjaan baru,” desisnya sembari menyandarkan bahunya di batang pohon. Dia merogoh ponsel putih dari saku, melihat waktu yang tertera di layar, tepat pukul 11.49. “Kalau hari ini gue nggak dapet kerja, bisa-bisa minggu depan gue nggak bisa makan. Ya Tuhan, bantu dong.” Yasmin bergumam lirih sembari memasukkan kembali ponselnya.
Ketika dia memutuskan untuk melanjutkan langkah, sebuah kertas putih berukuran A4 terbang entah dari arah mana dan mengenai wajahnya. Buru-buru Yasmin mengambil kertas itu dan mencari sumber yang sengaja melemparkan ke arahnya, tetapi tak ada tanda-tanda dari para pengendara di jalanan sana. Dia mengerutkan dahi, lantas mulai membaca isinya.
DIBUTUHKAN SEGERA!
Karyawan Butik Ganida
Persyaratan:
Laki-laki/Perempuan
Maks 35 tahun
Pendidikan min S1
Tidak buta warna
Berpakaian menarik
Sopan
Segera datang ke Ganida langsung!
Contact person: 0811XXXXXX
Alamat: Jl Mawar 31 Blok D, Kebon Jeruk, Jakarta Utara.
Jakarta, 09 Juli 2023
“Ganida? Bukannya itu butik besar, kenapa sampai nyebar selebaran buat cari-cari karyawan. Ini valid nggak, sih?” Raut wajah Yasmin masih bertanya-tanya, pasalnya sangat aneh bila selebaran itu benar-benar berasal dari Ganida. “Tapi apa salahnya nyoba kali, ya. Lagian deket.” Yasmin melipat selebaran surat itu, lantas dia berjalan menuju butik Ganida yang telah ia hafal jalurnya.
Kebetulan butik Ganida berada tak jauh dari kampusnya, sehingga selama empat tahun Yasmin selalu pulang pergi melewati Ganida yang tak pernah sepi dari pengunjung.
Sekitar dua puluh menit berjalan kaki, kini dia sampai tepat di depan bangunan merah muda berlantai lima. Memiliki halaman luas yang bersih, dan di jendela lantai tiga terlihat gaun-gaun keluaran baru yang terpampang di sana sebagai daya tarik untuk masyarakat yang melihatnya. Butik ini tepat berada di tepi jalan dan area parkirnya berada di bawah tanah sehingga setiap kendaraan berada rapi di bawah.
Setelah berpikir sebentar serta memastikan bahwa pakaiannya telah rapi, Yasmin melangkahkan kakinya masuk pada butik yang tak pernah dia hampiri. Harga pakaian yang mahal, tentu menjadikan Yasmin bukan bagian dari target market Ganida. Kali ini dia melihat beberapa pengunjung Ganida yang sedang sibuk memilah-milih berbagai macam jenis pakaian yang terpajang di sepanjang ruangan dengan menampilkan harga-harga yang fantastis. Dari mulai brand luar negeri hingga brand lokal keluaran terbaru.
Beberapa karyawan tampak membantu calon-calon pembeli yang sedang memilih berbagai jenis pakaian, sementara Yasmin berusaha mencari bagian informasi di butik ini.
“Halo selamat datang di Ganida, ada yang bisa dibantu?” Seorang laki-laki setinggi 170 sentimeter, berkulit putih serta bermata sipit baru saja menghampiri Yasmin. Wajahnya masih terlihat seperti usia 25 tahunan. Dia mengenakan setelan putih, khas pegawai Ganida.
“Maaf, saya menemukan selebaran ini di jalan. Apakah ini benar dari Ganida? Apakah informasi ini valid?” Yasmin memperlihatkan selebaran kertas itu pada lelaki ber-name tag ‘Bian Angkasa’ yang terlihat masih membacanya.
“Betul itu memang dari Ganida. Untuk saat ini kami sedang kekurangan karyawan, jadi dibutuhkan cepat. Akhirnya tercetuslah ide untuk menyebarkan selebaran. Apakah kamu berminat untuk bekerja di sini?” tanya Bian, tatapan matanya terlihat dalam, tetapi suaranya terdengar sangat ramah.
Yasmin mengangguk cepat, “Masih bisa?” tanyanya memastikan.
Bian mengangguk. “Tentu. Mari ikut saya.” Lelaki itu berbalik, diikuti langkah Yasmin di belakangnya. Namun, detik berikutnya Bian sengaja memelankan langkah, hingga akhirnya mereka berjalan bersisian menuju tempat yang tidak Yasmin ketahui.
“Sebelumnya siapa namamu? Sekarang kita akan ketemu dengan pemilik Ganida secara langsung. Kebetulan sedang ada di sini. Kamu salah satu yang beruntung.” Bian tersenyum.
“Nama saya Yasmin. Senang mendengarnya.” Yasmin sedikit tenang, barangkali karena lelaki di sebelahnya cukup friendly hingga dia tak merasa gugup seperti sebelumnya. Maksudnya, Ganida tidak semenyeramkan yang ia kira.
“Wah nama yang bagus. Saya Bian. Semoga Bu Melati menerima kamu menjadi bagian dari Ganida agar nantinya kita bisa berteman baik.”
“Saya juga mengharapkan hal sama.” Yasmin tersenyum.
Mereka berjalan melalui banyak pengunjung yang sibuk. Beberapa pekerja Ganida yang berpapasan menyapa Bian dan dia menjawabnya dengan ramah. Ah, sebagai orang yang tidak pandai bersosialisasi Yasmin bersyukur bahwa ia dikenalkan dengan Bian terlebih dahulu sebelum mengenal dengan banyak orang. Paling tidak, Bian bisa menjadi pemandunya selama di sini.
Mereka lantas memasuki lift dan naik ke lantai dua. “Bu Melati itu jarang ke sini. Biasanya dua minggu sekali, bahkan sampai sebulan sekali. Dan sekarang hari ini dia di sini. Nanti pas interview jawab sejujur-jujurnya dan nggak perlu ada yang kamu sembunyikan kecuali hal privasi.”
“Biasanya ditanya apa aja?” tanya Yasmin ketika pintu lift terbuka.
“Saya nggak bisa jawab, karena setiap orang ditanya macam-macam pertanyaan yang beda. Dan Bu Melati itu nggak tertebak. Jadi, antara satu orang dengan orang lain pasti beda,” jawab Bian.
Yasmin mengangguk-anggukkan kepalanya. Meski sedikit pesimis, dia meyakinkan diri bahwa jika takdirnya dipekerjakan di sini, maka apa pun jawaban yang akan diberikan pada Bu Melati nanti pasti terdengar manis dan berkesan untuknya sehingga Yasmin dengan mudah diloloskan menjadi bagian dari Ganida.
Kali ini kedua mata Yasmin menyapu hampir setiap sudut lantai dua. Berbagai dress terpajang. Dari warna pastel hingga warna-warna yang berani seperti merah cerah, hijau neon, kuning menyala, dan warna sejenis lainnya. Para pengunjung di sini lebih banyak perempuan. Ada pun beberapa pria yang ada di sana lebih memilih duduk di sofa-sofa yang tersedia, mungkin menunggu istrinya yang masih belanja.
“Nah, itu ruangan Bu Melati. Dari sini saya lepaskan kamu sendiri, ya. Kamu berani, kan?” tanya Bian ketika mereka berhenti tepat di depan ruang berpintu putih yang tertutup rapat.
Yasmin mengangguk penuh keyakinan, “Aku berani. Sebelumnya terima kasih.”
Bian tersenyum. “Jangan gentar dan good luck!” Lelaki itu menepuk pundak Yasmin pelan, sebelum akhirnya dia langsung pergi dan Yasmin mulai melangkah menuju ruang yang ditunjukkan Bian padanya.