Adrian menatap kepergian Jean kemudian menatap Selvy kembali.
"Kenapa dia di rumah loe?"Adrian meminta penjelasan.
"Masuk aja dulu gak enak di liatin tetangga." Adrian mengikuti Selvy masuk.
Benar karena banyak ibu-ibu komplek yang sedang belanja di Abang sayur sambil melirik ke arah mereka.
"Sekarang bisa jelasin?"tanya Adrian lagi saat sudah mengambil posisi duduk yang nyaman.
"Dia lagi main di rumah gue,"jawab Selvy.
"Sepagi ini?"tanya Adrian lagi.
"Kenapa? Mario dan loe juga gitu."kilah Selvy. Gak mungkin Selvy jujur kalau si berondong kampret itu nginep di rumahnya.
"Ah ya benar juga."Adrian tersenyum tipis.
"Mau minum apa?"tanya Selvy basa-basi.
"Enggak usah gue ke sini minta maaf sama ngajak loe jalan entar malam. Mau gak? "Adrian melihat ke arah Selvy.
"Kemana?."Selvy melihat ke arah Adrian balik sambil memakai cincin pemberian Adrian tadi.
"Nonton."Adrian menunjukkan dua tiket di tangannya.
"Ada yang lebih menarik?"Selvy terlihat tidak berminat.
"Ini film bagus romantis lagi,"balas Adrian antusias.
Selvy memutar bola matanya jenuh. Tentu saja, bagi Selvy nonton film romantis tidaklah menarik dan hanya buang-buang waktu.
"Ok nanti gue pikir-pikir dulu,"balas Selvy yang sebenarnya pengin nolak langsung ajakan Adrian, hanya saja Selvy gak enak.
"Baiklah gue tunggu kabar dari loe."Adrian pamit pulang.
Selvy hanya mengangguk-angguk kepalanya sebagai jawaban.
_________________
Jean hanya duduk merenung di bangku taman kemudian merogoh saku celana dan membuka dompet miliknya.
Jean meringis melihat isi dompetnya.
"Tragis amat."Gumam Jean. dompetnya hanya berisi uang dua lembar gocengan.
Dengan lemas Jean kembali memasukkan dompetnya ke saku kemudian beranjak menuju rumah Selvy. Cuma di sana Jean bisa menumpang. Jika ia memiliki uang, Jean pasti memilih menyewa kamar kos.
"Bro...."seru Aldo.
Jean berhenti melihat Aldo sedang memarkirkan motor barunya.
"Gue baru aja mau ke rumah loe."Aldo menepuk pundak Jean.
"Percuma, gue gak pulang ke rumah,"balas Jean.
"Berantem lagi loe?"Aldo sudah hafal masalah Jean.
Jean hanya mengangguk malas.
"Terus sekarang loe mau kemana?"Aldo melihat ke sekeliling tak mendapati motor ataupun mobil milik Jean.
"Numpang di rumah tetangga, semua fasilitas gue di cabut. Motor yang gue bawa aja, paginya langsung di ambil sama orang suruhan papah gue."jelas Jean melas.
"Sorry banget bro, gue gak bisa ngasih loe tumpangan. Loe tau sendiri gimana nyokap dan bokap gue,"balas Aldo gak enak.
"Slow aja bro."Jean tersenyum tipis.
"Kita cabut."Ajak Aldo.
"Dompet gue sekarat."
"Gue punya ide."Aldo menarik turunkan alisnya.
"Apa?"
"Balapan."Aldo tersenyum miring.
Jean berfikir sejenak, kemudian mengangguk tanda setuju.
___________
Sore hari Selvy dengan sangat terpaksa menerima ajakan Adrian.
Kali ini Selvy sedang bersiap untuk jalan nanti malam.
Selvy mengenakan dress warna soft pink motif bunga kecil-kecil sebatas lutut.
Ia memoleskan lipstik berwarna soft, Selvy ingat kalau dirinya tidak boleh menggunakan lipstik mencolok oleh Mario.
Selvy memutar tubuhnya di depan cermin untuk memastikan penampilannya.
"Gue emang selalu cantik,"ucap Selvy percaya diri.
Tak lama suara bel terdengar, Selvy melihat ke arah jam dinding.
"Cepet amat."Selvy pikir Adrian sudah datang padahal baru jam setengah enam sore. Selvy pun kemudian membukakan pintu.
"Loe."tunjuk Selvy saat melihat Jean yang datang.
"Lama."Jean langsung masuk begitu saja menubruk bahu Selvy yang berdiri di tengah pintu.
"Kurung ajar sekali."Geram Selvy menarik jaket Jean.
"Apaan sih mbak, gue mau mandi. Tar aja kalau minta di peluk. Badan gue masih bau keringat,"uca Jjean.
"Siapa yang minta loe peluk. Mending loe sekarang pergi dari sini,"usir Selvy.
"Loe aja yang pergi sana mba. Gue beneran gerah mau mandi."Jean melepaskan tangan Selvy dari jaketnya.
"Ini rumah gue.....!!!"triak Selvy kesal enak banget main usir padahal ini kan rumahnya.
"Toa."Jean menutup telinganya.
"Sekarang loe angkat kaki dari rumah ini."Selvy menunjuk pintu keluar.
"Gak mau."Jean malah masuk ke kamar Selvy.
"Heh..... berondong kampret."Saki selvy.
Sedangkan Jean masa bodo seolah tak peduli makian Selvy.
"Astaga."Selvy merapihkan penampilannya karena mendengar suara mobil berhenti.
"Loe udah nungguin gue."Senyum di wajah Adrian terlihat jelas.
Adrian pikir Selvy menunggunya karena pintu di buka dan Selvy berdiri tak jauh dari sana.
"Iya gue nunggu loe."Selvy tersenyum di paksakan.
"Ayo berangkat."Adrian mengulurkan tangannya.
"Tunggu di mobil, gue ambil tas dan ponsel gue dulu di kamar."
"Ok."Adrian berjalan menuju mobilnya.
Selvy bergegas masuk ke dalam kamar.
"Aaaaaaaaaa."triak Selvy.
Adrian yang mendengar teriakkan Selvy langsung berbalik masuk kembali ke dalam.
"Sel...."panggil Adrian.
"Gawat."Selvy segera menutup pintunya jangan sampai Adrian melihat ada Jean di kamarnya.
"Pake baju loe cepet."Perintah Selvy mukanya memerah melihat Jean Shirtless.
"Gak pengin pegang mba."Goda Jean.
"Cihhh gak sudi,"balas Selvy. Jean hanya tersenyum simpul.
Selvy terkesima melihat Jean. Memang Jean errrr sexy babe.
"Sel are you ok?"Adrian mengetuk pintu kamar Selvy.
"Ya gue kelua,."balas Selvy bergegas sebelum imannya tergoda ingin pegang-pegang badan Jean yang mirip roti sobek bersih putih lagi.
"Kencan?"tanya Jean mengenakan kaosnya.
"Bukan urusan loe.”
Jean hanya mengedikan bahunya acuh kemudian rebahan di tempat tidur milik Selvy. Sedangkan Selvy keluar dan menutup pintunya cukup keras.
"Tadi kenapa?"Adrian penasaran.
"Kaget ada kecoa."Selvy bohong.
"Ok ayo."Adrian menggandeng lengan Selvy.
Jean bangkit dari tempat tidur dan mengintip dari celah tirai.
Kemudian kembali tiduran badannya terasa lelah, seharian mengikuti lomba balap motor demi mendapatkan uang.
____________
Beberapa kali Selvy menghembuskan nafas bosan. Selvy sama sekali tidak menikmati tontonannya.
"Ke toilet sebentar."Bisik Selvy pelan.
"Mau gue anterin."Adrian hendak bangkit mengantar Selvy namun dengan cepat Selvy menggeleng.
Sedangkan Adrian hanya mengangguk .
Selvy bernafas lega saat ia sudah sampai di luar.
"Mending gue makan."Selvy menuju restoran.
Selvy memainkan ponselnya sambil menunggu pesanannya. Tak sengaja ia melihat Mario bersama wanita lain dan terlihat sangat mesra.
"Cihhh laki-laki emang buaya. Untung gue cuma manfaatin doang,"cibir Selvy santai. Selvy tak peduli Mario bersama wanita manapun asal uangnya terus mengalir.
"Jalang, kasian sekali. Kehabisan pelanggan."Selena mengejek Selvy.
Dua sahabat Selena pun tak kalah nyolot wajahnya membuat Selvy geram dan ingin mencakar wajah mereka.
"Loe gak punya kerjaan selain ganggu gue,"balas Selvy acuh tak acuh.
"Jauhi Jean." Selena menatap Selvy tajam.
Mendengar itu tentu Selvy langsung tertawa terbahak-bahak.
"Tutup mulut Loe."Selena menggebrak meja keras.
Selvy hanya menaikkan sebelah alisnya menjengkelkan.
"Kau...."Selena hendak menyiram Selvy namun tangannya tertahan.
"Selena loe keterlaluan. Cepat perg,"usir Adrian.
"Kakak."nafas Selena seolah tercekat melihat tatapan kakaknya yang menyeramkan.
"Pergi...!!"usir Adrian dingin.
Selena langsung pergi tak ingin melihat kemarahan kakaknya lebih dari ini. Selena benar-benar kesal setengah mati dengan Selvy.
"Tunggu pembalasan gue,"ucap Selena dalam hati.