Tadinya memang aku yang mau memanjakan diri di bahu Dya, eh malah sekarang dia yang ketiduran di bahuku. Aku menggendong Dya ke kamarnya sebelum aku kembali ke kamarku sendiri. Malam ini hujan turun dengan sangat deras dan disertai petir. Aku menyelimuti Dya agar dia tidur lebih nyaman. Kemudian barulah aku kembali kekamarku. Saat aku baru akan naik ketempat tidur, petir menggelegar di tepat di atas rumah diiringi teriakan Dya. Secepatnya aku langsung berlari ke kamar Dya dan mendapati Dya sedang meringkuk di sudut tempat tidurnya, menggigil dan menangis.
“Dya...” Panggilku lembut sambil berjalan menghampirinya.
Dya langsung memelukku, ”Dheo... A... A... Aku kaget... Hiks... Hiks... Hiks... Aku takut....” Ucapnya serak dalam pelukanku.
“Udah tenang aja, ada aku disini. Petirnya udah gak ada kok. Kamu tidur lagi ya?” Ucapku lembut sambil membaringkan Dya lalu menyelimutinya lagi.
“Jangan pergi. Temani aku... Aku takut.” Rengek Dya seperti anak kecil.
“Dya... Petirnya udah gak ada kok. Kamu tidur aja lagi, oke?”
“Jangan pergi...” Rengeknya lagi, kali ini ada air mata dalam suaranya.
“Dya... Aku ini laki-laki, ingat? Gak baik tau kalau aku dikamar kamu. Kalau Bik Umi sama Didi tau, aku pasti akan digantung hidup-hidup.” Jelasku cepat.
“Aku mohon... Malam ini aja. Aku benar-benar takut...” Pinta Dya lagi.
Kutatap wajahnya yang benar-benar memohon itu, ”Baiklah. Aku akan tetap disini sampai kamu bangun. Jadi sekarang ayo tidur, princess.” Ujarku lembut sambil mengusap kepalanya, menenangkannya.
Aku duduk di lantai di samping tempat tidur Dya sambil terus menggenggam tangannya. Memberikan ketenangan atau apapun yang dia inginkan dariku. 9 tahun aku menunggu saat ini, melindunginya, memberikannya kenyamanan, dan segalanya yang dia butuhkan.
Dan sekarang, disinilah aku.
“Dheo...”
“Hm?”
“Tentang penelitian itu... Ily ikut pergi gak?” Tanya Dya pelan.
“He eh. Dia satu team denganku. Udahlah jangan khawatir. Kamu tidur lagi ya? Besok kamu kan mesti sekolah.” Sahutku mengingatkan tanpa melepas genggaman tangan Dya.
“Yo... Aku boleh nanya satu hal gak?” Tanya Dya lagi.
Gila ni anak, gak nyadar apa kalau hari udah pagi, ”Ya udah tanya aja. Tapi habis ini kamu bener-bener harus tidur. Kalau enggak aku pergi sekarang.”
“Iya aku janji. Yo... Kamu aneh gak sama perasaan aku yang bisa berubah dengan cepat?” Tanya Dya pelan, ”Uhm... Tapi sebenarnya bukan itu yang ingin aku tanyakan. Yang mau aku tanya itu, kamu bener gak ada perasaan khusus buat Ily? Karena dilihat darimanapun, Ily itu sosok cewek sempurna. Dia kaya, dia pintar. Dia cantik. Low profile lagi. Dia jauh lebih sempurna dari aku. Kalau ada dia, aku jadi gak yakin dengan posisiku. Aku takut kalau nanti saat aku udah terlalu biasa dengan kehadiran kamu disisiku, kamu pergi meninggalkan aku. Dan aku yakin, kalau saat itu tiba, aku pasti akan hancur. Makanya, sebelum semua itu terjadi, aku ingin memastikannya.” Tanya Dya tanpa memandangku.
“Dya bisa duduk sebentar gak?” Pintaku dan langsung dituruti Dya tanpa banyak protes.
Aku bertumpu pada kedua lututku dan kugenggam kedua tangan Dya, ”Dulu, setelah sekian lama aku gak ketemu Ily, kami ketemu lagi saat mendaftar di universitas. Aku senang bisa ketemu sahabatku lagi. Selama di kampus kami begitu akrab, sampai-sampai kami pernah digosipkan pacaran. Dan puncaknya, suatu hari Ily ‘nembak’ aku di depan kelas. Mungkin aku salah karena gak menolaknya saat itu juga tetapi malah menolaknya lewat telepon. Gara-gara itu satu kampus mengira kami memang jadian, tapi aku gak mau dia malu dengan adegan aku menolaknya di depan umum. Karena walau bagaimanapun, Ily itu sahabat baik aku sejak kami di Singapore. Tapi pada dasarnya, aku tetap menolak Ily. Sampai sekarang, aku gak pernah menyesali keputusanku saat itu. Karena aku memang gak ada perasaan apa-apa untuk Ily.” Ujarku lalu mencium kening Dya.
”Yang aku suka dari dulu sampai kapanpun itu cuma kamu. Cuma kamu yang bisa menjadi orang istimewa dalam hidupku. Hal itu gak akan bisa digantikan oleh siapapun dan apapun juga. Dan sebagai tambahan, aku gak peduli seberapa cepat kamu pindah ke lain hati asal bukan ke orang lain. Aku mencintaimu lebih dari yang bisa kamu bayangkan. Jadi, jangan pernah mikir macam-macam yah? Kepala kamu yang cantik ini cuma boleh dipakai untuk memikirkan bagaimana caranya agar kamu jatuh cinta padaku. Aku bisa gila kalau kamu tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Selalu ingat ini, kamu memiliku. Lebih baik sekarang kamu tidur. Goodnite, sweetheart.” Ucapku lalu pergi mematikan lampu kamar Dya dan kemudian duduk lagi di tempatku tadi sambil menggenggam tangannya erat.
Aku tau dia belum tidur, tapi aku gak mau mengganggunya. Kubiarkan dia berada dalam fantasinya sebentar sebelum kemudian kudengar nafasnya sudah mulai teratur. Tapi, meskipun Dya udah tidur, tanganku tetap gak dilepasnya. Alhasil, sampai pagi mataku gak bisa terpejam sejenak pun. Cowok mana yang bisa tidur saat berada di kamar kekasihnya dan kekasihnya sama sekali gak sadar bahaya apa yang mengancam kalau mengizinkan seorang cowok semalaman dikamarnya. Tapi aku berhasil menahan semuanya. Aku gak ingin hubungan kami rusak oleh kesenangan sesaat yang bisa merubah masa depan kami. Aku ingin hubungan kami tetap bersih sampai kami benar-benar terikat secara sah dalam hukum maupun agama.
Tapi… Ya Rabbi… Kuatkan hamba-Mu malam ini….
Pagi itu setelah mengantar Dya ke sekolahnya, aku kembali kerumah untuk mempersiapkan barang-barang yang kubutuhkan saat penelitian. Saat itu barulah aku teringat akan sesuatu hal yang sangat penting.
Aku meraih hp yang tadi kuletakkan di tempat tidur dan segera menelepon seseorang.
“Hallo, Danu?”
“Hoam... Apa bos? Pagi-pagi udah nelepon orang, ngantuk tau.” Rutuk suara diseberang.
“Sekali ini gw benar-benar minta tolong sama elu, Dan. Selama gw pergi, tolong jaga Dya dan pastikan kalian selalu mengirimi gw kabar terbaru tentang Dya. Gw takut saat gw gak ada disisinya, dia mengalami hal-hal yang benar-benar gw gak ingin Dya mengalaminya.” Ujarku serius, ”Lagian, gw cuma pergi selama seminggu. Gimana? Lu bisa kan?”
“Tapi seandainya ada bentrok, siapa yang harus gw dahulukan?”
“Apapun yang terjadi, Dya gak boleh kenapa-napa. Dya gak boleh terluka dalam bentuk apapun. Gw akan menghancurkan orang yang sampai membuat Dya terluka, siapapun itu.”
“Wah, susah juga bos. Surat peringatan terakhir dari kampus udah keluar. Gw gak boleh terlibat kerusuhan dimana pun kalau gak mau di D.O.”
“Gw tau. Gw minta maaf kalau itu nyusahin elu. Tapi selain elu, gw gak tau harus minta tolong sama siapa lagi. Cuma lu yang bisa gw percaya. Gw janji, kalau lu sampai keluar dikeluarkan dari kampus, gw akan jamin kalau lu masih bisa terus kuliah. Dan lu juga tau sendiri kan, lu tegak aja, gak bakalan ada yang berani ngelawan. Apalagi kalau sampai lu ngomong.” Ujarku mengingatkan Danu betapa besar sebenarnya pengaruh yang diberikannya terhadap semua anggota yang tergabung dalam drag race.
Diantara kami berempat, aku, Chandra, Agung dan Danu, Danu-lah yang paling sering turun tangan kalau ada bentrok di basecamp atau dimanapun. Walaupun wajah Danu gak meyakinkan siapapun kalau dia itu jago berkelahi karena pada dasarnya, Danu itu cantik. Bisa dibilang, Danu itu pelindungku, dia selalu melindungiku saat kerusuhan balap terjadi. Dia gak akan membiarkan seorang pun yang berhasil melukaiku_walaupun gak sampai 1 cm aku tergores_untuk dapat hidup normal. Danu melindungiku seperti dia melindungi nyawanya sendiri. Rata-rata semua orang yang pernah berkelahi dengan Danu, ujung-ujungnya pasti cacat, paling ringan sebulan di rumah sakit. Sampai sekarang, setelah lebih dari 3 tahun aku memimpin drag race, belum sekalipun aku dapat kesempatan untuk turun tangan dalam setiap bentrok yang terjadi. Itu cara Danu menghormatiku sebagai ketua, lain lagi dengan Agung dan Chandra. Entah kenapa, mereka bertiga begitu memperhatikan semua hal tentangku, keselamatan, mobil, atau apapun
“Gw usahain, guys, tapi kalau situasi saat itu benar-benar buruk, gw cuma bisa janji menyelamatkan salah satu, mobil lu, posisi lu atau Dya?”
“Kalau lu tanya gw, gw bakal jawab, selamatin Dya. Gw gak peduli yang lain. Gw gak peduli kalau gw harus kehilangan posisi di drag race, bahkan kalau mobil gw sampai hancur. Dya lebih penting dari semua itu.”
“Okay! Perintah pasti dilaksanakan, gw bakal ngelakuin yang terbaik, soalnya baru sekali ini lu bersikap egois. Tapi kalau sampai gw ngebiarin mobil lu hancur... Gw juga bakal dihancurkan sama Agung dan Chandra. By the way, lu gak percaya sama cewek lu, yah?”
“Gw percaya sepenuhnya sama dia, gw percaya pada apapun yang dia lakukan dan dia katakan. Hanya aja, gw takut kalau Rio masih tetap mendekatinya.”
“Rio, yah? Tu anak suka banget ngerebut punya lu. Gw jadi gak habis pikir, padahal kalian kan saudara.” Ujar Danu pelan.
“Bisa gak dibilang saudara kalau mama aja nikah sama papa waktu umur aku 6 tahun?”
Ya, aku dan Rio masih keluarga.
Hanya saja kami gak punya hubungan darah. Mamaku menikah dengan papa Rio saat aku kami berumur 6 tahun. Gara-gara itu, Rio berpikir kalau mamaku udah merebut papanya. Makanya, wajar banget kan kalau aku cemas kalau Rio bakalan balas dendam dengan merebut Dya dari sisiku.
“Udahlah... Gak usah ngomongin Rio. Gw jadi tambah kasihan sama lu. Hubungan kalian rumit banget sih.”
“Thank’s banget, bro!”
“Never mind...”
Aku memutuskan pembicaraannya dengan Danu langsung setelah selasai bicara. Ya, saat ini cuma Danu yang bisa kupercaya untuk menjaga Dya. Chandra dan Agung gak mungkin menjaga Dya karena mereka satu team denganku di penelitian.
Sesaat sebelum pergi, aku menelepon seseorang.
“Hallo?”
“Jauhi Dya, Rio. Jauhi Dya... Hanya sekali ini aku memohon padamu, jangan rebut Dya. Hanya Dya yang gak boleh kamu rebut. Apapun akan aku berikan asal kamu mau menjauhi Dya.”
“Kalau gak?”
“Aku gak tau akan berbuat apa padamu.”
***
Hari kembalinya Dheo ke Indonesia...
“Dheo, kamu yakin akan tinggal sendirian dirumah sebesar ini? Kamu yakin bisa mengurus semua keperluan kamu sendiri?” Tanya seorang pria yang ternyata adalah Yoga.
“Yakin, Om. Lagian setahun lagi Mama sama Papa juga kembali kesini.” Jawab Dheo yakin saat dia tiba di rumahnya yang lama, yang udah lima tahun lalu ditinggalkannya.
“Ya udah. Kalau kamu butuh sesuatu, jangan segan-segan untuk menelepon Om atau Tante. Dan ingat, pintu rumah kami selalu terbuka untukmu.” Ujar Yoga lembut pada anak sahabatnya itu.
“Makasih, Om.. Oh ya, Om... Kalau boleh Dheo mau minta tolong.” Ujar Dheo cepat.
“Apa?” sahut Yoga segera.
“Om bisa tolong belikan Dheo mobil gak?? Merk-nya Mazda R8. Papa bilang kalau Dheo boleh punya mobil sendiri.”
“Baiklah. Om akan bantu. Nanti kalau sudah dapat, Om akan segera memberitahukannya padamu. Untuk sementara pakai mobil kantor Om aja dulu.” Saran Yoga sambil menunjuk mobil Mercy hitam yang tadi dipakainya untuk menjemput Dheo di bandara.
“Makasih, Om.”
Gak sampai tiga hari, Dheo udah mendapatkan semua barang-barang yang dibutuhkannya. Mobil barunya juga udah sampai. Mobil yang tergolong sport car dengan tenaga yang jauh lebih baik dari sedan lainnya itu langsung dimodifikasi oleh Dheo ke bengkel. Tempat duduk bagian belakang diubah menjadi tempat sound system. Mobil yang aslinya warna abu-abu itu langsung di cat ulang seluruhnya menjadi warna Cyan metalik. Entah berapa ratus juta lagi dana yang dibutuhkan Dheo untuk menghasilkan mobil yang bisa dijadikan mobil balap sekaligus mobil sehari-hari itu.
Sejak mobilnya resmi mendapatkan plat nomor polisi, Dheo rutin mengikuti balapan liar hampir setiap minggunya. Dan entah karena beruntung atau tidak, pemuda itu tidak pernah berurusan dengan pihak yang berwajib.