Semalam adalah hari terakhir aku menjadi pacar pura-pura Ily. Aku sadar, kalau Ily memang udah lama mengharapkan aku jadi pacarnya. Karena selama aku dan dia pura-pura pacaran, Ily benar-benar memanfaatkan berbagai situasi agar semua anak-anak yang ikut penelitian menyadari hubungan kami. Bahkan semalam Ily memintaku untuk melakukan hal yang sama sekali belum pernah aku lakukan pada Dya. Tapi, aku terikat oleh janji yang pernah kuucapkan. Mau gak mau, aku harus melakukannya. Lagian, Dya sekarang udah menjadi milik Rio.
Dia memenangkan kepercayaan Dya, hanya gara-gara insiden yang sebenarnya udah kuduga pasti akan terjadi. Tapi aku sama sekali gak nyangka kalau insiden ini akan terjadi saat aku gak ada disamping Dya. Aku sama sekali gak kecewa sama Danu, karena dia udah bilang kalau dia gak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan p*********n terhadap Rio. Lagian, Danu langsung memberitahuku begitu dia melihat segerombolan anak drag race mengepung Rio dan Dya. Tapi aku senang, karena Dya sama sekali gak terluka, walaupun dia sempat masuk rumah sakit bersama Rio.
Saat ini aku sedang berada di basecamp. Aku mengumpulkan semua anggota tim inti untuk mempertanyakan kenapa sampai bisa ada p*********n itu. Danu, Chandra, dan Agung juga turut hadir.
“Yo... Seharusnya lu tau sendiri kan? Mereka yang menyerang itu bukan anggota resmi kita. Mereka hanya numpang nama, Yo. Lagian, lu udah terlalu lama menduduki posisi itu, Yo.” Jelas Chandra.
“Gw tau. Tapi...” Sahutku, ”Kenapa saat gw ingin memberikan posisi ini dengan sukarela gak ada yang mau nerima? Gw juga gak tahan lama-lama berada di posisi ini!” Ujarku setengah berteriak.
“Jadi lu berharap ada yang mau posisi itu karena l kasih, gitu?” Tanya Danu cepat. ”Gak bakal ada yang mau, Yo.”
“Mereka lebih baik kalah daripada harus menerima belas kasih lu.” Ujar Agung datar.
Danu menepuk bahuku pelan, ”Lagian lu gak bisa nyalahin mereka yang menyerang Rio dan Dya. Kita yang hidup di drag race udah tau semua konsekuensi ngebawa mobil balapan ke tempat umum. Kita semua juga tau, selama umur tim kita ini, cuma lu yang nekad menjadikan mobil balapan lo sebagai mobil sehari-hari lu.”ucapnya meyakinkan. “Siapa kita saat balapan tidak sama dengan siapa kita dalam kehidupan biasa, Yo. Cuma lu yang sama sekali gak nyembunyiin siapa lu.”
“Benar, Yo. Kita sama sekali gak bisa mencegah semuanya. Lu juga tau kan, lu aja yang bawa tu mobil masih naas, apalagi orang lain. Ini udah dekat hari pertandingan, Yo. Semakin dekat hari pertandingan, semakin nekad orang buat nyingkirin lu dari arena balap. Semua musuh lu pasti ngincer mobil lu.” Sambung Agung.
“Jadi lu juga harus bersyukur, mobil lu gak kenapa-napa. Coba kalau ada sedikit aja kerusakan, berapa ratus juta lagi biaya yang mesti lu keluarin buat memperbaiki mobil? Dan mana ada waktu lagi untuk memperbaikinya.” Hibur Chandra.
“Gw lebih milih membuang uang ratusan juta buat memperbaiki mobil daripada harus kehilangan Dya kayak gini!” Bentakku emosi sampai membuat beberapa anggota yang dari tadi diam kayak patung langsung mundur karena kaget.
“Yo, tenang, Yo. Kita semua tau lu lagi sedih. Tapi lu harus ingat. Dua hari lagi kita tanding. Lu gak bisa kayak gini terus, Yo. Lu mesti kembali jadi Dheo yang biasanya. Dheo yang selalu tenang. Lu juga mesti latihan, Yo.” Bujuk Agung.
Aku menatap teman-temanku satu per satu. Wajah mereka terlihat benar-benar mencemaskan keadaanku. Aku akan menjadi orang paling b******k di dunia kalau mengabaikan hal ini. “Ya. Gak ada yang perlu gw cemaskan. Dya bukan milik gw lagi. Tapi gw tetap mau buat perhitungan sama mereka-mereka yang udah melakukan p*********n. Gak ringan hukuman karena udah membuat Dya masuk rumah sakit. Mereka harus membayarnya.” Ucapku pada diri sendiri, ”Oke! Kita uji coba sekarang! Yang turun untuk tanding besok 7 orang! Gw, Danu, Bejo, Rudi, Alex, Revan, dan Jojo!” Perintahku dan langsung dituruti oleh semua anggota tim yang hadir.
Saat aku sedang memeriksa keadaan mesin mobilku, tiba-tiba hp-ku bergetar.
“Hallo??”
“Dheo? Ini Tante, Mama Dya.”
“Oh, Tante... Ada apa yah?”
“Ada yang ingin Tante dan Om bicarakan dengan kamu. Kami sangat berharap kamu bisa datang ke Deli’s Restaurant jam 7 malam ini.” Ujar Mama Dya terdengar serius.
“Baiklah Tante. Dheo pasti datang.” Ucapku meyakinkan.
“Terima kasih.”
“Sampai jumpa nanti malam, Tante.” Ucapku mengakhiri pembicaraan.
Aku langsung buru-buru memeriksa semua bagian mobilku. Aku mengganti semua yang perlu kuganti secepat mungkin. Jam sudah menunjukkan pukul 6 kurang saat aku akan mengganti properti terakhir mobilku. Pukul 6 lewat 5 menit, aku berhasil menyelesaikan mobilku. Tanpa pamit sama semua orang yang ada di basecamp, aku langsung pergi. Kukebut mobilku secepat yang aku bisa. Karena untuk menempuh jarak dari basecamp ke rumah butuh waktu 20 menit, dan dari rumah ke Deli’s juga butuh 20 menit.
Kebayang gak berapa waktu yang bisa kupakai untuk mandi dan berpakaian?
Akhirnya jam setengah tujuh lewat 5 aku sampai dirumah. Lebih 10 menit dari waktu yang biasanya karena jalan memang macet banget. Turun dari mobil aku langsung berlari ke kamarku di lantai dua rumahku.
“Dheo! Jangan lari-lari di dalam rumah!” Tegur Mama dari ruang makan saat melihatku berlari menaiki tangga.
“Maaf, Ma. Tapi Dheo buru-buru.” Pekikku dari lantai dua yang semuanya merupakan bagian dari kamarku.
“Mau kemana, Dheo?” Tanya Papa yang ajaibnya udah berada dikamarku.
“Mau ketemu Mama sama Papa Dya, Pa.” Seruku dari dalam kamar mandi.
“Oh, ketemu calon mertua rupanya.” Ucap Papa pelan, tapi bisa terdengar olehku dari dalam kamar mandi.
“Gak lagi, Pa. Dheo sama Dya udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Kita udah putus.” Sahutku pelan. Rasanya ada benda sebesar bola bowling yang menyangkut di tenggorokanku saat mengatakan hal itu.
Tuhan, benarkah hubungan kami sudah berakhir?
“Hei! Jangan bilang kalau kamu menyerah! Papa malu punya anak yang udah mundur sebelum berperang.” Tegur Papa.
“Papa gak ngerti. Dheo udah kehilangan kepercayaan Dya. Dan dia lebih memilih untuk mempercayai saingan Dheo. Papa tau siapa?”
“Siapa saingan kamu yang bisa membuat anak Papa kehilangan kepercayaan orang itu, ha?” Tanya Papa semangat.
Tahukah Papa kalau putra kandungnya lah yang membuatku hancur? Tidak, Papa tidak tahu. Papa tidak pernah tahu apa yang Rio lakukan padauk selama ini. Dan memang selama ini aku tidak pernah mempermasalahkan apapun yang Rio lakukan. Tapi kini Papa harus tahu. “Rio, Pa.” Ucapku kuat, ”Rio yang ngerebut Dya dari Dheo, Pa!”
“Rio, kakakmu?”
“Ya, Pa. Lagi-lagi Rio mendapatkan apa yang diinginkannya.” Ucapku berusaha terdengar tegar saat keluar dari dalam kamar mandi. ”Dheo mau siap-siap. Dheo buru-buru, Pa.” Ucapku supaya terdengar tetap sopan agar Papaku mau keluar dari kamar.
Aku hanya mengenakan kaos putih, celana jeans biru panjang dan jaket warna senada. Mama ribut menyuruhku untuk memakai stelan yang lebih formal saat melihatku turun. Tapi aku kan bukan pergi untuk melamar anak orang? Ngapain juga pakai pakaian resmi.
Aku berangkat dari rumah saat jam sudah menunjukkan pukul 7 kurang lima. Tanpa pikir panjang kukebut mobilku menuju Deli’s Restaurant. Dan tepat pukul 7 lewat 15 aku sampai disana. Aku langsung masuk ke dalam restoran dan mendapati kedua orang tua Dya menungguku di meja paling ujung, di sudut ruangan.
“Om, Tante... Maaf Dheo telat. Sebelum kesini tadi ada yang harus Dheo urus dulu. Dan ternyata selesainya agak lama.” Ujarku saat sudah sampai di meja tempat Mama dan Papa Dya menungguku.
“Gak pa-pa. Ayo duduk dulu, Yo.” Ujar Mama Dya.
“Makasih, Tante.”
“Gini lho, Yo... Kami akan langsung aja. Tadi pagi Dya terlihat kurang sehat, jadi kami membawanya ke dokter. Dan berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter bilang kalau Dya terkena maag dan anemia. Kami mau minta tolong lagi sama kamu untuk mengawasi pola makan Dya, karena kami besok udah harus berangkat ke London.” Jelas Mama Dya tanpa tedeng aling-aling.
Ini apa lagi?
“Wah bukannya Dheo gak mau nolong, Om, Tante. Tapi Dheo kan udah balik kerumah, jadi Dheo gak bisa ngawasin pola makan Dya. Lagian Dheo sama Dya udah...”
“Kami tau kalian sudah putus. Tapi kalau bukan sama kamu, sama siapa lagi kami minta tolong? Didi sendiri juga gak teratur makannya. Kamu hanya perlu mengingatkan Dya agar jangan terlalu capek dan lupa makan.”
“Akan Dheo usahakan, Tante. Tapi Dheo gak harus pindah kerumah kalian lagi, kan?” Tanyaku.
“Itu terserah kamu. Kamar yang pernah kamu tempati sama sekali gak diusik Dya. Kamar itu masih tetap seperti yang kamu tinggalkan. Bahkan mungkin Dya sendiri gak ada masuk ke kamar itu.” Jawab Mama Dya.
“Dan kami juga harus berterima kasih sama kamu karena telah membantu Dya memulihkan ingatannya.” Sambung Papa Dya.
“Sama-sama, Om.”
“Oh, ya... Bagaimana kalau kamu ikut mengantar kami ke bandara? Kami berangkat malam ini dengan penerbangan terakhir.” Lanjut Papa Dya.
“Kalian harus berangkat malam ini juga?” Tanyaku kager melihat kesibukan pasangan yang ada di depanku ini.
“Iya. Terlalu banyak urusan yang kami tinggalkan disana. Dan tolong, saat liburan tiba, bawa Dya ke London, ya?” Ujar Mama Dya lembut. ”Kita berangkat sekarang, ya, Pa?”
Setelah Papa Dya membayar semua pesanan kami, kami pun langsung berangkat menuju bandara. Aku mengemudikan mobil di depan mobil yang digunakan oleh orangtua Dya. Sesampainya di bandara, kulihat ada cukup banyak orang yang mengantar kepergian mereka. Kedua orangtuaku (yang mungkin langsung kesini seusai makan malam), Didi dan Radith, serta Dya dan Rio. Semua yang ada disana kaget melihat kehadiranku, kecuali kedua orangtuaku tentunya. Kedua orangtua Dya gak bisa lama-lama berpamitan karena pesawat memang akan segera berangkat. Sepeninggal orangtua Dya, Didi dan Radith pulang duluan. Tapi tiba-tiba kudengar Papa memanggil Rio.
“Rio!” Panggil Papa kuat.
Rio langsung menemui Papa. Melihat itu, Dya terlihat bingung. Tapi aku segera menghampirinya.
“Hai, Dy.” Sapaku berusaha terdengar ramah.
“Hai, Yo.” Sahut Dya kaku.
“Kamu baik-baik aja?” Tanyaku agar suasana diantara kami cair.
“Baik kok. Kenapa?” Tanya Dya bingung, ”Ah, aku tau, pasti Mama udah cerita kalau aku maag dan anemia kan?” Tanya Dya setelah menyadari apa maksud pertanyaanku.
Aku mengangguk pelan. “Iya.”
“Gak usah khawatir kali. Aku gak pa-pa kok.” Ujar Dya meyakinkan, ”Oh ya, makasih ya kadonya. Cantik banget.” Sambungnya sambil menyentuh kalung yang kuberikan saat ulang tahunnya.
“Gak masalah.” Jawabku ceria, menyadari kalau dia mengenakan kalung pemberianku.
Jujur, aku senang sekali dia menyukai pemberianku. Dan yang paling penting adalah, Dya masih memakainya.
“Kamu udah makan malam?” Tanyaku lagi.
“Belum. Belum laper.” Sahutnya pelan.
“Makan dulu dong nona_yang_gak_pandai_jaga_kesehatan. Ntar kalau penyakitnya kumat gimana?” Ucapku lembut sambil mengelus rambutnya begitu saja.
Jangan hujat aku. Itu hanya reflex.
Dan tepat saat itu kulihat Rio berjalan kearah kami. Walau aku ingin sekali Dya kembali padaku, aku tidak ingin Rio punya alasan untuk meragukan perasaan Dya. ”Aku pergi dulu yah? Ntar Rio malah marah liat kamu dekat sama aku.” Bisikku pelan begitu dekat ditelinga Dya sampai bisa kulihat sebelum aku pergi kalau muka Dya jadi merah.
Jujur... Aku sedikit senang melihat wajah Dya yang merona. Itu berarti bahwa aku masih cukup berpengaruh padanya.
Dari bandara aku gak langsung pulang kerumah. Aku mampir ke suatu tempat. Kubelokkan mobilku menuju sebuah komplek perumahan mewah. Aku langsung menuju rumah nomor lima. Kutekan bel pintunya berkali-kali sampai interphone-nya berbunyi.
“Siapa?” Tanya suara lembut yang sangat kukenal.
“Gw Dheo.” Sahutku.
Dan ternyata gak lama kemudian Ily membuka pintu rumahnya, ”Tumben banget lo kesini? Ada apa?” Tanya Ily sambil membukakan pintu untukku.
“Ada yang mesti gw omongin sama lu.” Ujarku sambil melangkah masuk kedalam rumahnya.
Sekali ini aku memang benar datang ke rumah Ily. Tapi sebelumnya aku sama sekali gak pernah masuk. Paling jauh ya di depan pintu. Dan mungkin ini akan menjadi kunjungan terakhirku ke rumah Ily sebelum dia pindah. Sebelum semuanya berubah. Aku akan melakukan semua yang bisa aku lakukan sekarang.
***
3 bulan sebelum Dheo tamat SMA...
Di sebuah jalanan yang agak sepi, terlihat seorang siswa SMA dikeroyok oleh anak SMA lain. Tepat pada saat akan ada yang menghantam belakang kepalanya dengan balok kayu, seseorang datang membantu dirinya.
“Lo siapa?! Gak usah ikut campur urusan gw!!”bentak siswa itu pada orang yang menolongnya.
“Udah lu tenang aja. Gw bakal ngelindungi lu dari belakang, tapi lu juga mesti melindungi punggung gw!!”sahut penolongnya dengan santai.
Gak sampai setengah jam, siswa sekolah lain yang jumlahnya hampir 40 orang itu berhasil dikalahkan oleh mereka berdua.
“Lu berantemnya kalap amat... Sampai gak tau mana musuh mana kawan.”ujar penolongnya.
“Lu siapa??”tanya siswa itu.
“Gw??”
“Iya!”
“Oh, gw Dheo. Anak sekolah lu juga.”
“Lu Dheo?? Yang berhasil ngalahin Derby??”
“Lu kenal Derby??”
“Dia abang gw. Gw Ardanu, adiknya Derby. Lu bisa manggil gw Danu aja.”
“Oke.”
“Gw suka sama lu. Mulai saat ini gw yang bakal melindungi lu di drag race.”
“He?? Gw normal kok. Jadi kalau lu gak suka sama gw, gw malah bersyukur.”sahut Dheo cepat.
“Bukan itu masud gw, sialan. Gw suka lu karena selain Derby, cuma lu yang bisa gw rasakan kehadirannya.”
“Berarti lu memang kalap ya kalau berantem?? Gak bisa membedakan mana kawan atau lawan??”
Danu menggeleng cepat, ”Makanya gw lebih suka berantem sendirian, gak perlu dibantu. Gw sering lupa diri. Gw paling susah kalau di suruh membedakan orang saat berantem. Gw selalu main hajar semua.”
“Oh gitu. Gini aja, lu boleh ngelindungi gw. Tapi lu juga harus menuruti apa yang gw bilang tentang siapa aja yang boleh lu lawan atau enggak. Gimana?? Ini semua supaya lu bisa latihan membedakan yang mana kawan, mana lawan.”
“Gw setuju.”