Acara sarapan itu dilakukan di taman samping rumah penginapan. Padahal di dalam rumah terdapat meja makan yang lebar, tapi mereka memang ingin sarapan di luar. Alhasil, mereka pun makan di bawah pohon mangga. Pagi itu suasananya masih terasa sejuk, sinar matahari masih malu-malu menyapa ke bumi, membuat tempat di bawah pohon mangga itu menjadi tempat yang tepat. Tikar lebar digelar di bawahnya, kemudian di tengah-tengah nya sudah tersusun rapi wadah nasi dan mangkuk yang berisi berbagai macam lauk pauk.
Semua orang sudah duduk di atas tikar, Ara duduk di samping Adam. Di sampingnya ada Novi duduk di samping Dani, Ningsih duduk di samping Jonathan dan Aida duduk di samping Misbah. Mereka duduk melingkar, dan saling melontarkan guyonan yang kebanyakan hanya 4 Pilar yang tau maksud dari guyonan itu.
4 pilar adalah nama geng Adam dan teman-temannya. Mereka menamai geng mereka seperti itu karena dulu mereka berempat suka nongkrong di pilar bangunan pondok yang jauh dari kerumunan. Bisa di bilang di pilar itu, mereka melarikan diri dari hiruk pikuk kegiatan pondok yang melelahkan. Bahkan sampai mereka sudah jadi kang-kang ndalem, pilar itu tetap menjadi tempat favorit mereka nongkrong.
"Mas makan lagi?" Tanya Ara pada Adam.
Para istri—Aida, Ningsih, dan Novi kini tengah mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suami mereka.
Ara yang melihat itu pun berniat melakukan hal yang sama. Sekalipun statusnya belum menjadi istri Adam.
Adam yang tadinya berniat tak ikut makan pun jadi terkejut ketika ditanya Ara begitu.
"E..iya uda deh, dikit aja Ra." Ujar Adam.
Ara pun mengangguk mengerti kemudian maju untuk mengambil piring, nasi dan lauk pauknya.
"Kang Adam nggak suka sayur Ra, jangan ambil banyak-banyak dari pada nggak dimakan." Ujar Ningsih, ketika Ara hendak memberikan sayur sop pada piring Adam.
Ara pun diam, ada perasaan malu yang tiba-tiba menjalar di hatinya. Dia memang masih belum mengenal Adam sepenuhnya. Tapi ia menyayangkan ketidakpekaannya pada Adam. Padahal akhir akhir ini mereka sering makan bersama. Pantas saja kemarin ketika makan mie tek tek, di mangkuk Adam masih tersisa banyak sawi. Ketika tadi makan di rumah pun Adam menolak ketika Ara menawarkan sayur. Harusnya Ara peka, tapi sayangnya Ara tak menyadarinya.
"Ini mas." Ara memberikan piring berisi nasi dan lauk pauk itu pada Adam.
Adam menerimanya, "kamu nggak makan?" Tanyanya pada Ara.
Ara menggelengkan kepala. Nafsu makannya tiba-tiba hilang. Padahal dia tadi berniat untuk makan walaupun perutnya masih kenyang.
Perasaannya juga jadi campur aduk. Ada rasa malu, marah, insecure menjadi satu dalam dirinya. Ara memang tipe orang yang suka memikirkan banyak hal.
"Ara," Adam memanggil Ara.
"Hm?"
"Ada apa?" Tanya Adam. Ia menyadari jika Ara kini memikirkan sesuatu.
"Gpp Mas," Jawab Ara dengan seulas senyum.
"Masih kenyang?"
Ara mengangguk. Tak berniat mengatakan apapun lagi. Ia kemudian menyibukkan diri memainkan ponsel yang ada di tangannya. Berharap dengan begitu Adam tak mengajaknya bicara.
"Habis ini kita jadi kan ke Malioboro?" Tanya Aida.
Mereka kini selesai makan. Dan tengah memakan hidangan pencuci mulut yang berupa buah-buahan. Buah itu dibawah Novi dan Dani dari kebun buah mereka sendiri.
Novi dan Dani memang tengah merintis usaha perkebunan. Kebetulan mereka juga tinggal di daerah yang mendukung untuk usaha itu. Yakni di daerah Malang Jawa Timur.
"Jadi Dek," Saut Ningsih.
Aida memang yang paling kecil di sini, dia adalah adik kelas mereka waktu di pondok dulu. Sebab itu semua orang memanggil Aida dengan sebutan adeek.
"Yey! Terus mampir ke kafenya mbak Ara yaaa." Kata Aida dengan bersemangat.
Ara yang namanya disebut pun mendongak, mengalihkan perhatiannya yang sejak tadi tertuju pada ponsel.
"Ha? Ara punya kafe dam?" Tanya Misbah.
"Iyaa punya Kang, makanya ayo entar kita mampir ke sana!!" Kata Ningsih.
Adam yang ditanya hanya diam, sembari menatap Ara dengan tatapan tak enak.
"Di daerah mana kafemu Ra?" Tanya Dani.
"Di daerah Malioboro Dan, ayo gpp kalau mau mampir." Kata Ara dengan senyum lebar.
"Waah keren lo Ra, uda punya kafe sendiri." Kata Jonathan "beruntung banget lo dam!"
Adam hanya tersenyum singkat, kemudian mendekat ke arah Ara.
"Beneran gpp?" Tanya Adam sembari berbisik.
"Gpp Mas."
"Nanti aku yang bayarin mereka."
"Gausa mas."
"Aku nggak enak sama kamu."
"Gpp mas, uda tenang."
Mendengar ucapan Ara, Adam pun tidak mengatakan apapun lagi.
"Yaudaa ayoo sekarang aja berangkatnya. Uda jam sembilan loh, biar kita punya waktu lebih buat jalan-jalan di Malioboro dan mampir ke kafenya Ara." Kata Misbah yang disetujui semua orang.
Ketika semuanya tengah sibuk menyiapkan barang-barang yang akan mereka bawah, Ara dan Adam duduk di ayunan yang ada di taman. Sembari menikmati bunga melati, mawar yang tumbuh subur di pekarangan bunga itu.
"Ra," Sejak tadi mereka hanya diam.
Ara masih dalam mood tidak baik, sementara Adam tampaknya sudah tidak betah dengan suasana diam diantara mereka. Sebab itu terpaksa ia membuka suara.
"Ya Mas?" Jawab Ara, matanya yang sejak tadi sibuk menatap bunga-bunga itu pun beralih pada Adam yang ada di sampingnya.
"Kamu kenapa? Kok diem aja sih tadi?"
"Ha enggak kok Mas, aku nggak diem." Kata Ara dengan mengendalikan raut wajahnya. Pasalnya ia cukup terkejut mendapat pertanyaan seperti itu dari Adam.
"Ada yang menganggu pikiran kamu ya?" tebak Adam.
"Enggak mas." jawab Ara bohong.
"Jangan bohong ya, Mas dari tadi perhatiin kamu loh." Kata Adam.
"Ha? Serius?" Setau Ara, dari tadi adam sibuk ngobrol sama temennya deh. Masak adam ngobrol sambil liatin Ara sih?--pikir Ara.
"Jawab Ra, kamu kenapa?"
Sepertinya Adam akan tetap bertanya, sekalipun Ara enggan menjawab. Akhirnya Ara yang mengalah...
"Tadi waktu Ara ngambilin nasi buat Mas Adam, Ara mau nuangin sayur sop banyak. Tapi dilarang sama Ningsih, katanya Mas adam nggak suka sayur. Ara malu sekali mas, karena nggak tau apa-apa tentang kamu." Kata ara dengan wajah yang lemas.
"Ya wajar Ra, kan kita emang baru deket lagi setelah sekian lama pisah. Wajar kalau kamu masih belum kenal banyak mas. Mas juga nggak tau kok apa makanan kesukaan kamu dan kamu nggak suka makan apa. Jadi jangan dipikirin Raa, itu hal yang wajar."
mendengar ucapan Adam, hati Ara jadi tenang. Benar juga apa yang dikatakan Adam.
"Setelah menikah nanti, kamu akan tau banyak hal tentang Mas. bahkan dari pada orang lain, kamu yang akan lebih tau luar dalamnya Mas."
Ara mengangguk, pipinya lagi-lagi merah. Jika membayangkan akan hidup bersama Adam, Ara memang selalu dihinggapi perasaan malu.
"Uda ya, kamu jangan mikirin itu lagi. Sekarang mas mau nyeritain tentang temen-temen Mas. Kamu mau denger nggak?" Tanya Adam yang dijawab Ara semangat.
"Mau!"
"Jadi aku, Dani, Misbah dan jonathan itu uda sahabatan sejak kami jadi santri baru di pondok."
"Wah, lama juga yaa persahabatan kalian." Kata Ara.
"Iya, sampek bosen aku liat mereka terus."
"Tapi sekarang udah jarang ngeliat mereka."
"Hahah, bener. Misbah sama Aida tinggal di semarang, jonathan sama Ningsih tinggal di jakarta, Novi sama Dani tinggal di Malang dan aku di Jogja. Semuanya uda pulang ke rumahnya masing-masing. Kadang sedih kalau keinget masa-masa dulu waktu masih bisa barengan."
Ara diam, tampaknya Adam kini mulai terbuka pada dirinya. Karena selama beberapa minggu ini, kayaknya ini adalah pertama kalinya Adam menceritakan sesuatu hal tentang dirinya pada Ara.
"Aku sama anak-anak empat pilar buat janji ra,"
"Janji apa mas?"
"Ngadain reuni setiap tahunnya. Dengan tempat di kampung halaman masing-masing. Dan tahun ini, reuni itu diadain di sini, di jogja kampung halamanku."
"Oh.." Ara jadi mengerti jika acara kumpul-kumpul ini bukan acara biasa. Ini termasuk ke dalam janji mereka berempat.
"Makanya ra, aku pengen menjamu mereka dengan baik. Dan aku makasih banget sama kamu, karena kamu mau bantuin aku."
"Tapi aku nggak ngapa-ngapain Mas."
"Dengan kamu ngizinin mereka dateng ke Kafe kamu aja uda bantu aku Ra."
"Nggak mas, aku malah seneng mereka mau main ke kafe aku." Kata Ara.
Adam diam, begitu pun juga dengan Ara. Tatapan Ara kini kembali menatap hamparan bunga di hadapannya. Tidak bisa ia pungkiri, hamparan bunga itu benar-benar memanjakan matanya. Ada ketenangan pula yang menjalar di hatinya ketika melihat Bunga-bunga itu.
"Kamu suka di sini?" Tanya Adam tiba-tiba.
Ara mengangguk cepat, "penginapan ini bikin aku ngerasa tenang. Mungkin karena letaknya yang di desa ya Mas nggak kayak di rumahku yang ada di pusat kota. Terus rumahnya juga bersih."
"Kamu mau habis nikah tinggal di sini?"
"Maksudnya?"
"Ini rumah aku ra, kalau kamu mau kita bisa tinggal di sini habis nikah."
Jantung Ara berdetak sangat cepat. Barusan, Adam bukan menyatakan perasaannya pada Ara. Tapi entah kenapa, Ara sudah senang sekali. Kupu-kupu pun mulai muncul di perut Ara, terbang kesana kemari seolah menggambarkan bahagianya perasaannya saat ini.
"Gimana? Mau?" Tanya Adam lagi.
Ara diam, kemudian mengangguk. "Boleh Mas." Jawabnya dengan senyum yang merekah.
Ah, rasanya dia tak sabar tinggal di rumah ini bersama Adam! Setiap sore atau pagi hari, mereka akan duduk di ayunan sembari menatap indahnya taman bunga. Pasti rasanya sangat menyenangkan.
Tbc.